
Sebuah elusan lembut pada kepala Lizbeth membuat wanita itu merasa nyaman apalagi kini ia merasakan tubuhnya yang hangat. Kesadarannya yang perlahan kembali membuat wanita itu membuka matanya dengan cepat lalu mendongak hingga iris biru jernih yang ia rindukan tengah menatapnya dengan sebuah lengkung indah menghiasi wajah tampan itu.
Lizbeth mengerjapkan matanya, memperhatikan keadaannya yang terbalut selimut tebal meski posisinya masih duduk di sebelah ranjang. Wanita itu lantas kembali menatap Edward. “Ed...”
“Ya, mendekatlah. Aku ingin memelukmu.”
Seketika itu juga Lizbeth menghambur pada pelukan suaminya yang masih terbaring di atas ranjang.
“Aku merindukanmu, jangan meninggalkanku lagi.”
Sentuhan lembut pada punggung wanita itu semakin membuat Lizbeth terisak.
“Kau berjanji akan kembali. Tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Aku...aku takut,Ed.”
Wanita itu menghirup aroma suaminya yang sangat ia rindukan. Merasakan kehangatan pelukan Edward yang selalu ia inginkan. “MaaThan aku, maaf karena kau harus mengalami ini semua hanya karena diriku. Maaf aku yang tak bisa berbuat apapun bahkan sempat melupakanmu. Aku...aku minta maaf.” Ucap Lizbeth penuh rasa bersalah.
“Apapun yang terjadi selanjutnya, aku mohon kau tidak akan meninggalkanku lagi. Berjanjilah untuk mengajakku kemanapun kau pergi,” lanjutnya.
Namun, Lizbeth mengerutkan keningnya saat tak ada lagi pergerakan tangan Edward pada punggungnya juga tak ada sahutan apapun setelahnya.
Perlahan Lizbeth menjauhkan wajahnya dari leher Edward menatap suaminya yang kembali terpejam. Saat itu pula jantung Lizbeth berdetak cepat, dengan panik wanita itu menepuk pipi suaminya.
“Ed, jangan bercanda. Kau baru saja sadar. Edward aku mohon... buka matamu!” panik Lizbeth.
Lizbeth semakin pias saat tak lagi merasakan hembusan nafas suaminya apalagi melihat patient monitor menunjukkan garis lurus di iringi suara nyaring yang seakan ikut mencabut nyawa Lizbeth seketika.
“Tidak,tidak, Edward. Aku mohon buka matamu.”
Mata Lizbeth sudah memburam dengan air matanya yang tak lagi bisa ia tahan. Perasaan takut yang amat sangat membuatnya merasa seakan aliran darahnya berhenti.
“Katakan ini bohong. Jangan meninggalkanku sendiri, Ed. Aku mohon.” Lizbeth memeluk erat tubuh dingin suaminya. “Edward!!!”
“Liz, wake up.”
Lizbeth terperanjat dari tidurnya saat sebuah tepukan pada pipinya mengembalikannya pada dunia nyata. Matanya yang sembab membuat semua orang khawatir.
“Kau mimpi buruk?” Tanya Alexa yang sedari tadi mencoba membangunkannya.
Lizbeth hanya diam kemudian menatap Edward yang masih belum sadar. “Edward, dia—”
__ADS_1
“Sepertinya kau butuh istirahat. Edward belum sadar. Dmitry, Louis dan Victor akan menjaganya. Sekarang kau ikut aku untuk membersihkan diri dan sarapan,” ujar Alexa lembut.
“Aku..aku tidak ingin meninggalkannya,” lirih Lizbeth Yang kembali takut saat mengingat mimpinya.
“C’mon! kau harus memperhatikan kesehatan dirimu karena di dalam rahimmu ada anak Edward.”
“Pergilah, Liz. Jangan khawatir, Edward akan segera sadar,” ujar Dmitry membantu Alexa membujuk Lizbeth yang keras kepala.
Akhirnya Lizbeth hanya menurut untuk mengikuti Alexa keluar dari ruangan itu sebelum memberikan ciuman singkat pada bibir pucat suaminya.
*****
Mimpi buruk yang menghantuinya tak bisa Lizbeth abaikan begitu saja. Rasa takut kehilangan menguasai hatinya. Bahkan wanita hamil itu tak bisa menghabiskan sarapannya dengan baik. Beruntung, Alexa masih bisa membujuknya untuk menghabiskan segelas susu. Meski begitu, Alexa tetap khawatir akan kesabaran Lizbeth.
Baginya, Lizbeth merupakan tanggung jawab yang harus ia jaga dengan baik mengingat Edward yang belum juga terbangun. “Liz,” panggil Alexa membuyarkan lamunan Lizbeth.
“Ya?”
Lizbeth menoleh menatap wajah Alexa yang sedikit memiliki kemiripan dengan suaminya itu.
Alexa tersenyum. “Apa kau ingin mencari udara segar? Aku akan membawamu keluar markas.”
Lizbeth menghela nafasnya, menunduk menatap perutnya yang sudah terlihat berbentuk kemudian mengelusnya lembut.
“Sejak awal, aku tak pernah menyangka akan berada dalam satu garis takdir dengan Edward. Dimana kita saling terikat, saling membutuhkan dan juga saling mencintai. Hingga aku merasa kehilangan segalanya saat melihat Edward terluka.”
Alexa membiarkan Lizbeth bercerita, berharap dengan ini suasana hati wanita itu bisa sedikit membaik.
“Entah sejak kapan aku mulai tak bisa jauh darinya. Dan penyesalan terbesarku adalah pernah melupakannya di saat ia sedang berjuang menyelamatkan nyawaku, dan makhluk kecil di dalam rahimku.” Lizbeth mengusap air matanya kemudian tersenyum tipis.
“Aku tak mempunyai tujuan lain sekarang, selain hidup bahagia bersamanya dan anak-anak kami kelak seperti pasangan normal lainnya di luar sana. Apa kau pernah memimpikan hal seperti itu juga?”
Alexa yang semula menatap lurus ke depan kini menoleh lalu mengangguk.
“Menjadi seorang mafia bukan hal menyenangkan meski kita terlihat hebat. Sebagai seorang perempuan yang mempunyai naluri keibuan, aku tidak ingin anak-anakku kelak terjerumus dalam kehidupan gelap yang sama denganku. Aku ingin mereka menikmati hidup dengan damai. Tanpa senjata, tanpa suara tembakan dan tanpa dendam.”
Kedua wanita itu sama sama tersenyum simpul.
“Kau benar, meski itu sangat sulit untuk kita lakukan. Apalagi bagi Edward, mafia adalah dunianya, ia tak bisa mundur begitu saja.” “Ya. Setidaknya kau beruntung, kakakku bisa memerankan dua karakter sekaligus. Menjadi malaikat, atau iblis dalam satu waktu, dan aku yakin bahwa Edward akan selalu menjadi malaikat dalam kehidupannya bersama keluarga.”
Lizbeth mengangguk setuju. Edward memang selalu menjadi malaikat bagi keluarganya, bagi orang terkasih juga bagi mereka yang tak mencoba mengusik kehidupannya. Tapi, pria itu juga akan menjadi iblis kejam tak berperasaan saat melihat keluarganya tersakiti, saat menyadari kehidupannya telah di usik. “Siapapun Edward, aku tetap mencintainya,” ujar Lizbeth mengakhiri percakapan ringan mereka sebelum keduanya beranjak untuk kembali ke ruangan Edward setelah menghabiskan beberapa menit kebersamaan mereka di meja makan.
__ADS_1
*****
“Apa ada perkembangan baik?” Tanya Lizbeth pada dokter Sam. “Ya, nyonya. Mr.Ed sudah mulai membaik dan kita hanya perlu menunggunya kembali terbangun. Lukanya juga sudah mulai mengering,” jelas dokter Sam yang mampu membuat kelegaan pada hati Lizbeth.”Saya permisi dulu.”
Lizbeth mengangguk membiarkan dokter Sam pergi. Di ruangan itu kembali senyap karena seperti biasa, orang orang akan membiarkan Lizbeth menikmati waktunya bersama Edward. “Cepat bangun, sayang. Jangan membuatku takut terlalu lama.” Lizbeth mengelus lembut kepala Edward dan tak bosan menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh cinta, kerinduan serta ketakutan.
“Apa kau tidak ingin melihat perkembangan baby kita? Kau tak ingin menyentuhnya?”
Perlahan Lizbeth meletakkan tangan suaminya pada perutnya lalu tertawa sumbang. Betapa menyedihkan sekali dirinya yang sudah seperti orang gila.
Hormon kehamilan yang membuat emosinya sering tak terkendali juga mempengaruhi mood wanita itu. Tiba-tiba saja ia ingin berada dalam pelukan Edward, mencium aroma tubuh suaminya yang selalu ia rindukan. Tapi sebisa mungkin Lizbeth menahan keinginannya. Perban yang masih terlihat menutupi luka pada perut suaminya membuatnya menghela nafas.
“Baiklah nak, kita tunggu hingga Daddy mu membuka matanya dan memeluk kita,” gumam Lizbeth merebahkan kepalanya pada sisi ranjang dan mengelus lembut jari jari suaminya dengan perasaan sedikit kesal karena, entahlah. Lizbeth merasa aneh dengan perasaannya.
“Kapan kau bangun? Sebegitu teganya kau membiarkanku sendiri? Aku hanya ingin kau memeluk. ku.”
Tubuh Lizbeth menegang saat merasakan pergerakan pada ranjang sebelum lengan kekar memeluk nya meski hanya sebatas pundak.
Tidak, Lizbeth tidak ingin mendongak. Ia takut ini hanya mimpi dan kembali berakhir menyedihkan. Lizbeth masih diam tak bergerak meski ia bisa merasakan ini nyata. Lizbeth terlalu takut hingga wanita itu memejamkan matanya.
“Aku mohon, jika ini hanya mimpi segera bangunkan aku,” gumam Lizbeth.
“Kau tidak ingin memelukku?”
Suara familiar yang ia rindukan kembali mengusik pendengarannya, suara yang juga sama saat membuatnya frustasi di dalam mimpi. “Tidak, aku mohon. Aku tidak ingin mimpi buruk untuk kedua kali.”
Terdengar deru nafas Edward yang masih lelah, mencoba menahan rasa nyeri pada tubuhnya, Edward sedikit bangun, menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang menimbulkan pergerakan yang bisa dirasakan Lizbeth dengan pasti.
“Kau tidak sedang bermimpi, sayang.”
Lizbeth menegakkan tubuhnya perlahan sampai ia lupa bernafas melihat Edward benar-benar tersadar.
“See, ini nyata. Bisa tolong ambilkan aku minum?”
Tanpa memperdulikan permintaan Edward, Lizbeth langsung menyambar bibir suaminya, melumatnya lembut namun penuh kerinduan hingga ia sadar bahwa Edwad belum sepenuhnya sehat membuatnya terpaksa melepaskan pagutannya.
“Jangan menutup matamu lagi, mengerti?!”
Edward terkekeh pelan dan langsung menarik tubuh Lizbeth kedalam pelukannya.
“Mengerti, Captain!” Balas Edward dengan senyum lebar.
__ADS_1