
Langkah pelan Edward yang mendekati istrinya tak dapat membuat rasa marah Lizbeth terkendali saat wanita itu melihat Liana yang turut berjalan di belakang suaminya. Terlihat sorot penuh amarah, kecewa juga kerinduan yang terpancar jelas di mata Lizbeth saat menatap Liana dengan berani. Edward menghela nafasnya, ia merasa ini akan sedikit lebih rumit dari apa yang ia bayangkan. Edward memang sudah menjelaskan semuanya kepada Lizbeth, namun tetap saja ia merasa harus memberikan waktu kepada Liana untuk berbicara langsung kepada Lizbeth sebagai seorang ibu kepada anaknya. Edward tahu bagaimana rasanya merindukan seorang ibu dan berharap bisa bertemu dengannya sepahit apapun kenyataan yang akan di hadapi.
Tak ada suara yang berusaha memecah keheningan hingga dehaman Edward dengan tangannya yang meraih tangan Lizbeth untuk digenggam berhasil mengalihkan tatapan Lizbeth padanya. “Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk mengizinkanmu bertemu dengannya?”
Lizbeth masih diam, memang benar jika beberapa saat yang lalu dirinya memang sangat ingin menemui ibunya itu, tapi setelah kembali bertatapan langsung dengan Liana, Lizbeth merasa dadanya sesak dan ingin sekali berteriak menyuarakan segala amarahnya selama ini.
Sementara Liana sendiri berusaha menenangkan dirinya untuk tidak memeluk putrinya itu dan menumpahkan kerinduannya, karena ia tahu jika hal itu ia lakukan maka yang ada hanya akan memperburuk keadaan karena Lizbeth masih terlihat belum bisa memaaThannya.
“Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini,” ujar Edward mengecup puncak kepala istrinya yang terduduk di atas ranjang rumah sakit.
Sejenak Lizbeth menahan suaminya yang hendak keluar dengan menarik lengan Edward kemudian menatap pria itu penuh kecemasan, Lizbeth tak mengerti mengapa ia mendadak cemas saat Edward mengatakan ingin meninggalkannya berdua bersama ibu kandungnya. Lizbeth merasa takut jika dirinya tidak akan sanggup menghadapi ini sendiri karena pada nyatanya apapun masalah yang ia hadapi selalu ada Edward di sampingnya.
Edward tersenyum meyakinkan lalu mengelus tangan istrinya yang masih berada di lengannya. “Dia tidak akan menyakitimu, percayalah.”
Edward mendekatkan wajahnya pada telinga Lizbeth kemudian berbisik, “Karena jika sedikit saja dia menyentuhmu maka aku akan langsung menembak kepalanya.”
Lizbeth merenggut tidak suka mendengar kalimat kejam suaminya apalagi melihat Edward yang malah terkekeh ringan.
“Kalian perlu bicara, aku ada di depan pintu jadi jangan khawatir.” Sekali lagi Edward meyakinkan istrinya hingga Lizbeth melepaskan cekalannya dan membiarkan Edward pergi.
Di dalam ruangan itu kini hanya ada mereka berdua, anak dan ibu yang sudah lama terpisah dan harus menghadapi kesalahpahaman panjang hanya demi keselamatan mereka—sang pewaris keturunan. Liana mencoba tersenyum lalu mendekati Lizbeth hingga wanita itu bisa mengamati bagaimana cantiknya putrinya itu.
“Hai.” suara Liana terdengar gemetar saat menyapa anaknya. “Aku...aku hanya ingin mengatakan bahwa ibumu ini sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi, aku minta maaf untuk segalanya, aku tahu jika maaThu tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah pergi dan hilang, tapi setidaknya aku ingin kembali memulai segalanya dari awal bersama keluargaku yang tersisa, kau dan Dmitry,” ujar Liana penuh kesungguhan dan ketulusan.
Lizbeth tersenyum masam mendengar ucapan ibunya. “Memulai dari awal? Kenapa baru sekarang? Selama ini apa yang kau lakukan? Menjaga harta kekayaan? Apa kau fikir semua harta itu kelak bisa membuat kedua anak yang kau abaikan bisa bahagia? Apa kau berpikir harta kekayaan yang menjadi obsesi para bajingan itu lebih berharga dari nyawa anakmu sendiri?”
Lizbeth terlihat sangat emosi saat ini, bahkan nafasnya terdengar memburu dan beberapa kali harus menahan rasa tidak nyaman pada perutnya.
“Aku tidak butuh semua harta itu, dan asal kau tahu, bagiku tidak ada harga yang bisa membeli sebuah keluarga apalagi hanya dengan kekayaan yang mati-matian kau lindungi selama ini!” Lanjut Lizbeth masih dengan segala amarahnya.
Liana menerima segala yang Lizbeth ucapkan. Ini memang salahnya, tapi ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengutamakan kekayaan daripada anaknya sendiri.
“Kau tidak akan mengerti betapa sulitnya diriku saat itu,” lirih Liana. “Semua yang kulakukan hanya untuk melindungi kalian, dan menjaga apa yang bisa aku jaga. Ini bukan hanya tentang kekayaan atau harta, tapi lebih kepada sebuah kepercayaan. Ayahmu sudah mempercayakan hal ini padaku karena ia tahu aku tidak akan bisa melindungi kalian seperti apa yang ayah kalian lakukan. Aku bukan wanita hebat, nak. Ibumu ini hanya wanita lemah yang hanya akan bisa menangis jika melihat moncong pistol mengarah padanya. Tapi satu yang harus kau tahu, tidak ada yang lebih aku cintai di dunia ini selain keluargaku. Dan aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan ayahmu.”
Lizbeth terdiam dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. “Bukan kalian saja yang merasa tersiksa dengan semua ini, tapi aku juga. Bertahun-tahun kehilangan kedua anaknya yang bahkan mungkin mengingat wajah ibunya saja tidak. Tapi apa kalian tahu bahwa aku tak sedetikpun bisa melupakan bagaimana wajah kalian? Bahkan aku masih ingat bagaimana mata indah milik anak-anakku menatapku untuk pertama kali. Aku selalu bahagia saat mengingat kenangan indah itu dan berusaha keluar sejenak dari kenyataan yang kujalani,” ujar Liana lembut tanpa ada nada amarah disana.
Suara Liana lebih mirip seperti seorang ibu yang sedang menceritakan dongeng untuk anaknya, sejenak Lizbeth bisa merasakan sesuatu yang membuat sudut hatinya menghangat, merasa nyaman dengan suara serta nada setiap kalimat yang Liana ucapkan.
Liana memberanikan diri untuk memeluk Lizbeth yang nyatanya tidak melakukan perlawanan apapun, lebih tepatnya Lizbeth hanya terdiam kaku saat kembali merasakan sebuah ikatan tak kasat mata yang terasa nyaman di dalam dirinya.
“Ibu merindukanmu,” Liana memeluk erat anaknya dan mengelus kepala Lizbeth layaknya seorang ibu. “Ibu juga mencintaimu, maaThan ibu.”
__ADS_1
Liana mengurai pelukannya lalu tersenyum seraya menyusut air matanya. Tangan itu terulur untuk mengelus perut anaknya.
“Aku menunggu cucu pertamaku,” ujar Liana sebelum pergi meninggalkan Lizbeth yang mulai pecah dengan tangisnya.
Lizbeth terisak, menangis dengan bahu bergetar yang sontak membuat Edward tergesa-gesa mendekatinya meski Edward tahu tidak terjadi hal buruk diantara istri dan mertuanya.
Lizbeth yang semua menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan kini berubah menghambur pada pelukan suaminya, mencari kenyamanan serta ketenangan di sana.
“Apa yang membuatmu menangis? Apa dia menyakitimu?” Tanya Edward meski ia sudah tahu jawabannya.
Lizbeth menggeleng. “Aku...aku yang menyakitinya, aku hanya menilai dari sisi yang kulihat dan kurasakan tanpa berusaha untuk melihat dan merasakan dari sisi berbeda.”
Edward tersenyum lalu memberikan kecupan-kecupan ringan pada pucuk kepala istrinya. “Kau tidak menyakitinya, sayang. Kalian hanya saling mengutarakan dari sisi yang kalian rasakan selama ini.” Apa yang kau rasakan, Ed?”
Edward menaikkan sebelah alisnya lalu menatap Lizbeth Yang sudah mendongak menatapnya dalam. “Merasakan apa?” “Tentang...”
Lizbeth mendadak kehilangan suaranya untuk melanjut ya pertanyaannya. Sementara Edward masih menunggu apa yang ingin Lizbeth tanyakan. “Tentang... ibumu,” lanjut Lizbeth mengigit bibir bawahnya dan memelankan suara saat mengucapkan kata ‘ibu’. Edward terdiam sejenak lalu menarik nafasnya. Matanya menerawang jauh membayangkan sosok ibu yang ia cari selama ini, yang ia rindukan selama ini namun nyatanya sang malaikat tak bersayap itu sudah meninggalkannya untuk selamanya.
“Aku bahagia,” Edward tersenyum tipis. “Juga bangga karena aku terlahir dari rahim wanita yang hebat. Meski aku tak sempat bertemu dengannya lagi setidaknya aku tahu ada darahnya di dalam tubuhku yang terus mengalir memberiku kehidupan pada setiap detak jantungku.”
Lizbeth tak pernah menyangka Edward akan menjawab seperti itu, wanita itu mengira Edward akan meluapkan kesedihan atau bahkan emosinya seperti dirinya mengingat disinilah Edward yang paling menderita. Lizbeth sadar, harusnya ia bersyukur karena tidak benar-benar kehilangan orang tuanya, dan Tuhan masih mengizinkannya untuk menatap wanita yang melahirkannya.
***
Alexa yang duduk gelisah di samping Louis sejak tadi, berhasil mengusik ketenangan Dmitry yang sedang fokus dengan tablet di tangannya. Dmitry menghela nafasnya, ia tahu apa penyebab Alexa gelisah seperti itu. Satu jam yang lalu, dokter yang merawat Lizbeth mengatakan bahwa Lizbeth sudah boleh pulang karena kondisinya yang membaik. Tentu hal itu merupakan tanda jika Edward juga akan secepatnya kembali ke New York bersama yang lain termasuk Alexa. Alexa teringat ia harus memberikan jawaban kepada Louis mengenai lamaran yang pernah Louis utarakan waktu itu.
Alexa berdehem pelan. “Dmitry,” panggilnya.
Dmitry menoleh lalu menaikkan sebelah alisnya. “Ada yang ingin Anda sampaikan, nona?”
Alexa memutar bola matanya mengabaikan Louis yang menarik sudut bibirnya tersenyum geli melihat kegelisahan Alexa sejak tadi. “Kapan kita akan kembali ke New York?”
Dmitry mengusap dagunya terlihat sedang berfikir sebelum tersenyum manis menatap Alexa. “Besok,” jawabnya santai dan kembali fokus pada tabletnya.
“Secepat itu?! Apa kalian tidak perlu menyelesaikan soal perusahaan terlebih dahulu?”
Dmitry mengedikkan bahunya. “Aku sudah menyelesaikannya.” “Kapan?” Tanya Alexa cepat.
“Memangnya apa yang Dmitry lakukan sejak tadi dengan tabletnya jika bukan soal perusahaan?” Ujar Louis yang langsung di beri tatapan aneh oleh Alexa.
__ADS_1
“Semudah itu?”
Louis menggeleng pelan dan terkekeh. “Ya, semudah itu. Semudah kita menarik pelatuk.”
Louis yang duduk di sebelah Alexa semakin mendekatkan dirinya hingga tak ada jarak lagi di antara mereka. Laki-laki itu sengaja menggoda Alexa yang tiba-tiba saja kembali gelisah saat ini. “Siapkan jawabanmu, sayang,” bisik Louis yang ternyata masih bisa di dengan oleh Dmitry karena Louis tidak benar-benar mengecilkan suaranya saat berbisik.
“Haruskah aku mengingatkan kalian dimana kita berada saat ini?” Sindir Dmitry tanpa menatap dua orang di sebelahnya.
Mereka memang masih berada di rumah sakit, tepatnya duduk di bangku panjang yang berada di dekat ruang rawat Lizbeth.
Alexa langsung berdiri dari duduknya dan hendak melangkah pergi jika saja tak melihat Edward yang keluar dari ruangan bersama Lizbeth.
“Kita kembali ke hotel,” ucap Edward tanpa basa-basi. “Dan kembali ke New York besok. Apa semua sudah selesai?”
Dmitry yang jelas mendapat pertanyaan itu mengangguk. “Beruntung kita mempunyai Makarov yang bisa diandalkan, dia mendukung keputusan kita untuk tetap menjadikan...” Dmitry berdehem pelan sebelum melanjutkan kalimatnya. “Ibu sebagai pemegang kendali perusahaan disini karena berkas kepemilikan dua perusahaan di New York sudah berpindah nama menjadi namaku dan Lizbeth.”
Edward mengangguk paham sementara Lizbeth masih mencerna kalimat penjelasan dari Dmitry.
“Apa maksudnya atas namaku? Kalian tidak bermaksud menyuruh ibu hamil untuk mengurus perusahaan, bukan?” Nada protes Lizbeth terdengar jelas dengan ekspresi tidak setujunya.
“Tentu saja tidak,” jawab Dmitry cepat. “Ini hanya sebagai formalitas pengalihan kekuasaan dari tangan ibu kepada kita. Kau cukup bersantai di rumah karena ada suamimu yang siap mengurus semuanya,” lanjut Dmitry.
Edward mendengkus kesal lalu dengan segera mengajak Lizbeth berjalan. Sebelum kembali menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Alexa yang membuat semua orang menatap bingung. “Apa?” Tanya Alexa yang merasa di tatap serius oleh kakaknya. “Aku lupa memberitahumu jika aku sudah selesai mencantumkan namamu sebagai pewaris tunggal keluarga Jarvis.”
Semua orang tercengang mendengar ucapan Edward terutama Alexa yang memberikan ekspresi terkejutnya.
“Pewaris tunggal? Apa maksudmu? Apa kau tidak mengakui bahwa kau adalah kakakku?”
“Hartaku sudah terlalu banyak untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lagipula aku sudah pusing untuk mengurusnya,” jawab Edward dengan nada sombong menyebalkan.
“Semudah itu?” Gumam Dmitry menelan ludahnya tak percaya. “Kakak!” Kesal Alexa yang mendapatkan jawaban konyol dari kakaknya.
“Jangan protes, Lexa.” Edward kembali mengajak berjalan Lizbeth yang hanya bisa menghela nafas.
“Tapi...sejak kapan kau berhasil mengetahui tentang harta ayah? Kita bahkan belum mencaritahu secara rinci tentangnya,” ujar Alexa yang berjalan mengikuti langkah Edward di sampingnya. “Informasi si bodoh itu terlalu mudah untuk ku cari.”
Langsung saja Edward di hadiahi pukulan oleh Alexa saat menyebut ayahnya dengan sebutan ‘si bodoh’. Edward hanya berdecak mengabaikan kekesalan adiknya bahkan mengabaikan pukulan Alexa yang cukup terasa nyeri pada perutnya itu.
“Kau benar-benar mencantumkan namaku sebagai pewaris tunggal? Tapi kenapa bisa seperti itu?” Gerutu Alexa.
“Apa kau meragukan kekayaanku? Sudah ku bilang aku tidak butuh harta itu. Lagipula itu hanya sepertiga dari kekayaanku belum termasuk milik istriku.”
__ADS_1
“Oh, shit!” Maki Alexa yang langsung berjalan terlebih dahulu meninggalkan yang lain yang tengah tertawa geli.