
Lizbeth mengerjapkan matanya saat merasa tubuhnya di dekap erat oleh seseorang di sertai suara tembakan yang saling bersahutan. Perlahan penglihatan Lizbeth semakin jelas dan kini ia menyadari bahwa Edward tengah memeluknya erat dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya terus membidikkan pistolnya kepada beberapa orang yang berada di dekatnya. Bidikkan sempurna yang tepat sasaran tanpa membuang satu pun peluru dengan sia-sia. “Ed.” Sejenak Edward mengalihkan pandangannya menunduk menatap wajah Lizbeth dari dekat.
“Masih ingin tidur?” tanya Edward sebelum kembali fokus pada musuh musuh di depan mereka.
Tiga orang tumbang sekaligus setelah Edward melesatkan tiga pelurunya. Peluru yang keluar dari moncong desert eagle itu selalu menghancurkan target dengan sempura. Entah sadar atau tidak tangan Edward masih melingkar pada pinggang Lizbeth membuat Lizbeth memutar bola matanya malas.
“Berikan aku senjata!” ucap Lizbeth seraya melepaskan pelukan Edward dan segera menerima lemparan Colt 1911, pistol yang berisi tujuh butir peluru seperti Deagle dan setiap satu butirnya bisa dimuntahkan dengan kecepatan 1.225 kaki per detik.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah gedung yang entah gedung apa Lizbeth sendiri tidak tahu. Bahkan Lizbeth tidak sadar bahwa mereka tidak lagi di New York melainkan berada di Mexico. Lizbeth tidak ingin memikirkan hal itu lagi sekarang, yang terpenting adalah fokusnya untuk segera menghabisi beberapa orang dengan pakaian serba hitam yang terus membidik pistolnya ke arah mereka. Victor dan yang lain terus berada di sekitar Edward dan Lizbeth karena proiritas mereka adalah melindungi boss besar mereka.
Suara tembakan terus saja bersahutan.
Lizbeth menembakkan pelurunya pada tiga orang di belakang Edward dan dengan gerakan cepat Edward mendorong Lizbeth ketika salah satu orang orang itu mengarahkan pelurunya pada Lizbeth hingga wanita itu berguling ke kanan.
Lizbeth tersenyum miring saat Edward lebih cepat darinya dan menghabisi dua orang yang menjadi target Lizbeth.
“Kita di mana?”
“Mexico,” jawab Edward singkat dan memberi kode Lizbeth untuk mengikutinya.
Lizbeth hanya diam mengikuti Edward yang berjalan menuju sebuah lorong di ikuti Victor di belakang mereka serta beberapa agennya, sedangkan sebagian yang lain tetap berada di tempat itu untuk berjaga-jaga. Lizbeth sudah sadar bahwa setelah Edward menciumnya, laki laki itu menyuntikkan obat tidur untuknya dan membawanya ke Mexico. Lizbeth juga mengerti untuk apa mereka kembali ke negara ini, namun yang tak LIzbeth mengerti adalah mengapa Edward harus membuatnya tidur selama itu?
“Apa ada alasan yang tepat kenapa kau membuatku tertidur lama?” Edward menatap Lizbeth tanpa ekspesi dan kembali melanjutkan langkahnya menyusuri lorong di depan mereka. “Karena aku tidak ingin di repotkan ketika kau banyak protes nantinya.”
Lizbeth berdecih pelan sebelum matanya membulat melihat lengan kanan Edward yang dilapisi jaket nampak basah. Lizbeth menarik lengan Edward, menghentikan langkah kaki laki- laki itu yang langsung di berikan tatapan tajam.
“Apa?”
Tanpa menjawab Lizbeth menarik lepas dengan paksa jaket yang di kenakan Edward hingga terlihat darah segar yang terus keluar akibat luka tembak pada lengan laki laki itu. Lizbeth mendongak dan menatap Edward yang masih memberikan ekspresi datar.
“Kau tertembak?” Edward menghela nafasnya dan kembali mengenakan jaketnya. “Ya, dan aku juga akan menembakmu jika kau kembali menghentikan langkahku demi hal tidak berguna seperti ini!”
__ADS_1
Lizbeth yang merasa kesal pun ingin sekali mencekik Edward saat ini juga. Lizbeth tak menyangka akan bertemu dengan laki-laki tak berperasaan seperti Edward yang bahkan setiap kalimat yang keluar dari bibirnya itu sudah bisa menusuk hati siapapun. Benar-benar manusia kejam!
Edward segera mendobrak pintu di depannya setelah sampai di ujung lorong yang hanya terdapat satu ruangan di sana. dua orang agen Edward masuk terlebih dahulu untuk melihat kondisi di dalam sebelum menyatakan bahwa keadaan kosong. Edward masih siaga dengan Deagle di tangannya melangkah masuk di ikuti Lizbeth juga Victor serta agen yang lain di belakang mereka. ruangan yang tadinya gelap kini menjadi terang setelah lampu menyala secara otomatis. Lizbeth mengamati ruangan luas dengan dua komputer di atas meja panjang yang terletak di tengah ruangan. Lizbeth mendekati salah satu komputer dan mencoba menyalakannya namun gagal, ia menoleh pada Edward yang sedang mengulik satu komputer di depannya. Lizbeth menatap Edward yang sedang fokus dengan sederet angka dan huruf yang tentu tidak akan Lizbeth mengerti.
“Apa ini markas Golden Rose?”
“Sepertinya bukan, tapi kita bisa mendapatkan banyak petunjuk di sini.” jawab Edward masih fokus dengan aktifitasnya.
“Aku tidak bisa menghidupkan komputernya.”
Edward tersenyum miring lalu menekan tombol Enter hingga komputer yang ada di depan Lizbeth menyala. Edward melemparkan sebuah flashdisk kepada Lizbeth.
“Pindahkan semua data yang ada ke dalam flashdisk itu!”
Lizbeth mulai melakukan pemindahan data seperti apa yang Edward perintahkan.
“Apa itu sudah menjadi kebiasaanmu? Melenyapkan semuanya tanpa sisa?”
Edward yang sudah duduk di sebelah Lizbeth pun hanya melirik sekilas dan menyandarkan tubuhnya pada kursi penumpang. Bohong jika ia tidak merasakan sakit saat ini akibat luka tembakan pada lengannya dan sepertinya Lizbeth mengerti akan hal itu hingga gadis itu langsung bergegas meminta kotak obat pada Victor.
Edward diam saja ketika Lizbeth mulai melepaskan jaketnya, membersihkan lukanya dan tampaknya Lizbeth bisa bernafas lega setelah melihat bahwa luka itu hanya sebuah goresan, tidak sampai membuat sebuah peluru bersarang di sana. “Sebenarnya tempat apa itu tadi?” tanya Lizbeth yang mulai melilitkan kain kasa untuk menutupi luka Edward.
“Tempat persembunyian salah satu anggota Golden Rose yang sialnya aku hanya bisa menemukan anak buahnya saja, bukan boss mereka.”
Lizbeth hanya mengangguk, ia menatap Edward sejenak sebelum menyamankan duduknya di dalam mobil yang masih bergerak dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang cukup sepi. Entah dimana saat ini mereka berada LIzbeth tidak tahu. “Kita akan kemana?”
“Apartemen.”
__ADS_1
“Apartemenmu yang dulu?” tanya Lizbeth hanya dibalas anggukan oleh Edward.
Suasana kembali hening, baik Edward, Lizbeth maupun Victor dan sopir tidak ada yang membuka percakapan. Edward tampak memejamkan matanya entah tidur atau tidak. Sedangkan Lizbeth menatap luar jendela dengan fikirannya yang berkecamuk saat ini, Lizbeth bingung dengan perasaannya sendiri yang merasa nyaman saat berada di dekat Edward. Perasaan asing yang membuatnya tersiksa akhir akhir ini.
****
Lizbeth turun dari tangga menuju dapur saat mencium aroma lezat masakan. Semalam setelah sampai di apartemen Edward, Lizbeth baru bisa terlelap pukul empat pagi hingga membuatnya kesiangan untuk bangun, sebenarnya tidak terlalu siang karena ini masih pukul delapan pagi.
Lizbeth terdiam sejenak ketika matanya menemukan punggung lebar yang sedang sibuk dengan panci di depannya. Tubuh liat Edward dibalut t-shirt hitam yang melekat pas pada tubuh atletisnya membuat Lizbeth menelan ludahnya pagi-pagi. Damn! Mengapa Edward selalu terlihat sexy dalam keadaan apapun? Lizbeth berdehem saat Edward menoleh, gadis itu berusaha setenang mungkin dan mendekati Edward yang tengah mengaduk sup.
“Apa yang sedang kau masak?”
“Albondigas soup,” jawab Edward seraya mematikan kompor dan meraih dua mangkok yang segera di ambil alih oleh Lizbeth.
“Biar aku saja.”
Edward mengangguk. “Baiklah, aku akan mandi dulu,” ucap Edward sebelum pergi meninggalkan Lizbeth di dapur yang sedang m78emindahkan Albondigas soup ke dalam dua mangkok.
Albondigas soup adalah traditional Mexican meatball soup karena Albondigas sendiri berarti meatball dalam bahasa Spanyol. Bumbu sederhana yang di buat dari bawang bombay, bawang putih, kaldu dan tomat kemudian di tambahkan dengan bakso yang terbuat dari daging sapi atau kalkun. Wortel, kacang hijau, dan kacang polong juga di tambahkan ke dalam sup.
Lizbeth tidak menyangka jika Edward bisa memasak bahkan membuat sup seperti ini yang dari aromanya saja sudah meyakinkan bahwa hasil masakan Edward tidak akan mengecewakan lidah yang mencicipinya. Lizbeth tersenyum samar ketika meletakkan kedua mangkuk di atas meja makan, sejak awal Lizbeth sudah penasaram dengan sosok Edward. sebenarnya laki-laki macam apa Edward itu? Banyak hal tak terduga yang di lakukannya dan selalu membuat Lizbeth takjub. Atau mungkin ini adalah sisi lain dari seorang Eduardo? Sisi manis yang selama ini tertutupi oleh sifat kejam tak berperasaan?
“Kau melamun?”
Lizbeth tersentak dan menggeleng cepat saat Edward sudah duduk di sampingnya dengan pakaian santai. Benar-benar, apapun yang melekat pada tubuh laki laki itu selalu terlihat sempurna. Edward sendiri tetap memasang wajah datarnya dan menikmati sup tanpa ekspresi berarti berbeda dengan Lizbeth yang berbinnar karena meraskan masakan enak buatan Edward.
“Aku tidak menyangka kau pandai memasak.” “Apa kau sedang memujiku?”
__ADS_1
“Anggap saja begitu,” jawab LIzbeth kembali menikmati sup nya bahkan ia tak menyadari bahwa Edward sempat tersenyum tipis setelah mendengarkan kalimatnya.