The Devil Charming

The Devil Charming
Part 47


__ADS_3

“Gabriel!”



Teriakan Lizbeth menggema di mansion besar hingga membuat semua maid langsung bergegas mencari keberadaan tuan muda mereka meski akan berakhir sia-sia karena Gabriel tak akan mudah untuk ditemukan. Ini bukan hal baru lagi bagi mereka yang tinggal di mansion Edward. Situasi seperti ini sudah menjadi hal biasa yang akan sering terdengar ketika Lizbeth tak bisa menemukan keberadaan anaknya.



“Oh My God! apa lagi kali ini? Bisakah sehari saja dia tidak melawanku?” Omel Lizbeth mengetahui bahwa pisau cantiknya sudah tidak ada di tempat biasa ia menyimpannya.



“Edward!”



Lagi-lagi Lisbeth berteriak dengan nada kesal memanggil suaminya yang nampak santai membaca koran. Pria itu tak pernah melarang Gabriel untuk melakukan hal berbahaya selama masih dalam pengawasan Edward. Sementara Lizbeth, ibu yang masih terlihat cantik itu terlalu khawatir dengan apa yang akan di lakukan Gabriel.



“Biarkan dia bermain. Ini hari libur, baby,” jawab Edward meletakkan kaca mata bacanya lalu melipat kembali koran yang ia baca dan meletakkannya di atas meja.



Edward berjalan mendekati Lizbeth yang sudah terlihat marah. “Kau terlalu khawatir,sayang. Dia akan baik-baik saja.”



“Baik-baik saja katamu?” Lizbeth berkacak pinggang menatap nyalang suaminya. “Dengan membawa pisauku kau bilang dia akan baik-baik saja? Oh Tuhan! bisakah laki-laki di rumah ini sedikit normal?”



Edward hanya mengedikkan bahu tak peduli. Sebenarnya bukan hal sulit menemukan keberadaan Gabriel saat ini, tapi itu bagi Edward bukan bagi Lizbeth. Dua laki-laki itu sudah saling setuju untuk merahasiakan tempat persembunyian Gabriel menghabiskan waktu liburnya karena akan sangat fatal jika Lizbeth tahu. Wanita itu bisa kembali mengacaukan kesenangan Gabriel dengan banyak larangan. Well, Lizbeth sebenarnya hanya khawatir dan takut jika Gabriel benar-benar harus meneruskan kepemimpinan Edward dalam dunia mafia. Lizbeth Masih trauma dengan deretan masalah yang selama ini ia hadapi bersama Edward. Wanita itu tak ingin Gabriel masuk dalam jurang gelap dengan banyak ancaman yang membahayakan nyawanya.



“Apa yang sudah kau ajarkan padanya?” Lizbeth memijit pelipisnya dan mendudukkan diri di sofa panjang yang ada di kamar mereka. “Menembak, bermain pisau, memanah, berkuda, terakhir bagaimana caranya merakit senjata. Gabriel cukup pandai dan cepat belajar. Mungkin selanjutnya aku akan mengajarkannya untuk mengenal jenis racun, atau...”



“Stop,Edward! Astaga, apa kau juga mengajarkannya untuk menjadi hacker?” Potong Lizbeth sebelum helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. “Ku rasa kau kecolongan kali ini. Dia sudah bisa meretas sistemmu,” lanjut Lizbeth sebelum melemparkan pisau lipat kecil ke arah kaca jendela.



“See, alarm keamananmu mati.”



Edward tak bisa menyembunyikan ekspresinya kali ini melihat kaca jendela kamar mereka yang pecah namun tak terdengar suara alarm apapun yang berbunyi. Tingkat keamanan yang begitu sensitif kini seolah tak berfungsi sesuai protokol keamanan yang Edward ciptakan. Pria itu bergegas membuka laptopnya, menyalakan benda itu dan langsung memeriksa sistem keamanan mansionnya. Sementara Lizbeth segera memberi isyarat aman pada anak buah Edward yang langsung datang saat mendengar suara pecahan dari kamar Edward.



“Bagaimana tuan mafia yang tampan? Apa kali ini muridmu cukup hebat hingga berhasil membuatmu tegang?” Ejek Lizbeth.





Edward menggeleng pelan. “Aku bahkan belum mengajarkannya apapun soal ini. Dan tak sembarang orang bisa membuka laptopku. Apa kau lupa bahwa laptopnya rusak dan belum mendapatkan gantinya?”



Lizbeth langsung bangun dari duduknya. “Maksudmu dia bisa memanipulasi sidik jarimu? Dan memecahkan semua kode pengaman?”



Tanpa Lizbeth duga Edward malah tersenyum bangga. “Dia memang anakku. Baiklah, mari kita lihat apa yang akan dia lakukan. Anggap saja ini tes pertama dariku,” ucap Edward yang mulai menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard.



“Apa kau sudah gila?”



Lizbeth tak habis pikir dengan apa yang di lakukan Edward. Suaminya malah bangga dengan hal seperti ini, berbeda dengannya yang semakin takut Gabriel kecil akan memancing musuh Edward untuk mencelakainya. Bocah sepuluh tahun itu hanya mengenal senjata di dalam rumah, selebihnya Gabriel tidak pernah tahu bagaimana kejamnya di luar sana jika sudah benar- benar menyangkut soal senjata.



Apalagi mengetahui bahwa Gabriel sudah mampu menjadi hacker, demi apapun itu sangat berbahaya. Setidaknya begitulah yang selama ini ada di dalam pikiran nyonya Miller.


__ADS_1


“Sayang, bagaimana kau tahu Gabriel sudah meretas sistem keamananku?” Tanya Edward menoleh sekilas pada Lizbeth yang menghela nafasnya.



“Karena aku bisa masuk ruang senjatamu tanpa harus memasukkan password apapun. Aku pikir Gabriel ada disana hingga aku mencarinya ke tempat itu, tapi ternyata dia tidak ada.”



“Baiklah, kali ini kita memang harus mencarinya. Aku khawatir ia akan meledakkan sesuatu di...”





Ucapan Edward terhenti saat terdengar suara ledakan cukup keras hingga sukses membuat Lizbeth berlari keluar di susul Edward. Terlihat seisi mansion sudah panik. Para maid yang langsung berhamburan dan anak buah Edward yang langsung bergegas mencari sumber suara.



“Gabriel!”



Lizbeth memeluk erat bocah laki-laki yang baru saja meledakkan sesuatu di halaman belakang mansion. Terdengar nafas menderu Lizbeth dengan tatapan khawatir menelisik tubuh anaknya dari atas hingga bawah.



“Kau baik-baik saja, sayang? Kau membuat mommy jantungan, nak.” Edward menghela nafasnya lega melihat tak ada siapapun yang terluka, setidaknya hanya rumput hijau yang berubah menjadi hitam dengan diameter cukup lebar kini menjadi hiasan mengenaskan di depan Edward.



“Aku hanya menguji apa eksperimenku ini berhasil. Dan mommy lihat?” Gabriel mengembangkan senyumnya. “Aku berhasil membuat ledakan cukup besar dengan benda sekecil ini.”



Lizbeth mengerjapkan matanya melihat chip kecil berada di telapak tangan Gabriel. “Apa daddy yang mengajarimu?” Selidik Lizbeth.



Gabriel menggeleng. “Aku belajar sendiri. Daddy tak pernah mengizinkanku untuk masuk ruang bawah tanah, jadi maaf...” Gabriel menunduk sebelum melanjutkan kalimatnya dengan suara lebih lirih “aku harus mengacaukan sistem keamanan mansion agar aku bisa masuk ruang bawah tanah untuk mencari bahan eksperimenku.”



Gabriel mendongak saat merasakan usapan lembut pada pucuk kepalanya. Ia menatap Edward sedikit takut saat mata biru ayahnya mengunci tatapan mereka.






“Mommy,” cicit Gabriel menatap Lizbeth dengan tatapan melasnya. “Kau takut daddy akan menghukummu?”



Gabriel mengangguk. “Ini pertama kalinya aku melihat daddy menatapku dingin.”



Lizbeth memeluk Gabriel sejenak. Menenangkan anak kesayangannya dan mengusap kepala Gabriel lembut. “Bersikaplah seperti seorang laki-laki. Kau harus berani bertanggung jawab dengan segala resiko dari apa yang sudah kau perbuat. Daddy dan mommy menyayangimu percayalah, daddy tak akan menyakitimu.” “Baiklah. Aku akan bertanggung jawab.” Gabriel berjalan terlebih dahulu “tapi aku harap mommy akan membelaku,” lanjut Gabriel meski hanya menggunakan namun masih bisa di dengar oleh Lizbeth.



Wanita itu menyusul anaknya yang sudah masuk ke mansion. Dalam hati Lizbeth juga sedikit khawatir Edward akan melakukan hal di luar dugaan untuk menghukum Gabriel, meski sebelumnya dirinyalah yang paling tidak setuju dengan cara Edward membiarkan Gabriel mengenal senjata, tapi kali ini naluri keibuannya yang memimpin.



“Daddy.”



“Masuk,” sahut Edward dari dalam ruang kerjanya sesaat setelah mendengar ketukan pintu dan suara Gabriel meminta izin masuk. “Duduklah.”



Gabriel duduk di sofa panjang berwarna hitam dan melirik Deagle yang berada di tangan Edward juga sebuah senjata lagi di atas meja yang terlihat baru di mata Gabriel. Gabriel menelan ludahnya saat Edward menyodorkan Desert Eagle padanya masih dengan ekspresi dingin tak terbaca.



“Tembak apel di ujung sana dengan ini.”

__ADS_1



Gabriel menoleh melihat satu apel di atas tumpukan buku di atas meja kecil. Sejenak Gabriel merasa aneh, ini jelas bukan tantangan dari ayahnya karena bisa di pastikan Gabriel bisa membidik tepat sasaran apalagi dengan jarak sedekat ini.



“Do it now, Gabriel!”



Dengan ragu Gabriel meraih Deagle yang Edward berikan. Dan hanya dengan sekali tatap ia bisa memfokuskan bidikannya kemudian menarik pelatuk senjata itu hingga melesatkan sebuah peluru dengan sempurna.



“Masih payah,” ejek Edward yang sukses membuat Gabriel mengerutkan keningnya. Sudah jelas bidikan Gabriel tepat sasaran. “Apa yang salah dad?”



“Apa kau yakin bahwa ruangan ini aman untuk menembak? Apa kau yakin tak akan melukai siapapun jika kau menarik pelatuk mu disini? Bagaimana jika seseorang tiba-tiba membuka pintu dan masuk pada saat kau membidik sasaran?”



Gabriel berubah pias, ia sadar bahwa dirinya tak memperhatikan sekeliling, dan Gabriel baru sadar bahwa Edward meletakkan apel itu dekat dengan pintu. Benar, apa yang di katakan Edward. Jika seseorang tiba-tiba membuka pintu dan masuk bisa jadi sebuah peluru akan melukainya.



“Kau tahu kesalahanmu Gabriel?” Tanya Edward.



“Ya. Aku tak pernah memperhatikan protokol keselamatan saat berlatih atau menjalankan eksperimenku. I’m sorry dad.”



Edward menghela nafasnya. “Bayangkan jika saat kau meledakkan chip itu ada maid yang berada disana atau bahkan mommy yang sedang sibuk mencarimu...” Edward menjerat ucapannya “Daddy bangga kau bisa melakukan banyak hal bahkan menciptakan hal baru dengan kreatifitasmu sendiri, tapi daddy juga akan sangat marah jika orang lain terluka akibat kecerobohanmu.”



“Aku siap jika daddy ingin menghukumku,” ucap Gabriel bersungguh-sungguh. Ia sadar akibat ulahnya tadi bisa berakibat fatal bagi orang lain.





Edward memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan memberi isyarat pada Gabriel untuk mengambil senjata yang berada di atas meja.



“Jika dalam satu malam kau berhasil menggunakan senjata itu aku akan membatalkan hukuman untukmu. Tapi jika tidak berhasil bersiaplah untuk daddy kirim ke Russia. Kau tahu bukan jika disana ada aunty Alexa yang akan menggantikanku menjagamu?”



Gabriel menggeleng cepat. Demi apapun ia sudah jera jika harus bersama Alexa. Bibinya itu terlalu gila, terakhir kali Gabriel bersama Alexa adalah saat mereka mengunjungi grandma Liana di Russia, saat itu Alexa sempat mengajarkan Gabriel bagaimana caranya menikam musuh hanya dengan pisau. Bahkan tak segan Alexa memperlihatkan kebolehannya menyayat tubuh lawannya dengan mudah. Ya, Gabriel masih waras jika harus belajar menjadi seorang psychopath seperti bibinya. Setidaknya bagi Gabriel melihat tubuh manusia di tusuk-tusuk bukanlah hal yang ia inginkan.



“Aku akan menyelesaikan perintah daddy dengan baik.”



Edward tersenyum miring. Ia sangat tahu Gabriel akan berusaha agar tak berurusan dengan Alexa. Sebenarnya Alexa hanya ingin mengajari Gabriel cara mempertahankan diri dengan pisau sebagai senjata. Tapi sepertinya wanita itu sudah berlebihan menunjukkan aksinya hingga berhasil membuat Gabriel bergidik ngeri.



“Lagipula mommy tak akan setuju jika aku ke Russia. Terakhir mommy marah pada aunty dan daddy karena sudah mengajarkanku cara menggunakan pisau untuk melawan musuh,” ucap Gabriel dengan sedikit senyum melihat Edward terdiam.



Gabriel tahu jika ayahnya tak akan bisa mengatasi kemarahan ibunya dengan cepat apalagi sampai berani mengirim Gabriel ke Russia. Sudah di pastikan Lizbeth akan menentang itu bagaimanapun caranya dan apapun alasannya.





“Daddy bisa mengatasi itu. Well, daddy hanya tinggal mengatakan bahwa kau mendapatkan hukuman selama musim dingin untuk menemani grandma.”



Gabriel segera mengambil senjata itu dan mendengkus kesal sebelum berjalan menuju pintu. “Baiklah aku bersalah. Tapi daddy harus tahu jika aku tak akan menyerah!”

__ADS_1



Setelah pintu tertutup cukup keras sepeninggalan Gabriel, Edward tak dapat menahan senyumnya. Ia merasa Gabriel benar-benar mewarisi sifat keras kepala Lizbeth.


__ADS_2