The Devil Charming

The Devil Charming
Part 43


__ADS_3

Derap langkah menuju sebuah ruangan mengisi keheningan mansion besar milik Edward. Setelah kepulangannya dari Russia dan menyelesaikan segala hal disana, Edward terus disibukkan mengurus perusahaan setiap harinya, meninggalkan istrinya di mansion dan tak pernah mengizinkan Lizbeth untuk keluar tanpa seizinnya.



Mengurus dua perusahaan yang baru saja dilakukan penggabungan benar-benar menyita banyak waktunya hingga tak sempat menemani Lizbeth di rumah, bahkan perhatiannya pada istri dan calon anaknya itu sangat berkurang. Memang tak perlu khawatir dengan keadaan Lizbeth saat ia tinggalkan karena Alena akan setiap pagi datang kemudian pulang saat sore hari bahkan wanita itu terlalu bersemangat menyambut calon cucu pertama Miller hingga kamar bayi yang sudah di siapkan penuh dengan berbagai macam barang yang menurut Edward berlebihan. Meski demikian, Edward dan Lizbeth membiarkan saja Alena menikmati momennya menyambut kelahiran seorang cucu.



Mengingat kembali bahwa ibu kandung Lizbeth Masih hidup, Edward dan Lizbeth langsung menjelaskan hal itu sesaat setelah pulang dari Russia. Mereka menjelaskan pada keluarga Miller bahwa dulu Lizbeth terpisah dengan ibu kandungnya kamudian kembali bertemu secara tidak sengaja. Semua cerita sudah Edward kemas sedemikian rupa untuk meyakinkan keluarga Miller tentang penjelasan yang Edward serta Lizbeth berikan.



Seluruh keluarga besar hanya mengerti bahwa Lizbeth berasal dari keluarga Russia yang terhormat dan memiliki saudara laki-laki yang juga baru bertemu karena terpisah sejak kecil. Tak ada yang curiga dengan semua itu karena Liana juga sempat datang ke New York menemui keluarga Miller dan memperkenalkan dirinya.



Tak lupa, Edward juga menceritakan sosok Alexa yang merupakan adik kandungnya. Alena sempat terkejut namun setelah Alexa juga datang menemui keluarga Miller, Alena sempat menangis dan meminta Alexa agar tinggal bersamanya apalagi melihat betapa akrabnya Alexa dengan Nathalie sejak awal perkenalan. Tentu saja hal itu di tolak halus oleh Alexa dengan alasan dirinya harus menempati mansion peninggalan orang tuanya karena Edward sudah memiliki mansion sendiri yang di tinggali bersama Lizbeth.



Semua terasa melegakan bagi Edward dan Lizbeth seolah semua masalah yang mereka hadapi memang sudah berakhir dan semua rasa sakit juga kesedihan akan terganti dengan kebahagiaan. Langkah Edward terhenti di depan sebuah pintu bercat putih yang tertutup rapat dan dengan segera pria itu memutar kenop pintu lalu membukanya tanpa suara.



Seulas senyum tipis menghiasi wajah rupawan yang terlihat lelah ketika iris birunya menangkap sosok yang ia cintai tengah tertidur di sofa dengan posisi menyamping hingga perut buncit Lizbeth terlihat jelas karena wanita itu hanya memakai gaun tidur satin yang cukup tipis.



Jas hitam yang semula Edward pakai kini sudah tergeletak di atas meja dengan lengan kemeja yang sudah di gulung hingga siku, sepertinya Lizbeth ketiduran saat menunggunya pulang hingga tak memperhatikan posisi tidurnya yang tak nyaman.



“Seharusnya kau tidur di ranjang, sayang,” gumam Edward dengan gerakan membalik tubuh Lizbeth hendak menggendong istrinya untuk di pindahkan ke atas ranjang.



Tanpa Edward duga, Lizbeth membuka matanya dan langsung menarik dasi Edward hingga membuat suaminya hampir saja menindihnya jika tidak dengan sigap Edward menahan berat badannya dengan kedua tangan di antara kepala Lizbeth.



“Kau pulang terlambat lagi dan kali ini tanpa menghubungiku, tuan.” Edward menaikkan sebelah alisnya sebelum pandangannya turun pada dada istrinya yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya, tanpa sadar Edward menelan salivanya dan segera mengalihkan fokusnya k3e2m0bali kepada Lizbeth.





“Kau...semakin cantik,” ujar Edward serak dengan gerakan lembut mengelus pipi istrinya dengan punggung tangan.



Lizbeth berdecak lalu mendorong dada Edward agar beranjak dari posisinya. “Sejak kapan kau suka mengalihkan percakapan?” Edward mengedikkan bahu dan dengan santai mulai melepaskan dasi serta kancing kemejanya satu per satu. “Ada sesuatu yang harus aku bereskan sebelum pulang jadi, aku tidak sempat menghubungimu.”



Lizbeth memicingkan matanya, ia sangat paham ada maksud lain dalam kata ‘bereskan’ yang Edward ucapkan karena Lizbeth sudah mengenal Edward dengan sangat baik, wanita itu bahkan hafal jika sedikit saja ada perubahan kebiasaan pada suaminya. Seperti saat ini, Edward melepaskan kemejanya berjalan menjauhi dan memunggunginya. Ini memang bukan hal besar, tapi semenjak kehamilan Lizbeth, Edward tak pernah lupa jika istrinya sangat suka melihatnya melepaskan kemeja di depannya. “Tidurlah, aku akan menyusul setelah mandi,” ucap Edward hanya menoleh tanpa ingin membalikkan badannya yang sudah berada di depan pintu kamar mandi.



Lizbeth mengabaikan ucapan suaminya. Wanita itu terus berjalan mendekat kemudian menahan lengan Edward yang sudah hendak masuk kedalam kamar mandi.



“Apa yang kau sembunyikan dariku?” “Tidak ada, sayang.”



“Bohong!”



Lizbeth memaksa Edward agar berbalik dan betapa terkejutnya ia saat melihat balutan luka pada perut sebelah kiri Edward.



“Apa yang terjadi? Siapa yang menyerangmu?” Tanya Lizbeth menarik Edward untuk duduk di sofa.



“Hanya pertengkaran kecil, kau tak perlu khawatir,” ucap Edward saat tangan Lizbeth menyentuh lukanya dengan pelan.



“Siapa yang melakukannya?”



Edward menghela nafasnya melihat tatapan menuntut dari istrinya. Keinginannya untuk menyembunyikan hal ini dari Lizbeth tidak akan berhasil karena istrinya cukup peka dengan segala hal dalam dirinya.



“Anak buah salah satu saingan bisnisku yang baru saja bangkrut. Dia menyalahkan ku karena menganggap aku terlalu serakah dalam dunia bisnis.” Edward berdecak. “Dia saja yang bodoh karena tak mampu bersaing sehat.”



“Aku baru tahu jika orang seperti itu mampu melukaimu,” ejek Lizbeth meski sorot khawatir masih terlihat jelas dalam iris hijau indah miliknya.



Edward mendengkus lalu mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya kemudian melemparkannya ke atas meja.



Sebuah name tag dengan tulisan Gracia membuat Lizbeth mengerutkan keningnya. “bukankah Gracia adalah sekretarismu? Jadi dia yang menyerangmu?”


__ADS_1


Edward mengangguk. “Wanita itu ternyata adalah selingkuhannya. Dia menusukku saat aku hendak masuk ke dalam mobil yang tanpa ia sadari Gracia menjatuhkan name tag miliknya. Aku sudah memastikan pelakunya melalui CCTV bahwa itu memang Gracia.”



“Bagaimana bisa?” Gumam Lizbeth nampak tak percaya bahwa orang kepercayaan Edward sendirilah yang berusaha melukai Edward.



Jika tidak karena pisau sialan yang mengandung racun itu, aku sudah pasti bisa menembak kepalanya saat itu juga,” geram Edward sebelum membuang nafas kasar.



Kejadian itu cukup cepat di dukung efek racun yang berjalan baik membuat keseimbangan serta pandangan Edward tidak bisa bekerja dengan baik, beruntung ia masih bisa menghubungi Victor sebelum kesadarannya habis.





“Apa yang akan kau lakukan padanya?” Tanya Lizbeth lirih seraya memeluk suaminya.



“Sedikit bermain seperti biasa di dalam markas. Kebetulan sudah lama tempat itu tidak basah oleh darah,” jawab Edward santai sementara Lizbeth menggeleng kuat.



“Jangan.”



“Aku tidak memintamu melihatnya, sayang.”



“Bukan, bukan karena itu.” Lizbeth mengangkat wajahnya menatap Edward serius kemudian menarik tangan Edward untuk mengelus perutnya. “Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah, bisakah sementara kau tidak melakukan sesuatu yang...”



Edward mencium bibir Lizbeth sekilas memotong ucapan istrinya. “Aku tak akan melakukannya.”



Elusan lembut pada pipi Lizbeth membuat rasa nyaman menyelimuti wanita itu.



“Tapi bukan berarti aku akan melepaskan wanita itu dan pria tua itu begitu saja,” lanjut Edward melunturkan senyum Lizbeth.



“Biar Victor yang mengurusnya. Ah! mungkin juga Alexa akan menyukainya jika aku memintanya untuk sedikit bermain-main menggunakan pisau.” Edward tersenyum niring.



Lizbeth menarik nafas panjang kemudian mengeluarkannya perlahan. “Terserah kau saja. Aku harap anak kita kelak jauh dari kehidupan gelap ayah dan ibunya. Aku hanya ingin anak kita menjalani hidup normal yang jauh dari kejamnya dunia mafia.”




Tak bisa di pungkiri seberapa banyak mafia di luar sana yang tak menyukai sesama mafia dengan berbagai alasan dan terus berusaha untuk saling menjatuhkan. Selama ini alasan Edward bertahan dalam gelapnya mafia adalah demi menjaga keluarganya, ia tak akan melukai orang tanpa alasan tapi jika sudah ada yang mengganggu hidupnya serta keluarganya maka tak akan ada ampunan.



“Kau keberatan?”



Edward tersenyum lalu menggeleng. “Tidak. Aku tidak pernah keberatan dengan segala keputusanmu.”



“Bisakah kau tidur tanpa mandi malam ini?”



Sekali lagi Edward hanya bisa menyetujui permintaan istrinya. Ia sadar bahwa Lizbeth butuh perhatiannya dan waktu berharga seperti ini tak akan Edward sia-siakan untuk berdebat menolak keinginan Lizbeth.



“Kau ingin tidur sekarang?”



Lizbeth mengangguk membiarkan Edward menggendongnya menuju ranjang dan merebahkannya perlahan.



“Kenapa tiba-tiba melarangku untuk mandi?” Tanya Edward mengelus kepala Lizbeth yang berada dalam pelukannya.



“Aku sudah sangat mengantuk untuk kembali menunggumu.” Edward terkekeh pelan lalu memberikan ciuman ringan pada wajah istrinya yang berakhir pada ciuman bibir yang lembut.



“Tidurlah, aku tidak akan membiarkanmu menunggu lagi.” “Selamat malam, Daddy.”



“Selamat malam sayang,” balas Edward dengan ciuman penutup pada perut Lizbeth sebelum ikut terlelap memeluk istrinya.



****

__ADS_1





Louis bersandar pada dinding dengan kedua tangan terlipat di depan dada seraya memperhatikan setiap gerak Alexa yang sedang memukul sandasack penuh semangat. Gadis itu bahkan tak menyadari sosok Louis yang sudah sejak tadi memperhatikannya menumpahkan emosi pada benda di depannya. Pukulan dan tendangan yang sudah Alexa lakukan sejak satu jam yang lalu sepertinya akan terus berlanjut jika saja Louis tak berdehem hingga menghentikan aktifitas Alexa.



Dengan nafas terengah Alexa berjalan menjauhi mainannya kemudian merebahkan tubuhnya di lantai begitu saja. Tak ada suara diantara mereka meski kini Louis sudah duduk di sebelah Alexa.



Gadis itu memejamkan matanya dengan degub jantung yang semakin kencang. Sial! Ia tak tahu harus berbicara apa ada Louis karena sejak kedatangan mereka dari Russia, Alexa di landa rasa gelisah setiap bersama Louis meski laki-laki itu tak pernah menyinggung apapun soal kesepakatan mereka. Well, bukan tak pernah tapi belum. “Minum?”



Alexa membuka matanya menatap Louis yang memberikannya sebotol air mineral. Gadis itu beranjak untuk duduk dan segera meminum air pemberian Louis hingga sisa setengah. “Jadi kau kemari hanya ingin memberiku ini?” Tanya Alexa sebelum mengumpat pelan menyadari bahwa pertanyaannya secara tidak langsung memancing Louis untuk membahas hal yang terus ia hindari.



Louis membuang nafas kasar sebelum merebahkan dirinya di lantai bergantian posisi dengan Alexa sebelumnya.



“Apa kau akan memintaku untuk menunggu lagi kali ini? Aku tidak memaksamu untuk menerimaku, Lexa. Aku hanya ingin kepastian agar aku tahu dimana posisiku serta siapa aku bagimu.”



Alexa masih terdiam mendengar ucapan Louis.



“Baiklah, lupakan jika kau memang tak ingin menjawabnya” Louis memejamkan matanya dengan kedua tangan yang ia jadikan bantalan kepala. “Aku akan menganggap kau tak pernah—”



Ucapan Louis terhenti dan seketika ia membuka matanya terkejut saat merasakan bibir kenyal Alexa melumat bibirnya, bahkan kini tubuh Alexa sudah menindihnya hingga secara reflek kedua tangan Luois bergerak memeluk punggung Alexa, merapatkan tubuh mereka dan membiarkan Alexa menciumnya.



“Kau tahu...” Alexa melepaskan ciumannya dan mengelus rahang Louis lembut dengan jarak antar wajah mereka yang masih sangat dekat hingga hembusan nafas satu sama lain terasa hangat. “...aku hanya tidak tahu harus mengatakan apa. Maksudku...kau tahu ‘kan bahwa aku tidak pandai berbicara manis apalagi soal cinta? Ku harap ciumanku tadi cukup untuk menjadi jawaban dari lamaranmu waktu itu.”



Louis mencerna ucapan Alexa cukup cepat dan dengan gerakan pasti ia membalik tubuh mereka hingga kini Alexa berada di bawahnya. “Kau yakin?”



Alexa mengangguk, tak ada suara yang bisa ia keluarkan di saat seperti ini. Damn! Suasana aneh seperti ini terasa lebih menegangkan daripada melihat moncong pistol mengarah padanya. Alexa tak tahu mengapa ia menahan nafas saat Louis mendekatkan wajahnya dan dengan reflek gadis itu memejamkan matanya hingga gadis itu terkejut, Louis tidak menciumnya seperti ia mencium Luois tadi, tapi laki-laki itu mencium keningnya cukup lama dengan lembut dan penuh perasaan. Oh God! ciuman seperti ini lebih terasa mematikan untuk jantung Alexa dari pada ciuman bibir yang mereka lakukan tadi.



Louis terkekeh pelan melihat ekspresi Alexa saat ini. “Kau sudah boleh bernafas sekarang.”



Tanpa sadar Alexa menghembuskan nafasnya hingga membuat Louis semakin terkikik geli. “Kau pikir aku akan mencium bibirmu?” G32o6da Louis.





“Ti...tidak. aku..”



“Simpan keinginanmu itu, baby. Karena aku akan memberikannya di depan altar,” ucap Louis semakin membuat semburat merah pada wajah Alexa terlihat jelas.



“Ah! ternyata calon istriku bisa memerah seperti ini. Kau terlihat lebih normal dari biasanya,” lanjutnya.



“Damn! Menyingkir dari atasku!”



Alexa mendorong tubuh Louis yang tak mampu membuat Luois bergeming sedikitpun. Laki-laki itu malah menatapnya intens. “Aku mencintaimu, Alexa. Will you marry me?” Lamar Louis untuk kedua kalinya.



“A...apa apaan ini? Ka...Kau sudah melamrku Louis!”



“Aku akan mengulanginya agar aku yakin kau benar-benar menerimaku sepenuh hati.”



Alexa menelan salivanya lalu berdeham pelan. “Maaf, Louis tapi aku tidak bisa...”



Alexa menggantung kalimatnya melihat wajah Louis berubah pias. “Aku tidak bisa menolaknya,” lanjut Alexa disertai tawa lepas melihat perubahan ekspresi Louis yang menurut Alexa akan sangat jarang ia lihat.



“Aku tak bisa menolak laki-laki hebat sepertimu.” Alexa tersenyum lalu mengalungkanntangannya pada leher Louis. “Aku mencintaimu, Louis.”



Louis berguling kesamping hingga kini Alexa lah yang berada di atasnya dan memeluk gadis itu erat. “Love you more, baby. Terima kasih sudah menerimaku.”

__ADS_1



Alexa menikmati pelukan mereka, menikmati sensasi detak jantungnya yang berpacu hebat beriringan dengan detak jantung Louis yang tak jauh beda dengannya.


__ADS_2