The Devil Charming

The Devil Charming
Part 48


__ADS_3

Dunia Edward sudah banyak berubah semenjak merasakan jatuh cinta dengan wanita yang kini sudah memberinya kebahagiaan penuh. Keluarga kecil dengan Gabriel yang melengkapinya seringkali membuat Edward bersyukur di setiap waktunya. Masa lalu hidupnya dan hidup Lizbeth selalu menjadi kenangan tersendiri bagi keduanya. Kini yang mereka inginkan hanyalah kehidupan yang baik untuk Gabriel.



Edward tersentak dari lamunannya saat mendengar suara Gabriel yang cukup lantang. Pria itu menatap putranya dengan sebelah alis terangkat menandakan ia tak suka Gabriel berbicara dengan nada sedikit naik dari biasanya. Sementara Gabriel sendiri hanya menghela nafas seraya meletakkan senjata yang pernah Edward berikan padanya sebagai pilihan agar lolos dari hukuman. “Aku sudah memanggil daddy berkali-kali tapi daddy tak mendengarkan ku,” ucap Gabriel “Aku sudah bisa melakukan apa yang daddy minta, jadi daddy juga harus menepati janji untuk tidak menghukumku.”



“Oh, ya?” Edward berucap dengan nada tidak yakin yang ternyata mengusik harga diri Gabriel. Bocah sepuluh tahun itu terlalu sensitif dengan hal yang menyinggung harga dirinya seperti ini. Gabriel selalu berusaha dengan maksimal, melakukan apa yang jadi tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh, anak itu tak suka jika ada yang meremehkannya sekalipun itu Edward.



Edward yang tahu perubahan ekspresi anaknya kini memberikan kekehan ringan lalu mengusap kepala anaknya dengan lembut. “Daddy tahu kau pasti bisa melakukannya. Tapi satu hal yang selama ini belum bisa kau lakukan,Gabriel.”



Gabriel meraih menatap Edward dalam diam, menanti kelanjutan ucapan ayahnya tanpa ingin menyela atau bertanya.



“Pengendalian diri,” lanjut Edward “Lihat! kau sangat mudah terpancing emosi. Bahkan kau tak bisa mempertahankan ekspresi tenangmu hanya karena sebuah ejekan. Ekspresi dan emosi seperti ini bisa menjadi kelemahanmu dalam menghadapi musuh.”



Belum sempat Gabriel membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, pintu ruang kerja Edward di buka oleh sosok yang menjadi wanita paling berharga bagi kedua laki-laki itu. Edward segera menegakkan tubuhnya lalu meraih senjata di atas meja yang sebelumnya di serahkan oleh Gabriel untuk segera di sembunyikan. Ekspresi tenang dengan gerakan yang tak mencurigakan berhasil menyelamatkan Edward dari amukan Lizbeth. Tentu saja, wanita itu tak akan tinggal diam melihat Edward kembali mengenalkan Gabriel dengan dunia senjata, mengingat kejadian beberapa hari lalu berhasil menambah kekhawatiran Lizbeth pada puteranya. “Ada apa,sayang?” Sapa Edward yang di abaikan oleh Lizbeth Karena wanita itu memilih menghampiri anaknya sebelum memberikan tatapan menyelidik pada Edward.



“Kau apakan lagi anakku,Ed?”



“Anak kita, baby,” tegas Edward meski dengan nada lembut. Hampir di setiap situasi yang menyangkut kenyamanan Gabriel yang di usik oleh Edward selalu saja Lizbeth menyebutnya ‘anakku’. Well, itu bukan hal besar sebenarnya, tapi tetap saja Edward tak suka mendengarnya.



“Apa daddy memarahimu lagi? Mengajarkanmu bermain senjata lagi?”



Gabriel menahan tawa melihat Edward memberikan kode padanya dengan gerakan menggeleng pelan.



“Tidak mom, daddy hanya—”



“Hanya ingin mengajak Gabriel mengunjungi mansion Franklyn karena aku dengar dari Rafael bahwa Angel ingin bertemu Gabriel,” bohong Edward memotong ucapan anaknya. Angel merupakan anak ketiga setelah si kembar dari pasangan Rafael-Ellena, sepupu Edward dari keluarga angkat Franklyn.



__ADS_1



“Benar begitu,Gabriel?”



Gabriel hanya tersenyum memamerkan deretan giginya sebelum bergegas keluar tanpa ingin menjawab pertanyaan Lizbeth. “Gabriel, jawab pertanyaan mommy!” Teriak Lizbeth.



“Lucy Sudah menungguku mom, aku berjanji akan mengajaknya bermain,”sahut Gabriel membuat Lizbwth menghela nafas.



Sementara itu Edward berdehem pelan menyadari bahwa sudah pasti Lizbeth akan curiga dengan ucapannya tadi.



“Apa lagi yang kau ajarkan pada Gabriel kali ini, Ed?”



Edward mendekati Lizbeth, merengkuh istrinya lembut sebelum mendaratkan ciuman pada kening istrinya. “Aku hanya mengajari Gabriel agar menjadi anak yang baik, jangan khawatir,sayang. Aku tidak mungkin menjerumuskan anakku sendiri.”



“Apa mengenalkan dunia mafia bukan berarti menjerumuskan Gabriel? Kau tahu bukan, bahwa masa lalu kita sudah menjadi kenangan paling buruk dalam hidupku?”




Lizbeth memeluk erat suaminya, menghirup aroma maskulin menenangkan yang selalu membuat wanita itu merasa aman dalam situasi apapun. “Apa semua ini salah kita, sayang?”



“Apa maksudmu?” Tanya Edward tak mengerti arah pembicaraan istrinya.





“Apa ini salah kita karena secara tidak langsung menyeret Gabriel memasuki dunia mafia? Kita tidak bisa keluar begitu saja dari dunia gelap yang mau tidak mau harus kita akui sebagai dunia penyelamat dari semua mimpi buruk yang kita hadapi sejak kecil, dunia kejam yang mengajarkan kita untuk kuat, bertahan, dan hidup dengan banyak harapan di setiap harinya atau menjadi lemah kemudian kalah.”



Edward tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya, ada nada kesedihan disana yang terdengar menyakitkan jika mengingat hal apa saja yang dulu mereka lewati hingga bisa bertahan sampai saat ini. Kekuatan cinta, doa dan pengorbanan tentu menjadi poin penting bagi keduanya hingga saat ini. Tak mudah bagi Edward juga Lizbeth kembali menata hidup mereka dengan damai. Bahkan hampir sepuluh tahun semenjak kelahiran Gabriel, mereka tak lagi pernah berlari diiringi desingan peluru yang tertuju pada mereka. Lizbeth hanya takut jika kedamaian mereka selama ini kembali terusik suatu saat apalagi itu menyangkut anak mereka satu-satunya. “Berhenti mencemaskan hal yang sebenarnya bisa kita hadapi, sayang. Atau itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Ini bukan salah siapapun, kita tak pernah menyakiti siapapun tanpa alasan, bukankah selama ini apa yang kita lakukan hanya demi melindungi keluarga dan orang-orang yang kita cintai? Suatu saat Gabriel juga pasti akan menghadapi situasi seperti itu, melakukan apapun untuk melindungi yang ia cintai.”



Lizbeth menarik senyumnya, kini Edward bukan lagi manusia kaku dengan ekspresi datarnya juga tatapan dingin penuh intimidasi. Pria itu berubah menjadi suami idaman yang siap menjadi sandaran terbaik bagi keluarganya, terutama Lizbeth. Kehadiran Gabriel mengubah segalanya, mengubah pribadi Edward juga mengubah dunia mereka.

__ADS_1





Edward melepaskan pelukan mereka dan mengajak Lizbeth untuk duduk di kursi kerja Edward yang sebenarnya tidak bisa diduduki oleh dua orang, well, Edward sengaja agar Lizbeth duduk di atas pangkuannya. Pria itu melingkarkan lengannya posesif pada pinggang istrinya, memperlakukan Lizbeth dengan penuh cinta bahkan bisa di bilang kini Edward adalah lelaki paling romantis yang pernah Lizbeth temui, mengingat bagaimana dulu sifat Edward.



“Sepertinya Gabriel sangat menyayangi Lucy seperti adiknya sendiri,” ucap Lizbeth menyandarkan kepalanya pada dada bidang Edward.



“Victor juga sudah menganggap Gabriel seperti anaknya, jadi wajar saja jika Gabriel juga menganggap Lucy sebagai adiknya. Apalagi semenjak meninggalnya istri Victor, Gabriel terus berusaha untuk tidak pernah membiarkan Lucy menangis lagi,” jawab Edward. “Kau benar,sayang. Gabriel mewarisi sifatmu yang akan selalu melindungi orang-orang tercinta di sekelilingnya. Tapi aku harap suatu saat sifatnya itu tidak akan membuat dirinya sendiri dalam bahaya.” Sahut Lizbeth.



Wanita itu terlalu takut kisah kelam dirinya dan Edward akan terulang lagi pada Gabriel, dan Edward pun sangat paham apa yang di rasakan oleh istrinya.



Edward menggenggam erat namun lembut tangan istrinya, membawanya kedepan bibir lalu menciumnya penuh cinta. “Bagaimana jika musim dingin ini kita mengunjungi Ibu dan Alexa di Russia?”



Lizbeth menoleh lalu menatap suaminya dengan binar ceria. “Kau tidak sedang bercanda kan?”



Lizbeth sangat tahu bahwa suaminya itu bukan tipe orang yang akan bersedia meninggalkan pekerjaannya begitu saja demi liburan seperti ini, apalagi baru-baru ini perusahaan mereka baru saja berada di puncak kejayaan yang bersanding dengan perusahaan raksasa Ameraika,siapa lagi jika bukan perusahaan milik Rafael Franklyn.



“Ya. Anggap saja ini perayaan kita karena keberhasilan perusahaan.” Lizbeth mencibir Edward dan langsung bangkit dari pangkuan pria itu.



“Seharusya kau membuat pesta perayaan di kantor, Ed. Anak buahmu ikut andil dalam keberhasilan ini. Bahkan, mereka yang bekerja keras setiap harinya untuk perusahaan.”



“Jadi, kau menolak untuk liburan ke Russia? Aku rasa Gabriel akan senang dengan rencana ini.”



Lizbeth menghela nafasnya lalu duduk di sofa yang tak jauh dari meja kerja Edward. “Bukan menolak. Kita akan liburan setelah kau mengadakan acara di kantor, setidaknya kita harus berbagi kebahagiaan ini pada mereka yang setia bekerja untukmu. Rasa terima kasih bukan hanya di ungkapkan dengan materi, aku tahu kau sudah memberikan bonus besar pada semua karyawanmu, tapi kau juga harus memikirkan bahwa kebersamaan dan kekeluargaan dalam sebuah perusahaan jauh lebih utama untuk meningkatkan loyalitas mereka.”



Edwad tersenyum mendengar ucapan istrinya. Entah belajar kata-kata dari mana Lizbeth hingga bisa mengatakan deretan kalimat menakjubkan itu. Well, perlu di ingat bahwa selama ini Nyonya besar Miller itu tak pernah sekalipun mau berururusan dengan dunia bisnis.wanita itu benar-benar menyibukkan hari- harinya untuk di rumah, menjaga dan mengurus keluarganya terutama Gabriel.


__ADS_1


“Baiklah, Nyonya. Aku akan meminta Victor untuk menyiapkan semuanya. Lusa kita akan mengadakan pesta di kantor lalu setelah itu kita akan libran ke Russia.” Edward beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati istrinya, berhenti di depan Lizbeth lalau mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan. “Aku mencintaimu.” Lizbeth menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan setelah Edward mengatakan kalimatnya lalu meninggalkannya dengan sebuah ciuman lembut di pipnya. Oh, God! Umur mereka tak lagi muda, tapi setiap perlakuan manis Edward padanya selalu mampu membuat jantungnya berdetak gila.


__ADS_2