The Devil Charming

The Devil Charming
Part 31


__ADS_3

Langkah kaki Alexa serta Louis membawa mereka menuju sebuah ruangan dimana terdengar beberapa orang bercaka- cakap di dalam sana. Seringai sexy yang Alexa tunjukkan setelah melihat layar ponsel Louis membuat Louis hanya menghela nafasnya membiarkan gadis itu melancarkan aksinya.



Dua orang berbadan kekar yang ada di dalam ruangan nampaknya tak menyadari kedatangan Alexa serta Louis. Louis sendiri memilih menyenderkan tubuhnya pada dinding dan mengamati Alexa yang sedang berburu mangsanya. Tangan kanan dengan hand gun serta tangan kiri dengan pisau mengkilat, dua benda yang siap menarik nyawa musuh di depannya dengan cara menyakitkan.



Hallo guys.”



Seketika dua orang itu menoleh setelah mendengar suara sexy Alexa yang langsung di sambut dengan lemparan pisau tajam bersama suara tembakan yang teredam.



“Two down, mission complete.” Alexa menoleh menatap Louis di belakangnya. “C’mo! kita cari komputer sialan itu.”



Louis berjalan mengikuti Alexa setelah gadis itu kembali mengambil pisau miliknya yang menancap pada salah satu dada korban.



“Aku tidak yakin komputer itu ada disini,” gumam Louis memperhatikan sekitar yang hanya terdapat monitor CCTV. “Berarti kita salah kamar,” kekeh Alexa. “Baiklah, kita keluar dari sini.”



“Wait, oh God! Lexa, kita harus segera pergi. White room, Edward ada disana.”



Seketika Alexa menegang melihat kakak kesayangan yang baru saja bertemu dengannya tengah terduduk lemas di lantai dengan menyandar pada sebuah meja apalagi tangan besar Edward yang tengah menekan perutnya yang tertembak. Di monitor itu, Alexa serta Louis juga melihat Gustavo sudah tergeletak lebih mengenaskan dari Edward.



“Shit!!”



Alexa berlari terlebih dahulu meninggalkan Louis yang juga langsung bergerak menyusulnya. Sesekali Alexa mengusap kasar bulir bening yang menetes tanpa izin saat bayangan kehilangan Edward melintas di benaknya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana ia akan kembali hidup sendiri di tengah-tengah dunia yang kejam. “Bertahanlah, aku mohon,” gumam Alexa yang masih terus berlari menuju white room.



“Lexa, belok kiri. Ada lift disitu, aku akan membobol password nya.” Alexa mengikuti arahan Louis gadis itu berbelok ke kiri dan benar, disana mereka menemukan sebuah lift. Dengan cepat Louis berusaha membobol password nya hingga lift itu berhasil terbuka. Alexa berjalan gelisah di dalam lift yang langsung di tarik Louis kedalam pelukan. “Tenanglah, kakakmu akan baik-baik saja.”



Tak selang lama pintu lift terbuka, Louis melepaskan pelukannya lalu menggenggam erat tangan Alexa yang mendadak dingin untuk segera melanjutkan langkah mereka yang terlihat sangat terburu-buru.



Kondisi ruangan luas bercat putih itu tak lagi rapi. Beberapa pecahan kaca juga kursi yang berhamburan menjelaskan bahwa sudah terjadi sesuatu disana. Mata Alexa tertuju pada sosok pria yang sedang tersenyum membuat gadis itu langsung menghambur memeluk Edward sebelum merobek kaos yang ia kenakan untuk dililitkan pada perut Edward.



“Aku mendapatkan chip nya,” ujar Edward menyerahkan sebuah chip berlumuran darah yang sedari tadi ia genggam erat pada Alexa. “Louis!! Bantu aku!!” Teriak Alexa mengabaikan senyum Edward yang semakin lama semakin pudar seiring wajah tampan yang mulai memucat.




__ADS_1


“Please, bertahanlah! Lizbeth dan calon anak kalian menunggu,” ujar Alexa menahan isakannya.



Louis dan Alexa yang memapah Edward mulai berjalan meninggalkan ruangan itu.



******



“Edward!!”



Teriakan seseorang menghentikan gerakan Alexa serta Louis yang hendak membawa masuk Edward ke dalam mobil. Derap langkah beberapa orang yang menyusul wanita yang sedang berlari menghampiri Edward nampak memasang wajah khawatir semua. Lizbeth terisak menangkupkan wajah pucat suaminya.



“Ed,” gumamnya.



“Kita harus segera membawanya ke rumah sakit,” ujar Alexa yang tak ingin membiarkan Lizbeth tetap menangis tanpa berbuat sesuatu. Wanita dengan perut yang sudah sedikit terlihat membuncit di balik kaos putih berlapis leather jacket itu mengangguk lalu ikut masuk kedalam mobil Alexa.



Mobil mereka langsung melaju dengan cepat meninggalkan markas Gustavo di ikuti beberapa mobil anak buah Edward di belakang yang tentunya terdapat Victor serta Dmitry disana.



Alexa yang duduk di samping Luois sebagai supir hanya bisa menatap sedih pemandangan di kursi belakang melalui kaca kecil di depan.




Perlahan kelopak mata yang semula tertutup itu kini bergerak dan sedikit terbuka. Mata biru yang biasanya memancarkan keberanian, ketegasan serta intimidasi kini terlihat lelah meski senyum paksa tercetak pada wajahnya melihat dirinya berada di pangkuan istri tercinta.



“Baby..”



Lizbeth hanya mengangguk menggennggam tangan besar Edward yang mengelus pipinya.



“I’m here,” ujar Lizbeth “bertahanlah, demi kami.”



Edward masih tersenyum meski pandangannya kembali memburam. “Aku mencintai kalian.”



Tak ada lagi kalimat yang terucap dari bibir Edward setelah mengatakan cinta pada istrinya seiring kembali tenggelamnya iris biru itu pada kelopak mata yang di naungi oleh bulu mata indah.



Isakan Lizbeth kembali terdengar menyayat hati. Begitupun Alexa yang menahan dirinya untuk tidak ikut menangis.

__ADS_1



“Dia hanya pingsan. Semua akan baik-baik saja, Liz.” Alexa mencoba menenangkan ibu hamil yang emosinya sedang terpengaruh dengan hormon itu.



Luois menghentikan mobilnya setelah sampai di markas Edward dan segera membawa Edward keluar di bantu Victor serta Dmitry. Dokter Sam dan anak buahnya sudah siap dengan ranjang dorong untuk menyambut Edward membawanya kedalam ruang operasi dan segera melakukan penanganan cepat.



Alexa memeluk Lizbeth erat di depan pintu ruang operasi. “Tenangkan dirimu, aku mohon. Kau juga akan membuat baby kalian merasa tidak nyaman di dalam sana.”





Dmitry medekati keduanya membimbing Lizbeth untuk duduk sebelum memberikan sebotol air mineral. Menjamin keadaan ibu hamil tetap baik-baik saja lebih utama bagi Dmitry. Ia tak ingin adiknya yang baru saja pulih kembali terganggu karena melihat kondisi suaminya.



“Apa yang sudah terjadi?” Tanya Dmitry menatap Alexa juga Louis yang sedari tadi belum mengatakan apapun.



Alexa menggeleng pelan lalu ikut duduk di sebelah Dmitry. “Hanya Edward yang tahu apa yang terjadi. Aku sudah menemukannya seperti itu saat aku datang bersama Louis.”



Alexa merogoh sakunya kemudian memperlihatkan sebuah chip yang Edward berikan padanya.



“Demi keluarga kecilnya, Edward rela mengorbankan nyawa, seperti ibu dulu.”



Alexa menunduk dan menggenggam erat chip itu sebelum melanjutkan kalimatnya.



“Aku yang pendosa ini hanya mempunyai satu permintaan dan berharap Tuhan masih berbaik hati untuk mengabulkannya. Aku hanya berharap bahwa aku dan Edward tak akan terpisah lagi karena hanya dia satu satunya keluarga yang masih tersisa untuk menemaniku menghadapi dunia yang kejam.”



Semua hanya bisa diam merasa sakit mendengar ucapan Alexa dengan nada pilu. Louis yang semula berdiri tak jauh dari Alexa kini mendekat. Berjongkok di depan gadis itu kemudian menggenggam kedua tangan Alexa tanpa mengatakan apapun. Laki laki itu hanya ingin memberikan kenyamanan untuk Alexa berharap bisa membuat suasana hati gadis itu membaik dan menunjukkan bahwa Alexa tak pernah sendiri.





Sementara Lizbeth, wanita itu mengelus perutnya dan memejamkan matanya sejenak. Berdoa pada Tuhan dengan harapan yang sama seperti Alexa. Ia tak ingin berpisah dengan Edward karena Lizbeth juga merasa sendiri selama ini meski sekarang sudah ada Dmitry di sisinya.



Dmitry yang berada di samping Lizbeth langsung terkesiap melihat wajah cantik adiknya memucat.



“Liz, kau baik baik saja?”

__ADS_1



Lizbeth membuka matanya lalu menggeleng. “Aku pusing,” lirih Lizbeth sebelum terkulai lemas kehilangan kesadarannya yang langsung membuat semua orang panik termasuk Alexa juga Dmitry.


__ADS_2