The Devil Charming

The Devil Charming
Part 20


__ADS_3

Edward membawa Lizbeth yang tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir pada betis salah satu kakinya yang sempat Edward tembak keluar dari ruangan besar itu. Dengan sigap Victor membuka pintu mobil untuk mempersilahkan Edward masuk bersama Lizbeth.



Seluruh anak buah Edward tak ada yang mengucapkan sepatah katapun termasuk Victor sejak tadi, di antara mereka banyak yang terkejut mendengar pengakuan Edward terkait nama aslinya bukanlah Eduardo Estebat melainkan Edward yang berarti adalah anak Miller juga kerabat dekat Franklyn—keluarga Billionaire Amerika.



Edward memejamkan matanya sejenak menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan. Suasana menegangkan mendominasi di dalam mobil yang Edward tumpangi bersama Lizbeth, Victor juga satu agen nya yang bertugas sebagai supir. “Langsung ke ruang operasi,” perintah Edward yang langsung di beri anggukan oleh supirnya.



Sementara Victor mengerutkan keningnya hingga lipatan lipatan itu terlihat jelas pada wajah tampan Victor. Ia tak mengerti apa maksud Edward membawa Lizbeth ke ruang operasi yang berarti mereka harus pergi ke markas yang lain. Tempat dimana terdapat laboratorium besar dengan segala macam alat canggih juga di dukung banyak profesor ahli. Disana juga terdapat rumah sakit khusus yang memperkerjakan tenaga medis pilihan, ruang serta alat yang lengkap menjadi nilai plus rumah sakit khusus tersebut. Edward tentu tidak membukanya untuk umum, tempat medis tersebut hanya akan di gunakan oleh Edward dan anggota mafianya. Edward merobek ujung kaos yang ia pakai kemudian melilitkannya pada betis Lizbeth yang masih mengeluarkan darah. Tembakan itu tentu sudah dipertimbangkan dengan baik oleh Edward. Laki laki itu tidak menggunakan peluru Deagle nya yang sudah pasti akan menghancurkan objeknya dalam sekali tembak. Edward menggunakan pistol lain yang juga selalu ia bawa bersama Deagle nya. Pistol berukuran lebih kecil dari Deagle berisi peluru khusus yang hanya bersifat melukai dalam taraf ringan dan berefek membuat objek langsung kehilangan kesadaran diri karena peluru itu mengandung obat bius. Tidak akan terjadi hal fatal pada Lizbeth terkait tembakan itu, semuanya sudah Edward perhitungkan dengan matang. Tidak mungkin dirinya akan melukai Lizbeth sementara hatinya sudah berkomitmen untuk menjaga wanita itu.



Setelah mobil memasuki area khusus untuk menuju ruang bawah tanah semua sensor keamanan langsung bekerja dengan cepat. Menyalakan alarm peringatan di setiap sudut sebagai tanda bahwa Edward datang dalam kondisi perlu penanganan medis.



Tak menunggu lama, Edward kembali membawa tubuh lemas istrinya menuju ruang operasi tanpa memperdulikan beberapa tim medis yang sudah menyiapkan ranjang dorong untuk membawa Lizbeth. Dengan lengan kekarnya, Edward mendekap tubuh wanita itu selama dalam perjalanan hingga kini ia merebahkan dengan perlahan Lizbeth di atas ranjang besar pada sebuah ruangan yang berisi berbagai macam alat canggih.



“Tembakan peluru bius pada betisnya,” ucap Edward dingin tanpa menatap sang dokter yang hanya mengangguk paham dan langsung menyiapkan alat untuk mengambil peluru yang bersarang disana. Edward melipat kedua tangannya di depan dada, memperhatikan setiap gerak dokter beserta tim nya untuk mengambil satu peluru yang tak memakan waktu lama. Luka tembak itu sudah selesai di jahit dan di lapisi perban.


__ADS_1


Edward tersenyum tipis saat mendengar alarm peringatan yang memecah keheningan ruangan itu. Sang dokter pun menatap Edward dengan tegang.





“Peringatan satu tuan, ada partikel tersembunyi yang berada di dalam tubuh Nyonya,” ucap dokter setelah sadar dari mana asal peringatan itu.



“Periksa saja.”



“Saya tidak mengerti mengapa alarm di ruangan ini terlambat menyadari ada benda asing yang mencurigakan, sedangkan Nyonya sudah masuk ke sini beberapa menit yang lalu.”




Edward hanya diam, ia juga nampak berfikir dengan hal ini. Sebenarnya ia sudah mengetahui bahwa ada partikel khusus yang berada di dalam tubuh Lizbeth, namun ia hanya bisa memastikannya dengan laptop kerjanya yang hanya memiliki tingkat akurasi sebesar 55,50% karena di mansion maupun apartemennya, Edward tidak menyimpan peralatan secanggih yang ada di sini. Meski begitu, Edward tetap yakin dengan apa yang ia temukan dan ternyata itu benar.



“Periksa bagian punggung.” Dokter Sam menoleh dengan cepat dan menatap Edward yang terlihat sangat serius. Edward berjalan mendekat, memiringkan tubuh Lizbeth hingga kini wajah cantik itu berada di depan perut Edward dengan punggung yang menghadap ke arah dokter Sam. Dokter Sam sendiri terlihat enggan menyingkap kaos Lizbeth dan Edward dengan cepat memahami hal itu.

__ADS_1



“Aku mengizinkanmu, Sam.”



Masih sedikit ragu, dokter Sam menyingkap kaos yang di kenakan oleh Lizbeth dan segera memindai punggung mulus itu hingga suara alat pendeteksi berbunyi dan menyalakan lampu berwarna merah. “Partikel manipulasi,” gumam dokter Sam.



“Kau benar Sam. Aku sempat mendeteksinya, apa kau bisa mengeluarkannya?” Tanya Edward yang kembali memposisikan tubuh Lizbeth seperti semula dan merapikan rambut istrinya yang menutupi sebagian wajahnya cantik itu.



“Saya perlu mendiskusikan ini dulu dengan profesor Martin di laboratorium karena dia dan timnya yang mempelajari hal seperti ini tuan, sedangkan untuk tindakan medis seerti operasi atau yang lain jika di perlukan, maka saya yang akan tangani.”



Edward mengangguk, “Lakukan dengan baik. Aku ingin kabar secepatnya.”



“Baik. Biarkan Nyonya istirahat, atau anda bisa membawanya pulang. Saat ini nyonya hanya terpengaruh obat bius dari peluru itu selebihnya semua baik baik saja,” jelas dokter Sam.



“Aku akan membawanya pulang.”

__ADS_1



Dokter Sam mengangguk kemudian permisi untuk pergi terlebih dahulu meninggalkan dua orang di dalam ruangan besar itu. “Bukankah sudah ku katakan, apapun yang terjadi kau harus tetap mempercayaiku?” Bisik Edward pelan sebelum mendekatkan wajahnya mengecup bibir Lizbeth sebentar kemudian bergerak naik untuk mencium kening wanita itu cukup lama.


__ADS_2