The Devil Charming

The Devil Charming
Part 49


__ADS_3

Suasana meriah acara pesta yang di adakan Edward di kantornya membuat semua orang yang ada disana terlihat menikmatinya. Semua kolega bisnis dan keluarga besar menghadiri acara itu. Edward yang melingkarkan tangannya di pinggang Lizbeth terlihat sedang mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya, sesekali Lizbeth juga terlihat menyunggingkan senyum, tapi nampak jelas bahwa wanita itu sesekali menghela nafasnya dan menatap sekeliling.



“Tidak perlu cemas, sayang.” Ujar Edward setelah tamunya pergi untuk mengambil minuman.



“Bagaimana tidak, jika aku tak melihat Gabriel sejak tadi? Aku harus mencarinya, Ed.”



Lizbeth menatap serius mata biru Edward dan melepaskan rengkuhan lengan kekar itu dari pinggangnya.



Edward menghela nafasnya lalu mengangguk. “Kita cari bersama.”



Setelah mengatakan kalimat itu, Edward dan Lizbeth berjalan meninggalkan tempat acara dan mulai mencari keberadaan Gabriel. Edward pun menghubungi Victor agar menyuruh anak buahnya membantunya ntuk mencari dimana Gabriel saat ini.



Sementara itu, bocah sepuluh tahun yang sedang membuat bingung banyak orang itu kini tengah berada di sebuah ruang luas dengan meja panjang ditengahnya serta kursi yang mengelilinginya. Gabriel menatap lima orang berbadan besar yang tengah memojokkannya di sudut ruangan dengan seriangai mengerikan namun tak membuat bocah itu merasa takut sedikitpun.



“Kau tidak bisa lagi melarikan diri, bocah nakal!” ujar salah satu dari mereka yang terus melangkah maju semakin mendekati Gabriel kecil.



“Apa kau tidak ingin berteriak memanggil orang tuamu untuk menyelamatkanmu?” lanjut orang itu di sertai tawa mengejek “Bocah ingusan sepertimu tidak seharusnya ikut campur urusan k3a6m4i! Sekarang serahkan benda itu atau—“





“Atau apa orang tua? Aku tidak akan membiarkan siapapun mengacau di wilayah kekuasaan daddy!” bentak Gabriel yang perlahan mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.



“Kau!” orang yang tadi terus mengoceh kini mulai berani mencengkeram kuat rahang Gabriel membuat bocah itu sempat meringis “Aku tidak akan berbaik hati lagi pada bocah sialan sepertimu! Berikan benda itu atau aku akan meremukkan rahangmu ini!” bentaknya pada Gabriel.



“Ambil saja jika kau bisa,” ujar Gabriel sebelum menusukkan sesuatu pada perut orang yang tengah menyiksanya itu hingga membuat cengkraman di rahangnya terlepas dan dengan gesit Gabriel memerosotkan dirinya di bawah meja.



“Argh! F*ck! Bunuh dia!” teriak orang yang tadi terkena setruman dari benda yang Gabriel tusukkan hingga menimbulkan mati rasa pada sebagian tubuh orang itu dan kesadarannya menghilang.



Keemapat yang lainnya segera mengarahkan hand gun mereka bersiap membidik Gabriel yang berlindung di bawah meja dengan sesekali bocah itu menendang kaki kursi hingga mampu menghalangi orang-orang yang hendak membidiknya, memberi Gabriel sedikit waktu untuk menarik nafas lalu bergumam pelan. “I’m sorry, mom. Aku terpaksa harus melakukannya.”



Setelah itu terdengar alunan desingan peluru yang saling bersahutan. Gabriel menembak empat orang itu tanpa meleset sedikitpun namun, sedikit kualahan karena ini baru pertama baginya. Tak berbohong bahwa saat ini jantungnya berdetak cepat dan keringat dingin membasahi tubuhnya melihat pelurunya melesat sempurna menembus betis empat orang hingga terdengar raungan kesakitan dan darah berceceran dimana-mana. Tapi sepertinya empat orang itu tak mau kalah dengan cepat, Gabriel yang masih sesekali berguling di lantai, berlindung di antara kursi ketika mereka masih berusaha melesatkan pelurunya ke arah Gabriel hingga satu peluru berhasil melukai perut bocah itu.





Gabriel terduduk di lantai, namun masih menggenggam erat hand gun miliknya meski kini ia merasakan sensasi panas, perih dan nyeri pada bagian tubuhnya yang telah tertembak. Gabriel tetaplah bocah sepuluh tahun yang masih sangat minim pengalaman dalam menghadapi musuh sebanyak itu sendirian, selama ini dirinya hanya berlatih menembak benda mati, merakit senjata, memecahkan password dan kode rumit serta sesekali bereksperimen dengan bahan peledak. Tak sekalipun ia pernah terluka lebih parahnya sampai tertembak seperti ini. Nampaknya melihat Gabriel yang tak lagi bisa melawan, keempat orang yang juga tengah menahan sakit di betisnya itu tersenyum keji, mendekat ke arah Gabriel lalu mengarahkan salah satu moncong hand gun mereka tepat pada pelipis Gabriel.



“Berikan benda itu lalu kau akan selamat!”



Gabriel menatap dingin dengan menahan rasa sakit ynag mulai membuatnya berkunang, nampaknya sudah banyak ia mengeluarkan darah.


__ADS_1


“fuck you!” ujar Gabriel dengan berani sebelum ia memejamkan matanya saat pendengarannya menangkap suara tembakan. Ia hanya berharap mommynya akan memaaThannya kali ini.



“Mom.” Suara Gabriel melemah saat melihat wanita cantik berlari ke arahnya dengan wajah khawatir dan segera memeluknya “MaaThan aku.”



Seketika Lizbeth menangis histeris melihat putranya tak sadarkan diri. Edward langsung membopong tubuh Gabriel keluar dari ruang rapat yang sudah kacau itu dengan langkah lebarnya. Rahangnya mengeras, melihat kondisi anaknya, beruntung dirinya datang tepat waktu dan dengan cepat anak buahnya memberikan head shot pada keempat orang yang tengah mengancam nyawa Gabriel, meski pada kenyataannya Gabriel tetap terluka pada perutnya karena ia sempat mengabaikan perasaan seorang ibu yang beberapa saat lalu terus gelisah mencemaskan keberadaan anaknya dan benar, Gabriel memang sedang dalam bahaya.



Lizbeth terisak melihat Edward membopong anaknya, mereka segera masuk kedalam mobil dan menuju rumah sakit. Kepala Gabriel berada di pangkuan Lizbeth yang duduk di jok belakang, sementara Edward duduk di depan dan memerintahkan supirnya untuk bergegas menginjak pedal gas mobil menuju rumah sakit.



“Gabriel, bangun,nak.” Ujar Lizbeth terdengar pilu bebeda dengan Edward yang hanya diam dengan perasaan bercampur aduk didadanya. Edward merasa marah, sedih dan kacau dalam waktu bersamaan. Edward marah pada dirinya sendiri yang begitu lengah dan mengabaikan firasat istrinya, Edward sedih dan kacau melihat kondisi putranya dan tangisan istrinya.



Setelah sampai di rumah sakit, Gabriel segera di bawa ke UGD untuk segera di tangani oleh dokter. Edward mendekati istrinya memeluk wanita dengan gaun penuh noda darah itu dengan erat sementara sebagian anak buah Edward berjaga di sekeliling dan sebagian lainnya sudah pasti membereskan kekacauan yang di tinggalkan di tempat kejadian.



“MaaThan aku yang lalai, maaf.” Ujar Edward mengelus punggung istrinya yang bergetar.



Lizbeth menggeleng “Tidak, ini bukan salahmu.” Balasnya di sertai isakan menyayat hati. “Aku..aku takut, Ed.”



Kilasan masa lalu yang pernah di alami Lizbeth dan Edward kini kembali menghantui perasaan wanita itu, ini seperti de ja vu dimana dulu Edward pernah terluka parah hingga koma dan menyebabkan Lizbeth kalut luar biasa. Kini kejadian itu terulang pada putranya, lelaki kedua yang Lizbeth cintai selain Edward. “Gabriel akan baik-baik saja, percayalah dia anak yang kuat seperti ibunya.”



Tak lama seorang perawat keluar dari ruang diaman Gabriel berada. “Mr.Miller.”



Merasa namanya dipanggil, Edward segera melepaskan pelukannya pada Lizbeth dan mendekati perawat itu dengan wajah khawatir di ikuti Lizbeth di sampingnya.




“Dia kehilangan banyak darah dan kami membutuhkan donor dengan golongan darah yang cocok dengannya.”



“Darahku cocok dengannya.” Ujar Edward cepat dibalas anggukan olah sang perawat.



“Mari ikuti saya.”



Edward mengecup sekilas kening istrinya “Aku pergi dulu.”



Lizbeth mengangguk dan duduk di kursi panjang dengan beberapa anak buah Edward yang masih setia menemaninya termasuk Victor disana dan membiarkan Edward sendiri mengikuti prawat tadi. Lizbeth merapalkan doa-doa tulus seorang ibu dalam hati seraya menahan tangisnya yang enggan di ajak kompromi. “Apa yang terjadi, Ed?” tanya Alena yang baru saja sampai rumah sakit bersama anggota keluarga yang lain, mereka cukup terkejut mendengar berita ini hingga Alena sudah nampak pucat menatap Edward yang menundukkan kepalanya.



“MaaThan aku,mom. Ini kesalahanku karena tak bisa menjaga cucumu dengan baik.”



Alena menggeleng pelan “Tidak, bukan itu jawaban dari pertanyaanku. Bagaimana insiden seperti ini bisa terjadi dan...dan...cucuku...” Alena mulai tak bisa menahan isakannya “dia bisa tertembak. Siapa mereka , Ed? Apa masalahmu dengan mereka?”



Xander yang melihat istrinya menanyakan deretan kalimat pada Edward yang hanya bisa diam segera merangkul Alena,membawa wanita yang merupakan ibu angkat Edward itu untuk duduk.



__ADS_1



“Kita tanyakan saja nanti, sekarang lebih baik kita semua berdoa agar Gabriel baik-baik saja,” ujar Xander lembut dan berakhir dengan tangisan Alena di pelukannya.



Edward tak bisa lagi menutupi kejadian seperti ini dari keluarga besarnya karena kejadian itu memang di ketahui banyak orang saat Edward meninggalkan pesta begitu saja dan membopong anaknya yang berlumuran darah keluar dari sana. Bahkan kabar ini sudah menjadi berita hangat di berbagai surat kabar serta media sosial. Tidak ada yang bisa Edward lakukan saat ini selain membiarkan pihak kepolisian menyelediki kasus ini , tidak masalah sebenarnya karena sudah pasti anak buah Edward sudah sedikit berkreasi mengubah jalan cerita dengan menghilangkan bukti bahwa Gabriel saat itu membawa senjata. Yang ada adalah penyerangan lima orang tak di kenal pada anak Presiden Direktur Perusahaan dengan dugaan persaingan bisnis, cukup sederhana karena sudah jelas bagian yang kompleks akan Edwrad selesaikan sendiri. Mengenai penembakan empat orang yang di lakukan anak buah Edward di pastikan tidak akan menjadi masalah karena saat itu anak buah Edwrad menggunakan senjata yang terdaftar dan memiliki izin dari negara lagipula, penembakan itu bertujuan melindungi nyawa seseorang yang sedang terancam.



Edward melihat istrinya yang sudah berhenti menangis namun masih sangat jelas wajah sembab disana, Lizbeth duduk di samping Ellena dan Nathalie, semenatara di samping Edward ada Rafael,Xander dan Alena. Sesaat, semua orang menatap pintu UGD yang terbuka dan sudah bisa di pastikan semua orang beranjak dari duduknya mendekati seorang dokter yang tengah menatap Edward dan Lizbeth.



“Kuasa Tuhan, anak anda bisa melewati masa-masa buruknya dengan mudah. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat.” Ujar dokter dengan senyum menennagkan saat mengatakan hal itu pada Edward.



“Terima kasih, Tuhan.” Untuk yang pertama kalinya Edwrad menyuarakan rasa syukurnya, mereka ynag mendengar penjelasan sang dokterpun menghela nafas lega dan bersyukur Tuhan masih mendengarkan dao-doa mereka.



Xander meremas pundak Edward dan tersenyum. “ajak istrimu untuk membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu, kami akan menjaganya.”



Edward mengangguk lalu mengajak Lizbeth untuk pergi membersihkan diri seraya menunggu anak mereka yang akan di pindahkan ke ruan perawatan.



***



“Apa kau sudah menemukan motif dari kejadian ini, Ed?” tanya Lizbeth menatap suaminya yang tengah mengancingkan kemejanya satu persatu sebelum wanita itu beranjak untuk membantunya.



Edward mengangguk lalu menatap dalam mata hijau istrinya yang mempu membuatnya tenang dan nyaman.



“Haruskah aku kembali memerankan sosok Eduardo seperti dulu?” “Apa kau sedang meminta izin padaku?”



Edward kembali mengangguk. “Setidaknya aku tidak akan ragu untuk mengambil keputusan jika kau mengizinkanku.”



Setelah sekian lama mereka berusaha menghindari situasi seperti ini bahkan bisa di katakan semenjak kelahiran Gabriel, Edward tak pernah lagi berperan menjadi sosok Eduardo yang berarti akan berurusan dengan dunia mafia dan menarik pelatuk tanpa negosiasi. Begitupuun dengan Lizbeth, wanita itu berubah menjadi sosok istri dan ibu yang luar biasa bagi Edward dan Gabriel no gun, no blood, no war.



Lizbeth terdiam sejenak, ia menghela nafas lalu kembali duduk setelah semua kancing kemeja suaminya terpasang rapi.





“Sudah bertahun-tahun kau menuruti keinginanku untuk menghindari kondisi seperti ini, dan alasanku sudah jelas karena aku tidak ingin kita mengalami hal yang sama seperti dulu, terutama Gabriel.”



Edward yang sudah ikut duduk di sebelah Lizbeth masih diam dan setia mendengarkan setiap kalimat yang Lizbeth ucapkan, ia sudah mempunyai rencana B jika istrinya itu tak memberikan izin untuk bergerak lebih jauh seperti dulu.



“Tapi, jika sudah seperti ini aku tidak punya alasan untuk melarangmu dan jika perlu aku akan berdiri di sampingmu seperti dulu.”



“Kau cukup menjaga Gabriel untukku,” sahut Edward “kau pasti tahu aku akan selalu melindungi kalian dengan caraku sendiri bahkan jika nyawa taruhannya aku tidak akan ragu untuk tetap melangkah.” “Aku tahu itu,” jawab Lizbeth lembut.



Edward beranjak dan mengulurkan tangan pada Lizbeth dan mengajaknya untuk kembali ke rumah sakit setelah membersihkan diri dan berganti pakaian di mansion mereka yang kebetulan tak jauh dari rumah sakit dimana Gabriel di rawat.

__ADS_1


__ADS_2