
Edward melangkah tenang memasuki gedung tinggi menjulang yang memiliki nama perusahaan cukup familiar di New York. Perusahaan yang memang tak sebesar perusahaan Edward itu bergerak di bidang properti dan tak jarang mereka juga menawarkan kerja sama dengan perusahaan besar milik Edward untuk mendukung perkembangan mereka sebagai developer. Kunjungan tanpa rencana dan tanpa membuat janji terlebih dahulu yang di lakukan Edward cukup membuat sang resepsionis terkejut lantaran ini adalah kali pertamanya Edward menginjakkan kakinya disana. Langsung saja sekretaris pribadi dari pimpinan perusahaan yang mengantarkan Edward menuju ruangan sang Direktur.
Wajah tanpa ekspresi yang Edward tunjukkan semenjak memasuki perusahaan membuat siapa saja enggan untuk menyapa, bahkan wajah tanpa ekspresi itu masih Edward tunjukkan ketika ruangan Direktur terbuka menampilkan sosok pria berumur sekitar lima puluh tahun mengembangkan senyumnya menyambut kedatangan Edward.
“Mr.Ed, suatu kehormatan anda sudi datang kemari.”
Edward hanya tersenyum miring dan mendudukkan dirinya di sofa panjang tanpa menunggu di persilahkan terlebih dahulu.
“Apa perusahaanmu ini berniat gulung tikar dengan cepat, Mr.Edison?” ujar Edward tanpa basa-basi dengan tatapan dingin.
Sementara itu, lawan bicara Edward masih nampak tenang dalam duduknya, dan masih menampilkan sebuah senyum seolah tak ada yang perlu ia khawatirkan atas apa yang Edward katakan. “Seperti yang anda ketahui, perusahaan kami akan berkembang cepat jika anda menyetujui kontrak kerja sama yang telah kami ajukan. Sebagai developer, kami berperan banyak untuk pembangunan negara, dan saya rasa anda tahu akan hal itu.”
Edison beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati jendela kaca besar lalu menyibakkan gordennya hingga pandangannya di suguhi keindahan bangunan gedung menjulang kota New York.
“Lihatlah, Mr.Ed, apa anda tidak ingin bersama-sama membangun kota ini? Perusahaan sebesar perusahaan anda tidak akan merasa berat jika hanya membantu pengerjaan seperti yang ada dalam proposal pengajuan kami.”
“Dengan mengizinkanmu membangun di tanah milikku? Kau pikir aku tidak tahu sebobrok apa perusahaanmu sekarang? “
Edward bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Edison yang tengah berdiri, mafia kejam itu menatap tajam Edison yang masih nampak tenang.
“Jangan harap kau bisa hidup setelah anak buahmu melukai keluargaku apalagi dengan lancang masuk kedalam wilayah kekuasaanku!”
Edison melirik dada Edward yang terdapat sebuah titik merah lalu tersenyum. “kau pikir aku bodoh? Aku sudah memprediksi hal seperti ini akan terjadi, Mr.Ed. Bersikaplah baik atau sniperku akan melesatkan pelurunya untuk mengoyak jantungmu!”
Dengan pelan Edward menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan membuat ekspresi kemenangan menghiasi wajah tua Edison. Beberapa bulan yang lalu perusahaan milik Edison mengajukan kerja sama dengan perusahaan milik Edward untuk membangun perumahan bersubsidi di tanah milik Edward. Tidak, Edward bukan tidak setuju dengan gagasan itu, hanya saja Edward sangat tahu bagaimana buruknya jiwa bisnis Edison ditambah lagi dengan kondisi perusahaan Edison yang sedang tidak stabil, tentu Edward tak mau mengambil resiko untuk itu, lagipula tanah milik Edward itu rencananya akan Edward gunakan untuk membangun sebuah panti asuhan tanpa harus mengemis bantuan dari manapun termasuk pemerintah.
Edison memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana masih tersenyum penuh kemenangan saat Edward terlihat tak bisa melakukan apapun lebih tepatnya tak memiliki pilihan lain selain diam di tempatnya, atau tentu saja sesuai dengan ucapan Edison, jantung Edward akan terkoyak dengan peluru milik sniper yang tengah mengarahkan bidikan tepat pada jantung Edward jika pria itu bertindak ceroboh.
“Jika saja kau tak mempersulit kerjasama kita, tentu aku tidak akan bersusah payah menyuruh orang-orangku untuk menyusup kedalam ruang kerjamu dan melukai anak kesayanganmu yang berusaha menjadi pahlawan untuk ayahnya.”
Rahang Edward terlihat mengeras dengan tatapan yang semakin tajam seolah ingin mematahkan leher Edison saat ini juga, namun ia masih diam di tempatnya membiarkan Edison berbicara penuh keangkuhan seolah Edison adalah pemenang mutlak. “Sebenarnya, rencanaku dengan mengacaukan sistem dalam data keuangan di perusahaanmu bisa berjalan mulus, dan sekarang seharusnya aku sudah mendengar kabar baik mengenai kebocoran dana yang sangat banyak dari perusahaan yang masuk kedalam rekeningmu, bayangkan apa yang akan terjadi pada penanam saham di perusahaanmu jika mengetahui hal ini? Dan tentu saja berita sebesar itu akan di liput seluruh media.” Edison terkekeh pelan “tapi ternyata di luar dugaan, bocah kecilmu itu mengacaukannya.” Kekehan Edison berubah menjadi seringai tipis. “Tidak masalah untuk kegagalanku malam itu, karena saat ini keberuntungan berpihak padaku. Aku harap kau sudah meninggalkan wasiat untuk keluargamu terutama istri cantikmu sebelum kau berangkat kesini, Mr.Ed.”
“Benarkah?”
__ADS_1
Setelah Edward mengatakan itu, titik merah yang semula berada di dada Edward dengan cepat berpindah ke dada Edison sendiri dan secepat itu pula peluru berkaliber besar melesat penuh perhitungan dengan bidikan yang pas, mengoyak jantung pria tua itu tanpa peringatan.
“Argh! Ka…kau.” Erang Edison kesakitan.
Edward menatap tanpa minat Edison yang sudah terkapar di lantai tak bernyawa setelah mengucapkan kalimat terakhirnya yang tak berarti apapun.
“Honey.” Sapa Edward melalui saluran komunikasi yang terpasang di telinganya.
“All clear.” Sahut seseorang dengan suara lembut yang seketika membuat Edward menyunggingkan senyumnya.
“Tunggu aku di sana!”
“Copy that!”
Beberapa saat kemudian anak buah Edison berhamburan masuk karena mendengar suara tembakan dan mendapati bos mereka sudah tergeletak di lantai yang dingin dalam keadaan tak bernyawa.”
“Kau pikir aku yang melakukannya?” tanya Edward pada orang- orang yang tengah menatapnya penuh curiga dan mengarahkan senjata pada Edward.
Edward mendengus lalu menatap sudut bagian atas ruangan itu. “Kenapa tidak memeriksa CCTV kalian? Apa petugas yang berada di ruang CCTV sedang tidur? Lebih baik kalian segera melapor pada polisi daripada menuduhku seperti ini.”
Setelah mengatakan hal itu, Edward meninggalkan tempat kejadian dengan langkah santai mengabaikan keributan yang mulai meluas hingga suara sirine polisi membuat tempat itu semakin ricuh.
***
*Beberapa saat sebelum penembakan Edison.
Soerang wanita yang mengenakan celana jeans hitam dan leather jacket nya berjalan menaiki tangga menuju rooftop sebuah bangunan yang berseberangan dengan Edison Group Office . Mata indah dengan warna iris hijau itu menatap lima orang pria berbadan besar yang menyambutnya setelah ia berhasil membuka pintu dan menapakkan kakinya di lantai semen rooftop.
“Sepertinya aku datang di saat tidak tepat.” Ujar wanita itu ringan . Kelima pria itu menatap lekat wajah cantik wanita di depannya dan seketika raut terkejut tak dapat mereka sembuunyikan mengetahui siapa yang kini berdiri di hadapan mereka. Ya, mereka baru sadar bahwa yang kini tengah berdiri di depan mereka dengan tampilan jauh dari kata anggun itu adalah Lizbeth, nyonya besar Miller yang merupkan istri dari target mereka, Edward Miller.
Tanpa mengatakan apapun lagi dan tanpa memberi kesempatan pada kelima orang yang ada disana untuk bersuara, Lizbeth segera bergerak agresif melumpuhkan kelima pria tersebut. Menendang, memukul dan terus menunjukkan kehebatan beladirinya hingga Lizbeth menembak mereka satu persatu dengan dua Deagle dilengkapi peredam suara yang berada di kedua tangannya, berguling dan menghindari serangan dengan mudahnya seolah Lizbeth tengah menikmati situasi ini, wanita itu terlalu bersemangat karena setelah sekian lama kini ia kembali menjadi sosok dirinya yang dulu.
__ADS_1
“Hah!” Lizbeth membuang nafasnya “ternyata lumayan melelahkan karena lama tidak pernah pemanasan,” gumamnya yang kini sudah berjalan mendekati seseorang yang nampaknya masih foukus dengan pekerjaannya.
Perlahan tapi pasti, Lizbeth terus mendekat dan segera mengarahkan pisaunya pada leher laki-laki di depannya hingga benda tajam yang mengkilat itu menempel pelan di kulit leher yang sejenak menimbulkan ketegangan. Lizbeth terkekeh pelan menyadari bahwa laki-laki yang merupakan sniper itu menyumpal telinganya dengan headset hingga wajar jika tak mendengar suara perkelahian di belakangnya , dan bahkan tidak sadar musuh sudah mengalungkan pisau di lehernya.
Laki-laki itu berusaha melawan, ia menyikut perut Lizbeth hingga membuat wanita itu mundur beberapa langkah dan melepaskan laki-laki yang berdiri dengan tatapan bangis di depannya. Segera saja aksi saling menyerang tak terelakan, dengan gesit Lizbeth menunduk saat laki-laki itu melayangkan tendengannya mengarah pada wajah Lizbeth. Kesempatan itu tak Lizbeth sia-siakan dengan segera menggoreskan pisau tajamnya pada salah satu kaki laki-laki itu yang masih menapak di tanah kemudian menendangnya hingga tak ada lagi perlawanan saat Lizbeth kembali menguasai situasi. Wanita itu menjambak rambut pendek lawannya, menekan mata pisau di bagian sisi tajamnya pada kulit leher lawannya dan sediit memberi goresan tipis hingga menimbulkan rasa pedih luar biasa. “Turuti perintahku atau kau akan mati beberapa detik lagi karena pisauku mengandung racun, aku akan memberimu penawarnya jika kau tak berulah, apa kau paham?!”
Semula laki-laki itu tak ingin percaya dengan ucapan Lizbeth, namun setelah melihat goresan luka di kakinya yang mulai melepuh layaknya tersiram air keras, laki-laki itu terpaksa mengangguk atau ia akan mati konyol membayangkan lehernya mengalami hal yang sama dengan kondisi kakinya.
“Argghh!!”
Rintihan kesakitan terdengar jelas keluar dari mulut sniper itu, tampaknya racun yang ada sudah bereaksi dengan baik.
“Fuck! Berikan aku penawarnya!”
Lizbeth menendang kaki sniper yang tengah teruka itu dengan sepatu boot-nya hingga makin keras laki-laki itu menjerit kesakitan.
“Siapa kau berani memerintahku?! Turuti kemauanku dan kau selamat.”
“Wanita gila! Apa maumu?!” umpat sniper menatap nyalang Lizbeth yang tengah santai memainkan pisau di tangannya.
“Arahkan bidikan sentaja itu tepat pada jantung bosmu!” perintah Lizbeth dengan senyum manis.
“Fuck!” lagi-lagi sniper itu mengumpat.
“Now!” geram Lizbeth saat tak melihat tanda-tanda laki-laki itu akan bergerak menuruti peirintahnya. Lizbeth melirik leher laki-laki di depannya yang mulai bereaksi akibat racun. “Kecuali kau memilih mati dengan cepat, maka akan aku kabulkan.”
Dengan nafas memburu menahan amarah, sniper mulai mendekati senjatanya laras panjangnya, mengamati objek dari jauh kemudian menggeser fokusnya memindahkan bidikan, tidak! Sniper itu mencoba mengelabuhi Lizbeth dengan hanya berpura- pura memindahkan fokus dan akan kembali mengarahkan bidikan pada Edward tepat saat ia menarik pelatuknya nanti, namun gerak-geriknya terbaca oleh wanita yang berada di sampingnya. Lizbeth bergerak cepat tanpa aba-aba menendang sniper itu lalu mengarahkan bidikan pada Edison, menarik pelatuknya hingga peluru melesat sempurna menuju sasaran di seberang gedung. Jangan lupakan siapa Lizbeth yang dulu,wanita itu merupakan mantan pembunuh bayaran dan sniper wanita terbaik yang pernah Edward kenal dengan bayaran tinggi per peluru yang keluar, selalu tepat sasaran dan tidak mengecewakan.
“Honey.” Suara suami tercintanya terdengar melalui alat komunikasi yang terpasang di telinganya.
“All clear.” Sahut Lizbeth.
“Tunggu aku di sana!” Printah Edward yang langsung diberi jawaban oleh Lizbeth.
__ADS_1
“Copy that!”