
Hening malam di dalam sebuah kamar yang berada di dalam mansion megah tak membuat hati Edward tenang, matanya enggan terpejam sejak dua jam yang lalu, bayangan Lizbeth terus membuatnya gelisah hingga pria itu memutuskan untuk meraih ponselnya, menghubungi nomor Victor dengan cepat. Sebenarnya bukan tak mau untuk mengabarkan istrinya, Edward hanya tidak ingin Lizbeth memberinya pertanyaan macam macam yang bahkan tanpa sepengetahuan Edward Lizbeth sudah tahu semuanya dari Victor dan Dmitry.
“Mr.Ed.” terdengar helaan nafas lega dari ujung telepon.
Edward hanya bergumam. Lalu menatap langit malam dari atas balkon kamar. “Bagaimana keadaan Lizbeth?”
“Nyonya baik baik saja, hanya..”
“Hanya apa?” Potong Edward cepat.
Victor berdehem pelan sebelum mengucapkan kalimatnya. “Maaf , tuan, apa anda sudah tahu mengenai kebenaran bahwa tuan Dmitry adalah kakak kandung Nyonya?”
Edward memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafas. “Ya. Apa yang sudah kalian lakukan hingga mengetahui fakta itu? Apa Lizbeth juga sudah tahu?”
“Sudah, tuan. kami melakukan tes DNA setelah menyadari bahwa nyonya hanya bisa mengingat tuan Dmitry. Dan saya juga sudah menceritakan semua kepada nyonya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Maaf, saya siap menerima hukuman atas kelancangan saya,” jelas Victor tegas.
“Kalian sudah melakukan hal yang benar,” gumam Edward yang masih bisa di dengar jelas oleh Victor melalui sambungan telepon mereka.
“Jaga istriku dengan baik. Katakan padanya aku akan segera kembali,” lanjut Edward.
“Anda tidak ingin berbicara dengan Nyonya?” Tanya Victor.
Edward terdiam sejenak terlihat berfikir yang masih dengan setia Victor menunggu suara Edward dari seberang.
“Berikan padanya,” ucap Edward akhirnya.
Tak lama terdengar perbincangan Victor dengan Lizbeth sebelum suara lembut penuh kekhawatiran terdengar.
“Ed.”
Tanpa sadar Edward tersenyum tipis. “Hai, kau baik baik saja?” “Ya, aku baik baik saja. Aku mengkhawatirkanmu. Maafkan aku, aku tidak tahu harus berbuat apa.”
“Tidak perlu khawatir aku baik-baik saja. Kau hanya perlu menjaga dirimu dengan baik serta pastikan calon anak kita sehat. Aku akan segera kembali.”
Terdengar isakan kecil yang sukses membuat Edward menegang. “Liz, kau baik-baik saja?” Tanya Edward gelisah.
“Aku merindukanmu, Ed.”
Edward mengerutkan keningnya dan ingin tertawa namun ia urungkan. Mengingat siapa dan seperti apa Lizbeth yang dulu membuat Edward merasa Lizbeth yang sekarang bukanlah wanita tangguh dan liar seperti dulu. Kini Lizbeth terlihat seperti wanita hamil yang sedang terpengaruh dengan hormon.
__ADS_1
“Aku akan segera kembali, sayang. Aku janji.”
“Jaga dirimu baik baik,” ujar Lizbeth sebelum menutup panggilannya. Edward mengusap wajahnya kasar, ingin sekali rasanya ia mendekap istrinya saat ini juga. Baru kali ini Edward merasakan apa itu rindu hingga ingatannya kembali pada beberapa tahun silam dimana ia mentertawakan kekonyolan Rafael saat sedang merindukan Ellena yang jauh. Tapi, saat ini dirinyalah yang pantas
untuk di tertawakan bahkan tidur saja rasanya ia tak bisa.
Edward menoleh mendapati Alexa yang sudah membuka pintu kamarnya tanpa menunggu persetujuan dari Edward. Alexa terlihat berjalan tergesa gesa dengan tatapan seriusnya yang membuat Edward berjalan mendekat. “Ada apa?”
“Kau harus tahu ini, Ed,” ujar Alexa yang langsung memperlihatkan tablet yang ia bawa.
“Apa ini?” Tanya Edward tak mengerti setelah mengamati beberapa data disana.
“Ini adalah DNA Sistem dan cara kerjanya. Seperti yang ku jelaskan sebelumnya. Buruknya, mereka yang berhasil mendapatkan chip induk dan chip kecilku berhasil membuka satu password disana,” jelas Alexa.
“Ada berapa password untuk melindungi chip itu?”
“Tiga. Dan mereka bisa melakukan apa saja pada Lizbeth selain mendapatkan informasi tentang kekayaan Kostov.”
“F*ck!!”
Edward meraih jaketnya juga Deagle kesayangannya. “Kita berangkat sekarang!”
“What?! Sekarang?!” Tanya Alexa tak percaya. “Jangan gegabah, Ed. Kita perlu mempersiapkan semuanya dengan matang,” lanjut Alexa mengikuti Edward yang sudah berjalan keluar kamar.
Alexa memiringkan kepalanya dengan kedua alis yang tertaut sebelum menghela nafas. “Ikuti aku!”
Edward tersenyum mengikuti Alexa yang kini sudah berjalan di depannya menuju sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar biasa namun di dalamnya berisi banyak senjata, dan... “Jangan sentuh itu!”
Edward menghentikan gerakannya saat tangannya hendak meraih salah satu pisau yang tertidur anggun di dalam kotak berwarna emas dengan ukiran menarik disana.
“Kenapa?”
“Jangan..itu—” Alexa menutup matanya meraup dengan rakus oksigen seolah mengendalikan dirinya yang langsung membuat Edward mendekatinya.
“Lexa, ada apa?”
Alexa membuka matanya menatap Edward tanpa ekspresi. “Aku menghabisi banyak nyawa dengan benda itu dan aku tak akan bisa menahan diriku untuk tidak menyayat serta memotong beberapa bagian tubuh mereka jika sudah membawa pisau itu.” Edward cukup terkejut dengan pernyataan Alexa. “Kau—” “Psychopath? Ya, dan aku sudah berjuang untuk menyembuhkan kebiasaan burukku itu setahun belakangan ini meski aku masih sesekali menusuk lawanku dengan sadis,” jelas Alexa dengan tawa sumbang.
“Apa sesuatu yang membuatmu menjadi seperti itu? Tidak mungkin kau tidak mempunyai alasan menjadi seorang psychopath.” “Seseorang membunuh kekasihku,” jawab Alexa dengan ekspresi datar seraya membuka sebuah kotak yang berhasil ia ambil dari dalam brankas.
__ADS_1
“Dia membunuh kekasihku dengan kejam kemudian mengirimkan jantungnya padaku. Sejak saat itu aku menjadi seorang psychopath Karena dendam ingin membalas perbuatannya lebih kejam dari apa yang sudah ia lakukan pada kekasihku,” lanjut Alexa.
“Dan kau berhasil?” Alexa mengangguk.
“Apa yang kau lakukan padanya?”
“Membelah tubuhnya, memberikan seluruh organ dalamnya pada orang yang membutuhkan dengan cuma-cuma.”
Edward meringis membayangkan ternyata adiknya lebih sadis daripada dirinya bahkan berhasil membuatnya bergidik. Edward menatap deretan pisau dengan berbagai bentuk dan ukuran yang berjejer rapi. Jika istrinya hanya memiliki satu pisau untuk membunuh lawannya, maka Alexa memiliki ratusan untuk mengoperasi lawannya.
“Kilo-Oscar-9-9-1.” Alexa membuka sebuah laptop dari dalam kotak kemudian menyebutkan kode itu setelah membuka data dari dalam laptop yang berada di depannya. “First password yang berhasil di buka mereka.”
“Siera-Tango-9-9-2. Second password. Dan yang terakhir...” “Oscar-Victor-9-9-3,” potong Edward cepat.
Alexa menoleh lalu tersenyum. “Aku tak meragukan otak cerdasmu.” Edward hanya menyeringai, password itu bisa Edward baca dengan mudah. Rentetan password itu jika di hubungkan menjadi K-O-S- T-O-V lalu 9-9 yang berarti darurat seperti 9-9-9 namun, mereka mengganti urutan angka terakhir menjadi 1-2-3 yang Edward duga untuk memudahkan mengurutkannya. Tapi yang tak Edward mengerti, mengapa mereka memberi password semudah itu?
“Itu terlalu mudah, aku bahkan bisa memecahnya dalam beberapa detik.”
Alexa mengangguk. “Itu baru wall barrier pertama. Kita mempunyai tiga wall barrier yang harus mereka pecahkan dan masing masing berisi tiga password. Yang berarti semua berjumlah sembilan password.”
Edward menaikkan sebelah alisnya. “Kau tahu ke sembilan password itu?”
Alexa mendesah lalu menatap Edward. “Hanya delapan. Kita harus bisa mencari password terakhir karena tuan Kostov sudah lebih dulu terbunuh sebelum memberitahuku password terakhir. Aku hanya takut mereka lebih dulu berhasil memecahkan password terakhir. Aku tidak yakin itu mudah untuk dilakukan tapi apa salahnya kita bergerak cepat?”
Edward mengangguk. “Kita bergerak sekarang!”
Setelah merapikan kembali laptop yang mereka gunakan dan mengambil beberapa senjata serta beberapa pisau yang pastinya tidak termasuk pisau dalam kotak berwarna emas itu, Alexa dan Edward keluar dari ruangan dengan langkah lebar.
“Pantau keamanan markas Estebat dan perketat penjagaan di sekitar sana! Selebihnya kerjakan tugas kalian masing masing!” Perintah Alexa pada anak buahnya yang di beri anggukan patuh.
“Dan kau Louis—” Alexa menatap laki laki tampan yang terlihat seumuran dengan Alexa.
“Aku ikut denganmu,” potong Louis membuat Alexa tersenyum kecil dan Edward yang hanya menatap datar.
“Okay, kau ikut dengan kami,” jawab Alexa sebelum memasuki mobil bersama Edward dan Louis yang duduk di depan bersebelahan dengan supir berjas hitam.
Edward mengamati tablet yang ia bawa sementara mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi. Alexa melirik sekilas tablet Edward lalu tersenyum menyadari Edward sedang memantau istrinya dari jauh.
“Kau merindukannya?”
__ADS_1
Edward hanya melirik Alexa sekilas lalu mematikan tabletnya. Sebelum menyandarkan tubuhnya pada kursi kemudian memejamkan matanya.