
Suara tembakan yang berasal dari halaman mansion mengejutkan Lizbeth yang tengah berada di ruang tengah membaca majalah. Wanita dengan perut yang sudah membesar itu menyisir sekitar dengan pandangan waspada, pasalnya hari ini Edward tidak ada di rumah dan sudah pasti ia tahu jika suara tembakan itu bukan hanya sekedar keisengan anak buah Edward. Memangnya siapa yang berani melakukan hal semacam itu hanya untuk alasan tidak penting?
Lizbeth bergerak menuju laci meja di dekatnya dan langsung mengambil sebuah Deagle pemberian Edward juga pisau kesayangannya. Lagi-lagi suara tembakan terdengar nyaring hingga Victor serta beberapa anak buah Edward berlari mendekati Lizbeth dengan wajah serius.
“Apa yang terjadi?” Tanya Lizbeth tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
Saat ini yang ia pikirkan adalah kandungannya, bukan masalah jika penyerangan seperti ini terjadi saat dirinya tidak sedang mengandung, tapi mengingat kondisinya saat ini sudah cukup menyulitkan wanita itu untuk bergerak, apalagi usia kandungannya mendekati hari persalinan. Oh God! Lizbeth hanya berharap apapun yang terjadi bisa selesai dengan cepat.
“Maaf, nyonya. Kami harus mengamankan anda di ruang bawah tanah mansion. Ada penyerangan tiba-tiba yang tidak terprediksi. Saat ini Mr.Ed sedang dalam perjalanan pulang,” jelas Victor.
Lizbeth mengangguk dan mengikuti langkah Victor untuk menuju ruang bawah tanah mansion. Sebenarnya Lizbeth juga baru tahu bahwa di mansion ini ada ruang bawah tanah karena sebelumnya Edward tidak pernah bercerita apapun.
Victor menekan beberapa password untuk membuka pintu lift dan segera membawa Lizbeth masuk. Hanya dalam beberapa detik lift itu kembali terbuka dan sudah menampakkan pemandangan asing bagi Lizbeth. Tempat ini mengingatkannya pada ruang bawah tanah milik Kostov namun tentu tak serumit milik ayahnya itu. “Beberapa anak buah saya akan berada di depan pintu untuk menjaga anda dan saya harus keluar untuk menyelesaikan kekacauannya.” Victor melirik Deagle dan pisau lipat di tangan Edward. “Saya mohon anda tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri anda dan calon anak anda.”
Lizbeth menaikkan sebelah alisnya lalu memainkan pisau lipatnya. “Setidaknya jangan sampai terjadi hal mendesak jika kau tidak ingin aku berulah.”
Victor menelan salivanya mendengarkan ucapan Lizbeth yang penuh makna. Laki-laki itu paham apa maksud dari nyonya besar itu. Jika dirinya tak dapat segera menyelesaikan penyerangan ini dan kondisi mendesak memaksa Lizbeth turun tangan maka bersiaplah Victor untuk menghadapi malaikat maut karena kemarahan Edward.
“Saya permisi.”
Victor membungkuk sekilas sebelum pergi meninggalkan Lizbeth yang berada di ruangan itu sendiri dengan beberapa anak buah Edward berjaga di balik pintu.
“Suasana terkendali, tapi belum bisa di pastikan aman untuk nyonya,” ujar salah satu anak buah Victor melalui sambungan komunikasi yang terpasang di telinganya.
“Jangan berikan celah untuk mendekati pintu utama. Mr.Ed akan segera datang.”
“Copy that!”
Dengan senjata yang di pegang erat oleh Victor, tatapan laki-laki itu berubah menyeramkan saat sudah keluar dari lift. Jas hitam yang melekat pada tubuhnya tak menyusahkan pergerakan Victor untuk mengarahkan bidikannya saat matanya menangkap sosok yang berjalan dari arah dapur.
__ADS_1
“Wait, tahan!”
“Sedang apa Anda disini?” Tanya Victor menurunkan senjatanya lalu menghela nafas lega menyadari bahwa yang berada di depannya adalah Alexa.
“Dimana kakak ipar?” Tanya Alexa.
“Kami sudah mengamankan nyonya di ruang bawah tanah,” jawab Victor menatap Alexa penuh tanya sementara yang di tatap hanya memutar bola mata.
“Edward menghubungiku karena mansionnya sedang di serang. Bos kalian itu menyuruhku untuk menjaga istrinya. Well, aku terpaksa masuk dari pintu belakang karena terlalu malas membuang peluruku untuk ikut berperang di luar. Jadi bisa tunjukkan dimana kalian menyembunyikan kakak ipar?”
Victor mengangguk. Tidak ada alasan untuk menolak Alexa karena gadis itu termasuk orang kepercayaan Edward.
“Dasar bodoh! Apa kau tidak bisa memprediksi hal seperti ini sebelumnya?”
“Shut up! Pastikan istri dan calon anakku baik-baik saja saat ini. Apa kau pikir aku keluar kota hanya untuk bersenang-senang?” “Terserah kau saja! Kau mengganggu waktuku bersama Louis, jika tidak ingat ada calon keponakan di dalam perut kakak ipar aku akan sangat keberatan membantumu. Hal receh seperti ini kau bahkan tak bisa mengatasinya sendiri, mafia macam apa kau ini?” Ejek Alexa yang cukup membuat Victor takut tuannya tak akan segan menguliti adiknya sendiri itu.
Terdengar geraman kesal di seberang yang tak membuat Alexa takut.
“Jangan harap aku membiarkanmu menikah dengan Louis jika kau terus mengoceh tidak penting! Lakukan saja apa yang harus kau lakukan, anggap ini hiburan untukmu sebelum hari pernikahan.” “Damn!” Alexa memasukkan ponselnya setelah Edward mematikannya secara sepihak.
Victor mempersilahkan Alexa untuk masuk ke dalam ruangan dimana Lizbeth berada dan kembali undur diri untuk meninggalkan mereka. Masih ada hal yang harus Victor selesaikan terkait penyerangan ini.
“Kau baik-baik saja Liz?” Tanya Alexa melihat Lizbeth yang berkali- kali menarik nafas.
“Ya, aku baik-baik saja.”
__ADS_1
“Tenangakan dirimu. Mungkin kau terlalu terkejut dengan kejadian tadi hingga menimbulkan kontraksi pada perutmu.”
Alexa membawa Lizbeth untuk duduk di sofa panjang lalu melepaskan jaketnya untuk di menutupi bahu Lizbeth karena saat ini wanita itu hanya memakai dress rumahan berlengan pendek mengingat kehamilannya yang tak akan mungkin memakai jeans seperti biasa. Bahkan panjang dress itu tak sampai lutut karena tertarik oleh perut besarnya.
“Kau ingin minum?” Tanya Alexa melihat wajah pucat Lizbeth saat ini.
Lizbeth menggeleng lemah. “Apa di luar sudah aman?”
“Ya, sepertinya sudah karena anak buah Edward bergerak cepat. Tapi sebaiknya kau tidak keluar dulu karena bisa saja ada penyerangan tak terduga lagi. Victor sedang memastikan keadaan disana.” Lizbeth meremas tangan Alexa yang menggenggam tangannya hingga membuat Alexa semakin panik. Apalagi melihat cairan bening keluar melalui sela kedua paha Lizbeth.
“Oh Tuhan! kau akan melahirkan Liz?”
“Kapan Edward pulang? Aku...aku sudah tidak tahan ,Lexa.”
Alexa bertambah panik dan dengan gemetar meraih ponselnya untuk menghubungi Victor. Ah! Alexa tidak pernah berada di dalam situasi seperti ini yang harus menghadapi ibu hamil yang akan melahirkan. Alexa terlalu panik dan berbicara cepat pada Victor bahwa Lizbeth akan melahirkan. Tentu saja hal itu juga mengejutkan Victor.
“Tahan, sebentar lagi kita ke rumah sakit. Oh astaga! apa yang harus aku lakukan?” Panik Alexa melihat wajah kesakitan Lizbeth.
Selang beberapa saat terlihat Victor dengan wajah tak kalah panik datang bersama anak buahnya dan segera membawa Lizbeth keluar. Mereka bahkan tidak ingat mengabari Edward tentang hal ini karena terlalu panik dengan keadaan Lizbeth.
Lizbeth yang sudah berada di dalam mobil di temani Alexa di sampingnya terus menahan rasa sakitnya dan kondisi menegangkan itu semakin membuat Alexa geram ketika mendengar suara tembakan yang menyerang mobil yang mereka tumpangi. Beruntung mobil itu anti peluru hingga hanya terdengar suara bising akibat gesekan badan mobil dengan peluru yang berusaha menembusnya.
“Damn it!” Alexa meraih sesuatu dari saku celananya sebelum membuka jendela mobil dan melemparkan benda itu pada mobil putih yang berada setengah meter di belakang mereka yang tadi melakukan penyerangan.
“Katakan selamat tinggal untuk keluargamu, ash*le!”
Beberapa detik kemudian mobil itu meledak hebat dengan kepulan asap menghitam yang membumbung. Laju mobil yang Lizbeth tumpangi semakin cepat mengabaikan apa yang terjadi di belakang mereka karena Lizbeth sendiri tak peduli dengan itu. Ia hanya ingin segera sampai di rumah sakit serta berharap suaminya segera kembali.
__ADS_1