
“Kau mengenal Gustavo?” pertanyaan tiba tiba dari Edward yang tengah mengulik laptop tanpa mengalihkan pandangannya itu membuat Lizbeth menghela nafasny.a.
“Ya.” Edward menyandarkan tubuhnya pada sofa dan memiringkan kepalanya untuk menatap gadis yang sedang duduk di sampingnya. “Bisa kau jelaskan?” Sekali lagi Lizbeth menghela nafasnya.
“Kau benar benar ingin tahu?”
“Aku tidak suka mengulang pertanyaan,” jawab Edward tegas.
“Dia salah satu targetku bukan karena job, melainkan urusan pribadi. Aku mulai mengikutinya setiap hari saat dia berada di club milikmu. Saat itu juga sebenarnya aku sudah bersiap menghabisinya karena aku lihat dia tak membawa anak buah sebanyak biasanya, hanya ada beberapa bodyguard yang bisa aku atasi. Bukan agen- agen terlatih miliknya seperti yang selalu ia bawa. Tapi ternyata kau sudah menyeretnya terlebih dahulu.”
“Lalu?”
Lizbeth mengerutkan keningnya. “Apa? Bukankah kau sudah membunuhnya? Maka dari itu aku berterima kasih padamu saat kita keluar dari café setelah insiden penembakan random oleh anak buah Robinson.”
Edward berdehem ketika mengingat Lizbeth mengucapkan terima kasih setelah dengan kurang ajarnya berani mencium bibirnya, entah mengapa mengingat itu membuah Edward merasa, entahlah. “Aku tidak membunuhnya.”
“What? Lalu apa yang kau lakukan?” Lizbeth menggelengkan kepalanya tak percaya.
Lizbeth tahu, sangat tahu bahwa manusia seperti Edward tidak akan begitu saja melepaskan musuhnya.
“Hanya menyiksanya dan mengambil alih semua usaha club malam miliknya,” jawab Edward sebelum meraih gelas berisi wine dan menyesapnya sedikit.
“Are you kidding me? hanya itu? Apa yang kau fikirkan, Ed? Dia bisa saja, oh shit! Aku baru ingat.”
Edward menaikkan sebelah alisnya melihat perubahan ekspresi Lizbeth. “What?”
“Robinson adalah anak angkat Gustavo. Stupid! Aku baru mengingatnya. Dulu saat aku menjalankan misi yang gagal untuk membunuh Robinson, di sana aku menemukan satu fakta bahwa Robinson adalah anak angkat Gustavo,” ucap Lizbeth dengan nada kesal.
Bagaimana ia bisa melupakan fakta itu, fakta yang sempat ia ketahui tiga tahun yang lalu saat menjalankan misi untuk melenyapkan Robinson namun harus gagal karena ternyata Robinson tidak semudah itu untuk di bunuh. Kenyataan itu juga yang membuat Lizbeth harus gagal mendapatkan bayaran tinggi dari client nya.
Edward menegakkan tubuhnya dan menatap dalam Lizbeth di sampingnya.
__ADS_1
“Jadi alasan mereka menyerang kita karena kau yang hampir membunuhnya dan aku yang hampir membunuh Gustavo?” Lizbeth mengangguk.
“Itu alasan yang masuk akal, bukan?” Edward mengerang marah, jika tahu bahwa Gustavo tidak bisa diajak untuk berdamai maka detik itu juga Edward sudah menarik pelatuknya dan meledakkan kepala Gustavo. Edward kembali serius dengan laptopnya mencari informasi lebih jauh mengenai Robinson.
Lizbeth hanya bisa memperhatikan Edward dari samping, dan jika sedang serius seperti ini, Edward terlihat semakin tampan. Tidak, dia memang selalu terlihat tampan dan selalu terlihat serius. Lizbeth menghela nafasnya dan memejamkan matanya sejenak, mencoba mengenyahkan sesuatu yang mulai mengusik dirinya, sesuatu yang tidak Lizbeth suka.
Rasa tertarik dan jatuh cinta? Mungkin.
Hal itu hanya akan membuat fokus Lizbeth berantakan, meskipun ia belum pernah merasakan jatuh cinta, tapi dari yang ia tahu bahwa cinta akan melemahkan segalanya dan membuat seseorang menjadi bodoh.
“Apa kau mendengarkanku?”
Lizbeth tersentak dari lamunannya. “Apa?”
Edward menaikkan sebelah alisnya dan menantap Lizbeth dengan mata birunya, mengamati wajah gadis cantik itu dengan ekspresi datar.
“Aku tidak suka mempunyai partner yang tidak bisa fokus!” Lizbeth yang tadi mengagumi ketampanan Edward kini berubah menjadi raut kesal. Dia bukan orang yang tidak fokus dan hell, hanya karena Edward dia menjadi terlihat bodoh.
Edward menutup laptonya dan menarik Lizbeth agar lebih mendekat, sejenak jantung Lizbeth berdetak lebih cepat dengan pandangan tak bisa lepas dari ocean blue eyes yang sukses menghanyutkan seperti ombak di pantai lepas tanpa bisa di lawan setiap kali Lizbeth memandangnya.
“A..apa?”
Lizbeth merutuki dirinya, mengapa harus gugup seperti ini? bahkan dia sudah beberapa kali mencium Edward dengan santai. Damn! Edward masih diam, tangan besarnya menarik tengkuk Lizbeth hingga kening mereka bersentuhan membuat Lizbeth menegang. Oh God, apa yang akan di lakukan laki-laki ini padanya? Bukan salah Lizbeth jika gadis itu berfikir Edward akan meciumnya, kan?
Dan demi apapun, Edward melakukannya. Manusia dingin itu mecium bibir Lizbeth dengan lembut lalu perlahan membuat Lizbeth terbuai dan memejamkan matanya mengikuti permainan bibir Edward hingga Lizbeth membuka matanya dan mendorong E4d0ward dengan kuat.
“What are you doing?”
Edward melirik dada atas Lizbeth dan menghela nafasnya. “Hanya memastikan sesuatu. Hmm..tatto milikmu.”
__ADS_1
Lizbeth memicingkan matanya dan kembali merapikan bajunya yang sempat Edward turunkan hingga sebatas pundak. Entah mengapa dirinya merasa sangat kesal karena alasan Edward menciumnya hanya untuk hal konyol seperti ini. memastikan sebuah tatto milikya? Oh sungguh, Lizbeth tidak mengerti jalan fikiran manusia itu, memangnya apa yang salah dengan tatto miliknya? “Dari mana kau tahu aku memiliki tatto di dada bagian atas? Dan apa maksudmu memastikannya?”
“Aku tak sengaja melihat sepintas saat memasangkan chip malam itu. Dan memastikan bahwa kau bukan keturunan Golden Rose yang selama ini aku cari.”
“Apa kau gila menganggapku keturunan mereka? dan apa keturunan.
Golden Rose memiliki tatto seperti milikku? crown tatto?”
Edward menggeleng. “Rose tatto. Semua keturunan mereka selalu memilikinya.”
“Konyol, bahkan banyak orang juga memiliki rose tatto di tubuhnya. Bagaimana bisa kau mencari mereka dengan petunjuk seperti itu? Menembak setiap orang yang mempunyai rose tatto?”
“Bisa jadi.”
Lizbeth membulatkan matanya melihat Edward yang beranjak dari duduknya setelah menjawab dengan begitu santai. Meskipun selama ini dirinya juga hidup dalam dunia yang kejam dan sering melenyapkan nyawa orang lain, tapi dia tidak segila Edward yang akan membunuh orang orang tak bermasalah.
“Dan apa maksudmu dengan menciumku tadi?”
“Apa itu masalah?” jawab Edward seraya melepaskan kaosnya membelakangi Lizbeth dengan gerakan yang membuat Lizbeth menahan nafasnya.
Perlu diingat bahwa kini mereka berada di dalam kamar apartemen laki laki itu karena tanpa alasan Edward menahan agar Lizbeth tetap bersamanya. Edward yang kini betelanjang dada pun berbalik memperlihatkan tubuh liatnya, menatap Lizbeth yang masih diam mengamatinya.
Lizbeth tak menjawabnya. Gadis itu beranjak keluar dari kamar Edward begitu saja, menuruni tangga menuju ke dapur, dan membuka lemari es untuk mengambil satu buah apel yang langsung di gigitnya setelah duduk di meja makan. Lizbeth berusaha menghilangkan segala fikiran gilanya tentang apa yang ia rasakan saat ini, semakin lama bersama Edward sangat tidak baik untuk kesehatan jantung dan pikirannya. Mungkin lebih baik dia harus menyelesaikan misinya untuk membunuh Robinson sendirian tanpa harus melibatkan Edward. keputusan menerima tawaran kerja sama dengan mafia tampan itu ternyata bukanlah keputusan yang tepat. “Kau baik-baik saja?”
Lizbeth mendongak dan melihat Edward yang berjalan melewatinya mengambil duduk di sebelahnya. Laki laki itu sudah terlihat lebih segar saat ini dengan air yang menetes dari rambut basahnya lagi lagi membuat Lizbeth harus merutuki dirinya sendiri. Lizbeth bukan gadis bodoh yang tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan hanya saja ia tidak yakin apakah Lizbeth sudah benar benar jatuh dalam pesona seorang mafia kejam seperti Eduardo Estebat? “Kurasa.. aku bisa mengatasi Robinson sendiri, maksudku..kita tidak perlu lagi saling bekerja sama seperti ini. urus saja urusan kita masing masing,” ucap Lizbeth seraya menatap Edward serius sedangkan yang di tatapa hanya memasang wajah datar.
“Apakah kau anak Igor Zakharov, seorang agen FBI yang di bunuh oleh mafia Ukraina?” seolah tak mendengar ucapan Lizbeth, Edward malah bertanya hal lain dan sengaja mengalihkan pembicaraan. “Jangan mengalihkan pembicaraan, Ed! Lagi pula tidak ada hubungannya misi kita dengan asal usulku yang bahkan aku juga tidak peduli dengan asal usulmu!” geram Lizbeth.
“Tapi aku peduli.” ucap Edward lirih yang membuat Lizbeth mengerutkan keningnya.
“Kau mengatakan apa tadi?”
__ADS_1
“Tidak ada. Aku akan kembali ke New York besok, kau bisa tetap tinggal disini jika kau mau,” ucap Edward sebelum meninggalkan Lizbeth yang masih bingung tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka.