THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
part 8


__ADS_3

"ada apa kau memanggilku?"




satu pertanyaan yang membuat Dylan tersadar tujuan awal nya memanggil gadis ini.



Dylan mengangkat dagu nya angkuh dan menatap sinis pada Fatel.



"bukan kah lebih sopan jika anda mengenalkan diri mu terlebih dahulu *Nona*?" Dylan menekan nada bicara nya pada kata Nona.



Fatel tersenyum kecut. dia menelengkan sedikit kepalanya ke samping.



"haruskah? setelah apa yang orang asing perlakukan pada ku? hm, apakah menurut mu menyerang dan memukul orang yang tak kau kenal adalah suatu kesopanan?" nada mengejek terselip di setiap kalimat yang Fatel ucapkan.



Dylan merubah posisi nya. kaki kirinya di letak kan di atas paha kanan nya, sedang tangan kanan mengepal menopang dagunya. tatapan dingin nya menusuk Fatel.



namun gadis itu tampak tak terusik dengan tatapan Dylan.bahkan raut menantang terpampang di wajah jelitanya.



Dylan benci tantangan gadis itu. cukup lama mereka terdiam dan berperang dalam tatapan dingin dan menusuk satu sama lain.



Claire datang dan meletakkan coklat panas untuk Fatel di meja.



"siapa yang menyuruh mu menyuguhkan coklat ini untuk nya? " ucap Dylan dingin sedang tatapan nya tak berpaling dari makhluk di depannya.



"ah tidak ada Tuan, saya berinisiatif, siapa tahu Nona ini ingin minum" jawab Claire menunduk.



"simpan lagi, bila perlu buang saja. aku tidak sudi ada sesuatu yang berkaitan dengan gadis ini di sini, walau itu belum di sentuh nya" Dylan mengepal kan tangan kirinya, hingga buku buku jari nya memutih.



Fatel berdecih dan membuang muka, bukan karena menghindari tatapan dingin Dylan, namun karena keangkuhan dan kesombongan Dylan.



"saya akan senang hati bila anda juga menyuruh saya pergi" Fatel berucap penuh ketenangan.



Dylan tersenyum mengejek dan memainkan jemari nya.



"kau kira semudah itu kau pergi? he, jika pun kau pergi dari sini aku pastikan kau tidak pulang dalam keadaan selamat, Nona" seringain tercetak jelas di bibir Dylan.



Fatel mengeram tertahan.



apa maksud pria ini?



jika memang ingin membunuh nya kenapa tidak langsung saja, kenapa berbelit belit seperti ini?



Fatel mengatur nafas nya.



"ku rasa itu tadi cukup mengerikan" Fatel menyilangkan kakinya.

__ADS_1



gaun tipis yang di kenakan ikut terangkat, memperlihatkan betis kecil dan putih Fatel,


membuat Leo melompat lompat ingin mengambil alih tubuh Dylan, namun pria itu berusaha menahan nya. Dylan berdehem mentralkan *hasrat* nya.



"ya betul sekali. sekarang aku ingin kau menjawab pertanyaan ku dengan jujur" raut wajah Dylan berubah serius



"apa kau seorang Hunter?"tanya Dylan.



"baiklah calon Alpha terhormat. saat aku menjelaskan kau jangan memotong ucapan ku sebelum selesai" Fatel berkata dengan tenang dan tegas di saat bersamaan.



"siapa kau berani memerintah ku?" Dylan tak terima. di Werbor pack tak ada satu pun yang berani memerintahnya, bagaimana mungkin ia harus tunduk pada Fatel,seorang gadis asing.



"ku bilang jangan memotong ucapan ku !!" Fatel sedikit membentak Dylan, membuat iris pria itu menggelap.



"kau....membentak ku.. dan aku tidak suka itu" Dylan menatap tajam ke arah Fatel. Fatel merasa sedikit takut, namun ia tak boleh terlihat lemah. Dylan sudah menyakiti nya 2 kali dan itu tak dapat di biarkan.



Fatel mengangkat bahu nya tak peduli dan tersenyum manis, perlahan aura gelap pada Dylan perlahan memudar.



"dengar, aku hanya ingin menjelaskan nya, tidak bermaksud membentak mu, terserah pada mu jika tidak percaya" Fatel berkata tak peduli, matanya mengamati seisi ruangan.



oh?



Fatel baru menyadari ruangan ini di dominasi warna yang terkesan gelap. ruangan ini hampir mirip apartemen, namun tidak ada dapur. hanya ruang tamu dan satu ruangan di ujung, sepertinya itu kamar.




banyak barang barang antik dan unik di pajang di berbagai sudut ruangan. matanya berpusat pada sebuah figura yang cukup besar. di situ terdapat seorang wanita anggun dengan balutan gaun berwarna biru tua, apa itu Luna ibunya pria di depannya? entahlah. di samping nya pria muda\-mungkin berumur 24 tahun\-berdiri sambil teesenyum lebar, yang Fatel tafsirkan itu adalah si calon Alpha menyebalkan ini.



dia tampak bahagia sekali, cibir Fatel dalam hati. tapi kemana ayah nya? kenapa hanya ia dan ibunya? Fatel malas memikir kan hal tak penting semacam itu.



"jangan biarkan mata mu itu bergerak bebas mengamati ruangan ku." sarkas Dylan membuat Fatel berdecak kesal



"jadi bisakah kau jawab pertanyaan ku tanpa harus membuang waktu" bukan pertanyaan, namun pernyataan yang di lontar kan Dylan.



"baiklah, pertama aku tidak tahu apa itu Hunter dan itu tidak ada kaitan nya padaku. kedua\-, ck jangan memasang wajah itu, aku belum selesai" Fatel memutar bola mata nya jengah melihat tatapan Dylan menusuk nya.



"jangan beralasan, cepat jelaskan" desak Dylan, dan lagi lagi membuat Fatel berdecak kesal.



"kedua, aku bahkan tidak tahu bahwa warewolf itu benar benar ada, dan saat kau bertemu dengan ku dan sepupu ku....." Fatel menghentikan ucapannya. pikiran nya tertuju pada Natty, rasa bersalah kembali menghantam dadanya.



Dylan merasa aneh dengan tingkah Fatel. pasalnya tadi wajah nya terlihat tenang dan menantang, namun apa sekarang? tatapan sendu yang ia tunjukkan. Dylan trenyuh dengan tatapan Fatel, tidak bukan Dylan, namun Leo lah yang begitu. itu tentu saja bukan Dylan. Dylan menyangkal.



"lalu?" ucapan Dylan membuat Fatel tersadar dan melanjutkan perkataannya.



"yang kau lihat waktu itu, aku mencari tahu kebenaran dari keberadaan kalian\-"

__ADS_1



"dan membunuh kami? taktik murahan" Dylan menyeringai dengan tatapan setajam pisau yang siap menggoreskan sisi runcing nya pada wajah Fatel.



"kami berdua tidak ada maksud membunuh atau pun melukai kalian. cukup tahu saja" \(*berasa nanyi lagu Rizky Febian :v*\) Fatel menjelas kan dengan nada meyakinkan.



Dylan menegak kan tubuhnya.



"tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa aku harus menawan mu di sini" Dylan berucap kelewat santai membuat Fatel ingin mencabik wajah tampan nan dingin nya itu.



"hei apa maksud mu?" tanya Fatel tak mengerti.



"dengar, ada dua kemungkinan." Dylan mengarahkan 2 jari pada Fatel.



"pertama.."Dylan melipat salah satu jari nya" kau adalah hunter" Fatel membelalak. apa kurang penjelasan nya pada pria dingin di depannya ini?



"sudah ku katakan aku bukan Hunter dan tidak tahu apa itu Hunter" Fatel berkata tak terima.Dylan mengacuhkan nya dan masih sibuk dengan jari jari nya



"dan kedua, kau bukan Hunter dan kau makhluk lain" air wajah Dylan berubah serius, dan seringaian muncul saat melihat ekspresi bingung Fatel.



"makhluk lain? coba jelaskan, jangan membuat ku semakin bingung" Fatel benar benar bingung dengan ucapan Dylan.



"dan aku harus memastikan itu." Dylan berdiri dan sedikit merapikan kemeja putihnya.



Fatel mengerjap ngerjapkan matanya.



"Claire, bawa dia ke ruangan Luna. aku akan perketat penjagaan. "Dylan berjalan berlalu dari hadapan Fatel setelah memanggil Claire.



"tapi Tuan itu adalah ruangan pribadi Lu\-" perkataan Claire terpotong



"kau membantah ku Claire? ini perintah cepat lakukan," Dylan memegang gagang pintu dan menoleh ke Fatel yang memasang wajah bingung nya.



"dan siapkan segala kebutuhan nya, jangan sampai kurang satu apapun"



Dylan membuka pintu dan keluar dari ruangan nya.



"bisa kau tidak bicara begitu lagi Leo? "



tentu saja kalimat terakhir itu berasal dari Leo.



"tidak"Leo terkekeh pelan



"kau tahu aku tidak suka" Dylan menghela nafas berat.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1



\_xx\_apilaa\_


__ADS_2