THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
Bag 37


__ADS_3

Martha tersenyum cerah melihat taman bunga nya, kali ini kebun bunga nya mekar semua tidak seperti sebelum nya.


"Jey, apa air masih ada di belakang? " tanya Martha sambil memotong daun dan kelopak bunga yang sudah layu.


"ku rasa iya, jika iya aku harus memperbaiki saluran air ke sungai, kemarin sore banyak daun yang menyumbat saluran nya" Jey menghampiri Martha, seorang bayi perempuan berada dalam gendongan nya.


"ah ya, kau akan ke sana sekarang? sini kan Vhrodite" Martha mengambil Bayi mereka.


"Jey" panggil Martha sebelum Jey pergi meninggalkan iya dan Bayinya


"hm? " Jey terpaksa harus berbalik badan


"Kau tahu, keberadaan kita adalah sebuah rahasia untuk kita bertiga, jadi ku mohon jangan pernah melibatkan diri atau terlibat dengan urusan klan manapun" Ujar Martha


Jey terdiam. Tampak jelas di raut wajah Martha tersirat ketakutan yang amat sangat. Jey membawa Martha dan anak mereka ke dalam pelukan nya.


"sudah berapa kali kau mengatakan ini? aku tidak sebodoh yang kau kira, aku menyayangi kalian" Jey mencium kening Martha dan Vhrodite penuh kasih sayang


"tidak, maksud ku, aku hanya Cemas terhadap suatu kemungkinan yang akan mengancam kita," perlahan air mata mengalir pelan dari pelupuk mata Martha.


"aku sangat-sangat menghargai itu semua, kita akan bahagia tanpa gangguan dari apapun yang pernah terjadi di masa lalu"


-


-


-


setelah selesai dengan urusan saluran air nya, Jey memperhatikan sekitaran sungai, namun sesuatu yang mengapung di permukaan sungai menarik rasa penasaran nya.


"apa itu? " Jey mendekat dan betapa kagetnya ia ketika tahu bahwa itu adalah seorang manusia.


Jey segera berenang ketengah sungai dan membawa orang itu ke daratan.

__ADS_1


'apa yang terjadi? ' Jey membalik kan tubuh si orang itu, Dia menaikkan kedua alis nya saat melihat wajah orang tersebut.


'ini?.... bukan kah dia wanita yang dulu menjadi tawanan Dylan? mengapa bisa di sini? ' Batin Jey.orang yang tak lain dan tak bukan adalah Fatel.


"ah, apa aku bawa pulang saja? ah tidak, tidak. aku tidak mau terlibat dalam masalah, lebih baik aku letak kan di sini saja" Jey membiarkan Fatel terbaring di tepi sungai, ia segera meninggalkan tempat itu sebelum seseorang melihatnya


****


Hari semakin gelap, suara jangkrik mengusik gendang telinga nya, membuat ia harus membuka matanya dengan enggan.


Daratan?


satu pertanyaan yang mengandung beberapa makna untuk Fatel. Dia ada di daratan dan bukan di tempat aneh itu? bagaimana dia bisa...?


Fatel berusaha mengingat,


Dia.. ada sesuatu yang menabrak tubuhnya, lalu ia kehilangan kesadaran, Fatel kira dia akan mati, tapi sepertinya maut masih menghindari nya.


Baru saja Fatel berdiri, suara rintihan kesakitan terdengar tak jauh dari tempat nya sekarang, Ia melangkah menuju sumber suara, dia meringis saat rusuk nya terasa sakit


"ah yang benar saja, ku kira akan baik-baik saja" gerutu Fatel, ia tetap melanjutkan langkah nya. Dia masih berusaha mencari asal suara rintihan tersebut, Fatel menghentikan langkah nya kala melihat seorang pria yang terlihat sangat kesakitan, ada goresan lebar di punggung nya yang.


Fatel mengintip di sela-sela semak tak jauh dari pria tadi, meski di sini gelap namun rambut pria yang panjang bahkan lebih panjang dari rambut Fatel dan berwarna kuning keemasan tersebut seakan memberi kesan cahaya terhadap sekitarnya hingga Fatel dapat dengan mudah melihat segala aktivitas di sana. Pria itu sanngat kentara sekali menahan rasa sakit, darah..ah bukan, sesuatu mengalir tanpa henti dari bekas luka nya.


"apa itu? Dia terluka tapi bukan darah merah yang mengalir namun cairan yang berwarna biru. Dari pakaian nya dia terlihat sungguh kuno, pakaiannya sama seperti Peri yang berada di danau, hanya berbeda warna, jika Si Peri berwarna hijau tua, pria ini memakai jubah berwarna perak dan berkilau.


entah bagaimana, Pria itu menatap nyalang ke arah semak-semak tempat Fatel bersembunyi, Fatel salah tingkah harus bagaimana


ketahuan ya?' batin Fatel, ia terpaksa keluar sambil memegang rusuk kirinya.


"a-ah,..hm,.. itu,..aku tak berniat apapun, hm, hanya... hanya kebetulan lewat, ya... kebetulan.. haha" Fatel tertawa masam menunggu reaksi dari pria di hadapan nya.


Pria itu memandang Fatel dengan tatapan tajam dan menusuk membuat Fatel membuang pandangan nya. Fatel tak habis pikir, dunia Imorland ini memproduksi pria-pria tampan nan sempurna ya, dia selalu bertemu dengan pria-pria yang sempurna secara fisik, tidak Dylan, Arry, si Peri dan sekarang Pria berambut keemasaan ini juga. jika di dunia manusia bertemu pria tampan seperti mereka memang bisa saja terjadi, namun tidak sesempurna di sini. mereka tampan secara alami tanpa perawatan.

__ADS_1


"kau kira aku bodoh" ucapan yang sama dingin dan menusuk nya dengan tatapan nya, ah, selain bertemu pria tampan, Fatel merasa dia selalu bertemu dengan pria yang berbicara dingin dan tatapan tajam juga penuh selidik.


"ah, aku tidak peduli kau percaya atau tidak, aku hanya akan mengatakan kebenaran sekali ucap, sangat pantang pisang berbuah dua kali, kau paham maksud ku" sahut Fatel, Pria itu mengerut kan alis sembari masih menahan sakitnya mendengar ucapan Fatel.


"aku tahu sedikit tidak sopan, tapi apa yang terjadi pada mu? " Fatel bertanya memecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa saat lalu.


"bukan urusan mu, urus sendiri diri mu" Pria itu terang-terangan menolak ucapan Fatel.


"oh aku? aku tidak apa-apa, bagaimana jika aku membantu mu sedikit, ku lihat kau kesusahan tadi" Fatel mencoba menawarkan diri pada pria itu meski pria itu menolak.


"sudah ku bilang aku bisa sendiri" Pria itu sedikit menaikkan nada suara nya, bukannya pergi Fatel malah mendekat ke pria itu.


"apa yang kau lakukan? menjauh dariku selagi aku bicara baik-baik pada mu" pria itu mau menolak namun ia terlalu lemah saat ini.


"kau mengancam ku? lihat, bergerak saja kau sangat susah, jangan berpura-pura jika itu menyakiti dirimu" Fatel menatap punggung pria tersebut, meski memakai jubah, cairan biru itu merembes ke pakaianya.


"baik, aku akan membuka baju mu" Fatel bersiap membuka baju pria itu, namun tangan nya di hentikan oleh pria tersebut


"kenapa? aku tidak akan menurunkan semuanya, aku hanya menurunkan sebatas pinggang mu, aku tahu kalian tidak memakai celana"ucap Fatel santai tanpa memikir kan rasa malu pria tersebut


"kau bicara tanpa berpikir dahulu" Pria itu mengomel pelan.


"tenang ini tidak akan sakit" Fatel mengigit jari telunjuk nya, Dia sedikit meringis saat melukai diri sendiri begitu meski tidak terlalu parah. Fatel menetes kan darahnya pada bekas luka pria itu, tiba-tiba luka yang terbuka lebar tersebut perlahan-lahan menutup dan cairan biru juga berhenti.


"bagaimana? " Fatel bertanya khawatir, bagaimana pun ini adalah pertama kali nya bagi nya, ia tak pernah melakukan ini sebelum nya.


"sudah jauh lebih baik" lirih pria itu, ia menaikkan jubahnya, mendengar hal itu, Fatel tersenyum bangga pada dirinya sendiri


"baiklah, bukan kah seharusnya kau berterima kasih pada ku karena telah menyelamat kan hidup mu? " Tanya Fatel,


Pria itu tampak berpikir


"aku akan mengajari mu semua kemampuan yang ku miliki"

__ADS_1


__ADS_2