The Devil Charming

The Devil Charming
Part 26


__ADS_3

Seperti apa yang sudah Edward katakana, pria itu memenangkan judi dalam beberapa putaran tanpa kekalahan sekalipun yang berarti bahwa Lady harus memenuhi janjinya untuk mengajak Edward bersamanya. Semua orang terlihat kesal lantaran tumpukan dolar yang begitu banyak di atas meja adalah milik Edward semua.



Edward hanya menatap dingin semua orang dan masih santai duduk di tempatnya membiarkan tumpukan dolar di depannya memamerkan diri angkuh.



“I got you, Lady!” ucap Edward dengan senyum miring menatap Lady yang tengah mengedikkan bahu.



“Well, sepertinya kau memang tidak bisa di remehkan, Mr.Zoro.” Lady bangkit dari duduknya mendekati Edward kemudian dengan gerakan sexy, Lady duduk di atas pangkuan Edward. “And what’s next? Hotel, dance floor or...”



“Where ever you want,” jawab Edward membiarkan wanita itu melambung untuk saat ini.



“Good, kita akan bersenang-senang dengan tumpukan dolar itu sebelum...” Lady mendekatkan bibirnya pada telinga Edward “kita ke markas.”



Dalam hati Edward bersorak karena hanya perlu bersikap seperti ini Lady sudah bisa memakan umpannya dengan baik. “Pekerjaan seperti apa yang kau inginkan?” Tanya Lagi masih setia berada di atas pangkuan Edward.



“Apapun,” jawab Edward tenang sebelum tangannya bergerak mengangkat tubuh Lady agar turun dari pangkuannya, sedari tadi ia sudah ingin menarik pelatuknya melihat tingkah wanita di depannya itu namun, Edward masih ingat bahwa ini belum saatnya. “I like you, Mr.Zoro.”



Lady memerintahkan anak buahnya untuk merapikan uang Edward yang masih berada di atas meja sebelum mengajak.





Edward untuk turun ke lantai dua dimana disana menjadi tujuan utama golongan elit dalam dunia gelap untuk melakukan transaksi, bersenang senang ataupun sekedar menikmati dentuman musik seraya menyesap minuman neraka yang akan membakar seluruh jiwa mereka.



“Semua hanya kebohongan dalam dunia gelap, kau tahu itu bukan, Mr.Zoro?”



Lady menghisap rokoknya dalam dalam lalu menghembuskan asapnya dengan tenang. Kaki jenjangnya terlihat menggoda dengan posisi bertumpuk hingga memperlihatkan paha mulusnya begitu saja. Matanya yang memancarkan keberanian menatap lurus orang orang yang bergerak liar di depan mereka.



Sementara Edward hanya diam menikmati minumannya dan membiarkan Lady duduk di sampingnya. Fikirannya hanya terus tertuju pada Lizbeth dan calon anak mereka, ini baru sebentar dan dirinya sudah sangat merindukan istrinya. Edward hanya bisa berharap bahwa Victor dan Dmitry bisa mengerjakan tugas mereka dengan baik.



“Who are you, Mr.Zoro?”



Edward menoleh menatap Lady yang juga tengah menatapnya. Pandangan Edward turun pada pinggangnya yang sudah di tekan menggunakan moncong pistol oleh Lady.



Edward kembali menatap Lady kemudian menaikkan sebelah alisnya.



“The devil charming.” Edward menyingkirkan dengan pelan pistol itu dari pinggangnya kemudian menatap Lady dengan tajam “setidaknya itu julukan yang mereka berikan padaku.”



Lady memasukkan kembali pistolnya di balik mantel yang ia kenakan kemudian terkekeh pelan. “Ya, sekarang aku mengerti mengapa aku bisa langsung jatuh dalam pesonamu pada pertemuan pertama kita.” Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang membuat tempat itu langsung ricuh dengan manusia yang berlari saling menyelamatkan diri masing masing.



Tembakan itu kembali terdengar dan kini terlihat aksi saling menembak beberapa orang dengan pakaian hitam hitam membuat suasana semakin tak terkendali sementara Edward dan Lady masih santai di tempat mereka.


__ADS_1


“Sepertinya dia mulai bergerak,” ucap Lady seraya mengeluarkan pistolnya dan..



Lady menembak beberapa orang di depannya di ikuti Edward yang juga langsung mengeluarkan senjatanya menembaki orang yang hendak mengarahkan serangan padanya. Edward tidak tahu siapa yang sedang ia hadapi saat ini yang jelas dirinya hanya ingin melindungi diri bukan karena siapapun tadi karena Edward ingat, ada sosok yang tengah menantinya agar segera pulang.



“Siapa mereka?” Tanya Edward yang kembali menembakkan pelurunya dan sesekali berlindung di balik meja menghindari serangan begitupun dengan Lady.



“Mereka anak buah Gustavo,” jawab Lady membuat Edward mengumpat dalam hati. Sebenarnya siapa Gustavo hingga berani menyerang anak buah Golden Rose secara terbuka seperti ini? “Kau mengenalnya?” Tanya Lady.



“Tidak,” jawab Edward setelah berhasil menumbangkan tiga orang “Sial!! Mereka semakin banyak. Kita harus pergi!”



Edward mengangguk dan mengikuti Lady yang berlari menuju lift yang dan segera menekan tombol menuju rooftop.



“Akan ada helicopter disana yang menjemput kita,” jelas Lady menyandarkan tubuhnya pada dinding lift.



Sementara Edward memutar otaknya mencerna kejadian ini dan menganalisa dengan segala kemungkinan. Gustavo, golden rose, dan satu lagi, Vladmir Jarvis. Edward yakin semua orang itu saling berkaitan begitupun dengannya juga dengan Lizbeth.





Mereka segera keluar dari lift dan setengah berlari menuju helicopter yang sudah menunggu disana. Lady mengisyaratkan untuk membiarkan Edward masuk ketika menangkap tatapan tak setuju dari orang yang menjemputnya.



“He’s not dangerous, trust me.”




***



“Apa anda membutuhkan sesuatu?”



Lizbeth menoleh mendapati Victor yang tengah berdiri di ambang pintu.



“Ya, bisakah aku keluar.”



Victor hanya bisa menghela nafasnya, sebelum tepukan pada pundaknya membuatnya sedikit membungkuk membiarkan Dmitry mendekati Lizbeth.



“Hallo Liz. Maaf, aku baru sempat menemuimu sekarang. Apa kau juga melupakanku?”



Lizbeth menggeleng. “Aku mengingatmu dengan baik.”



Victor dan Dmitry tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendengar jawaban Lizbeth.



“Benarkah? Kau sudah mengingat semuanya? Berarti kau sudah mengingat Mr. Ed—”

__ADS_1



“Tidak, aku hanya bisa mengingatmu,” jawab Lizbeth memotong ucapan Dmitry yang lagi lagi membuat Dmitry serta Victor heran. “Just me? Bagaimana bisa?”



Lizbeth memegang kepalanya dan hampir terhuyung jatuh jika Dmitry tidak dengan cepat menahannya kemudian mengajak Lizbeth duduk.



“It’s okay. Jangan di paksakan jika itu hanya akan membuatmu sakit.”





Dmitry menoleh pada Victor “panggil dokter Sam!”



Victor mengangguk dan langsung pergi untuk memanggil dokter Sam.



“Kau benar-benar mengingatku?”



Lizbeth mengangguk. “Dmitry Jhonson. Aku bahkan mengingat pertemanan kita dari awal. Entahlah, aku merasa aneh dengan diriku sendiri.”



Dmitry hanya menghela nafasnya dan tersenyum. “Setidaknya kau masih menyisakan ingatanmu meskipun tidak banyak. Aku yakin jika Mr.Ed mengetahui ini sudah pasti ia akan menembak kepalaku karena merasa cemburu bahwa kau hanya mengingatku.”



Lizbeth tertawa mendengar ucapan Dmitry kemudian menunduk mengelus perutnya. “Aku memang tak bisa mengingat siapa dia. Tapi hatiku bisa mengenalnya dengan baik.”



“Ya, itulah yang disebut cinta. Percayalah..Mr.Ed sangat mencintaimu bahkan akan melakukan apapun demi dirimu.”



“Permisi, saya akan memeriksa nyonya.”



Dmitry beranjak mempersilakan dokter Sam untuk memeriksa keadaan Lizbeth.



“Silahkan berbaring, nyonya.”



“Apa anda mulai bisa mengingat kembali?” Tanya dokter Sam. “Tidak. Aku hanya bisa mengenali Dmitry dengan baik bahkan mengingat semuanya tentang pertemanan kami,” jawab Lizbeth tanpa ragu.



“Apa anda bisa mengingat Mr.Ed? Mungkin sedikit ingatan tentang kenangan anda bersama Mr.Ed?”



Lizbeth menggeleng. “Tidak, aku tidak bisa mengingatnya.”



Dokter Sam hanya mengangguk kemudian mengecek tensi darah Lizbeth yang terlihat turun. “Sebaiknya anda harus banyak istirahat nyonya dan usahakan untuk tidak banyak berfikir. Saya akan mengambilkan obat untuk anda.”



Lizbeth mengangguk. “Terima kasih.” “Tuan, bisa anda ikut dengan saya?”



Dmitry menatap Victor seolah meminta izin kemudian mengangguk mengikuti dokter Sam setelah Victor memberikan kode mengizinkan Dmitry untuk ikut bersama dokter Sam.

__ADS_1



“Istirahatlah, nyonya kami ada di depan pintu untuk menjaga anda,” ucap Victor sebelum permisi meninggalkan kamar Lizbeth.


__ADS_2