
“Tidak ada ikatan yang lebih kuat dari darah kecuali cinta.” They say all good boys go to heaven, but bad boys bring heaven to you...
*****
Lizbeth menggenggam erat tangan Edward yang tengah menuntunnya untuk memasuki mansion megah yang tak kalah besar dengan mansion milik Edward. Rasa gugup tiba-tiba menguasainya hingga membuat pria di sampingnya itu menatap Lizbeth dengan sebelah alis terangkat.
“Kau sedang gugup, nyonya?” Tanya Edward dengan nada datar yang membuat Lizbeth mengangguk begitu saja.
“Aku baru beberapa kali bertemu dengan mommy, dan sudah sekian lama setelah kita melalui banyak hal, aku...” Lizbeth menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya yang terasa sedikit canggung untuk ia ucapkan. “Aku...merindukan mommy.”
Edward mengulas senyum tipis lalu tiba-tiba saja mendaratkan ciumannya pada pilipis Lizbeth dengan lembut seraya mengelus kan ibu jarinya pada tangan Lizbeth yang ia genggam. “Aku juga merindukan mom, mereka pasti akan senang dengan kedatangan tiba-tiba kita.”
“Mereka?” Tanya Lizbeth heran yang langsung menghentikan langkahnya.
“Ya. Semua keluarga sedang berkumpul. Ah, aku lupa memberitahumu bahwa setiap satu bulan sekali keluarga besar Miller dan Franklyn akan berkumpul untuk pertemuan keluarga, dan sekarang mansion Miller sedang mendapatkan giliran.”
Lizbeth menarik nafasnya lalu mengeluarkannya perlahan. Ia menatap tampilannya sendiri yang terlihat anggun dengan dress navy yang sudah memperlihatkan perut buncitnya.
“Aku seperti sedang bersandiwara,” ujar Lizbeth menundukkan kepalanya enggan menatap iris biru Edward yang nyatanya selalu menatapnya penuh cinta.
“Kau selalu menjadi dirimu sendiri, tenanglah. Kau fikir siapa yang paling hebat menjalankan drama disini? Bukankah aku yang sebenarnya menjadi aktor terbaik?”
Sekali lagi Edward memberikan senyumnya yang sangat jarang dengan tulus. Hal itu mampu membuat keresahan hati Lizbeth sedikit sirna.
“Dengar, baby.” Edward menangkupkan wajah istrinya dengan kehangatan telapak tangan besarnya yang terasa nyaman bagi Lizbeth. “Terkadang hidup memaksa kita untuk sedikit bersandiwara demi menutupi suatu rahasia, dan menurutku semua orang juga pernah melakukannya. Selama kita melakukan hal yang benar kenapa harus takut?”
“Jadi, apa yang kita lakukan selama ini adalah benar?”
Edward mengangguk. “Ya. Karena semua yang kita lakukan adalah demi melindungi mereka yang kita cintai. Tidak ada ikatan yang lebih kuat dari darah kecuali cinta. Kau cintaku, mereka kuargaku dan kalian akan selamanya menjadi prioritas hidupku dalam melakukan hal apapun.”
Lizbeth menghambur memeluk suaminya dengan rasa bergemuruh dalam dadanya. Pengakuan Edward yang secara langsung menegaskan betapa berharganya sebuah keluarga membuat Lizbeth juga dapat merasakan kehangatannya, dan Lizbeth juga dapat menyimpulkan bahwa selama ini Edward tak pernah bergerak menarik pelatuknya tanpa sebuah alasan dan alasan itu adalah keluarga.
Siapapun yang berani mengusik keluarga serta cinta Edward maka bersiaplah bertemu sosok Devil Charming yang tak segan untuk melesatkan peluru pencabut nyawa atau bahkan, Edward tak akan segan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi mereka yang dia cintai.
“Kita masuk?”
Lizbeth mengangguk melepaskan pelukannya yang langsung mendapatkan rengkuhan lengan kokoh pada pinggangnya. Mereka berdua masuk ke dalam mansion yang sudah terlihat ramai sebelum suasana mendadak hening mendapati Edward serta Lizbeth berdiri di tengah ruangan. Semua mata menatap terkejut senang dan segera saja Alena serta Xander berjalan cepat menyambut anak dan menantu mereka di ikuti yang lain dengan pekikan heboh dari Nathalie.
“Anakku,” Alena memeluk Lizbeth erat seraya mengusap air matanya. “Oh Tuhan! aku sangat merindukan kalian.”
“Apa kabar, son?” Tanya Xander pada Edward setelah memeluk anaknya itu dengan penuh kerinduan seorang ayah.
“Kami baik, dad, maaf jika kami terlambat.”
“Brother!”
Rafael langsung saja memeluk Edward serta Ellena yang tersenyum lebar menuntun si kembar mendekati Lizbeth.
“Beri salam untuk aunty Liz,” ujar Ellena pada si kembar.
“Hi, aunty,” sapa si kembar bersamaan dengan ciri khas cadelnya yang terdengar menggemaskan.
Lizbeth yang sudah berjongkok di depan si kembar Franklyn pun langsung menyambut pelukan Dixon dan Dixie dengan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
“Kalian sudah besar rupanya.”
“Mereka mulai belajar berjalan dan bicara. Bagaimana kabarmu?” Lizbeth berdiri dan langsung menggendong Dixie sementara tangan kanannya menggandeng Dixon. “Aku baik, Ell. Aku sangat menyukai mereka.”
Ellena tersenyum lembut lalu menyipitkan matanya sebelum meraih.
Dixie dari gendongan Lizbeth. “Liz, kau hamil?”
“Apa? Kakak ipar hamil? Jadi aku akan segera memiliki keponakan?” Heboh Nathalie.
Lizbeth meringis dan memgangguk terlihat sedikit canggung saat semua mata menatapnya. Alena Yang melihat kecanggungan Lizbeth segera merangkul bahu menantunya dengan penuh sayang.
“Mari kita ngobrol dengan nyaman.”
Alena membimbing Lizbeth untuk duduk bersama para wanita yang sudah sibuk menata berbagai macam makanan di atas meja bersama para maid.
“Jadi sudah berapa usia kandunganmu?” Tanya Ellena penuh minat dengan ekspresi bahagia seolah dirinyalah yang sedang mengandung.
“Mungkin sudah tiga bulan lebih, bukan begitu Liz?”
Lizbeth mengerjapkan matanya saat Alena mengatakan hal itu lalu mengangguk. “Maaf mom, kami belum mem—”
“Edward sudah mengabarkan ini kepada mommy, sayang. Saat kalian hendak berangkat bulan madu yang ternyata menghabiskan waktu berbulan bulan.” Alena terkekeh pelan.
Lizbeth mengerutkan keningnya samar mendengar penuturan Alena. “Bulan madu?”
“Bukankah kalian pergi bulan madu selama ini?”
Hampir saja Lizbeth terlihat bodoh dengan ekspresinya yang sangat terlihat jelas bahwa Lizbeth tidak tahu menahu soal bulan madu, beruntung Ellena yang duduk di sampingnya menyenggol lengannya pelan dan memberi kode lewat mata. “Edward beralasan kalian pergi bulan madu saat menyelesaikan misi itu, dan rupanya juga mengabarkan tentang kehamilanmu padaaunty tapi tidak padaku dan Rafael,” bisik Ellena sepelan mungkin. Lizbeth mengangguk. “Maaf. Aku tidak tahu soal itu, Edward tidak menceritakannya padaku.”
Ellena menggeleng pelan dan terkekeh. “Dasar laki-laki, selalu bertindak sendiri.”
Lizbeth ikut tertawa kecil mendengar ucapan Ellena. “Kau benar, El.” “Tidak baik berbisik di depan para orang tua, nak,” ujar Bella memberikan sepiring potongan apel di atas meja.
“Tidak, ma. Kami hanya membicarakan para suami yang sedikit menyebalkan saat istrinya hamil,” jawab Ellena.
“Benarkah Edward juga menyebalkan seperti Al dan Rafael?” Tanya Bella.
“Bahkan dulu Xander juga seperti itu,” sahut Alena.
“Untung saja dulu grandpa kalian tidak menyebalkan,” ujar Lisa yang merupakan grandma kesayangan Franklyn dan Miller.
“Apa mungkin nanti suamiku juga akan menyebalkan seperti itu?” Tanya Nathalie yang menambah hangat suasana dengan gelak tawa hingga obrolan ringan mereka mengalir begitu saja.
Edward sesekali mengamati interaksi istrinya dengan keluarganya yang terlihat sangat bahagia bahkan Edward bisa melihat tawa lepas Lizbeth saat itu.
“Bagaimana misimu?”
Edward menoleh menatap Rafael. “Masih belum selesai.”
Kini mereka hanya berdua berjalan menuju belakang mansion, tempat paling nyaman bagi mereka untuk berbincang santai. “Belum?”
Edward menghela nafasnya. “Kami akan ke Russia untuk mencari tahu siapa yang selama ini mengelola kekayaan Kostov. Dengan begitu semua akan selesai, semoga.”
__ADS_1
Rafael menepuk pundak Edward disertai dengan senyum terbaiknya. “Semua akan berakhir dengan bahagia, percayalah. Sebentar lagi kalian akan segera memiliki keluarga kecil dengan anggota baru.” “Ya. Aku sangat bahagia dengan ini.”
“Jadi, keluarga Kostov memiliki perusahaan di Russia? Jika ya, mungkin aku bisa sedikit membantumu untuk itu.”
Edward menatap Rafael serius membuat Rafael terkekeh pelan. “Jangan terlalu tegang saat bersamaku, Ed.”
“Aku sedang tidak bercanda, Rafael.”
Rafael mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Jadi, aku bisa membantumu untuk mencari tahu perusaahan milik Kostov karena kebetulan aku mempunyai banyak client di sana. Well, setelah aku berhasil mengakuisisi perusahaan milik keluarga Valleschkova dulu hubungan antara Aaric International dengan perusahaan besar lain di negara itu cukup baik. Informasi apa yang sudah kau dapatkan?” “Aku hanya mempunyai foto bangunannya yang ternyata sudah tidak ada lagi setelah aku cek. Mungkin foto itu merupakan bangunan lama dan sengaja di rubah demi menjaga kerahasiaan informasinya.” “Kapan kau berangkat?”
“Lusa kami akan berangkat,” jawab Edward.
Rafael terdiam sejenak sebelum menghela nafasnya. “Ed, aku rasa...” Rafael menatap Edward dengan serius. “Ada satu perusahaan besar yang kemungkinan adalah milik keluarga Kostov.”
“Bagaimana kau bisa mencurigainya?” Tanya Edward penuh selidik. “Saat ini kami sudah banyak merangkul perusahaan kecil Russia untuk bekerja sama di bawah naungan Aaric International yang tentunya dengan berbagai kebijakan. Namun ada satu perusahaan yang selalu saja menolak untuk bekerjasama dengan perusahaan Amerika. Jika mereka sangat menjaga informasi dengan alasan agar tidak terlibat dalam salah satu perusahaan musuh yang ada di Amerika, aku rasa GR Group harus kau selidiki.”
“GR Group?” Edward memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Jika yang di maksud Rafael GR Group adalah singkatan dari
Golden Rose Group maka sudah sangat meyakinkan bahwa itulah perusahaan milik keluarga Kostov.
Rafael mengangguk. “Hanya itu perusahaan yang menurutku terlalu menutup diri dengan perusahaan Amerika. Bahkan terlihat sangat enggan sekali untuk berurusan dengan kami.”
“Apa kau tahu siapa pemiliknya?”
Rafael menghela nafasnya. “Sayangnya tidak. Tapi aku bisa memberikanmu alamatnya.”
“Setidaknya itu akan memudahkan langkah kami.”
“Ayah!” Suara cadel dua bocah menggemaskan menghentikan pembicaraan mereka.
Dua pria itu menoleh saat mendapati Bella menggandeng si kembar mendekati tempat duduk Rafael dan Edward.
“Hey keponakan uncle!” Edward langsung menyambut kedatangan si kembar dengan pelukan hangat.
“Mereka mencarimu, Rafael. Sedang apa kalian berdua disini? Acara makan akan segera mulai.”
“Kami akan segera masuk, ma. Dimana Ellena?” Tanya Rafael. “Dia sedang menemani Lizbeth.”
“Apa terjadi sesuatu dengan Lizbeth?” Tanya Edward cepat.
“Tidak, nak. Mereka sedang asik di kamar Alena melihat betapa banyak hadiah yang sudah Alena persiapkan untuk menyambut cucu pertama Miller.”
Rafael dan Edward saling berpandangan. “Hadiah?” Ucap mereka serempak.
Bella tertawa pelan lalu mengibaskan tangannya. “Sudahlah, para pria tak akan mengerti bagaimana bahagianya kami menyambut sang buah hati. Ayo masuk! dan ajak si kembar.”
Bella berjalan terlebih dahulu meninggalkan si kembar bersama Rafael dan Edward.
“Apa dulu Ellena juga di perlakukan seperti itu?”
Rafael tertawa keras dan segera menggendong Dixon mengajaknya berjalan meninggalkan taman diikuti Edward yang menggendong Dixie.
“Mama dan aunty Alena tidak beda jauh.”
__ADS_1
Mereka berdua terkekeh pelan. Edward bersyukur bahwa keluarganya bisa menerima Lizbeth dengan baik bahkan memperlakukan Lizbeth seperti anak sendiri. Hal itu juga yang membuat Edward merasa sesak di dalam dadanya, betapa tidak jika seharusnya dirinya dan Lizbeth merasakan semua ini dari keluarga kandung mereka tapi nyatanya Tuhan memberikan jalan lain dengan mengganti kepedihan hidup mereka dengan keluarga baru yang penuh cinta.