
Keheningan ruangan dimana Lizbeth terlihat berbaring dengan kesadaran yang belum kembali membuat isak tangis Liana yang berada di balik pintu terdengar pilu. Liana hanya mampu menatap putrinya dari jauh karena ia sadar kini keadaan tidak sedang baik-baik saja. Edward yang berada di dalam menemani istrinya tak mengeluarkan sepatah kata pun sejak Lizbeth pingsan setelah melihat kedatangan Liana.
Semua terasa semakin rumit bagi Edward, ia tak bisa menebak lagi apa yang sebenarnya terjadi. Liana yang di kira sudah meninggal sebagai sosok penghianat kini malah hadir bak pahlawan yang menyelamatkan kekayaan Kostov dari tangan-tangan tak berkuasa. Kekayaan yang selama ini menjadi incaran banyak orang dan membahayakan banyak nyawa tak berdosa.
”Apa Anda tidak ingin masuk?”
Suara Alexa membuat Liana menoleh, gadis itu terlihat sedikit canggung untuk berbicara dengannya. Dmitry yang tadi berdiri menyandarkan punggungnya di dinding dengan mata terpejam langsung membuka matanya, menatap Liana dingin hingga membuat wanita yang merupakan ibunya itu menggeleng lemah.
“Tidak sekarang,” jawabnya lirih. “Aku tidak ingin membuat semua semakin buruk,” lanjutnya.
“Bagus jika kau masih tahu diri,” sindir Dmitry dengan nada yang terdengar menyakitkan.
Alexa menghela nafasnya, ia tak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Louis sendiri juga hanya diam karena tak ingin ikut campur dalam masalah yang tidak seharusnya ia campuri.
Sementara di dalam ruangan tempat Lizbeth berada, terlihat kelopak mata wanita itu mulai mengerjap dengan perlahan.
“Ed.”
“Ya, sayang.” Edward tersenyum lembut. “Aku disini.”
Pria itu bergerak mengecup kening istrinya cukup lama turun pada kedua mata indah itu, kedua pipi dan berakhir pada bibir pucat Lizbeth.
“Apa dia disini?”
Edward tak menjawab, pria itu malah asik menciumi punggung tangan istrinya dan mengelus lembut perut Lizbeth.
“Ed,” geram Lizbeth karena merasa di abaikan. “Berhenti menanyakan yang tidak penting, sayang.”
Edward menegakkan tubuhnya lalu menatap mata hijau indah milik istrinya. “Jangan membuatku lupa diri dan meledakkan kepala siapapun yang sudah membuat kondisimu seperti ini.”
Kalimat Edward yang menyiratkan kemarahan teredam berhasil membuat Lizbeth mengangguk. Ia juga sedang tidak ingin memaksa otaknya berfikir keras, rasa sakit, marah, kecewa juga rindu bercampur aduk ketika ia melihat sosok wanita yang sama dengan wanita di dalam bingkai photo keluarganya. Wanita itu adalah ibunya, ibu yang sudah membuat mimpi buruk bagi keluarganya juga menghancurkan dongeng indah anak-anaknya.
Bagaimana mungkin wanita itu menjadi kepercayaan ayahnya setelah menghianati keluarganya sendiri?
Pertanyaan besar itu terus berputar di dalam otak cantik Lizbeth. Hingga ia merasakan sentuhan lembut Edward pada keningnya. “Berhenti berfikir keras, atau aku akan menarik pelatukku saat ini juga dan meledakkan kepalanya.”
Lagi-lagi kalimat kemarahan Edward terdengar mengerikan bagi Lizbeth. Bagaimanapun ia tak mungkin membiarkan suaminya membunuh ibunya sendiri meski apa yang sudah terjadi selama ini. “Aku hanya ingin mendengarkan alasannya,” ucap Lizbeth menggenggam tangan suaminya lembut. “Bisakah aku bertemu dengannya?”
“Tidak! Tidak sekarang. Aku tak akan membiarkannya mendekatimu saat ini,” tegas Edward tak terbantahkan.
Tak berselang lama terdengar ketukan pintu sebelum seorang dokter masuk bersama seorang perawat yang mengikutinya.
“Selamat sore, nyonya. Saya akan memeriksa keadaan Anda.” Edward mempersilahkan dokter itu memeriksa kondisi Lizbeth. “Bagaimana keadaan istri saya?”
“Sejauh ini tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Hanya saja saya harap nyonya tidak mendapatkan syok berat lagi juga memikirkan sesuatu yang dapat membebaninya. Kandungan dengan usia muda seperti ini masih sangat sensitif, saya harap Anda bisa menjaganya dengan baik,” jelas dokter itu panjang lebar.
Edward mengangguk tanpa mengekuarkan kalimat apapun. “Kapan saya bisa pulang?”
Pertanyaan Lizbeth membuat Edward menatap tak suka dan dokter yang memberikan senyum ramah.
“Pastikan Anda tidak terlihat pucat lagi dan saya akan mengizinkan Anda untuk pulang.”
Lizbeth menghela nafasnya, apa dirinya terlihat selemah itu saat ini? “Saya permisi dulu,” pamit dokter itu sebelum berjalan keluar. “Waktunya makan, aku akan menyuapimu.”
Lizbeth menggeleng. “Bisakah aku bertemu dengan Dmitry?” “Setelah kau makan aku akan mengizinkanmu bertemu mereka, Dmitry, Alexa dan Louis.”
__ADS_1
Edward sudah menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut istrinya dengan tatapan serius yang tidak ingin di tolak, Lizbeth hanya bisa menurut dengan membuka mulutnya dan mulai mengunyah suapan demi suapan.
“Kau juga harus makan.”
“Aku sudah makan tadi siang, lagi pula ini masih sore dan aku akan makan lagi nanti malam,” bohong Edward.
Bagaimana mungkin ia bisa makan siang? Sejak Lizbeth tak sadarkan diri, pria itu tak sedetikpun beranjak dan menjauh dari istrinya. “Aku tahu kau berbohong,” ujar Lizbeth yang tentu saja kembali di abaikan oleh suaminya.
Edward memberikan segelas air minum untuk istrinya setelah Lizbeth menyelesaikan makannya.
“Tidurlah, kau harus banyak istirahat.”
Lizbeth melotot geram mendengar ucapan santai suaminya. “Kau sudah berjanji membiarkanku untuk bertemu Dmitry, Ed!”
Edward menghela nafasnya lalu beranjak untuk memanggil Dmitry yang masih berada di luar. Menolak keinginan Lizbeth semenjak istrinya hamil itu terasa berat bagi Edward.
“Masuklah, Lizbeth mencarimu.”
Dengan cepat Dmitry masuk untuk menemui adiknya, sementara Liana terlihat duduk di kursi bersebelahan dengan Alexa dan Louis. Edward berjalan mendekat lalu berdiri di depan Liana.
“Bisa kita bicara?”
Liana menelan salivanya melihat ekspresi menakutkan Edward saat ini, kilatan amarah terlihat jelas pada iris biru milik pria yang berstatus sebagai menantunya itu.
Edward menaikkan sebelah alisnya menunggu jawaban Liana. Pria itu mengeluarkan tangannya yang tadi ia masukkan kedalam saku celana.
“Jangan khawatir, aku tidak sedang membawa senjata. Setidaknya aku masih waras untuk tidak melukaimu kecuali kau kembali berulah dan membahayakan istriku serta calon anak kami.”
Dalam hati Liana merasa bahagia mendengar betapa sayangnya Edward dengan anaknya serta calon cucunya kelak meski tak bisa di pungkiri ia takut dengan amarah pria itu.
Edward menatap lurus wanita yang duduk di hadapannya. Liana terlihat takut berada di dekatnya dan itu membuat Edward menghela nafasnya.
“Aku tidak akan basa-basi lagi. Sebenarnya apa tujuanmu di balik semua ini? Kau berkhianat dan setelah itu muncul seperti pahlawan di depan semua orang?” Edward masih menatap lurus Liana yang masih diam.
Perlahan wanita itu mengarahkan pandangannya pada kaca jendela di sebelahnya dan mengabaikan tatapan Edward yang tajam. Otak Liana kembali mereka ulang kejadian berpuluh-puluh tahun lalu yang tak akan mungkin ia lupakan. Wanita itu kemudian menatap Edward sebelum membuka suara.
“Mereka menganggapku penghianat karena mereka tidak tahu yang sebenarnya. Pasti kalian sudah termakan dengan omong kosong Gustavo.”
Edward mengerutkan keningnya terlihat berfikir dengan apa yang Liana ucapkan namun Edward masih tetap diam membiarkan wanita itu melanjutkan kisahnya.
“Aku tidak mungkin menghianati keluargaku apalagi setelah kehadiran dua buah hati yang berhasil melengkapi keluarga kami. Aku juga tidak mungkin mengadu domba dua keluarga yang sudah sangat dekat seperti saudara sedarah.” Liana menarik nafasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
“Perpecahan itu terjadi karena Gusatvo yang terus terobsesi padaku, melakukan segala cara untuk bisa mendapatkanku meski sudah jelas aku sudah bersuami, bahkan Gustavo tak segan menyatakan perang secara terang-terangan dengan suamiku. Semua cara yang Gustavo lakukan tidak pernah membuahkan hasil yang bagus dan malah sebaliknya, ia semakin terpuruk dengan obsesi bodohnya.”
Mata hijau Liana terlihat menerawang jauh kejadian yang telah berlalu. “Gustavo yang notabene adalah sahabat Vladmir, dengan mudahnya mempengaruhi ayahmu itu dengan hal-hal konyol yang mengatakan bahwa suamiku menyukai ibumu.”
Liana tersenyum miris lalu menatap mata biru Edward. “Apa ini mengejutkanmu?”
Edward berdehem dan kembali menormalkan ekspresinya yang sempat menegang.
“Suamiku dan ibumu hanya sebatas teman kecil yang saling melindungi, dan apa kau tahu betapa tangguhnya ibumu dulu? Dia selalu memenangkan latihan pertarungan melawan sepuluh agen milik ayahmu dengan alasan bahwa ibumu ingin membuktikan dirinya kuat, tidak lemah dan bukan wanita yang akan menangis hanya karena kerasnya kehidupan.”
Edward kembali terkejut, perlahan rasa rindu dan sesak membuat matanya memanas dan hampir saja meneteskan air matanya.
__ADS_1
Membayangkan betapa hebatnya sosok ibu yang ia miliki membuat pria itu ingin berlari lalu memeluk erat ibunya menceritakan betapa kejamnya dunia yang telah ia hadapi selama ini, menumpahkan keluh kesahnya juga menceritakan betapa beruntungnya ia di besarkan dalam keluarga yang baik dan penuh cinta.
“Lalu?” Hanya itu kalimat yang mampu Edward ucapkan untuk menanyakan kelanjutan kisah dari Liana.
“Lalu, perlahan pengaruh yang di lakukan oleh Gustavo berhasil membuat kepercayaan ayahmu goyah. Awalnya dia hanya membatasi pertemuan keluarga yang sering kami lakukan di sela kesibukan hingga akhirnya Vladmir dan suamiku terlibat perang dingin. Semua semakin buruk saat Gustavo menculikku dan ibumu yang tengah hamil anak keduanya mencoba menyelamatkanku.” “Dan ayahku mengira bahwa ibu pergi bersama tuan Kostov?” Liana mengangguk. “Tepat sekali. Dan apa kau bisa menebak yang terjadi selanjutnya?”
“Ayah menyerang markas tuan Kostov yang sedang lengah karena hanya fokus menyelamatkanmu,” jawab Edward.
“Kau cerdas seperti ibumu,” puji Liana dengan mengusap lembut air matanya yang tiba-tiba saja meneteskan tanpa izin saat mengingat betapa ia merindukan wanita tangguh itu.
“Vladmir menganggap penculikanku hanya tak tik suamiku untuk mendapatkan ibumu. Semua semakin tak terkendali dan aksi saling serang tak dapat di hindari, tak satu penjelasan pun dari suamiku yang di dengar oleh Vladmir.”
“Apa ibu berhasil menemukanmu saat itu?” Tanya Edward. Liana menggeleng. “Vladmir yang menemukanku.”
Edward tak dapat menyembunyikan kerutan pada keningnya. Liana paham bahwa semua penjelasan ini semakin rumit dan akan sulit untuk di pahami. Tapi wanita itu harus mengatakan yang sebenarnya agar tak ada lagi pertumpahan darah antar dua keluarga.
“Vladmir menemukan tempat dimana Gustavo menyekapku lalu tanpa berfikir panjang dia meledakkan tempat itu satu menit sebelum aku sempat melarikan diri dengan kondisi yang sangat buruk. Bahkan aku tidak yakin akan selamat jika saja tidak ada Makarov yang menyelamatkanku lalu membawaku pergi jauh dan menyembunyikanku di suatu tempat selama proses penyembuhanku.”
“Apa tuan Kostov tak mencarimu setelah itu? Mengapa Makarov tak membawamu kembali pada tuannya saja dan semua akan selesai? Lalu ibuku?” Tuntut Edward dengan pertanyaan beruntun.
Liana menggeleng. “Tak semudah itu. Makarov tak ingin membuat semua semakin buruk karena Vladmir yang sudah tak terkendali. Jika aku kembali menampakkan diri dalam keadaan hidup sudah pasti Vladmir akan kembali menjadikanku sasaran untuk melumpuhkan suamiku. Lalu ibumu...” Liana merasa seolah suaranya menghilang karena terlalu sesak setiap mengingat ibu Edward yang sudah ia anggap sebagai saudara kandung.
“Ibumu yang sedang mengandung sering mengalami perubahan emosi yang tidak stabil, apalagi setelah mengetahui bahwa Vladmir membunuhku, ibumu tak lagi bisa menahan amarahnya. Ia pergi dari rumah dan menemui suamiku, Diana selalu yakin bahwa aku masih hidup dan memaksa suamiku untuk terus mencariku.” Edward bisa melihat beberapa kali Liana mengusap air matanya hingga membuat matanya terlihat sembab akibat air mata. “Suamiku menolak, ia lebih memilih untuk fokus pada kedua anak kami dan mencoba merelakanku karena ia benar-benar tidak bisa menemukan tanda-tanda bahwa aku masih hidup. Vladmir semakin murka dengan sikap ibumu yang memilih untuk membantu mengurus anak kami, mengingat dirimu dan Lizbeth yang seumuran membuat ibumu bisa merasakan betapa anak- anakku membutuhkan sosok seorang ibu. Hal itu membuat Vladmir kembali menyerang membabi buta melupakan semua ikatan keluarga di antara kami yang bahkan ia mengabaikan perlawanan ibumu. Diana sangat menyayangi kalian.”
“Jadi itu alasan ibu menyelamatkan ke tiga anak malang di tengah perpecahan dua keluarga?”
Liana mengangguk. “Ya, anak-anak manis yang tak seharusnya merasakan semua ini.”
Edward menarik nafasnya sejenak, sepanjang obrolan mereka tak sedikitpun dua cangkir kopi itu tersentuh. Bahkan mereka membiarkan cairan hitam itu dingin dengan sia-sia. Rasanya kisah kali ini jauh lebih pahit dari kopi di hadapan mereka.
“Lalu kau kembali setelah ibu meninggal karena melahirkan Alexa?” “Ya,” jawab Liana pelan yang masih di dengar Edward. “Dan aku menyesal menghilang terlalu lama sampai aku harus kehilangan ibumu. Saat mengetahui aku masih hidup, semua orang masih merahasiakannya termasuk suamiku karena kami tahu bahwa Gustavo masih hidup dan akan kembali mencariku. Suamiku mempercayakan Makarov untuk melindungiku, menyerahkan seluruh kekayaan keluarga Kostov untuk ku kelola dengan baik, menyembunyikan identitas serta informasinya karena obsesi Gustavo beralih pada kekayaan keluarga Kostov setelah mengetahui betapa banyak harta yang kami miliki, kemudian perlahan kami mencari tahu keberadaan anak-anak kami termasuk dirimu.” Edward menggeleng pelan. “Kalian tak benar-benar mencari kami.” “Apa maksudmu?” Tanya Liana tak mengerti dengan ucapan Edward.
“Apa yang kalian lakukan setelah mengetahui keberadaan kami? Menjemput kami? Tidak, kalian tetap membiarkan anak-anak malang itu hidup dalam kerasnya dunia tanpa tahu siapa sebenarnya orang tua mereka, kalian tak pernah tahu betapa anak-anak itu merindukan sosok orang tuanya. Apa kalian tahu betapa kami merindukan sebuah keluarga? Jawab!”
Edward menggebrak meja dengan nafas memburu yang menyita perhatian juga membuat Liana berjingkat terkejut. Edward meluapkan seluruh emosinya, meluapkan kesesakan di dalam dadanya dan menyampaikan betapa anak-anak mereka merindukan hangatnya pelukan ibu dan damainya perlindungan seorang ayah. Jika saja kebenaran ini terungkap lebih cepat maka mereka tak akan menghadapi kesulitan yang berkali kali hampir merenggut nyawanya dan Lizbeth. Membayangkan bagaimana dulu Lizbeth tersiksa akibat DNA sistem itu membuat emosi Edward semakin meledak.
“Apa kau tahu bahwa DNA sistem sialan yang di buat oleh suamimu itu hampir membunuh anak serta calon cucu keluarga Kostov?” Desis Edward seraya mencondongkan tubuhnya dengan sorot mata tajam.
Liana menggeleng pelan. “Itu sesuai tradisi keluarga Kostov. Setiap keturunan perempuan akan di beri tugas menjadi kunci dari seluruh kekayaan kami dan keturunan laki-laki bertugas untuk melindungi. Kalian bahkan tidak tahu betapa sulitnya kami mencari keberadaan kalian, kami menemukan kalian setelah Alexa berumur dua puluh tahun bahkan Alexa juga tak mengerti tentang keberadaanku. Berhenti menyalahkan kami, kami hanya ingin terus melindungi kalian. Apa kau tidak berfikir bagaimana nasib Lizbeth jika tahu dia putri Kostov yang di cari karena memiliki kunci dari kekayaan keluarga kami?” Ujar Liana lembut tanpa ada nada amarah disana.
Edward menarik rambutnya frustasi, menunduk mengendalikan emosinya yang sempat meledak tak terkendali. Ia tak berfikir sejauh itu akibat terlalu marah dengan keadaan. “Tuhan mendukung usaha kami selama ini dengan mempertemukanmu, Lizbeth juga Dmitry dalam satu ikatan yang saling melengkapi. Setelah kematian suamiku Tuhan juga memudahkanmu untuk menemukan Alexa. Semua sudah di luar rencana kami karena ternyata aku sadar sekuat apapun kami mencoba melindungi kalian dengan banyak rencana, Tuhan tetap pengendali segala rencana dengan kuasaNya. Selanjutnya, kami hanya mengikuti kemana Tuhan akan menunjukkan jalan keluar dari semua kesalah pahaman ini. Aku juga bersyukur bahwa putriku menikah dengan orang yang tepat.”
Edward tersentak lalu mendongak saat merasakan sentuhan lembut pada pundaknya dan mendapati Liana sudah berdiri di sampingnya.
“Aku percayakan kehidupan putriku padamu, aku harap kau mencintainya seperti ibumu yang mencintai kalian. Aku sangat berterima kasih pada Diana yang menjadi penyelamat anak-anak kami, memberikan kehidupan baru meski harus berjuang sendiri. Tapi, aku tahu bahwa kalian bukan terlahir dari darah seseorang yang lemah.”
Edward masih terpaku di tempatnya meski Liana sudah berjalan meninggalkannya. Di kursi lain yang tak jauh dari Edward duduk, terlihat Dmitry yang duduk tegang bersama Alexa. Kedua orang itu ternyata diam-diam mengikuti dan menguping pembicaraan Edward serta Liana sejak awal, tatapan mereka beradu dengan Edward yang mulai beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati dua orang yang mengikutinya sejak tadi.
“Aku akan mematahkan lehermu jika terjadi sesuatu pada Lizbeth karena kau meninggalkannya sendiri,” ujar Edward dengan pandangan terarah pada Dmitry yang hanya menghela nafasnya dan berjalan terlebih dahulu untuk kembali ke kamar Lizbeth diikuti Alexa di belakangnya yang terlihat takut Edward akan marah pada mereka setelah mengetahui bahwa mereka dengan lancang menguping pembicaraan.
Edward menggeleng pelan lalu ikut berjalan untuk kembali melihat istrinya. Sebenarnya sejak awal Edward sudah tahu bahwa Alexa dan Dmitry mengikutinya bahkan menguping pembicaraannya tapi ia membiarkan saja, toh dengan begini ia tak perlu menjelaskan lagi pada dua orang itu.
__ADS_1
Sekarang tinggal bagaimana ia akan menjelaskan semuanya pada Lizbeth, memberi pengertian kepada istrinya bahwa semua ini bukan salah Liana. Dengan sadar Edward merasa bongkahan masalah di dalam hatinya yang selama ini terasa menyesakkan perlahan hancur, menyisakan udara bebas yang siap dihirup bersama keluarga kecilnya kelak, bersama Lizbeth dan juga anak- anak mereka.