The Devil Charming

The Devil Charming
Part 17


__ADS_3

Edward berlari menghampiri Lizbeth yang terduduk di lantai kemudian mendekap istrinya itu erat, tembakan cepat tak terduga yang terdengar memekakkan telinga beberapa detik lalu membuat Edward menahan nafasnya dengan degub jantung berdetak lebih kencang. Siapa sangka jika wanita yang menjadi incaran mereka datang tiba-tiba menampakkan diri bersama anak buahya dan langsung menarik pelatuknya ke arah Lizbeth. Sehebat apapun orangnya pasti tidak akan sempat menghindar dari kecepatan peluru yang terlepas dari sarangnya.



“Liz, kau baik baik saja?”



Lizbeth mengerjapkan matanya dan menatap Edward dengan nafas terengah.



“Ya, aku..hanya terkejut.”



Edward membantu Lizbeth berdiri dan segera mengarahkan moncong Deagle nya pada wanita yang masih tersungkur di lantai. Berterima kasihlah kepada Victor yang datang tepat waktu dan berhasil mendorong wanita itu hingga tembakan yang di tujukan kepada Lizbeth meleset mengenai dinding di sebelah kanan Lizbeth, tembakan yang hanya meleset beberapa centi itu patut disyukuri karena berhasil menyelamatkan nyawa wanita itu.



Baik Edward maupun Victor sudah menodongkan ujung senjata mereka masing-masing ke arah wanita berambut merah itu disertai para agen Edward yang sudah bersiap.



“Aarrgghh…f*ck!” Wanita itu mengumpat keras serta mengerang kesakitan tatkala Edward melesatkan satu peluru pada kaki kanan wanita itu. Tatapan mematikan di selimuti amarah terlihat jelas pada mata biru Edward saat ini.



“Siapa kau?!”



“F*ck!! Kau tidak perlu tahu siapa aku, sialan!”



“Ouch..shit!!” Wanita itu kembali mengumpat saat Edward mendaratkan satu tendangan pada perutnya. Sementara Lizbeth masih diam mengamati adegan kejam yang sedang berlangsung di depan matanya.



“Katakan atau aku akan menancapkan pisau pada otakmu saat ini juga!” desis Edward penuh peringatan masih menatap wanita yang tengah menatapnya tajam penuh amarah sama dengan dirinya.



Wanita itu terkekeh pelan kemudian menatap Lizbeth dengan tatapan yang sulit di mengerti, ia mengakui kelalaiannya kali ini saat dengan bodohnya malah masuk ke dalam markas Edward, daerah kekuasaan mafia itu yang tentunya tidak akan memudahkannya untuk lolos, namun emosi dan obsesi membuat otaknya tidak bisa berfikir dengan jernih. Ia malah menyerang Lizbeth tanpa persiapan apapun bahkan melupakan kondisi bahwa anak buah yang di bawanya sudah habis terbantai oleh agen terlatih milik Edward.



“Nathalia Iwanova Kostova.”



Lizbeth membulatkan matanya mendengar nama itu kemudian menatap Edward yang masih diam, sepertinya laki laki itu juga cukup terkejut namun berhasil menutupinya di balik aura kuasa penuh intimidasinya saat ini.



“Keturunan terakhir Golden Rose? Menakjubkan!” Edward menjambak rambut wanita itu dengan kuat “Aku tidak bodoh! Tua bangka itu tidak akan mungkin mengirimkan keturunan terakhirnya untuk menyerang dengan strategi buruk seperti ini. cepat katakan siapa kau?!”



“Akulah keturunan terakhir mereka!!”



Edward tersenyum miring dan melepaskan jambakannya kemudian mundur satu langkah, menatap Victor dan memberi kode lewat matanya yang langsung di mengerti oleh laki laki itu.



“Seret dia!” perintah Victor pada anak buahnya . “Siap!”



Dua anak orang bertubuh besar menyeret wanita yang mengaku sebagai Nathalia itu dengan paksa tanpa perasaan bahkan tak memperdulikan darah yang terus mengalir dari luka tembak pada kaki wanita itu.


__ADS_1


“Dia—bukankah dia keturunan golden rose yang kau cari selama ini, Ed?” tanya Lizbeth dengan ekspresi tak bingung karena Edward tak melakukan apapun saat ini.



“Hhmm..kita pulang sekarang.”



Lizbeth mengerutkan keningnya semakin tak mengerti namun kakinya tetap mengikuti Edward yang sudah berjalan keluar gedung dan segera membukakan pintu mbil untuk Lizbeth agar wanita itu masuk terlebih dahulu kemudian di ikuti dirinya yang duduk di sebelahnya. Edward langsung menyuruh sopirnya untuk menuju mansion miliknya. Mansion yang belum pernah Lizbeth tahu sebelumnya.



“Ed…”



“Hmm..” Edward hanya begumam dan menyugar rambutnya kebelakang.



“Aku—“



“Akan ku jelaskan semuanya nanti. Kau ingin tahu bukan, untuk apa aku mencari keturunan Golden Rose?”



Lizbeth mengangguk, memang itulah yang hendak ia tanyakan. Pasalnya selama ini Edward tidak mau menjelaskan apapun selain nama aslinya juga tujuannya mencari keturunan Golden Rose tanpa ingin memberitahu alasannya.



Menurut Edward, mungkin Lizbeth sudah waktunya mengetahui tentang dirinya karena Edward secara tidak langsung sudah melibatkan wanita itu jauh kedalam kehidupannya.



“Apa aku bisa mempercayaimu?”




“Kau benar ingin tahu kenapa aku menikahimu, huh?!” tanya Edward mendekatkan wajahnya serta mencondongkan tubuhnya kearah Lizbeth yang masih diam menunggu kalimat Edward selanjutnya. “Apa dasar ketika dua orang saling memutuskan untuk bersama?” “Cinta?”



Edward mengangguk membenarkan jawaban Lizbeth. “Good. Itu benar.”



“Tapi aku merasa kau—“



“Tidak mencintaimu? Lalu bagaimana denganmu? Apa kau juga benar-benar mencintaiku?”



Lizbeth mengerang marah dan menjambak rambut Edward dengan kasar.



“Berhenti bermain-main, Ed!” Edward mengumpat tanpa suara dan menatap Lizbeth tajam, merasa kesal karena istrinya itu sangat berani bahkan tidak segan menjambaknya. Hal yang membuat Victor serta supir di depan menahan tawa lantaran wibawa boss besar mereka yang runtuh begitu saja akibat sang istri.



“Lepaskan tanganmu, Liz!”



“Berikan aku jawaban dan aku akan melepaskanmu.”



“Shit! Jawaban apa?!” Edward memejamkan matanya menahan emosi yang siap meledak, namun entah mengapa ia tak bisa menggerakkan tangannya untuk memukul Lizbeth sekarang juga. “Apa kau menikahiku karena kau mencintaiku?”

__ADS_1



Lagi lagi Edward menghembuskan nafasnya kasar dan menatap Lizbeth dengan tajam. “Ya, aku mencintaimu. Apa itu cukup?! Sekarang lepaskan tangan kurang ajarmu atau aku—“



“Atau apa, huh?!”



Lizbeth semakin menguatkan jambakannya. Dalam hati ia terkekeh, kapan lagi ia bisa membuat Edward kesal dan terlihat menyedihkan di depan anak buahnya? Lizbeth akan membuktika pada suami mafianya itu bahwa tidak selamanya ia akan berkuasa dan mengendalikan semuanya, mendominasi serta mengintimidasi Lizbeth seperti sebelum sebelumnya.





“Jangan memancingku untuk berbuat kasar, Liz!!” desis Edward masih mencoba bersabar agar tidak mematahkan leher istrinya itu sekarang juga.



Lizbeth melepaskan jambakannya kemudian membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana karena mobil sudah berhenti di depan sebuah mansion besar dan mewah.



Sialan! Edward segera menyusul istri durhakanya itu dan tidak lagi memperdulikan Victor juga anak buahnya yang menahan tawa hingga tawa mereka pecah setelah Edward memasuki mansion. “Kau membeli mansion ini sebagai hadiah pernikahan kita?” tanya Lizbeth seraya mengamati interior berkelas yang ada di depannya. “Mimpi saja!”



Lizbeth terkekeh pelan dan mengikuti Edward yang menaiki tangga dan pasti menuju kamar mereka.



“Apa aku memiliki kamar sendiri?”



Edward menghentikan langkahnya setelah berhasil memutar knop pintu kamar dan membukanya. Laki laki itu menarik Lizbeth untuk masuk kemudian menutup pintu dengan kasar hingga suara dentuman keras terdengar memenuhi ruangan.



Edward memojokkan Lizbeth pada dinding dengan rahang yang mengeras. Dengan kasar Edward melumat bibir Lizbeth dan mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan kuat hingga membuat Lizbeth meringis menahan perih.



“Mmphh..stop it!!”



Dengan kuat Lizbeth mendorong tubuh Edward hingga ciuman mereka terlepas. Dengan nafas terengah-engah Lizbeth mengusap pergelangan tangannya dan menatap tajam Edward. sedangkan Edward sendiri menghela nafasnya kemudian menarik tangan Lizbeth. Tanpa Lizbeth duga, suaminya itu mengecup pergelangan tangan Lizbeth dengan lembut kemudian membawa wanitanya kedalam pelukan.





“Aku lelah, dan jangan memancingku untuk berbuat kasar. Berhenti bertanya yang tidak penting dan bersabarlah untuk mendengar semua penjelasanku. Satu lagi, apapun yang aku katakan atau aku lakukan itu semua memiliki alasan dan jangan pernah tanya apa alasannya jika aku tidak memberi tahukannya, karena itu tandanya aku tidak ingin kau tahu. Apa kau paham?!”



“Aku harus tahu jika itu menyangkut tentang diriku.” Lizbeth melepaskan diri dari pelukan Edward dan menatap serius suaminya. “Jika kau sudah menikahiku berarti kau sudah percaya padaku, dan aku memiliki hak untuk tahu apapun yang bersangkutan tentang diriku.”



Edward tak menjawabnya. Laki laki itu berbalik dan melemparkan jasnya ke atas sofa kemudian mulai melepaskan satu per satu kancing kemejanya hingga semua terlepas menampakkan perut kotak-kotak yang berotot.



“Ganti bajumu dan istirahatlah,” ucap Edward sebelum masuk kedalam kamar mandi dengan kemeja yang ia lemparkan ke atas sofa, tempat dimana ia juga melemparkan jasnya.



Lizbeth menjambak rambutnya frustasi, setiap kaliamat yang Edward ucapkan memiliki makna dan maksud tersembunyi yang harus Lizbeth pahami. Sialnya, gadis itu tidak cukup pandai menyelesaikan teka-teki dari Edward dengan cepat. Termasuk apa tujuan sebenarnya Edward menikahinya.

__ADS_1


__ADS_2