The Devil Charming

The Devil Charming
Part 22


__ADS_3

Lizbeth menatap lekat Edward yang masih enggan berbicara sejak tadi, sejak Lizbeth mendesaknya untuk segera melakukan operasi tanpa bius untuk mengeluarkan partikel di dalam tubuhnya itu. Lizbeth sendiri tidak bisa memerintah anak buah Edward termasuk dokter Sam dan Profesor Martin untuk segera melakukan tugasnya, hanya Edward satu satunya yang bisa mengendalikan semuanya termasuk menyetujui atau tidak tim medis itu melakukan tindakan pada istrinya.



Edward menjambak rambutnya frustasi, saat menatap perut rata Lizbeth. Di dalam sana ada janin yang terus tumbuh dan berkembang yang bisa kapan saja kehilangan nyawanya jika partikel itu tidak segera di ambil. Di sisi lain, hati Edward tak bisa menerima jika melihat istrinya harus di sayat dan di robek kulitnya di beberapa titik. Membayangkan bagaimana sakitnya di kuliti membuat Edward kembali marah..marah pada clan sialan yang merupakan keluarga Lizbeth juga merupakan clan yang membunuh ibu kandungnya.



Lizbeth menatap jam dinding di ruangan luas itu kemudian menghela nafas.



“Kau pilih tim medis mu yang menanganiku atau aku sendiri yang akan merobek kulitku untuk mengeluarkan partikel itu?”



Edward mendongak, beranjak dari duduknya dan menggelengkan kepalanya.



“Jangan lakukan apapun! Biarkan itu tetap berada di tubuhmu. Aku tidak pernah menuntut keturunan darimu, kita bisa mengadopsi anak jika kau ingin.”



“Apa kau sudah gila?! Di mana otakmu Edward?!” Bentak Lizbeth berapi-api.



Lizbeth yang geram kini menatap suaminya marah. “Jika seperti itu apa bedanya kau dengan mereka yang rela mengorbankan anaknya demi kepentingan sendiri?! Apa kau ingin mengulang sejarah kehidupan kita? Apa kau tidak berfikir bahwa janin ini mempunyai h1a4k6untuk hidup?”





Lizbeth mengusap kasar air matanya. “Setidaknya biarkan aku merasakan menjadi seorang ibu yang akan memberikan segalanya untuk anakku,” ujar Lizbeth.



Edward masih setia dengan tatapan datarnya menyembunyikan perasaan hancur dalam hatinya. Ia tak pandai berekspresi seperti Lizbeth bahkan laki laki itu lebih memilih menyembunyikan kekalutannya dalam topeng kepalsuan. Bohong jika dirinya rela membunuh keturunannya sendiri.



“Kau lebih berharga dari apapun,” ucap Edward yang mendapat senyum miring Lizbeth.



“Begitukah...” Wanita itu meraih pisau lipatnya dan menggoreskan pada lengan kanannya sendiri.



“See, kau lebih memilih aku menyayat diriku sendiri.”



Edward merebut pisau itu dan melemparkannya ke sudut ruangan “Jangan melawanku Lizbeth!” Geram Edward.



Edward bergerak cepat akan menutup luka pada lengan kanan istrinya dengan merobek kaosnya sendiri namun Lizbeth segera mundur menjauhi Edward.



“Panggil tim medis mu atau aku akan melakukan yang lebih dalam dari ini!” ancam Lizbeth.



Edward mengumpat tanpa suara sebelum berteriak memanggil anak buahnya.


__ADS_1


“Sam, Martin! Lakukan tugas sialan itu sekarang!”



Ruangan yang tadi hanya ada Edward dan Lizbeth kini mendadak ramai dengan kehadiran tim medis tentunya atas komando dokter serta profesor itu.



“Silahkan berbaring telungkup nyonya, kami akan melakukan di bagian punggung terlebih dahulu, karena disana ada dua partikel yang tertanam,” ujar dokter Sam tanpa berani melirik Edward yang terlihat mengerikan.



Lizbeth menurut saja, ia segera menaiki ranjang operasi dengan posisi telungkup memejamkan matanya sejenak kemudian menarik nafas.



“Aku akan melakukan apapun untukmu, nak. Sekalipun itu bertaruh nyawa,” batin Lizbeth.



Edward mendekati Lizbeth menatap punggung istrinya yang mulai di gores dengan pisau tajam mengkilat hingga erangan kesakitan pertama dari Lizbeth berhasil membuat Edward meringis. “Lanjutkan,” ucap Lizbeth lirih ketika dokter Sam menghentikan kegiatannya.



“Berteriak lah jika ingin berteriak nyonya. “



Lizbeth mencengkeram kaos Edward dengan kuat dan meredam teriakannya pada bantal saat pisau itu kembali menggores punggungnya semakin dalam.



“Aaaaarrrrrrggghhhhh.”



“Shit!! Bisakah kalian beri obat apapun itu untuk menghilangkan rasa sakitnya?!” Tanya Edward dengan nada frustasi setelah melihat raut kesakitan istrinya.




“Apa apaan ini?!” Dokter Sam terpekik melihat satu partikel yang berhasil ia keluarkan, lantas dokter itu menatap profesor Martin yang sama terkejutnya.



“Apa yang terjadi?” Tanya Edward.



“Partikel itu di sembunyikan di dalam chip ini, tuan.” ujar Dokter Sam.



“Ed..” suara lemah Lizbeth mengambil alih perhatian Edward.



“Ya, ada apa? Apa yang kau rasakan?” Tanya Edward panik saat melihat wajah pucat Lizbeth “sayang...”



“Aku mencintaimu, Ed.” “Lizbeth!! Sayang...oh no!”



Kepanikan Edward terlihat jelas setelah Lizbeth menyelesaikan kalimatnya kemudian tak sadarkan diri. Edward menepuk nepuk pipi Lizbeth berusaha menyadarkan istrinya.



“Permisi, tuan. Kami akan memeriksa nyonya,” ujar dokter Sam. Semua tim medis bergerak cepat setelah sadar apa yang harus mereka lakukan, profesor Martin sendiri langsung membawa chip itu ke ruang kerjanya di laboratorium membiarkan dokter Sam menangani Lizbeth.

__ADS_1



“Apa yang terjadi?” Tanya Edward melihat dokter Sam mendadak pias kemudian mengintruksikan timnya untuk memasangkan infus serta selang oksigen pada Lizbeth, memposisikan tubuh Lizbeth miring mengingat punggung wanita itu yang masih terluka.



“Tuan, chip itu sepertinya mengandung racun.”



“F*ck!! Bagaimana kalian bisa ceroboh seperti ini?!” Teriak Edward yang terlihat sangat kacau.



Semua orang tak berani bersuara termasuk dokter Sam yang hanya bisa meminta maaf.



“Ini di luar prediksi kami. Sepertinya ada yang salah, tuan, profesor masih berusaha memeriksanya,” ujar dokter Sam menunduk takut. Takut sewaktu waktu kepalanya akan meledak oleh Deagle Edward. “MaaThan kami,” lanjut dokter Sam.



Edward mengabaikan semuanya dan kembali mendekati istri nya, menatap penuh frustasi wanita yang tengah tak sadarkan diri itu. “Selamatkan istriku atau nyawa kalian semua yang akan menjadi gantinya jika terjadi sesuatu padanya!” Ujar Edward dengan intonasi rendah namun penuh ancaman dan penekanan.



Semua orang menelan salivanya dan mengangguk. Dokter Sam membawa suntikan berisi cairan berwarna biru dengan tangan gemetar saat mendekati ranjang istri boss mafianya.



“Sa-saya akan menyuntikkan anti racun level A juga memberikan obat untuk luka di punggung nyonya.”



“Lakukan dengan benar atau kau akan kehilangan tanganmu setelah ini,” ujar Edward ketika menyadari tangan gemetar dokter Sam saat akan menyuntikkan anti racun itu pada urat nadi istrinya.



“Ba-baik, tuan.”



Dokter Sam bernafas lega dan mengusap peluhnya setelah berhasil memberikan obat itu dengan benar.



“Lima menit lagi, posisikan tubuh nyonya dengan baik, luka di punggung itu akan mengering karena aku sudah memberikan obat.”



instruksi dokter Sam pada anak buahnya yang di balas anggukan patuh.



“What’s next?”



“Kita tunggu kabar dari profesor dulu, tuan. Setelahnya baru kita bisa bertindak, obat dan penanganan apa yang harus di berikan pada Nyonya,” jawab dokter Sam.



Edward menarik nafasnya perlahan kemudian menghembuskannya. “Pergilah!”



Dokter Sam mengangguk dan segera permisi bersama tim medisnya meninggalkan Edward yang masih setia menemani Lizbeth.



“Bertahanlah, sayang, aku akan melakukan apapun untuk kalian,” gumam Edward mengecup kening Lizbeth sejenak kemudian turun pada perut rata itu.

__ADS_1



“Baik-baik di dalam sana nak, kami berjuang untukmu.”


__ADS_2