The Devil Charming

The Devil Charming
Part 39


__ADS_3

Moscow, Russia 10:05 a.m.



Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sembilan jam dari New York menuju Moscow, kini Edward, Lizbeth, Dmitry, Alexa serta Louis sudah berdiri di depan sebuah gedung tinggi menjulang dengan lambang GR Group yang terlihat jelas. Berkat bantuan dari Rafael yang memberikan alamat perusahaan itu, Edward bisa langsung menuju gedung itu setelah sampai tanpa harus mengalami kesulitan. Mereka berharap bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan disini, tentunya sebuah jawaban dari pertanyaan besar yang mereka miliki.



Edward menatap Lizbeth yang berada di sampingnya. Kini mereka sudah berjalan memasuki lobby dan langsung menuju meja resepsionis. Di sana mereka di sambut dua orang wanita cantik berparas khas Russia yang langsung memberikan senyum ramah. “Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa kami bantu?” Sapa salah satu resepsionis itu menggunakan bahasa Inggris saat melihat paras Amerika Edward meski tengah bersama Lizbeth yang berparas Russia.



Apa kami bisa bertemu dengan boss kalian?”



“Maaf, kami tidak bisa membiarkan sembarang orang bertemu dengan beliau,” jawab wanita itu.



memberikan senyum terbaiknya lalu maju satu langkah melepaskan tautan tangannya dengan Edward. “Kami sudah membuat janji, tapi melalui asisten saya.”



“Kami minta maaf, anda tetap tidak bisa menemui beliau karena beliau tidak meninggalkan pesan apapun pada kami.”



Alexa yang mendengar perdebatan itu langsung saja mendekati Lizbeth lalu menatap tajam dua resepsionis di depannya.



“Kami hanya ingin bertemu saja, apa itu merugikan perusahaan?!” Ujar Alexa dengan nada tinggi yang mampu mencuri perhatian beberapa orang.





Mengetahui bahwa tamu mereka bukan orang yang bisa di usir secara halus, salah satu resepsionis itu segera menghubungi security yang tak lama datang mendekati Edward dan yang lain. “Ada yang bisa kami bantu, Sir?” Tanya salah satu security dengan tampang garang serta gaya layaknya bodyguard namun dengan balutan seragam security seperti umumnya.



“Mereka melarang kami bertemu dengan atasan kalian,” jawab Alexa.



“Maaf. Itu memang sudah peraturannya, kami tidak bisa menerima tamu asing begitu saja apalagi memaksa untuk bertemu dengan beliau.”



Edward yang hendak bergerak langsung di tahan lengannya oleh Lizbeth, namun tidak dengan Alexa. Gadis itu tetap memaksa ingin masuk dan mengabaikan peringatan dua security tadi. Langsung saja dua orang itu menghadang langkah Alexa dan yang lain serta menatap mereka penuh selidik apalagi saat wajah khas Amerika milik Edward, Alexa serta Louis lagi-lagi terlihat jelas di antara paras Russia yang ada di tempat itu.



“Maaf. Silahkan kalian pergi.”



Security itu bersikukuh tidak mengizinkan mereka untuk masuk dan menemui pimpinan mereka. Alexa berkali-kali menghela nafasnya menahan ledakan emosi yang tiba-tiba saja memuncak saat dengan terang-terangan mereka di usir dari tempat itu, beruntung ada Louis yang setia menenangkan Alexa. Sementara itu Edward menatap tajam dua orang di depannya tanpa ingin bergerak sedikitpun meninggalkan tempat itu.



“Izinkan kami masuk secara baik-baik sebelum kami masuk dengan cara kami sendiri,” ujar Edward penuh penekanan di sertai tatapan tanpa rasa takut sedikitpun.



Dua orang security itu saling bertatapan sebelum bergerak dengan cepat mengeluarkan benda kecil dan menyerang Edward





begitu saja namun sayang, gerakan itu bisa di baca oleh Lizbeth yang langsung menendang kaki salah satu security dan menempelkan pisau kesayangannya pada pinggang security yang lain. Tentu saja, kegiatan mereka itu tidak membuat kecurigaan besar orang-orang di sekitar karena Lizbeth tak menampakkan pisaunya secara terang- terangan.



“Sengatan listrik dari senjata kecil milik kalian tidak akan bisa menghentikan kami begitu saja. Sekarang pilih! Membiarkan kami masuk atau aku tak akan segan meledakkan gedung ini dan menusuk perutmu!” Gertak Lizbeth yang cukup membuat dua orang itu berfikir keras.



Alexa yang semula diam kini melangkah maju. “Kami hanya ingin bertemu atasan kalian, tidak lebih. Jadi, jangan memaksaku untuk menguliti kalian dan menjadikan otak kalian sebagai makanan anjing!”



Lizbeth menjauhkan tubuhnya saat melihat anggukan samar dari kedua security itu. Di sisi lain, para pria yang menyaksikan keberanian wanita mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berharap bahwa Lizbeth serta Alexa tak akan kehilangan kewarasan mereka nantinya dengan melakukan hal yang lebih gila. Edward sendiri hanya bisa menghela nafas sebelum berjalan mengikuti dua orang security itu menuju lift bersama yang lain.



“Kenapa aku tidak tahu jika kau membawa pisau itu?” Gumam Edward di samping Lizbeth.



Lizbeth menoleh lalu tersenyum lebar tanpa ingin menjawab ucapan Edward. Sebenarnya sebelum keberangkatan mereka ke Russia, Edward sudah mengoceh panjang lebar pada Lizbeth tentang apa yang boleh dan tidak boleh Lizbeth lakukan. Termasuk bermain senjata merupakan larangan nomor satu dari peraturan baru yang Edward terapkan untuk Lizbeth. Namun nyatanya hal itu hanya di anggap angin lalu oleh istrinya.





Tak lama denting lift berbunyi dan pintu terbuka yang langsung membuat semua orang melangkah keluar. Mereka berhenti di depan sebuah ruangan yang terbuka setelah salah satu security menempelkan id cardnya pada pintu.



“Silahkan masuk dan menunggu disini, kami tidak bisa membawa kalian langsung keruangan beliau.”



Semua orang saling bertatapan lalu dengan kasar Alexa menendang daun pintu hingga menimbulkan bunyi nyaring yang memecah keheningan ruangan.



“Damn! Jika dalam sepuluh menit kalian tidak kembali bersama pimpinan kalian, maka aku tidak akan segan menghancurkan tempat ini!” Ujar Alexa penuh kekesalan. Sifat tempramen yang ia miliki ternyata memang susah untuk di kendalikan.



Dua orang itu tak menjawab dan langsung pergi begitu saja meninggalkan lima orang itu di dalam ruangan luas bercat putih yang mirip ruang rapat lalu kembali mengunci pintunya hingga lagi lagi Alexa mengeram marah.



“F*ck! Aku akan segera menguliti kalian nanti!”



Edward dan Dmitry terkekeh melihat kekesalan Alexa. Sementara Lizbeth sibuk memainkan pisau di tangannya dengan Louis yang menarik Alexa agar duduk.



“Tenang, Lexa. Jangan sampai semua berantakan hanya karena kau yang tidak bisa mengendalikan emosimu,” ujar Louis lembut.



Alexa mendengkus lalu mendongak menatap langit-langit ruangan itu dan menelisik setiap sudutnya.



“Apa yang kau cari?” Tanya Dmitry. “CCTV,” Jawab Alexa singkat.



Edward menggeleng pelan lalu menunjuk lampu besar berhiaskan kristal yang bergantung tepat di atas mereka. “CCTV ada di dalam lampu itu,” ujar Edward datar.



“Bagaimana kau tahu?” Tanya Lizbeth tanpa menghentikan aktifitasnya.





“Cobalah untuk membaca situasi dari sisi lain. CCTV yang di letakkan di sudut ruangan sudah sangat biasa. Orang-orang seperti mereka tidak akan meletakkan sistem keamanan begitu saja. Mereka lebih suka memanipulasi penglihatan orang lain dengan menyamarkan keberadaan sistem pengawas atau keamanan. Dengan begitu orang mengira mereka tidak sedang di awasi dan dapat berbuat apa saja tanpa berusaha menjaga rahasia.”



Edward menyugar rambutnya kebelakang lalu menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. “Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan CCTV itu, Alexa?” Alexa mengerutkan keningnya sebelum mendesah kecewa. “Aku lupa kita tak membawa peralatan apapun.”



“Karena tujuan kita bukan untuk menyerang,” ujar Dmitry.


__ADS_1


“Tapi kenapa bisa Lizbeth membawa pisaunya?” Alexa menatap Edward dengan tatapan mengejek yang menunjukkan betapa teledornya Edward hingga bisa kecolongan seperti ini.



Sebelum menuju tempat ini mereka memang sepakat tidak membawa senjata apapun dan barang elektronik apapun selain ponsel karena mereka berniat baik serta tidak ingin mencari keributan. Langkah yang mereka ambil adalah dengan negosiasi, jika rencana itu gagal maka mereka baru akan menjalankan langkah lain yang otomatis akan melibatkan senjata.



Edward berdehem pelan dan hendak menjawab sebelum suara Lizbeth membuatnya terpaksa kembali menutup mulut.



“Peraturan larangan membawa senjata hanya berlaku untuk lima orang. Tapi tidak berlaku untuk orang ke enam.”



“Maksudmu?” Tanya Alexa heran.



“My baby membutuhkan senjata untuk perlindungan dan kalian lupa tak menerapkan peraturan itu padanya. Jadi my baby bebas melakukan apapun termasuk membawa senjata atau menyerang.” Semua orang dibuat tercengang dengan jawaban absurd Lizbeth



bahkan Edward sampai mengerjapkan matanya dan sudah pasti akan tersedak jika saat ini dirinya sedang minum. Mengapa istrinya berubah semakin aneh semenjak hamil? Oh, God!



“Siapa yang mengajarkanmu kalimat aneh seperti itu,huh?! Aku tidak yakin ingatanmu sudah kembali sepenuhnya. Atau jangan- jangan Sam salah menyuntikkan obat padamu?” Ujar Edward seenaknya tanpa takut bahwa kalimatnya itu terdengar kasar jika di ungkapkan kepada seorang wanita terlebih istrinya sendiri.



Lizbeth melotot tajam lalu menjambak rambut Edward dengan kuat. Entah mengapa akhir-akhir ini menjambak rambut suaminya menjadi hal menyenangkan baginya saat merasa kesal. “Jadi kau menganggapku gila?”



“Oh,Tuhan!” Edward meringis menahan sakit akibat jambakan Edward. “Siapa yang bilang kau gila? Lepaskan jambakanmu, Liz!” “Dasar pria tak berperasaan! Setiap kalimat yang keluar dari mulutmu itu tidak pernah sekalipun membuatku senang!”



Lizbeth melepaskan jambakannya dan mendengkus. Pertengkaran kecil mereka yang di tonton langsung oleh Alexa, Dmitry dan Louis membuat ketiga orang itu menahan tawanya sekuat mungkin saat Edward terlihat tak bersahabat dengan raut wajah menakutkan yang siap meledakkan amarahnya kapan saja. Mereka tak menyangka bahwa Edward hanya berani menggertak Lizbeth tanpa melakukan apapun saat sang istri sudah marah. Ya, Edward memang akan memilih diam begitu saja.



Tak lama terdengar pintu terbuka menampilkan sosok pria paruh baya dengan balutan tuxedo dan tongkat di tangan kanannya yang semakin membuat pria itu terlihat sangat berwibawa. Mata hijau yang di miliki pria tua itu menelisik satu per satu wajah kelima orang di depannya yang sudah berdiri dalam diam. Hingga pandangannya jatuh pada Lizbeth serta Dmitry.



Pria itu mengibaskan tangannya memberi isyarat pada bodyguard nya untuk pergi meninggalkannya sendiri sebelum melangkah mendekati kelima orang yang masih berdiri.



“Silahkan duduk,” ujar pria itu dengan senyum simpul.



“Ada perlu apa kalian ingin menemui pemilik perusahaan ini?” Tanya pria itu.



“Jika anda bukan pemiliknya, sebaiknya anda pergi dan memanggil atasan anda karena kami ingin bertemu dengannya bukan dengan anda,” ujar Alexa tanpa minat yang langsung membuat Louis menghela nafas dan mengelus tangan Alexa yang ia genggam.



Pria itu terkekeh pelan dan tak menunjukkan rasa tersinggung terlebih amarah sedikitpun.



“Kalian bisa menyampaikannya kepada saya, kebetulan beliau tidak ada di tempat dan saya adalah orang kepercayaannya.”



Edward yang sudah lelah dengan basa basi menyebalkan itu mulai duduk tegak dengan tatapan serius sebelum membuka suaranya. “Kami ingin tahu siapa pemilik GR Group yang selalu menutup diri dengan perusahaan Amerika. Aku tidak akan basa basi disini. Aku hanya ingin memastikan bahwa data yang ku punya tidak salah bahwa GR Group merupakan Golden Rose Group milik keluarga Kostov.”



Seketika keheningan tercipta bahkan ekspresi pria tua itu berubah menjadi dingin. “Siapa kalian? Dan atas dasar apa kalian mengorek informasi itu pada kami?”



“Kami...”



“We are the last prince and princess,” Jawab Dmitry cepat memotong ucapan Lizbeth. “Jika dugaan kami benar, maka kau tidak akan bingung dengan kode itu,” lanjutnya.




Edward mengeluarkan selembar kertas dari sakunya yang terlipat rapi ke depan pria tua itu. “Kau bukan orang bodoh untuk memahami itu, bukan?”





Pria itu menatap Edward sejenak lalu meraih lipatan kertas di depannya kemudian membacanya dengan seksama.



“Itu adalah catatan terakhir tuan Kostov sebelum meninggal serta beberapa foto lengkap dengan identitas kedua anaknya yang dianggap sudah mati oleh musuhnya. Kau bisa mengecek kebenaran surat itu jika kau ragu. Tapi aku yakin kau tidak akan ragu setelah melihat stempel mawar serta kode di bawahnya yang merupakan the last password. Satu lagi, aku dan Alexa merupakan anak dari Vladmir Jarvis yang merupakan sahabat dekat keluarga Kostov.”



Semua mata menatap Edward dengan tatapan menuntut. Pasalnya tidak satupun dari mereka mengetahui tentang penemuan Edward itu, bahkan Lizbeth pun tak tahu apapun. Sementara pria tua itu melepaskan kaca matanya dan meletakkannya ke atas meja dengan gerakan santai.



“Bisa kami meminta sedikit darah prince and princess?”



“Tentu,” jawab Lizbeth tanpa berpikir dua kali. “Jika itu akan membuat kalian percaya dan jangan salahkan aku bila aku akan meminta seluruh darahmu jika kau berbohong sedikit saja dan menutupi kebenaran informasi yang kita butuhkan.”



Pria tua itu mengangguk lalu berdiri. “Mari ikuti saya.”



Mereka berjalan meninggalkan ruangan itu dan menyusuri lorong yang buntu di ujungnya. Tapi dinding di depan mereka ternyata merupakan sebuah pintu rahasia yang otomatis terbuka saat pria tua itu berhasil melakukan scan pada retinanya.



Mereka kembali berjalan memasuki ruangan luas yang hanya terdapat satu pintu di depan mereka dan tak ada benda apapun di sana seolah itu hanya tempat yang digunakan untuk menyembunyikan pintu tersebut.



Pria tua itu menghentikan langkahnya kemudian berbalik.



“Saya lupa memperkenalkan diri. Saya adalah Makarov yang merupakan tangan kanan tuan Kostov. Dan maaf, apa kalian sepasang suami istri?” Tanya Makarov setelah melihat Edward yang terus menggenggam tangan Lizbeth serta melihat perut Lizbeth yang membuncit.



Edward hanya mengangguk tanpa ingin mengeluarkan suaranya sebagai jawaban atas pertanyaan yang Makarov lontarkan. Makarov menatap Lizbeth dan Dmitry bergantian.



“Meski saya pribadi sudah yakin dengan bukti yang kalian bawa serta mengingat miripnya paras kalian dengan tuan Kostov, tapi tanpa pembuktian kuat yang akan kita lakukan disini, saya tetap tidak bisa membuka mulut untuk menyampaikan informasi apapun. Pintu ini tidak pernah bisa di buka tanpa sample darah dari keturunan Kostov yang sudah terhubung dengan DNA sistem. Jika benar kalian adalah keturunan beliau, maka tidak akan sulit membuka pintu ini dengan sedikit darah kalian.”



Makarov mengeluarkan pisau kecil dari balik saku celananya. “Silahkan anda menggores sedikit jari anda lalu menempelkannya pada pintu ini.”



Tanpa ragu, Lizbeth serta Dmitry menggoreskan salah satu jari mereka kemudian menempelkannya pada dua daun pintu yang ada di depan mereka masing-masing. Semua orang menanti dengan tegang apa yang akan terjadi hingga suara dari komputer membuat Makarov tersenyum lebar.



“successfully opened access code.”



Lizbeth Dan Dmitry masih diam membiarkan daun pintu di depan mereka terbuka begitu saja hingga ruangan luas yang di penuhi bingaki foto pada dindingnya menyapa kedatangan mereka. “Sialhkan masuk, tuan dan nyonya muda.” Makarov membungkuk hormat mempersilahkan Lizbeth dan Dmitry masuk bersama yang lain.



“Ruang apa ini?” Tanya Alexa.



“Selama ini kami tidak bisa memasuki ruangan ini, seperti yang sudah kami jelaskan bahwa ruangan ini tidak akan terbuka tanpa sample darah dari keturunan Kostov. Saya hanya tahu dari penjelasan tuan Kostov bahwa tempat ini merupakan ruang kenangan keluarga. Selebihnya saya tidak tahu.”

__ADS_1



Baik Edward, Lizbeth dan yang lain langsung mengelilingi ruangan itu dan benar saja, selain banyaknya bingkai foto yang terpajang di dinding, di sana juga terdapat rak buku, sofa, tempat perapian juga sebuah layar tv besar. Mata tajam Edward langsung tertuju pada lukisan besar yang tertempel di dinding dekat dengan perapian. Lukisan itu terlihat biasa saja namun gambar mawar dengan satu kupu-kupu yang menjadi objek pada lukisan menarik perhatian Edward.



“Bisakah kalian berdua kemari? Sepertinya aku menemukan sesuatu.”



Lizbeth dan Dmitry yang berdiri tak jauh dari Edward pun mendekat.



“Apa yang kau temukan?”



“Ilusi optik,” jawab Edward dengan senyum miring. “Sebuah tombol di dalam lukisan.”



Edward menekan titik hitam kecil pada sayap kupu-kupu di tengah lukisan kelopak mawar besar itu hingga memunculkan sebuah hologram dan menampilkan video seorang wanita yang tengah tertawa bersama bayi di pangkuannya.



Semua orang menyaksikan video itu dalam diam begitupun Makarov.



“Mommy, mommy, arahkan wajah Nathalia ke kamera.”



Suara bocah laki laki terdengar nyaring dengan rekaman yang terlihat mendekati posisi dimana seorang wanita sedang duduk memangku bayinya.



“Mendekatlah, nak.”



Wanita itu melambaikan tangannya pada kamera. “Hai.”





“Boleh aku memanggilnya princess?”



“Tentu saja, nak. dia adalah princess kita.” Wanita itu terlihat sangat bahagia.



“Hallo princess Nathalia, aku Nikolai. Pangeran yang akan selalu menjagamu. Mommy, lihatlah matanya sama denganku!”



Rekaman itu terlihat bergerak tak beraturan dengan tawa bahagia yang terdengar jelas.



“Jangan loncat-loncat Niko. Letakkan kameramu di atas meja agar bisa merekam kita semua.”



“Apa itu aku,ibu dan Dmitry?” Tanya Lizbeth pada Makarov yang berdiri di sampingnya.



“Benar, Nyonya. Ah saya ingat, rekaman itu di buat saat anda berumur tujuh bulan, kelahiran anda bersamaan dengan kelahiran putra pertama keluarga Jarvis,” jelas Makarov.



Mereka kembali menyaksikan video yang kini menampilkan sosok pria tampan sedang tersenyum lebar menyambut pelukan bocah laki-laki berumur tiga tahun.



“Daddy! Apa Kau mengajak baby Eric dan aunty Diana?” “Apa kau sangat ingin bertemu dengan mereka, Niko?”



“Tentu saja, dad! Baby Eric memiliki mata biru yang indah seperti mata milik uncle Valdmir sedangkan mataku dan mata princess berwarna hijau seperti mommy.”



“Mereka akan segera datang. Wah..kau memanggil adikmu dengan sebutan princess?”



Nampak laki-laki itu berjalan mendekati istrinya lalu mengecup kening istrinya sekilas sebelum menggendong putri kecilnya. “Mommy bilang dia adalah princess kita.”



Pria yang merupakan Iwano Yuryevich Kostov itu mengelus kepala putranya dengan lembut.



“Ya, dan kau adalah seorang pangeran. Apa kau mau berjanji untuk melindungi princess?”





“Tentu saja! Aku akan menghajar siapapun yang berani menyakiti adikku,” ujar Nikolai penuh semangat sebelum ikut duduk bersama ibu dan ayahnya di sofa panjang sedang asik menikmati kebersamaan mereka bersama putri kecil Kostov.



Tak lama rekaman itu mati dan kembali menyala menampilkan kedatangan dua orang bersama bayi dalam gendongan pria tinggi yang mengenakan kemeja putih.



“Baby Eric!”



Suara Nikolai terdengar nyaring dan langsung meminta Vladmir agar menunduk membiarkan Nikolai menciumi bayinya. Valdmir dan yang lain hanya tertawa melihat kelakuan Nikolai. “Aku tak menyangka kau akan secepat ini kembali mengandung keturunan Jarvis,” ujar Lina mengelus perut Diana yang merupakan istri Vladmir Jarvis.



“Entahlah, mungkun Tuhan terlalu percaya padaku untuk kembali menerima malaikat kecil sedangkan Eric baru berusia tujuh bulan.” “Kau benar, setidaknya Eric akan mempunyai saudara seperti Nikolai.”



Perbincangan ringan itu mengalir begitu saja di sertai keceriaan kedua keluarga yang menikmati waktu kebersamaan mereka hingga video itu mati begitu saja.



Tanpa sadar, Lizbeth mengusap air matanya. Rasa rindu dengan suasana hangat seperti yang ia lihat terasa meremas hatinya saat ini. Betapa bahagianya kehidupan mereka dulu dengan keluarga yang sempurna. Melihat Lizbeth yang rapuh seperti itu, Dmitry langsung memeluk adiknya dan menyalurkan rasa sayangnya sebagai seorang kakak yang sudah pernah berjanji untuk melindungi adiknya dari siapapun.



“Aku akan menepati janjiku untuk selalu melindungimu, princess.” Edward membiarkan saja Lizbeth terisak dalam pelukan Dmitry dan percaya bahwa Dmitry bisa membuat Lizbeth merasa tenang.





“Jadi orang tuaku memberiku nama Eric?” Ujar Edward yang mendapatkan anggukan dari Makarov.



“Aku tidak yakin jika ibuku yang berkhianat dan menyebabkan semua masalah selama ini,” lirih Lizbeth.



Makarov menghela nafasnya. “Saya tidak berhak menjelaskan semua itu. Ada yang lebih berhak untuk menceritakan kebenarannya nanti.” “Siapa?” Selidik Dmitry.



“Kalian akan segera tahu,” jawab Makarov dengan senyum terbaiknya.



Alexa yang sedari tadi hanya diam kini sudah berada di dalam pelukan Louis. Laki-laki itu selalu bisa mengerti Alexa dengan baik. Alexa sebenarnya juga ingin menangis seperti Lizbeth saat melihat betapa bahagianya keluarga mereka di dalam video tadi, tapi gadis tetap itu berusaha untuk tetap terlihat kuat.



“Kau tak akan bisa membohongiku dengan berpura-pura bahwa kau baik-baik saja saat ini,” ujar Louis.

__ADS_1



Akhirnya Alexa hanya bisa menangis dalam diam di dalam pelukan hangat Louis. Sosok yang tak pernah bisa ia tolak kehadirannya sekuat apapun Alexa menghindar. Laki-laki itu kembali menjadi rumahnya, tempat untuk merasakan ketenangan.


__ADS_2