
Beberapa saat sebelum Edward terluka.
Suasana masih menegang antara Edward dan Gustavo setelah pria tua yang merupakan pokok masalah itu melesatkan pelurunya kearah Edward dan bersyukur peluru itu meleset beberapa centimeter saat dengan sigapnya Edward menendang kursi yang ada di dekatnya dan mengenai kaki Gustavo.
Edward mengeraskan rahangnya, tatapan tajam dan kilatan pada mata birunya menandakan betapa kini sudah menumpuk amarahnya. Jika saja ia mengerti akan seperti ini maka, sudah pasti kejadian dimana ia berhasil menangkap Gustavo tak akan Edward sia-siakan begitu saja dan akan langsung menghabisi nyawa pria itu. Gustavo sendiri merasa cukup muak karena sejak tadi serangannya selalu meleset. Ternyata Edward memang tidak bisa di anggap remeh.
Sekarang katakan! Dimana kau menyembunyikan chipnya?!” geram Edwad di balas seringai licik oleh Gustavo.
“Bukankah sudah ku bilang bahwa aku berhasil menyalin datanya dan memindahkannya ke dalam database ku? Kau tidak akan mendapatkan apa apa lagi dari chip itu.”
Ketegangan itu berlanjut saat Edward menarik pelatuknya, melesatkan satu peluru Deagle miliknya pada kaki Gustavo hingga terdengar rintihan kesakitan setelah pria tua itu terduduk di lantai dengan darah yang terus mengalir dari kakinya.
Edward berjalan mendekat. Kaki besarnya yang berbalut sepatu berkelas dengan ringannya menginjak kaki Gustavo yang terluka dengan kejam. Hingga teriakan kesakitan kembali terdengar menyenangkan bagi Edward.
“Aku tak perlu bertanya padamu lagi sepertinya.”
Edward tersenyum miring, matanya berhasil menangkap sebuah dinding mencurigakan yang Edward yakini itu adalah pintu menuju ruang rahasia Gustavo.
“Semua mafia memiliki ruang rahasia, bukan? Dan ruang yang kau sembunyikan di balik dinding itu terlalu mudah untuk ku tebak,” lanjutnya masih setia menginjak kaki Gustavo mengabaikan teriakan kesakitan dari pria itu.
“F*ck!! Kau tidak akan bisa mendapatkan apapun! Aku sudah memblokir sandinya!”
__ADS_1
“Jangan lupa jika aku adalah hacker terbaik,” sombong Edward membuat Gustavo kembali mengumpat.
“Anak buah hacker ku bukan tandinganmu, brengsek!! Mereka para hacker terbaik!”
Edward tertawa pelan lalu menggelengkan kepalanya. “Memang bukan. Karena mereka tak sepadan denganku. Mereka hanya kacungmu dan aku boss. Tentu saja, aku bisa mematahkan sayap kerja mereka dengan mudah.”
“Ah, aku malas terlalu lama berbincang denganmu.”
Edward menarik kakinya, menembakkan lagi satu peluru pada sebelah kaki Gustavo yang masih sehat hingga kedua kaki itu benar benar mengenaskan.
“Aku ingin mendengar backsound kesakitan dari bibirmu selagi aku bekerja mengambil kembali data yang memang seharusnya menjadi milikku,” ujar Edward seraya melenggang pergi menuju pintu dinding lalu mendorongnya.
Benar saja, disana terdapat sebuah laptop yang terhubung dengan sebuah chip. Sepertinya laptop itu baru saja di gunakan karena terlihat tidak dimatikan dengan beberapa folder masih terlihat di layarnya. Edward perlu sedikit berfikir untuk bisa membuka datanya lalu kembali memindahkannya ke dalam chip yang memang sudah terkunci dengan sebuah password.
Tanpa sepengetahuan Edward, Gustavo memaksakan dirinya untuk mendekat, menyusul Edward dengan berguling di lantai karena kedua kakinya yang tak mungkin bisa ia gunakan untuk berjalan. Dengan menahan rasa sakit serta nafas menderu, Gustavo memejamkan matanya sejenak. Menahan diri agar tidak menimbulkan suara apapun yang akan membuat Edward menyadari keberadaannya.
Edward masih fokus dengan pekerjaannya yang tak lama membuahkan hasil baik. Pria itu berhasil memecahkan password- nya, mengirim kembali data di dalam laptop Gustavo kedalam chip dan dengan segera mencabut chip itu hingga sebuah tembakan berhasil mengenai perut bagian kanannya setelah Edward berbalik, di susul dengan lemparan pisau yang sialnya juga mengenai sasaran dengan tepat.
Edward merintih kesakitan dan langsung terduduk di lantai, menyandarkan dirinya pada sebuah meja dimana tempat ia bekerja tadi. Edward menunduk, mencabut pisau yang tertancap pada perutnya lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Gustavo yang sama mengenaskannya dengan Edward terkekeh diiringi nafas tersengal menahan sakit pada kedua kakinya yang ia paksa untuk bergerak. Keduanya tak melakukan apapun selama beberapa detik.
__ADS_1
Darah yang terus mengalir dari perut Edward membuat Gustavo yakin bahwa sebentar lagi Edward akan kalah, Edward akan menyerah dengan hidupnya karena ia tahu, bahwa pisau yang berhasil ia tancapkan pada bagian sebelah luka tembak itu mengandung racun.
“Menyerahlan, kau kalah Mr.Ed.”
Edward mencoba mengerjapkan matanya yang mulai mengabur. Bahkan telinganya berdengung hingga apa yang Gustavo ucapkan tak dapat ia dengar dengan baik. Tangannya yang bergetar meraih Deagle kesayangannya, mengabaikan tawa Gustavo yang tak sadar.
Edward mengarahkan bidikan padanya.
“Fuck you, bastard!”
Peluru yang berhasil menembus kepala Gustavo menjadi akhir tawa pria itu dan juga menjadi akhir Edward menggenggam senjatanya. Benda itu luruh di sampingnya, namun sebisa mungkin Edward tetap menggenggam chip di tangannya. Pandangannya yang semakin lama semakin terasa gelap dengan nafas tersengal membuat Edward mengingat istrinya. Mengingat senyum cantik Lizbeth, mengingat janjinya pada Lizbeth untuk segera kembali.
“Aku pasti kembali. Semoga Tuhan masih mengizinkan ku untuk melihatmu dan calon anak kita,” gumam Edward.
“Mom...” Edward terbatuk dan meringis membayangkan wajah Alena yang pasti akan sangat shock jika mengetahui keadaannya saat ini, terlebih jika Edward tak selamat. Ia sudah merasa nafasnya tak lagi teratur. “Aku mencintai kalian.”
Matanya perlahan terpejam dan pasrah seandainya memang ini kehendak Tuhan, setidaknya ia sudah berusaha menyelamatkan keluarga kecilnya, memperjuangkan hidup istrinya hingga tak akan ada lagi penyesalan setelahnya.
Sayup Edward mendengar derap langkah mendekat dan suara suara panik dari seseorang yang beberapa hari ini menjadi familiar baginya. Dengan keinginan kuat, harapan itu kembali hadir. Harapan untuk selamat dan keyakinannya untuk bertahan mampu membuat Edward kembali membuka matanya hingga ia bisa melihat wajah cantik Alexa sedang penuh air mata mencoba membuatnya tetap tersadar.
Edward hanya bisa tersenyum, memberikan chip itu pada Alexa. “Aku mendapatkan chipnya.”
__ADS_1
Setelahnya Edward membiarkan tubuhnya mulai di papah oleh Alexa dan Luois sebelum kesadarannya kembali hilang.