
Lizbeth melangkahkan kakinya memasuki halaman mansion tak terurus yang sudah di tutupi oleh rumput liar bersama Edward, Alexa, Louis serta Dmitry yang menyusul beberapa saat setelah mereka berangkat karena laki-laki itu harus menyelesaikan pekerjaan kantornya terlebih dahulu. Anak buah Edward sudah lebih dulu berjalan di depan dengan tidak menurunkan tingkat kewaspadaan mereka.
Edward terus menggenggam tangan istrinya dan tak membiarkan Lizbeth menjauh sedikipun. Suara derit pintu mansion yang di buka setelah Alexa memberikan kunci terdengar memenuhi keheningan ruangan yang kini sudah mereka masuki. Mansion itu benar-benar di tinggalkan begitu saja tanpa memindahkan barang apapun karena masih terlihat perabot mahal yang di biarkan berdebu dan kotor hingga membuat Lizbeth sempat terbatuk.
“Apa kau ingin menunggu di mobil saja? Biar Alexa yang menjagamu,” ujar Edward menyiratkan perhatian yang dalam di sana.
Lizbeth menggeleng. “Tidak, aku tidak selemah itu hanya karena debu. Apa kau meremehkan ku?”
Edward menghela nafasnya, sementara yang lain menahan tawa. Sifat sensitif Lizbeth yang dipicu oleh kehamilannya sering membuat Edward terlihat kesal lantaran setiap kalimat yang Lizbeth ucapkan padanya tak pernah membuatnya senang dan Edward tak dapat melakukan apapun selain menutup mulutnya rapat-rapat dan mengendalikan emosinya.
“Pakai ini.” Dmitry memberikan masker dan sarung tangan untuk Lizbeth.
“Terima kasih. Aku tahu bahwa kakak akan lebih pengertian dari pada suamiku yang hanya bisa meremehkan,” ujar Lizbeth Yang sukses membuat Dmitry mendapatkan tatapan membunuh dari Edward.
“Kau pikir aku tidak perhatian?” Tanya Edward dengan nada kesalnya pada Lizbeth Yang hanya mengedikkan bahu.
Sebenarnya wanita itu tadi juga mempunyai masker yang ia pakai di dalam mobil, namun sebelum keluar Lizbeth melepaskannya lalu meninggalkan benda itu di dalam mobil karena ia fikir tempatnya tidak akan seburuk ini dengan banyaknya debu yang membuat hidungnya gatal.
Alexa yang melihat perdebatan kecil itu hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu merangkul pundak kakak iparnya dengan lembut. “C’mon! kita harus segera menyelesaikan ini.”
Lizbeth dengan senang hati menerima ajakan Alexa, melepaskan tautan tangannya dengan Edward tanpa peduli bahwa suaminya itu sudah teramat kesal.
“Damn!”
Dmitry terkekeh pelan melihat Edward berjalan terlebih dahulu dengan umpatan yang tak berefek apapun untuk Lizbeth. “Bagaimana?” Tanya Edward pada Victor yang sudah memeriksa seluruh ruangan bersama anak buahnya terlebih dahulu.
“Tidak ada apapun yang kami temukan atau yang terlihat mencurigakan,” jawab Victor.
“Kita ke ruang bawah tanah,” ujar Alexa yang berjalan menuju belakang mansion bersama Lizbeth Di ikuti oleh para lelaki di belakangnya. Dengan sigap Edward mendekati istri dan adiknya saat Alexa menghentikan langkahnya di depan sebuah tempat yang terlihat seperti sumur tua.
“Aku rasa ini adalah jalan menuju ruang bawah tanah.” Ujar Alexa “Kau pernah memasukinya?” Tanya Louis.
“Tidak, aku hanya pernah mendengar penjelasan tuan Kostov bahwa beliau membuat jalan menuju ruang bawah tanah di belakang mansion-nya.”
Edward memberikan isyarat pada Victor untuk memeriksanya terlebih dahulu. Tempat yang tertutupi oleh dedaunan kering di kelilingi rumput membuat mereka sedikit kesusahan menemukan kuncinya karena tempat itu tertutupi oleh baja bundar yang tak mungkin di angkat manual. Victor yang di bantu anak buahnya menyibak pinggiran yang di tutupi rumput hingga sebuah gambar mawar terlihat di sana.
“Mr.Ed, ada gambar mawar di sini,” ujar salah seorang anak buah Edward.
Edward mendekat dan mengamati gambar mawar yang di perlihatkan oleh anak buahnya kemudian menoleh menatap Lizbeth.
__ADS_1
Edward mendekati istrinya yang berdiri tak jauh di belakangnya. “Sepertinya gambar itu sama dengan mawar yang ada di lenganmu.” “Benarkah?” Lizbeth melepaskan jaketnya memperlihatkan tatto mawar di lengannya dengan jelas karena gadis itu hanya memakai kaos yang memiliki lengan cukup pendek.
Alexa dan yang lain sama-sama yakin bahwa tatto itu memang sama dengan gambar yang ada di tempat itu.
“Berarti ini memang jalan menuju ruang bawah tanah. Tapi bagaimana kita membuka tutupnya? Apa kau punya kuncinya, Alexa?”
Alexa menggeleng menjawab pertanyaan Lizbeth. “Aku hanya tahu sebatas ini saja dan hanya mempunyai kunci mansion-nya.” “Sepertinya Lizbeth bisa membukanya,” ujar Louis yang ternyata sudah berjongkok di depan tempat itu entah sejak kapan.
“Aku? Bagaimana bisa?”
Lizbeth menatap Edward yang juga tengah menatapnya, bahkan semua orang juga memusatkan perhatiannya pada Lizbeth.
“Tuan Kostov tidak akan memberikanmu tatto serta gambar mawar disini tanpa sebuah alasan kuat. Bahkan jika alasannya ini hanya sebagai simbol, menurutku tuan Kostov tak sesederhana itu,” jelas Louis.
Ucapan laki-laki tampan itu membuat Alexa menjentikkan jari. “Aku mengerti maksudmu, Louis.”
Edward yang juga sudah menangkap maksud pemuda itu kini membawa Lizbeth mendekat lalu berjongkok di ikuti Dmitry dan yang lainnya.
“Arahkan lenganmu tepat pada gambar itu!” Perintah Edward. Lizbeth menurut, wanita itu mengarahkan lengannya yang bertato tepat pada gambar mawar di pinggiran tempat itu hingga sebuah bunyi ‘klik’ terdengar sebelum penutup dari baja itu bergeser dengan sendirinya.
“Apa ini semacam scan retina? Tapi dalam objek yang berbeda? Maksudku, ini scan kulit?” Tanya Dmitry.
“Ya, tapi lebih tepatnya yang bekerja disini bukan kulit Lizbeth, namun tattonya, dan aku yakin tatto itu di buat dengan bahan khusus atau sudah di program sejak dulu. Entahlah, tuan Kostov terlalu cerdik.” Jawab Louis.
“Disini ada tangga, kalian bisa masuk dengan hati-hati,” ujar Victor dari dalam yang sudah masuk terlebih dahulu.
Mereka memasuki ruang itu dengan hati-hati bahkan Edward terlihat sangat menjaga istrinya agar tetap aman dan tidak terluka sedikitpun.
Tangga itu terus mengarahkan mereka pada tempat luas dengan lampu yang otomatis menyala saat mereka melewati lorongnya hingga sampai di depan sebuah pintu besar yang lagi-lagi tertutup rapat.
“Tidak ada simbol apapun, bahkan tidak ada gambar mawar disini,” ujar Louis setelah mengamati pintu itu bersama Alexa.
Edward yang ikut mengamati pintu itu bersama Lizbeth juga mengerutkan keningnya. “Coba dorong saja.”
“Tidak bergerak,” ujar Alexa setelah mencoba mendorong pintu itu. Dmitry yang berdiri tepat di depan pintu itu tak sengaja meletakkan tangannya pada daun pintu sebelum semua tersentak saat terdengar suara dari sebuah komputer yang menginteruksikan untuk memasukkan sebuah password.
“Log in with the last password.”
__ADS_1
Dengan cepat Edward mengetikkan beberapa angka dan huruf yang merupakan password terakhir chip DNA Sistem pada tombol yang keluar dengan otomatis pada daun pintu itu. Setelahnya, muncul gambar mata di sertai perintah untuk scan retina.
Edward berbalik menatap Lizbeth dan Dmitry bergantian. “Scan retina.”
“Retina siapa?” Tanya Lizbeth.
“The last Prince,” Jawab Edward membuat semua orang terkejut lalu menatap Dmitry yang juga terlihat terkejut.
“Aku?”
Edward tersenyum miring lalu bergeser sedikit hingga Dmitry bisa melihat simbol mahkota di samping gambar mata pada layar transparan di daun pintu. Dan hal itu membuat Dmitry kembali terkejut, jika sejak awal ia mengira bahwa keluarganya tak meninggalkan simbol apapun pada tubuhnya, ia salah. Crown tatto yang ada di pergelangan tangannya ternyata adalah simbol yang di diberikan oleh ayahnya. Ya, Dmitry memiliki crown tatto kecil pada pergelangan tangannya dan tak menimbulkan kecurigaan apapun karena sejak awal itu sudah muncul bahkan bisa di lihat banyak orang.
Dmitry mendekatkan matanya dan retinanya dapat di scan dengan baik hingga pintu besar itu terbuka lebar. Semua masih mematung di tempat dan menahan nafas mereka melihat banyaknya brankas di sana yang mereka yakin itu adalah tempat penyimpanan uang atau, emas?
Perlahan semua orang masuk, mengamati ruangan besar itu dengan takjub, selain brankas yang terletak rapi pada tempatnya, juga terdapat beberapa bingkai foto berukuran besar yang di pajang di dinding dan terlihat berdebu.
“Apa ini keluargaku?”
“Itu keluarga kita, Liz,” jawab Dmitry yang sudah merangkul bahunya dari samping dan ikut mengamati bingaki foto di depannya.
Lizbeth memeluk Dmitry erat setelah ia tak lagi bisa menahan isak tangisnya. Sementara Edward mendekati Alexa yang terduduk sambil memeluk erat sebuah selimut lusuh yang terlihat di penuhi bercak darah mengering.
“Ibu meninggal disini, dan ini adalah darah saat ibu melahirkanku,” ujar Alexa pilu yang langsung di rengkuh Edward ke dalam pelukan.
Pria itu juga merasa hatinya berdenyut nyeri dan tanpa sadar air matanya menetes begitu saja. Sosok ibu yang ia cari selama ini ternyata sudah meninggalkannya sejak saat dimana Edward di temukan putri Franklyn di bangku taman. Sosok ibu yang menjadi pahlawan bagi empat orang anak manusia yang kini tengah menangisi keluarganya masing-masing.
Sementara itu, Louis, Victor serta yang lain hanya bisa menunduk melihat pemandangan menyedihkan di depannya. Dua keluarga besar yang semua berhubungan sangat baik harus bercerai berai dan saling menyerang hanya karena satu penghianat yang tak lain adalah ibu kandung Lizbeth serta Dmitry.
“Bagaimana kau tahu ini adalah selimut yang ibu pakai?” Tanya Edward.
“Tuan Kostov pernah menceritakan ini padaku, dan beliau tak sempat membersihkan apapun karena prioritasnya adalah menyelamatkanku dan menyemayamkan ibu dengan baik. Pada saat itu keluarga kita masih terus memburu keluarga Kostov di bantu oleh Gustavo.”
Edward mengelus kepala Alexa yang masih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang kakaknya. Satu- satunya keluarga yang masih tersisa. Begitupun Lizbeth yang juga tengah menangis di pelukan Dmitry, menyayangkan tindakan penghianatan yang di lakukan ibu mereka juga menyesal karena tak sempat melihat wajah ayah kandung mereka.
Beruntunglah Edward dan Alexa yang masih sempat melihat wajah ayah mereka—Vladmir Jarvis.
__ADS_1
Suasana pilu melingkupi ruangan bawah tanah milik keluarga Kostov, jalan takdir yang sudah tertulis rapi oleh Sang pembuat skenario tidak dapat di hindari ataupun di tolak. Mereka hanya bisa menjalani alurnya, menjalankan peran mereka dengan baik karena sebuah akhir bahagia pasti akan ada.