
Lizbeth mengerjapkan matanya berkali kali menyadari cahaya mentari pagi yang menelusup masuk melalui celah gorden kamar yang belum terbuka. Wanita itu membalikkan tubuhnya hingga menghadap pada pemilik wajah tampan yang sedang melingkarkan lengan kekarnya pada perut Lizbet, untuk beberapa saat Lizbeth menikmati pemandangan paginya, ah—Lizbeth melupakan bahwa pagi ini adalah pagi pertama mereka menjadi sepasang suami istri.
Lizbeth menggerakkan jari jari tangannya untuk menyusuri tulang rahang Edward yang di tumbuhi bulu bulu menggelikan saat bersentuhan langsung pada kulit tangannya.
“Morning,” ucap Edward dengan suara serak khas bangun tidur. Perlahan Edward mendekatkan tangan Lizbeth yang sudah ia genggam pada bibir nya dan mengecupnya sekilas. Tatapan tajam menghanyutkan itu berhasil menghipnotis pagi Lizbeth dengan rasa meledak pada jantungnya.
Dengan pelan wanita itu merapatkan tubuhnya pada tubuh Edward dan di sambut hangat oleh suaminya itu.
“Badanku sakit semua, Ed,” keluh Lizbeth dengan suara yang teredam pada dada bidang Edward.
Edward mengelus lembut punggung Lizbeth dan turun hingga tulang pinggul istrinya.
“Kenapa?”
“Entahlah, mungkin karena hampir seharian kemarin aku berdiri dengan heels setelah itu harus menikmati malam pertama di markas yang hampir saja membuatku kehilangan nyawa.”
Edward terkekeh pelan mendengar penuturan Lizbeth. Sifatnya yang sering berubah ubah membuat Lizbeth tak lagi heran. Seperti pagi ini, laki laki itu terlihat manis dan memperlakukannya layaknya pasangan normal lainnya di luar sana. Tapi tak menutup kemungkinan beberapa saat kedepan Edward akan kembali pada sifat dingin dan kejamnya seperti yang laki laki itu tunjukkan semalam.
Lizbeth menikmati usapan lembut yang masih Edward berikan, kemudian mendongak. Jarinya bergerak mengusap dada Edward perlahan.
“Apa aku boleh menanyakan sesuatu?” Edward melepaskan pelukannya kemudian beranjak duduk dan berdehem pelan.
“Kita akan membersihkan diri kemudian sarapan terlebih dahulu.” Lizbeth menghela nafas panjang melihat Edward yang sudah turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Keinginan Lizbeth untuk membicarakan masalah serius dalam suasanya manis sirna begitu saja, sepertinya karakter serius Edward tidak bisa hilang. Laki laki itu tidak akan mau membicarakan sesuatu tidak pada situasinya.
****
Lizbeth menendang pintu kamar mandi hingga terbuka dengan kasar karena Edward memang tidak menguncinya. Edward yang sedang melepaskan kaosnya pun menoleh dan menaikkan sebelah alisnya.
“What?”
Lizbeth hanya diam kemudian memasukkan dirinya pada bathup setelah melepaskan seluruh pakaiannya dengan gerakan santai seolah tak melihat ada Edward disana. Lizbeth membuka matanya saat merasakan seseorang ikut masuk kedalam bathup, detik berikutnya LIzbeth kembali memejamkan matanya.
“Aku ingin berendam sendiri, pergilah.” Edward memberikan tatapan tajamnya pada sosok yang tengah terpejam menikmati sensasi air hangat bercampur aromaterapi yang menenangkan. Baru kali ini ada yang berani mengusir keberadaannya terlebih saat ini Edward berada dalam kamar mandi mansion miliknya. Semua fasilitas disini berada dalam kekuasaannya dan tidak ada yang berhak mengusirnya.
Damn! Jika saja Lizbeth bukan istrinya, maka sudah ia tembak kepala cantik itu saat ini juga.
“Berbalik!”
Lizbeth kembali membuka matanya dan menatap Edward di depannya tak mengerti.
“Apa?”
“Berbaliklah, aku ingin melihat sesuatu di punggungmu,” jelas Edward yang sudah membalik paksa tubuh Lizbeth hingga kini posisi istrinya itu duduk membelakanginya.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau lihat?” Lizbeth menahan dirinya agar tak mengeluarkan suara memalukan meraskan sensasi gila yang di timbulkan akibat elusan tangan Edward pada punggungnya. Bahkan elusan itu seolah mengabsen setiap inch kulit punggungnya.
“Ed..” Edward memejamkan matanya sejenak kemudian membalik lagi tubuh Lizbeth dan menarik istrinya hingga kini posisi Lizbeth berada di atas pangkuannya. Posisi seintim ini membuat keduanya saling menatap lama hingga Edward yang terlebih dahulu membuka suara.
“Dengar! apapun yang terjadi nanti, aku harap kau akan tetap percaya padaku.”
Lizbeth mengerjapkan matanya, ia merasakan ada hal besar yang Edwrad sembunyikan darinya.
“Jangan membuatku terus menerka, bagaimana aku bisa tetap mempercayaimu jika kau saja tidak pernah jujur padaku?”
Tanpa memberikan jawaban apapun, Edward langsung menyambar bibir Lizbeth dengan sedikit kasar yang di balas tak kalah liarnya oleh Lizbeth. Mereka seolah sudah saling mengerti karakter masing masing yang sepertinya sangat jarang untuk bisa bermesraan sedikit lebih lembut.
***
Edward duduk berselonjor di atas sofa dengan laptop di pangkuannya serta kaca mata baca yang bertengger manis pada hidung mancungnya. Tatapan yang fokus dan gerakan jari jari yang lincah pada keyboard semakin menambah kesan mempesona dalam pandangan Lizbeth. Ia tak mengerti kenapa dirinya bisa jatuh cinta pada sosok Edward yang memiliki banyak rahasia dalam hidupnya, bahkan sampai saat ini pun Lizbeth tidak mengenal siapa Edward dengan baik.
Edward mendongak ketika satu cangkir kopi mengarah tepat di depan wajahnya,laki laki itu menerima secangkir kopi dari istrinya dengan ekspresi datar kemudian menutup laptopnya dan meletakkannya di atas meja sebelum ia merubah posisi duduknya dan mengisyaratkan Lizbeth agar duduk di sebelahnya.
“Bukankah kau ingin menanyakan sesuatu?” ucap Edward setelah menyesap sedikit kopinya.
Seketika rasa lega dan senang Lizbeth rasakan, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dimana ia akan menanyakan apapun yang membuatnya penasaran.
“Ya, aku ingin tahu siapa dirimu, bagaimana bisa anak Miller menjadi boss mafia?”
”Aku bukan anak kandung mom.” “A-apa?!”
Lizbeth tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, mengingat bagaimana hubungan manis keduanya yang sampai membuat Lizbeth iri, rasanya tidak mungkin bahwa Edward bukan anak kandung Alena Miller.
“Bagaimana bisa? Lantas siapa orang tua kandungmu?” Menghemuskan nafas perlahan, Edward menggelegkan kepalaya. “Sejauh ini yang aku ketahui adalah ibuku sudah meninggal di bunuh oleh clan golden rose. Mom menemukanku tergeletak di kursi taman kota dan sejak saat itu aku menjadi bagian keluarga Franklyn sebelum menjadi bagian dari keluarga Miller. Mom mengadopsiku jauh sebelum mom menikah dengan daddy Nathan.”
“Lalu, bagaimana kau bisa menjadi boss mafia?”
“Karena sebuah penghianatan. Lima tahun yang lalu, aku menjadi bagian dari mafia Amerika sebagai seorang hacker andalan mereka. di samping itu aku menjalin kerjasama bisnis dengan boss mafia itu,tapi sepertinya tua bangka sialan itu ingin menguasai bisnisku juga diriku sepenuhnya.”
“Dan kau melakukan perlawanan?” tanya Lizbeth dengan pandangan tak percaya.
“Apa kau fikir aku akan tunduk di bawah kaki seseorang? Aku mengetahui semua kartu mati tua bangka itu. Dan setelah kejadian malam dimana aku mengetahui keselamatan mom terancam, aku sudah lebih dulu bergerak untuk membunuhnya. Sejak saat itu semua kekuasaannya jatuh di tanganku. Sudah benyak kebobrokan dalam organisasi selama kepemimpinannya. Dan ternyata para penghianatnya memihak padaku.”
“Jadi anak buah setiamu saat ini adalah mantan penghianat bos mafia sebelumnya?”
Edward terkekeh pelan dan menarik pinggang Lizbeth sehingga tidak ada lagi jarak di antara keduanya.
“Tidak ada yang namanya mantan penghianat, sekali penghianat tetaplah penghianat. Apa kau fikir setelah menghianati boss lama mereka, mereka akan setia pada pimpinan barunya? Tidak,sayang, mereka juga akan berhianat lagi suatu saat. Dan aku tidak sebodoh pemimpin mereka yang dulu, tentu saja aku sudah menyingkirkan mereka.”
Lizbeth berdecak, meski apa yang di katakan Edward adalah benar adanya tetap saja itu kejam.
__ADS_1
“Itu sama saja kau hanya memanfaatkan mereka untuk mendukungmu dan setelah itu kau membuangnya.”
“Aku tidak pernah meminta mereka. Dan satu lagi, kau harus lebih kejam jika tidak ingin merasakan kekejaman dari orang lain.”
“Satu lagi.” Lizbeth menatap lurus mata biru Edward “Mengapa kau menikahiku secepat ini?” Edward terdiam cukup lama dan enggan menggerakkan bibirnya untuk menjawab pertanyaan Lizbeth.
“Ed, jangan membuatku semakin mencurigaimu dan berujung tak bisa lagi mempercayaimu,” lanjut LIzbeth semakin tidak sabar dengan kediaman Edward.
“Karena aku mencintaimu.” Lizbeth menggelengkan kepalanya dan menjauhkan tubuhnya hingga tercipta jarak diantara keduanya. “Ada hal lain yang kau sembunyikan, bukan?” Edward tak menjawab, ia beranjak dan mengulurkan tangannya. “C’mon! kita akan ke markas. Ada banyak hal yang bisa kau tahu dari wanita itu disana.” Meski tidak mengerti, Lizbeth menyambut uluran tangan Edward dan mengikuti langkah Edward yang berjalan keluar mansion. Disana ternyata sudah ada Victor yang menunggu dengan mobil hitam seperti biasanya.
***
Lizbeth bergidik melihat kondisi mengenaskan wanita yang hampir melubangi kepalanya dengan peluru malam itu, wanita itu tampak menyedihkan dengan bekas darah kering yang mengotori tubuhnya juga ada luka baru karena darah segar masih keluar dari sudut bibirnya juga dari beberapa luka gores yang Lizbeth yakin sengaja anak buah Edward lakukan atas perintah suami kejamnya itu.
Dengan tangan yang tak lepas menggenggam erat tangan Lizbeth, Edward berjalan mendekati wanita yang nampak tak berdaya dengan tangan dan kaki yang diikat pada tiang dengan posisi berdiri, wanita itu perlahan mendongak menyadari langkah kaki yang mendekat ke arahnya.
Lizbeth bisa merasakan kilat marah dan benci pada mata wanita itu saat menatapnya dan di balas tak kalah tajam oleh Lizbeth hal yang membuat Edward tersenyum miring.
“cih!” wanita itu meludahi Lizbeth yang beruntung tidak sampai mengenainya karena Lizbeth sudah mundur terlebih dahulu . “f*ck!!”
Edward membiarkan saja istrinya beraksi meluapkan emosinya pada wanita itu, bahkan kini Lizbeth sudah menjambak rambut wanita itu dengan kuat setelah menampar pipinya dengan keras.
“Berani, eh? Apa kau tidak sadar dengan kondisimu saat ini?!” geram Lizbeth bersiap menarik pisau lipatnya yang langsung di tahan oleh Edward.
Lizbeth mendengkus dan melepaskan jambakannya, kemudian menatap Edward dengan kesal membuat suaminya itu hanya terkekeh pelan.
“Calm down baby.”
Tanpa Lizbeth duga, Edward langsung menciumnya begitu saja, melumatnya dengan dalam dan lama tanpa memperdulikan sekitar.
“Ini sudah lebih dari cukup untuk menyakitinya,” ucap Edward setelah melepaskan pagutannya dan melirik wanita yang tengah terlihat sangat marah disuguhi pemandangan menyakitkan hati seperti itu.
“Apa lagi ini?!” ucap Lizbeth.
“F*ck! Kenapa kau menendangku wanita sialan?!” maki wanita itu nampak tak terima Lizbeth menendangnya dengan keras. Sedangkan Edward menggelengkan kepalanya dengan tawa kecil melihat tingkah Lizbeth.
“Jelaskan, Ed atau aku akan membunuh tawananmu!” “Alright…” Edward mengusap dagunya.
“...tanyakan saja langsung padanya, siapa dia dan apapun itu.” Edward berjalan menuju sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri meninggalkan Lizbeth yang masih di tempatnya bersama wanita itu.
“Jelaskan atau aku akan menancapkan pisau cantikku ini di kepalamu!”
Wanita itu tertawa dan sesekali terbatuk. Terlihat sekali sedang menahan rasa sakit pada tubuhnya yang terus disiksa.
__ADS_1
“Apa kau percaya jika aku adalah mantan kekasih suamimu? Dan kau…adalah—“