
Kondisi Edward yang terus membaik membuat semua orang bernafas lega, meski Lizbeth masih menyuruh suaminya itu untuk tetap istirahat namun sepertinya Edward sudah tidak tahan untuk tetap berada di atas ranjang. Pria yang sudah kembali terlihat gagah dengan kaos abu-abu polos yang melekat sempurna pada tubuh atletisnya itu berjalan mendekati Lizbeth yang sedari tadi melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Edward datar. “Ada apa?”
“Kau akan kemana? Aku menyuruhmu untuk istirahat! Apa kau tidak bisa mengerti bagaimana khawatirnya aku saat kau tak sadarkan diri, huh?!”
Edward menaikkan sebelah alisnya menyadari betapa banyak perubahan emosi yang terjadi pada istrinya. Pria itu lantas semakin mendekat, tangannya mengelus lembut perut Lizbeth kemudian tersenyum.
“Kendalikan emosimu atau yang di dalam sini juga akan ikut gelisah.” Edward mendaratkan kecupan singkat pada kening Lizbeth.
“Aku hanya ingin memeriksa chip itu di ruang kerja karena setelah mendapatkannya aku tak sempat memeriksanya satu persatu. Kau bisa ikut jika kau mau,” lanjut Edward.
Lizbeth menghela nafasnya kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan suaminya yang membuat pria itu terkekeh kecil. Saat ini mereka masih berada di Markas karena Edward menyimpan semua peralatan kerjanya di sana, selain itu Edward juga masih harus menerima pemeriksaan rutin setiap harinya dari dokter Sam. Langkah lebarnya yang sudah berhasil menyusul Lizbeth kini mulai ia pelankan lalu meraih pinggang istrinya untuk di rengkuh mesra.
“Seperti ini lebih baik. Aku tak ingin melihatmu berjalan sendiri.” Lizbeth tak bisa menyembunyikan senyumnya meski Edward mengatakan hal itu dengan ekspresi datar, ia sangat tahu bahwa suaminya ingin selalu berada didekatnya. “Kapan kita akan pulang?”
“Setelah semuanya selesai,” jawab Edward melepaskan rengkuhannya saat sudah sampai di ruang kerjanya.
Edward yang duduk di kursi mengisyaratkan Lizbeth agar mendekat dan dengan sekali tarik, wanita itu terduduk di atas pangkuan suaminya.
“Kau tidak harus memangkuku seperti ini Ed,” protes Lizbeth.
Edward hanya berlagak tuli dan tak membiarkan istrinya beranjak. Pria itu mulai fokus mengetikkan beberapa deretan angka dan huruf yang sama sekali tak Lizbeth mengerti. Tadi pagi Alexa menyerahkan chip itu sebelum izin untuk kembali ke markasnya sendiri bersama Louis karena sejak penyerangan ke markas Gustavo, Alexa belum sekalipun kembali ke markasnya.
“Apa kau siap?”
“Siap untuk apa?” Tanya Lizbeth tak mengerti dengan pertanyaan Edward yang menanyakan kesiapannya.
“Untuk mengetahui apapun yang ada di dalam sini.”
Sejenak Edward beradu tatap dengan iris hijau cantik milik istrinya hingga sebuah anggukan Edward dapatkan dari Lizbeth.
“Aku siap.”
“Good.”
Edward menarik kursi di sebelahnya agar lebih merapat kemudian mengisyaratkan Lizbeth untuk duduk disana.
“Kita akan mulai dari folder” Edward menjeda kalimatnya dengan fokus yang masih mengarah pada layar laptop di depannya “ini,” sambung Edward mengarahkan anak panah pada kursor untuk membuka folder bertuliskan ‘Golden Rose’.
Lizbeth menahan nafasnya menunggu hal mendebarkan di depannya hingga sebuah photo bangunan menjadi satu satunya isi dari folder itu.
Edward dan Lizbeth saling bertatapan dengan raut yang sama terkejutnya. Mereka tak menyangka bahwa yang ada di dalam folder itu hanya sebuah photo bangunan mirip mansion namun terlihat sederhana dan tak terawat.
“Kita coba yang lain.”
__ADS_1
Lizbeth mengangguk dan kembali menyaksikan beberapa photo bangunan mulai dari hotel, restaurant, club, serta stasiun TV. Penampakan photo-photo itu yang mengisi folder-folder di dalam chip.
“Apa ini milik keluargaku?” Tanya Lizbeth.
“Aku yakin begitu. Mereka tak memberikan informasi yang jelas selain photo-photo yang kau lihat.”
“Bagaimana dengan DNA sistem?”
“DNA sistem sudah nonaktif secara permanen setelah aku membuka password terakhir. Rupanya password itu selain di gunakan untuk melindungi chip juga digunakan untuk melindungimu,” jelas Edward membuat Lizbeth menghela nafas lega.
Setidaknya ia merasa kini hidupnya tidak akan lagi terbayang oleh mimpi buruk mengenai DNA sistem dimana sistem itu berkuasa penuh atas dirinya. Sistem itu bisa menyakiti dirinya secara perlahan melalu jaringan syaraf jika musuh bisa kembali menanamkan chip ke dalam tubuh Lizbeth. Bukan hanya Lizbeth, namun makhluk kecil yang berkembang di dalam rahimnya juga akan tersakiti.
“Jadi, apa selanjutnya?” “Mencari letak mansion itu.”
Lizbeth mengamati photo itu dengan cermat. “Mungkin Alexa tahu tempat ini. Bukankah dia yang selama ini dekat dengan keluargaku?”
Edward mengangguk. “Aku akan menghubungi Alexa dan setelah ini aku akan mulai bergerak.”
“Bukan kau, tapi kita. Aku tak akan membiarkanmu pergi seorang diri lagi tanpaku,” uajr Lizbeth penuh penekanan.
“Ingat! Kau sedang hamil muda, Liz. Apa kau tidak berfikir tentang kesehatan anak kita? Bagaimana jika—”
Edward menghela nafasnya. Sifat keras kepala Lizbeth tak berkurang sedikitpun dan istrinya itu sudah pasti akan bertindak nekat jika Edward melarangnya.
“Baiklah, kau menang Nyonya.”
*****
Alexa yang sudah tiba di Markas setelah Edward menghubunginya langsung menuju ruang kerja sang kakak. Gadis itu datang bersama Louis, laki-laki yang selalu siap menjadi tameng Alexa kapanpun dan dimanapun. Kedua orang itu sempat menghentikan langkahnya saat melihat Edward membopong tubuh Lizbeth yang tertidur untuk di pindahkan ke atas sofa yang cukup luas sebelum Edward memberikan kode agar mereka masuk.
“Apa Lizbeth baik-baik saja?” Tanya Alexa.
“Ya, dia baik-baik saja. Hanya tertidur karena menunggu kedatangan kalian,” jawab Edward tanpa ekspresi.
Alexa duduk bersebelahan dengan Loius sebelum menyuarakan pertanyaannya. “Ada apa kau menyuruh kami kesini?”
Edward memutar laptop di depannya hingga menghadap ke arah Alexa juga Louis sehingga sebuah photo bangunan bisa mereka berdua lihat dengan jelas.
Edward yang menangkap dengan cepat perubahan ekspresi dari Alexa langsung menatap adiknya itu penuh intimidasi, m24e2nuntut agar Alexa segera menjelaskan apapun yang gadis itu tahu.
Louis yang nampak tenang meski ia juga tahu tempat itu memilih diam karena merasa bahwa Alexa lah yang berhak menjelaskannya. “Itu...” Alexa seperti kehilangan suaranya sebelum menelan salivanya kasar dan melanjutkan ucapannya. “Itu mansion Kostov yang dulu. Dimana ibu meninggal di ruang bawah tanahnya saat melahirkanku,” jelas Alexa dengan nada tak setegas biasanya.
__ADS_1
Edward sempat menegang mendengar Alexa mengatakan mansion itu merupakan tempat ibu mereka meninggal. Meski tak bisa melihat secara langsung rupa ibu mereka namun tetap saja hal itu membuat Alexa dan Edward merasa sesak. Setelahnya Edward kembali bersikap biasa mengenyahkan emosionalnya karena ada yang lebih penting dari pada meratapi nasib.
“Kita akan kesana sekarang karena chip itu hanya berisi photo-photo bangunan tanpa ada penjelasan apapun. Mungkin di tempat itu akan ada banyak informasi yang kita butuhkan.”
Alexa mengangguk. “Bagaimana dengan Lizbeth?” Gadis itu menatap saudara iparnya yang masih terlelap.
“Dia akan ikut. Pergilah, aku akan menyusul setelah membangunkan Lizbeth.”
Alexa serta Louis beranjak dari duduknya dan segera keluar dari ruang kerja Edward. Sementara Edward mendekati istrinya, mengulurkan tangannya untuk membelai lembut pipi Lizbeth.
“Bangunlah, kita akan berangkat.”
Lizbeth yang merasa terganggu dengan sentuhan-sentuhan Edward pada wajahnya di sertai suara berat yang menyuruhnya untuk bangun, barhasil membuat mata Lizbeth terbuka.
“Apa Alexa sudah datang?” Tanya Lizbeth mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan.
“Ya, mereka menunggu kita di luar. Apa kau yakin ingin ikut?”
Tanya Edward.
“Tentu saja,” ujar Lizbeth yang sudah bangun dari sofa di bantu Edward. “Apa aku harus membawa senjata?”
Edward menatap tidak suka mendengar pertanyaan istrinya. Jika dulu pria itu akan langsung meng-iya-kan pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Lizbeth, maka sekarang tidak lagi. Edward tidak bodoh untuk membiarkan istrinya yang tengah hamil muda bermain dengan senjata.
“Cukup berada di sampingku dan jangan melakukan tindakan bodoh yang bisa membuat kandunganmu beresiko,” Tegas Edward enggan di bantah.
Lizbeth mengedikkan bahunya. “Tergantung kondisi, jika mendesak maka aku harus bermain dengan pisau,” ujarnya santai mengabaikan tatapan tajam Edward yang siap menusuknya.
Edward segera menyusul istri keras kepalanya itu dan menyambar mantel tebal yang tergantung di sudut ruangan. Ia tak habis pikir mengapa Lizbeth bisa membuatnya kalang kabut seperti ini hanya karena rasa khawatir.
Edward yang berhasil menyusul Lizbeth masuk ke dalam mobil yang berada di belakang mobil Alexa juga Louis, langsung menarik kedua bahu istrinya agar menatapnya.
“Apa?” Tanya Lizbeth tanpa minat.
“Jangan menjauh dariku sedikitpun nanti, paham?! Dan jangan mencoba untuk bermain senjata!”
“Aye, Daddy,” balas Lizbeth mengecup bibir Edward sejenak dan langsung menjauhkan wajahnya kembali saat merasa Edward akan memperdalam ciumannya.
“Liz..” desis Edward yang merasa kesal.
__ADS_1
Victor dan supir di depan yang sudah menahan tawa sejak tadi kini semakin ingin meledakkan tawanya saat Lizbeth malah mengabaikan Edward dengan cara menutup sebagian wajahnya dengan masker sebelum mengatakan kalimat yang membuat Edward berdecak. “Aku mual dengan aroma pengharum mobilmu.”