
Pergerakan halus dari jari jemari yang terus di genggam Edward berhasil membuat pria itu menghembuskan nafas lega. Pandangannya tak teralihkan dari wajah cantik Lizbeth yang perlahan membuka kelopak matanya, kesadaran Lizbeth di sambut senyum serta ciuman lembut pada keningnya oleh Edward yang enggan beranjak sejak pertama Lizbeth di pindahkan ke ruang perawatan.
Sejenak tak ada suara yang berusaha memecah keheningan. Keduanya saling diam dalam tatapan kebahagiaan. Lizbeth memamerkan senyum terbaiknya begitupun Edward yang langsung bergerak memeluk istrinya.
“Terima kasih,” lirih Edward membuat Lizbeth mengerutkan kening lantaran suara pria itu yang tak seperti biasanya.
“Kau menangis?”
“Tidak,” jawab Edward masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya “Aku hanya bahagia.”
Jawaban itu menimbulkan kekehan ringan keluar dari mulut Lizbeth, tangannya mengelus lembut punggung suaminya yang ia tahu memang sedang menangis. Meski ia sempat mengalami masa sulit selama melahirkan hingga membuatnya mengalami pendarahan hebat, kini dirinya merasa lebih baik bahkan jauh lebih baik mengingat Edward ada di sampingnya sedang memeluknya, juga ada seorang bayi laki-laki di antara mereka.
“Kau sudah melihat anak kita?”
Edward melepaskan pelukannya dan mengusap lembut pipi Lizbeth. “Sudah.”
“Apa dia mirip denganmu? Aku bahkan belum sempat melihatnya dengan jelas waktu itu.”
“Ya, matanya mirip denganku. Terima kasih sudah berjuang hebat melahirkan anak kita.” Edward mengecup punggung tangan Lizbeth berkali-kali. “Jangan lagi membuatku takut seperti itu.”
Edward memejamkan matanya saat Lizbeth mengelus rahangnya lembut. “Aku baru tahu jika ternyata bos mafia hebat ini takut kehilanganku.”
__ADS_1
Seketika Edward membuka matanya menatap tajam istrinya yang malah membuat Lizbeth tersenyum geli. Meski bagaimanapun Edward tetaplah Edward, dia tidak akan bisa berubah romantis seperti pangeran negri dongeng. Tapi Lizbeth tahu seberapa besar cinta Edward untuknya, sang iblis menawan yang selalu membuat hal berbahaya terlihat indah di mata Lizbeth.
“I love you, daddy.”
Edward hanya tersenyum miring tanpa ingin menjawab ungkapan cinta dari istrinya, pria itu langsung saja menyambar bibir Lizbeth, melumatnya pelan penuh perasaan hingga sebuah ketukan pintu mengehentikan kegiatannya. Dengan tatapan tajam yang ia tujukan pada seseorang yang baru saja masuk, Edward tak sedikitpun berniat menjauh dari tempatnya.
“Bisakah kau melihat situasi dan kondisi saat ingin masuk?” Dmitry mengedikkan bahu tak peduli, dirinya mendekati.
Lizbeth Dan hendak mencium kening adiknya namun terhenti saat sebuah tangan kokoh terasa menahannya. Siapa lagi jika bukan Edward.
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Apa lagi? Aku hanya ingin memberikan ciuman sayang untuk adikku sendiri, apa itu salah?” Kesal Dmitry menghempaskan cekalan Edward dan langsung mencium kening Lizbeth tanpa takut pria yang merupakan adik iparnya itu akan menarik pelatuk.
“Ya, jauh lebih baik dari sebelumnya. Tapi aku kesulitan bergerak karena masih merasa nyeri pada bagian tertentu.”
“Tak apa, itu hal wajar.” Elusan lembut Dmitry berikan pada pucuk kepala adiknya. “Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa keadaanmu. Sebenarnya aku langsung memanggil dokter saat melihat kau sadar karena aku yakin suamimu ini terlalu asik melepaskan rindu hingga lupa apa hal pertama yang harus di lakukan saat kau tersadar.”
“Sebaiknya kau segera pergi ke bandara, aku tidak enak jika harus mengetahui ibu mertuaku menunggu anak laki-lakinya terlalu lama disana,” sindir Edward.
“Alright, aku akan pergi.” Dmitry menghela nafasnya melihat kelakuan Edward yang tak pernah berusaha menjaga perasaan orang lain saat berbicara.
__ADS_1
“Apa dia akan kesini?” Tanya Lizbeth menatap Edward dan Dmitry bergantian.
“Begitulah, suamimu yang menghubunginya dengan alasan tidak ingin di sebut anak durhaka jika tak mengabari perihal kelahiran cucu pertama,” jawab Dmitry santai .
Meski tak ada lagi hubungan buruk antara dua anak dan ibu itu, tetap saja Lizbeth serta Dmitry masih merasa sedikit canggung untuk bertemu Liana, bahkan mereka tidak tahu akan membahas apa saat mereka bertemu. Sebenarnya ini hanya soal rasa terbiasa, mereka belum terbiasa untuk saling berinteraksi mengingat kejadian puluhan tahun lalu yang menimbulkan kesalah pahaman panjang tak menutup kemungkinan menimbulkan perasaan asing yang harus perlahan mulai mereka biasakan. Rasa marah, benci dan kecewa yang dulu tertanam di hati Dmitry dan Lizbeth sebelum mengetahui kebenaran permasalahan mereka sekarang menuntut untuk di ganti dengan rasa kasih layaknya seorang keluarga.
Setelah berpamitan pada Lizbeth tapi tidak pada Edward, Dmitry melenggang pergi meninggalkan ruangan itu. Tak lama berselang seorang dokter yang dipercaya menangani Lizbeth datang bersamaan dengan kedatangan Alexa, Louis, Alena dan Xander. “Rafael dan Ellena pulang terlebih dahulu karena si kembar yang menangis ingin bertemu ibunya. Ia tak berpamitan padamu karena tak ingin mengganggumu yang sedang menemani Lizbeth,” ujar Xander pada Edward menyampaikan pesan Rafael.
“Ya, dad. Tak masalah, apa daddy dan mommy tak ingin pulang terlebih dahulu untuk istirahat? Aku bisa menjaga Lizbeth sendiri disini.”
Xander tersenyum den menggeleng. “Mommymu terlalu bahagia disini karena kedatangan cucu pertama, aku tak tega merusak kebahagiaannya dengan mengajaknya pulang. Lagi pula aku rasa yang butuh istirahat disini adalah anak Daddy ini.” Xander menatap tampilan Edward dari atas hingga bawah. “Kau terlihat berantakan,son. Bersihkan dirimu sebentar. Kami akan menjaga Lizbeth.”
Edward mengangguk, ia sadar kini dirinya terlihat sangat lusuh dan berantakan. Pria itu mendekati Lizbeth yang sedang berbincang dengan Alena dan Alexa karena dokter sudah keluar beberapa saat yang lalu sementara Louis yang duduk di sofa terlihat sibuk dengan laptop di pangkuannya.
“Aku pergi sebentar untuk membersihkan diri,” ujar Edward mencium kening Lizbeth sejenak yang di balas anggukan dan senyum lembut dari istrinya sebelum pergi.
“Permisi.” Seorang perawat dengan bayi yang berada di gendongannya masuk menghampiri Lisbeth.
“Waktunya Anda menyusui,Nyonya.”
“Wah, dia sangat tampan! Astaga! matanya sama persis dengan Edward,” ujar Alena mengamati cucu pertamanya penuh rasa bahagia. Apalagi saat melihat Lizbeth yang mulai belajar menyusui. “Apa kalian sudah memberinya nama?” Tanya Alexa mengingatkan Lizbeth bahwa Edward belum memberi tahu nama anak mereka. “Oh Tuhan! jangan bilang Edward belum memberinya nama,” gerutu Alena.
__ADS_1
“Dia belum memberitahuku, mom,” jawab Lizbeth berakhir senyum geli melihat Alena yang terus menggerutu merutuki sikap Edward yang selalu terlihat santai bahkan sejak kehamilan Lizbeth. Alena curiga Edward bahkan belum memikirkan sebuah nama untuk anaknya.