
“True love doesn’t have a happy ending, because true love doesn’t end.”
Berita kematian Edison tersebar cepat dengan berbagai asumsi terhadap apa sebenarnya motif dari pembunuhan itu. Ajaibnya, nama Edward tidak pernah sekalipun di sebut dalam berita yang tersebar luas, tentu saja. Edwrad dengan segala kekuasaannya sudah membayar mahal pengacara hebat untuk membersihkan nama baiknya, lagipula polisis juga tidak mempunya bukti untuk menuduh Edward. Edwrad hanya sekali menjalani masa pemeriksaan dengan status sebagai saksi di tempat kejadian. Tersebarnya fak-fakta buruk mengenai pria itu seolah menjadi keberuntungan tersendiri bagi Edward karena polisi sudah berani menyimpulkan, bahwa motif kejadian itu adalah karena persaingan bisnis, mengingat polisi mengetahui banyak sekali musuh Edison setelah terkuaknya fakta-fakta kehidupan pria itu, bahkan polisi tak bisa menemukan rekaman cctv yang sudah pasti di hapus, di tambah lagi Edward menyerahkan rekaman percakapan antara Edison dan dirinya pada polisi, rekaman dimana Edison dengan terang-terangan mengakui perbuatannya dengan memerintahkan anak buahnya untuk menyusupkedalam kantor Edward hingga melukai anak laki-laki pengusaha besar New York tersebut. Semua berjalan sesuai rencana Edward meski sedikit bertele-tele karena melibatkan polisi dan media. Sementara mayat sniper dan yang lainnya sudah tentu di bereskan oleh anak buah Edwrad sebelum polisi datang hingga sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa penembak Edison.
“Mommy.”
Edward tersentak mendengar suara anaknya setelah beberapa hari terbaring tak sadarkan diri, perlahan ia menggeser kepala Lizbeth yang tertidur bersandar di bahunya hingga wanita itu terbangun lalu segera beranjak mendahului Edward untuk mendekati Gabriel yang sudah sadar.
“Sayang, mommy disini, nak,” ujar Lizbeth mencium kening anaknya dan mengelus kepala Gabriel lembut.
“Mommy menangis?” tangan mungil Gabriel bergerak pelan untuk mengusap air mata ibunya. “Apa karena Gabriel yang melanggar peraturan mommy? I’m sorry, Gabriel—“
Ucapan Gabriel terhenti saat Lizbeth langsung memeluknya dan semakin terisak. Mata biru Gabriel menatap Edward yang berdiri di belakang Lizbeth.
“Mommy hanya terlalu khawatir, nak dan juga bahagia melihatmu kembali sadar.” Ucap Edward memberikan senyumnya pada Gabriel. “I’m sorry dad.” Ujar Gabriel lirih masih menatap Edward dengan tatapan sedikit takut.
Edward menggeleng pelan lalu mengucapkan kalimat yang di luar dugan Gabriel.
“Kami bangga memiliki anak yang berani juga hebat sepertimu, dan terima kasih sudah menyelamatkan daddy serta perusahaan kita.”
Lizbeth melepaskan pelukannya menatap putranya penuh sayang, sejenak hanya keheningan yang ada karena Gabriel masih mencoba mencerna ucapan Edward yang membuat otaknya mendadak lambat bekerja. Hingga suara dokter membuat mereka menoleh ke arah pintu.
“Maaf mengganggu waktunya, tadi saya akan memeriksa pasien di sebelah dan saat lewat kebetulan pintu ruangan ini terbuka, saya melihat Gabriel sudah sadar,” ujar dokter itu pada Edward dan Lizbeth.
Edward hanya mengangguk mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa keadaan Gabriel setelah Lizbeth beranjak dari posisinya.
“Hai, nak. Apa yang sekarang kau rasakan?”
“Hanya sedikit nyeri di bagian perutku,” jawab Gabriel dengan tangan yang meraba perban di perutnya.
__ADS_1
“Itu wajar, lukanya akan segera sembuh dan sakitnya akan segera hilang.” Dokter itu tersenyum lembut “apa kau pusing?”
Gabriel menggeleng.
“Good. Kau anak yang kuat.”
“Kapan aku bisa pulang?” Tanya Gabriel membuat dokter di depannya kembali tersenyum.
“Setelah kau mampu untuk duduk dengan benar, lukamu belum kering, nak. Jadi bersabarlah.”
Edward dan Lizbeth hanya diam mengamati percakapan anak mereka dan dokter itu, sebelum dengan tiba-tiba Edward menanyakan sesuatu yang membuat dokter itu membalikkan badannya dan menatap Edwrad.
“Apa kami bisa melakukan perawatannya di rumah? Kebetulan kami mempunyai dokter pribadi, mungkin Gabriel sudah merasa bosan dan ingin segera pulang.”
Dokter itu terdiam sejenak terlohat berfikir lalu mengangguk. “Bisa, tapi setidaknya beri saya waktu dua hari untuk memastikan perkembangan baik dari kesehatan anak anda. Lagipula Gabriel juga baru saja terbangun dari ketidaksadarannya selama beberapa hari dan saya bertanggung jawab atas itu.”
Dengan terpaksa Edwrad mengangguk setuju, mencoba memahami maksud baik dari dokter meski sebenarnya tujuan Edward meminta prawatan Gabriel di rumah adalah agar ia bisa memberikan obat khusus pada luka tembak di perut Gabriel agar tak membutuhkan waktu lama untuk sembuh. Tidak mungkin Edward memberikan obat itu disini karena meski sudah berlisensi, obat itu tentu hanya di ketahui oleh orang-orang tertentu.
Edward mempersilahkan sang dokter yang berpamitan untuk keluar. Terlihat Lizbeth yang sudah kembali mendekati anaknya dan meminumkan segelas air putih pada Gabriel.
***
“Apa kau yakin ingin membatalkan rencana liburan kita?” tanya Edward.
Lizbeth mengangguk. “Lagipula Gabriel tidak setuju untuk berlibur di musim dingin, kau tahu bukan, jika anakmu tidak menyukai dingin dan kau malah mau mengajaknya ke Russia dengan suhunya akan sangat jauh lebih dingin dari New York.”
Edward mematikan laptopnya lalu meletakkannya di meja yang ada di sebelahnya kemudian lengannya bergerak menarik Lizbeth dalam pelukannya, Lizbeth menurut saja atas perlakuan Edward padanya, wanita itu semakin merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya yang selalu terasa nyaman dan aman sejak pertama kali Lizbeth jatuh cinta pada pria itu.
Gabriel sudah di bawa pulang sejak satu minggu yang lalu dan kini bocah sepuluh tahun itu sudah kembali sehat dengan bekas luka tembak di perutnya yang perlahan memudar dengan sempurna, bersyukurlah karena Edwrad memiliki obat terbaik dalam penyembuhan luka.
“Apa kau ingat, sayang?”
__ADS_1
“Hmm?” Lizbeth hanya bergumam lalu mendongak menatap Edward yang kini tengah menunduk menatapnya dengan tatapan lembut.
“Kita belum pernah berbulan madu semenjak menikah, apa kau mau kita melakukannya? Kita akn pergi berdua saja, aku bisa meminta mom Alena untuk menjaga Gabriel.”
Seketika Lizbeth terkikik geli mendengar ucapan suaminya. Entah mengapa ia merasa malu sendiri untuk membahas hal ini saat usia pernikahan mereka sudah sepuluh tahun.
“Kenapa tertawa?” tanya Edward dengan nada tak suka mendapati respon seperti itu dari istrinya.
Lizbeth menggeleng lalu menegakkan tubuhnya, ia mendongak menyelami keindahan iris biru milik Edward layaknya samudra yang selalu menghanyutkan meski terlihat indah. Sejak pertama menatap mata itu, Lizbeth memang sudah terhanyut semakin dalam setiap detiknya hingga ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk keluar dari sana. Tangan Lizbeth terulur mengelus rahang Edward lembut lalu mengecupnya sekilas.
“Aku tidak pernah menuntut apapun darimu, cukup kau selalu berada di sampingku dan melengkapi keluarga kecil kita itu sudah merupakan hal terindah dalam hidupku.”
Suasana menjadi hening, tak ada yang bersuara lagi setelah Lizbeth menyelesaikan kalimatnya, bahkan Edward hanya mampu menatap penuh cinta istrinya yang selalu membuatnya merasa jatuh cinta berkali-kali setiap detiknya. Dosa besar jika Edward tidak bersyukur bisa mendapatkan istri seperti Lizbeth, wanita tangguh yang tak pernah menuntut apapun sejak pertama kali mereka jatuh cinta atau bisa di katakan sejak pertama kali mereka bertemu? Sebuah takdir indah yang di kemas dalam balutan suka, duka, tangis dan tawa hingga kini keduanya medapatkan akhir yang bahagia. Ya, setidaknya itulah yang sekarang mereka rasakan, hidup bersama,mempunyai sebuah keluarga sempurna dan memberikan seluruh cinta kasih mereka pada Gabriel, Lizbeth dan Edward hanya tak ingin trauma masa lalu mereka yang hidup tanpa cinta kasih o3r8a4ng tua akan di rasakan oleh Gabriel.
Edward bergerak memeluk istrinya erat, mendekapnya sepenuh jiwa dan menyerahkan seluruh cintanya untuk Lizbeth, begitu pun sebaliknya.
“Apa aku sudah pernah mengucapkan terimakasih padamu?” “Terima kasih untuk apa?” balas Lizbeth masih setia berada dalam kedamaian pelukan suaminya.
“Terima kasih sudah menemaniku berjuang dengan banyak alasan untuk tetap bertahan, sampai sekarang.”
“Aku hanya tidak mempunyai alasan untuk menyerah dan tidak tahu bagaimana caranya keluar dari zona nyaman yang kau ciptakan.”
Untuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup bersama, mereka berada dalam situasi romantis dengan kalimat- kalimat manis yang mereka ucapkan, menyempurnakan kisah cinta mereka.
Disinilah mereka berada, ruangan luas dengan kaca jendela besar dan gorden terbuka lebar menampakkan salju pertama yang mulai turun. Meski tidak ada acara berlibur atau bulan madu namun perasaan bahagia sudah memenuhi setiap sudut hati mereka.
Tidak ada akhir untuk kisah cinta sejati, karena mereka terus memulai setiap harinya,memulai kebahagiaan baru, memulai perjuangan baru, memulai untuk menyelesaikan masalah baru dan bergitupun seterusnya hingga mereka menua bersama atau bahkan sampai menutup mata meninggalkan kisah yang beruah jadi sejarah, tapi cinta mereka tidak berakhir, kisah itu akan berlanjut menjadi cerita di masa mendatang.
__ADS_1
~~~~