THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
part 10


__ADS_3

BRAK


pintu ruangan Luna di buka seseorang dengan kasar. Fatel terperanjat dari duduk santainya dan langsung berdiri kala mendengar suara keras tersebut.


Dylan mengibaskan tangan kanan nya ke udara dan seketika pintu besar tersebut tertutup rapat.


Fatel bergidik ngeri melihat tingkah Dylan. dengan sedikit ragu ia berjalan dan mendekat ke arah Dylan, bertanya apa Dylan memiliki masalah bukan sebuah hal yang buruk mungkin.


namun langkah siputnya terhenti kala mata coklat nan tajam milik Dylan menatap nyalang ke arahnya. Fatel menelan salivanya kasar.


'baik, sepertinya aku akan mendapat masalah' batin Fatel.


Fatel membalikkan badannya pelan dan bersiul menyembunyikan rasa takutnya.


Dylan menyeringai dalam diam. dia mengerak gerak kan tangan kanan nya di udara dan mengibaskan nya ke samping gadis itu membuat gelas di atas nakas berbenturan dengan lantai keramik hingga menyebab kan suara khas benda pecah.


Fatel berhenti bersiul dan menatap naas ke arah gelas yang tergeletak tak beraturan di lantai. kasian sekali, gelas yang tak bersalah menjadi korban Dylan.


'tapi sepertinya, sebentar lagi aku' batin gadis itu.


dia sudah pasrah. hidup, mati, sakit, sekarat dan sehat ia tidak peduli.


Dia mengacuhkan Dylan dan berbaring di atas ranjang. Dylan merasa sangat murka karena di abaikan gadis ini. bahkan sekedar memasang wajah kaget saja tidak.

__ADS_1


dalam satu kedipan mata, Dylan sudah berada di atas tubuh gadis itu. kedua tangan nya bertumpu di kedua sisi kepala Fatel, membuat jarak di antara wajah mereka berdua. mata nya menggelap dan aura mencekam memenuhi ruangan.


deg


deg


deg


Fatel merasa kan jantung nya berdetak sangat keras, bahkan dia dapat mendengar nya dengan jelas. semoga saja pria di atas nya ini tak menyadarinya.


entah mengapa berada di posisi seperti ini membuat Fatel salah tingkah. dia berusaha memalingkan wajahnya, namun mata nya seakan terkunci dengan wajah tampan di depannya ini.


sama halnya dengan Dylan. Leo seakan berontak dan ingin mengambil alih. hasrat nya terhadap gadis ini semakin membuncah saat matanya terpaku pada bibir peach gadis ini dan gaun tipis yang menampilkan lekuk tubuh nya.


'ayolah Dylan, ini kesempatan bagus. aku tahu kau ingin menyiksa nya, namun yang ku maksud "menyiksa" dalam kata lain' Leo bergumam di sertai kekehan nya, membuat Dylan menggeram.


Dylan tidak tahu harus melakukan apa. semua yang ia lakukan barusan adalah kehendak Leo. Leo yang membuat ia harus menindih gadis ini.jika ia beranjak sekarang tanpa melakukan suatu hal pada Fatel, maka sama saja dia memberi harga dirinya pada gadis ini.


sebelum akal sehat nya benar benar hilang, Dylan menyeringai, menampilkan sisi evil nya.hendak memulai aksi menyiksa nya, namun satu suara membuat ia menunda kegiatan nya.


"apa mau mu?" suara Fatel sedikit bergetar. oh ayolah, bagaimana tidak, sekarang posisi mereka sangat tidak wajar.


"kau. " suara berat Dylan membuat Fatel meremang sesaat.

__ADS_1


"cih, dalam mimpi mu" Fatel berusaha mendorong tubuh Dylan, namun Dylan tak bergeming dan tetap pada posisinya.


"jangan berpikir yang tidak tidak. aku menginginkan mu bukan dalam hal itu" Dylan tersenyum miring saat rona wajah Fatel berubah.


"kau tahu, aku sedang dalam mood ingin menyiksa seseorang, dan ku rasa kau sangat cocok untuk seseorang itu" senyum licik semakin menghias bibir Dylan.


"dasar makhluk berhati busuk. kau sudah melukai fisik ku dua kali, aku tidak akan membiarkan kau berbuat semena nya dengan fisik ku" Fatel tersenyum tak kalah kejam dengan Dylan.


"kau yakin? ah, sebaiknya aku tidak membuang waktu. ah sebaiknya kita mulai dari mana ya?."


Dylan semakin mendekat ke arah Fatel membuat Fatel menahan nafas.


Dylan mengelus rambut coklat Fatel.


"bagaimana jika dimulai dari sini?" Dylan berucap membuat Fatel merinding setengah mati.


suara ketukan membuat Dylan menggeram tertahan, lain hal nya dengan Fatel menghembus nafas lega. setidaknya bebas dari cengkraman singa buas.


Dylan menghilang dan sudah duduk di sofa tunggal di ruangan tersebut, sedangkan Fatel menarik selimut menutup tubuh nya sebatas leher.


"masuk" suara datar Dylan menggema di ruangan tersebut, tampak Nicho muncul dengan wajah bingung nya.


"kau di sini Dyl? aku tadi mencari mu. ada yang ingin ku bicarakan" perkataan Nicho membuat Dylan berdiri dan berlalu. sebelum ia benar benar berlalu sepasang matanya menatap dingin ke arah Fatel yang seakan beku seketika seolah mengatakan 'urusan kita belum selesai hanya tertunda'.

__ADS_1


xx_apilaa


__ADS_2