The Devil Charming

The Devil Charming
Part 19


__ADS_3

Lizbeth menoleh dengan cepat dan memicingkan matanya ke arah Edward yang meniup moncong Deagle nya dengan angkuh, setelah satu peluru lolos dan langsung menembus kepala wanita yang mengaku mantan kekasih Edward, seketika wanita itu tergeletak tak bernyawa. Edward menyimpan kembali Deagle nya di balik jaket kulit yang ia kenakan kemudian berdiri menghampiri Lizbeth yang masih diam tak mengerti.



“Kenapa kau membunuhnya? Bukan kah kau bilang aku akan mendapatkan banyak informasi darinya? Lalu apa maksudnya dia mantan kekasihmu? Bukankah kau sendiri mengaku tidak mengenalnya?”



Pertanyaan bertubi tubi yang Lizbeth lontarkan hanya di balas tatapan datar oleh Edward, Lizbeth mundur beberapa langkah dan langsung merebut pistol yang di bawa oleh salah satu anak buah Edward di dekatnya.



Edward menghentikan langkahnya. Bahkan kini Victor dan yang lain tak ada yang bisa memahami kondisi di ruangan itu. Edward yang juga mengeluarkan kembali senjatanya dengan tatapan sepasang suami istri yang saling mengintimidasi tersebut membuat semua anak buah Edward dalam posisi siaga.



“Aku tahu, ada banyak kesalahan yang kau sembunyikan,” ucap Lizbeth.



Dengan cepat semua anak buah Edward mengarahkan senjatanya pada Lizbeth ketika Lizbeth dengan berani mengarahkan moncong pistol yang ia pegang pada Edward yang hanya beberapa langkah berada di depannya. Edward melirik anak buahnya, memberikan isyarat agar mereka menurunkan senjatanya.



“Kau benar, ada banyak kesalahan yang aku sembunyikan. Salah satunya adalah menikahimu,” ucap Edward dengan ekspresi datar membuat Lizbeth memejamkan matanya menahan rasa sesak yang mendadak memenuhi dadanya.





Seharusnya ia sadar, bahwa selama ini Edward tak pernah mencintainya. Kehidupan mafia selalu penuh dengan permainan, manipulasi, kelicikan juga kekejaman. Tak ada cinta disana, dan Lizbeth baru sadar bahwa dirinya sudah terlalu jauh keluar dari zona aman dalam hidupnya.



“Dengar ini baik-baik.”



Edward maju satu langkah membuat Lizbeth dengan reflek mundur seolah memang ingin menciptakan jarak di antara mereka. Wanita itu masih setia mengarahkan moncong senjatanya ke arah Edward tanpa takut bahwa bisa kapan saja anak buah Edward yang di sekelilingnya akan meledakkan kepalanya hanya dengan satu kali perintah dari Edward.



“Pertama, wanita tadi memang mantan kekasihku yang sudah melakukan operasi plastik hingga aku tak bisa mengenalinya. Tiga tahun yang lalu dia yang ku kira sudah meninggal dalam sebuah kecelakaan ternyata masih hidup dengan identitas barunya.” Lizbeth mendengarkan dengan baik setiap kata yang Edward ucapkan. Lizbeth bisa menyimpulkan bahwa mantan kekasih Edward tersebut sudah berkhianat dan memilih untuk menjalankan peran bersama identitas barunya dengan tujuan menghancurkan Edward.

__ADS_1



Ciri khas dunia mafia.



“Kedua..” Edward mencengkeram erat Deagle di tangannya dengan rahang yang terlihat mengeras “...kau adalah putri terakhir golden rose, mafia pembunuh ibuku.”



Lizbeth terpaku di tempat dan memejamkan matanya saat Edward menarik pelatuk, meloloskan satu peluru mematikan tepat pada tiang di sebelah Lizbeth. Ucapan Edward beberapa saat yang lalu lebih mengejutkan dirinya di bandingkan dengan suara tembakan yang beberapa centimeter sudah pasti akan melubangi dadanya itu.





Semua orang terkecuali Victor terlihat tak percaya dengan kebenaran ini. Tentu saja, dari awal hanya Victor dan Edward yang mengetahui hal ini. Dan dengan sengaja Edward membunuh wanita tadi karena dia tidak ingin Lizbeth mengetahui semuanya dari orang lain.



Sudah sebulan yang lalu, Edward berhasil mengetahui semua kebenaran dan informasi mengenai golden rose, dan itu membuatnya mengambil sebuah keputusan besar dengan menikahi Elizaveta, putri terakhir clan pembunuh ibunya.




“Aku tidak percaya ini, bagaimana mungkin aku putri terakhir mafia itu? Bahkan aku tak memiliki tanda apa pun seperti yang pernah kau jelaskan,” lanjut Lizbeth.



Edward menarik seringainya dengan mata biru yang masih menatap lurus wanita yang sudah menjadi istrinya itu.



“Balas dendam. Well, itu memang tujuanku, tapi satu hal yang harus kau tahu Lizbeth..”



Kini tatapan serius dan penuh intimidasi dari Edward itu semakin membuat Lizbeth Marasa sesak di dadanya.



“...Tujuanku menikahimu karena nyawamu sangat berarti untukku. Apa kau tidak sadar bahwa golden rose sendiri ingin membunuhmu?” “Whatever! Tidak ada yang bisa aku percaya darimu!!”

__ADS_1



Dengan sigap Edward menghindari lemparan pisau dari Lizbeth hingga pisau itu menancap tepat pada tiang di belakang Edward. “F*ck!! Siapa yang menyuruh kalian menembak?!” teriak Edward kepada anak buahnya yang langsung memberikan tembakan peringatan kepada Lizbeth setelah dengan terang terangan wanita itu mengancam nyawa boss besar mereka.





Semua anak buah Edward hanya bisa menunduk, bahkan Victor pun tak berani mengatakan apapun. Kilatan emosi dari mata biru Edward yang mengerikan menciutkan nyali mereka terkecuali Lizbeth yang masih dengan berani menatap penuh amarah. “Berhenti Lizbeth!” Perintah Edward saat istrinya itu melangkah menjauh darinya yang terus mencoba untuk mendekat.



“Stay away from me!”



Lizbeth terus mundur tanpa menurunkan tingkat siaganya bersama senjata di tangannya.



“Kau tidak tahu betapa mahalnya nyawamu di luar sana. Jangan pernah mencoba untuk pergi dari sini,” ucap Edward dengan intonasi rendah penuh peringatan.



Lizbeth tak peduli, wanita itu berbalik kemudian berlari menjauh dari Edward menuju pintu ruangan luas itu dengan nafas memburu. “Berhenti Lizbeth!!”



Kini Edward tak bisa menahan kekesalannya, Lizbeth sama sekali tak mendengarkan peringatannya. Wanita keras kepala itu hanya termakan dengan asumsinya sendiri yang bahkan tak pernah mencoba berfikir jernih tentang segala penjelasan dari Edward. Edward tidak berbohong dengan kalimat-kalimat yang ia ucapkan. Laki-laki itu mencintai Lizbeth dengan tulus hingga berani menjadikan nyawanya sebagai taruhan melindungi gadis itu dari pembunuhan yang ingin di lakukan oleh keluarganya sendiri. Bahkan Edward rela menekan dendamnya pada golden rose yang sudah membunuh ibu kandungnya demi sebuah alasan yang bahkan sampai saat ini Edward masih berusaha mencari kebenarannya. Kebenaran yang berkaitan dengan Lizbeth juga Edward. Tapi nyatanya Lizbeth yang ia perjuangkan malah menganggapnya berbohong.



“Aarrrrgghhh!!”



Lizbeth menghentikan langkahnya saat kaki kanannya berhasil tertembus peluru dari Edward.



Edward semakin mendekat dengan nafas memburu mengabaikan Lizbeth yang tengah kesakitan.


__ADS_1


“Hanya kau yang bisa membuat diriku menjadi Edward, bukan Eduardo,” ucap Edward sebelum melemparkan senjatanya dan bergerak memeluk wanita yang hendak menembakkan peluru padanya itu, hingga membuat Lizbeth mematung dengan jantung yang berdegub tiga kali lebih cepat sebelum kesadarannya mulai hilang dan terkulai lemas di pelukan Edward.


__ADS_2