The Devil Charming

The Devil Charming
Part 16


__ADS_3

Prosesi pernikahan antara Edward Miller dengan Elizaveta Zakharova terbilang cukup singkat dan cepat. Pasalnya Edward hanya mengundang keluarga serta kerabat dekatnya saja dan tak mengizinkan wartawan untuk meliput prosesi pernikahan mereka yang di laksanakan di salah satu gereja di New York. Begitupun dengan acara pesta di malam hari, Edward memilih salah satu hotel milik Rafael untuk di jadikan tempat berlangsungnya acara. Malam ini semua terlihat berbahagia terutama Alena yang sejak tadi pagi tak melunturkan senyumnya. Berbeda dengan Lizbeth yang tengah berfikir keras, mencoba memahami maksud Edward atas semua ini, pernikahan yang mendadak bukanlah hal wajar mengingat siapa sebenarnya Edward Miller. Ketua Mafia yang terkenal kejam, tak berperasaan, penuh perhitungan dan cerdik itu sudah tentu tidak akan mengambil keputusan begitu saja, apalagi menikah. Suatu keputusan besar dalam hidup seseorang yang tidak bisa di remehkan begitu saja, andai saja Edward menikahinya secara diam- diam, mungkin Lizbeth tidak akan berfikir bahwa laki-laki itu serius dengan keputusannya, tapi ternyata laki laki itu menikahinya secara resmi, di depan banyak orang juga di kenalkan kepada seluruh keluarga besar Miller, Franklyn serta kerabat dekat mereka. Otak Lizbeth terus menerka nerka apa maksud dari semua ini, meskipun Lizbeth memang sudah terlanjur jatuh dalam pesona mafia tampan itu dan Edward juga mengatakan bahwa laki-laki itu mencintainya, tetap saja ia merasa ada yang janggal disini.



Lizbeth menghela nafas kemudian tersenyum ketika melihat wanita cantik bersama seorang pria tampan berjalan kearah dimana Lizbeth dan Edward duduk. Edward sendiri langsung bangkit dari duduknya diikuti Lizbeth guna menyambut kedatangan dua orang yang tak lagi bisa di katakan tamu karena mereka berdua adalah tuan dan Nyonya Franklyn, Rafael dan Ellena. Dua orang yang membantu persiapan pernikahan mereka dengan senang hati.





“Ed, sepertinya kami harus pulang terlebih dahulu dan tidak bisa mengikuti hingga acara dansa,” ucap Rafael.



“Apa si kembar mulai rewel?”



“Benar, Liz. Mereka sepertinya sudah merindukan tempat tidurnya,” kekeh Ellena.



“Baiklah, tak masalah, terimakasih sudah membantu acara kami, Rafael. Salam untuk si kembar, kami akan berkunjung ke rumahmu nanti.” Edward mengembangkan senyum seperti biasa saat ia bersama keluarganya.



“Hubungi aku jika kalian akan datang, aku akan memasakkan sesuatu untuk kalian.” Ellena memeluk Lizbeth sekilas dan memberikan senyumnya pada Edward sebelum pergi bersama Rafael.



Lizbeth merasa beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang seperti ini, mereka sangat baik dan tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain. Termasuk Ellena, ibu dari si kembar itu selalu memancarkan aura positifnya sejak pertama kali Lizbeth bertemu dengannya. Berbeda dengan Rafael yang selalu bersikap dingin yang menurut Lizbeth tak jauh beda dengan Edward.



“Lizbeth, kode satu.” “what?!”



Lizbeth membulatkan matanya setelah mendengar Edward mengucapkan kode satu. Kode satu merupakan isyarat bahwa ada seseorang mencurigakan yang berada di antara mereka, sedangkan kode dua mengisyaratkan bahwa seseorang itu bersenjata dan kode tiga sudah pasti akan terjadi penyerangan atau harus menyerang.



Edward dan Lizbeth langsung menyebarkan pandangan mereka, beberapa detik yang lalu salah satu agen Edward yang di tugaskan untuk menjaga keamanan memberikan informasi bahwa ada seseorang yang memasuki wilayah zona aman dan para agen Edward langsung bergerak mencari siapa yang berhasil lolos dari pengawasan serta pemeriksaan ketat dari anak buah Edward.



“Sial! Kenapa harus di saat seperti ini,” geram Edward membuat Lizbeth paham bahwa laki laki itu tengah menahan emosinya.



Tentu saja, Lizbeth juga tidak menginginkan sesuatu terjadi saat ini, mengingat disini keluarga Edward berada dan mereka hanya mengenal Edward sebagai anak Miller bukan seorang ketua mafia. “Dimana Victor?” tanya Lizbeth seraya memastikan bahwa pisau kesayangannya masih berada di balik gaunnya dan Edward, sudah pasti laki laki itu tak akan meninggalkan Deagle nya. senjata itu sudah bersembunyi di balik jas mahalnya.



“Dia di luar bersama agen yang lain, apa yang kau bawa?”



“Hanya pisau, aku tidak bisa menyembunyikan senjata api di balik gaunku ini.”



Edward memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskannya perlahan. Tidak mungkin ia membiarkan ada kekacauan saat ini, di tengah tengah keluarga dan kerabatnya, atau semua akan semakin sulit. Edward mencoba menebak siapa yang sudah berhasil menyelinap memasuki wilayah zona amannya. Dengan cepat Edward mengulik ponselnya memantau setiap sudut ruangan juga mengecek hasil scan wajah otomatis yang di lakukan saat para tamu masuk kedalam hotel dan juga dengan otomatis menampilkan informasi mengenai orang itu.



“Sir, kode dua.” “Shit!!”



Edward memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celana setelah melihat tiga orang bersenjata berbaur bersama tamu undangan di dalam ruangan ini, tiga orang yang terlihat berhasil memalsukan informasi tentang data diri mereka seiring suara Victor yang ia dengar melalui benda kecil transparan yang berada pada telinganya.



“Bagaimana?” Lizbeth sudah berada dalam posisi siaga.



“Kode dua, tiga orang diantara tamu undangan.” Edward menatap


__ADS_1




Lizbeth dengan serius “Dengar, apapun yang terjadi jangan menjauh dariku. Sekarang kita keluar karena aku tidak ingin ada kekacauan disini.”



“Tapi, bagaimana jika mereka—“



“Yang mereka incar adalah kita, jadi mereka akan langsung mengikuti kemana kita pergi. Tiga orang itu tidak mungkin menarik pelatuknya disini jika kita keluar sekarang juga!”



Lizbeth hanya bisa mengangguk mengikuti rencana Edward. Mereka berdua mendekati Alena yang tengah bersama Xander sedang berdiri berbincang dengan Alvaro dan Bella.



“Mom, sepertinya Lizbeth kurang sehat, bisakah kami pergi terlebih dahulu? Maaf jika tidak bisa menemani kalian hingga pesta ini selesai.”



Seketika Alena memberikan ekspresi khawatirnya begitupun dengan Bella dan yang lain, wanita itu langsung mendekati Lizbeth yang hanya bisa berpura pura agar dirinya terlihat sedikit sakit di mata mereka.



“Kau baik baik saja, nak? Apa perlu kami panggilkan dokter?” “Tidak perlu, mom, aku hanya ingin segera beristirahat.”



“Cepat bawa istrimu pulang, Ed. Biarkan dia istirahat malam ini dan tahan dirimu untuk tidak membuatnya semakin lelah, setidaknya tunggu kondisi Lizbeth membaik baru kau boleh menikmati malam pertamamu,” ucap Xander dengan santai yang langsung di berikan tatapan tajam oleh Alena sedangkan Alvaro hanya bisa menggelengkan kepalanya dan terkekeh pelan.



“Aku hanya bercanda.” Xander mengusap pucuk kepala Lizbeth dengan lembut “Pergilah nak, segera hubungi kami jika terjadi sesuatu atau membutuhkan sesuatu,” lanjut Xander dengan senyumnya.



“Kami permisi dulu.” Edward membawa Lizbeth pergi meninggalkan hotel dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan oleh Victor.






Edward menyeringai puas dan segera meraih Deagle dari balik jasnya. “Bagus, arahkan mereka ke markas, aku tidak ingin mengambil resiko anak buah daddy atau uncle Al mengetahu sedang terjadi sesuatu denganku.”



“Siap!”



Lizbeth menyandarkan tubuhnya saat mobil mulai melaju lebih cepat dari sebelumnya ia mengurai rambut pirangnya yang sebelumnya tersanggul rapi kemudian melirik Edward di sampingnya. “Haruskah aku merobek gaun pestaku lagi?”



“Aku akan membelikan sebanyak yang kau mau setelah ini,” jawab Edward sebelum tangannya bergerak meraih pisau lipat yang sudah Lizbeth keluarkan dan segera merobek gaun panjang menjuntai nan elegant itu hingga tiga centimeter di atas lutut.



Lizbeth terkekeh pelan membiarkan laki-laki yang sudah berstatus menjadi suaminya itu kembali merusak gaun pestanya. Ini adalah kali kedua setelah pesta malam itu di Mexico saat anak buah Robinson menyerang mereka.



“Tetap berada di dekatku, kita tidak tahu siapa yang sedang kita hadapi saat ini,” ucap Edward seraya memberikan sebuah Deagle serupa dengan miliknya kepada Lizbeth yang membuat Lizbeth berbinar seketika.



“Tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri dan jangan ragukan kemampuan menembakku.”



Edward menatap tajam Lizbeth yang membuat gadis itu langsung memutar bola matanya. “Baiklah, baiklah, aku akan selalu berda di dekatmu.”



“Good.”

__ADS_1



Mobil yang Edward tumpangi baru saja berhenti di depan markas dan sudah di sambut suara tembakan dari arah belakang, hal itu membuat Edward tersenyum miring, semua mobilnya didesain khusus dengan lapisan anti peluru dan tembakan itu tidak akan berguna sedikitpun selain hanya menimbulkan suara bising akibat benturan peluru dengan badan mobil.



Kini suara tembakan berasal dari anak buah Edward yang balik menyerang musuh mereka, Edward menggenggam erat tangan Lizbeth dan menatap wanita itu sejenak.



“Kita keluar.” Lizbeth mengangguk dan mengikuti Edward yang keluar dari mobil masih tak ingin melepaskan tautan tangan mereka. Laki-laki itu membawa Lizbeth berlari menuju sisi gedung sebelah barat dan mengamati beberapa anak buah Edward yang masih menembakkan pelurunya terhadap musuh musuh yang ternyata tidak hanya tiga orang. Para manusia berkepala plontos tanpa rambut di kepalanya itu seolah menjadi ciri khas bagi clan mereka dan jumlah mereka pun cukup banyak yang beruntung masih bisa di hadapi dengan baik oleh agen terlatih milik Edward.



“Apa kita akan tetap disini terus?” tanya Lizbeth yang merasa tangannya sudah gatal dan sejak tadi ingin menarik pelatuknya. “Ada buruan yang lebih besar dari ini, mereka tidak mungkin hanya mengirimkan anak buah tak berguna itu yang bisa di bantai dengan mudah oleh agenku,” ujar Edward dengan nada sombong layaknya mafia seperti biasanya sangat berbeda dengan Edward beberapa saat lalu yang ramah, lembut, menyenangkan, dan humoris saat berada di tengah tengah keluarganya.



“Pasti ada seseorang yang mencari keberadaan kita saat ini. aku rasa sedikit bermain petak umpet tak masalah,” lanjut Edward dengan senyum miring.



“Ah, ini akan menyenangkan.” Lizbeth mengikuti Edward yang masuk kedalam gedung dan membiarkan anak buahnya bermain main bersama gerombolan orang orang berkepala plontos di luar karena Edward yakin bahwa saat ini sudah pasti akan ada yang mencari keberadaannya bersama Lizbeth yang tak terlihat di area penyerangan. Ruangan luas bercat putih dengan sofa yang terletak di sudut ruangan membuat Lizbeth yakin bahwa di ruangan ini sering di jadikan Edward sebagai tempat penyiksaan melihat banyak bercak darah kering yang mengotori dinding dan beberapa tiang yang Lizbeth duga biasa di gunakan untuk mengikat tawanan Edward sebelum di siksa secara kejam. Lizbeth meringis merasa ngeri membayanngkan apa yang akan di lakukan Edward kepada musuh musuhnya yang berhasil ia tangkap. Meski sudah lama bergelut dalam dunia mafia dan sering bekerjasama dengan mereka, namun Lizbeth tetaplah seorang wanita yang tidak bisa mengeraskan semua bagian hatinya. Bahkan ia sendiri lebih memilih untuk menembak mati musuhnya daripada menyiksanya atau melihatnya disiksa. “Apa markasku semengerikan itu hingga kau memasang ekspresi seperti ini?” Edward menangkupkan wajah Lizbeth dengan kedua tangan besarnya meski Deagle juga masih ia pegang.



“Seberapa kejam kau menyiksa mereka?”



Edward memiringkan kepalanya, mata biru itu menatap lekat wajah cantik istrinya.”Mungkin awalnya aku hanya memberikan sedikit sayatan pada kulitnya, menyiramnya dengan alkohol kemudian….” Edward semakin mendekatkan wajahnya kemudian berbisik tepat di bibir Lizbeth “…mengorek lukanya dengan timah panas sebelum membiarkannya mati secara perlahan dengan racun atau mati cepat dengan peluru yang mengoyak otaknya.”



Lizbeth menelan ludahnya, sekejam itukah suaminya?



Edward terkekeh pelan melihat ekspresi Lizbeth. “Aku tak akan melakukan itu di depanmu jika kau tak menyukainya.”



Lizbeth menghela nafas lega sebelum perlahan bibir mereka bertemu saling menekan dan melumat agresif bahkan ciuman mereka semakin panas ketikan Edward mengambil alih permainan, menjadi pengendali seperti biasanya dan membuat Lizbeth melayang. Oh—ini adalah malam pertama mereka dan ketika mereka seharusnya berada di dalam kamar pengantin kini malah berada di dalam markas pembantaian dengan backsound suara tembakan dan berlatarkan dinding penuh noda darah. Apalagi yang lebih gila selain ini? Edward terus melumat bibir Lizbeth dan merengkuh tubuh itu erat kemudian sedikit memutar posisi mereka hingga keduanya saling mengerti dengan kode itu.



Baik Edward maupun Lizbeth berhasil menjatuhkan tiga orang yang baru saja masuk kedalam ruangan itu dengan tembakan yang menembus tepat pada sasaran tanpa menghentikan aktivitas ciuman mereka. Lagi, Edward memutar tubuh Lizbeth dan mengarahkan moncong Deaglenya di balik pinggung Lizbeth begitupun sebaliknya. Mereka berdua kembali menarik pelatuk menumbangkan dua orang di depan mereka.



Mereka melepaskan ciuman panas itu kemudian saling terkekeh. Jari besar Edward mengusap lembut ujung bibir Lizbeth yang memerah. “This is my wife.”



Lizbeth tergelak kemudian menjauhkan sedikit tubuhnya dari Edward, aksi gila yang baru saja mereka lakukan pasti akan membuat siapa saja yang menyaksikan menganggap mereka memang benar benar sudah tidak waras.



Edward mendekati salah satu mafia yang tergeletak tak bernyawa dan memeriksa tubuhnya memastikan bahwa dugaannya adalah benar.



“Golden Rose?”



Edward mengangguk setelah melihat tatto gambar bunga mawar pada tengkuk laki laki itu. Seketika Lizbeth mengingat gadis yang memiliki tatto mawar di belakang telinga waktu itu, informasi yang mereka lupakan begitu saja dan memilih untuk membahas soal pernikahan.



“Ah, bagaimana dengan informasi tentang seorang gadis yang waktu itu aku temukan?”



“Apa kalian mencariku?”



Edward dan Lizbeth menoleh sebelum sebuah suara tembakan terdengar nyaring.



“Lizbeth!!”

__ADS_1


__ADS_2