
Fatel terbangun setelah merasa sangat sakit tadi, ia melihat Xi mengenggam erat tangan nya dengan khawatir.
"kau khawatir pada ku? " Fatel bertanya dengan nada mengejek
"iya, itu membuat ku sangat takut." jawaban Xi membuat Fatel kebingungan.
"maksud mu? " Fatel sungguh tak mengerti maksud pembicaraan Xi
"tidak kah kau sadar selama sepuluh tahun ini? aku menyukai mu" pengakuan Xi yang secara singkat membuat Fatel mematung.
ucapan yang Xi ucapkan sama seperti ucapan Dylan, bahkan Dylan mengatakan sangat mencintai nya bukan hanya sekedar mate, namun yang terjadi sekarang Dylan merejectnya, membiarkan ia yang menanggung kerinduan dan rasa cinta itu seorang diri.
"aku.. aku.. ti.. tidak bisa maafkan aku" Fatel tak bisa membohongi dirinya dan Xi,
Xi tersenyum dan memeluk tubuh Fatel erat.
"aku menghargai semua keputusan mu, namun biarkan aku menjaga mu saat ini" Fatel tak bisa berkata apapun mendengar ujaran Xi.
wajahnya hanya menampilkan tampang sendu.
_
_
_
Berbulan-bulan sudah sejak kejadian Dylan mereject matenya, Fatel berjalan masuk ke dalam sebuah perkampungan asing. ia tidak tahu dimana ini, ia hanya ingin menginap barang semalam.
ia memesan makanan nya, Fatel mendengar seorang pria berbicara tak jauh darinya.
"aku dengar pembunuhan itu di sebabkan oleh makhluk mengerikan yang menjaga hutan itu, hutan yang berbatasan langsung dengan kita itu sangat menakutkan" ujar salah seorang
"ya, meski kita adalah klan vampir, tapi makhluk seperti itu sungguh di luar kemampuan kita, ku dengar raja telah meminta bantuan para dewa, namun Jerry tidak mau membantu" mendengar nama kakak nya membuat Fatel merasa bersalah. harusnya Jerry membantu klan yang membutuhkan bantuan kaum Dewa, Fatel merasa ia mempunyai tanggung jawab atas klan Vampir.
Fatel merapikan tudung jubah dan memasangkan kembalj cadarnya, ia menghampiri kedua bapak tersebut
"dimana aku bisa bertemu dengan raja kalian?" ucapan Fatel membuat kedua orang tersebut tersentak.
"siapa kau? "
"aku adalah orang yang akan membantu kalian menghadapi makhluk itu"bukan nya sahutan yang menyenangkan hati, Fatel malah di tertawakan oleh kedua orang tersebut.
"kau gila ya... " omongan bapak tersebut terhenti kala Fatel memelintir tangan nya hingga si empunya menjerit kesakitan.
"sepertinya kau salah mencari orang untuk bersenang-senang nona" suara tersebut mengalihkan atensi Fatel. ia melepaskan tangan bapak itu dan memandang pria yang sama misterius nya dengan dirinya
"maaf, aku sedang tidak ingin bermain-main" Fatel menatap remeh pria tersebut.
"oh ya, padahal aku sangat ingin bermain dengan mu"pria tersebut menikam beberapa pisau ke arah Fatel namun dengan mudahnya gadis itu menangkis.
__ADS_1
"kau kira kau akan menang hanya karena kau menikan seperti itu?" Fatel menyerang tubuh pria itu. namun dengan satu gerakan cepat pria tadi berada di belakangnya.
merasa di permainkan Fatel menekan dada pria itu dengan telapak tangan nya, seketika si pria terjerembab dan tudung nya terbuka membuat Fatel membulat kan matanya tak percaya.
'Dylan? apa yang ia lakukan di sini? '
Fatel segera melengang keluar dari tempat tersebut, sungguh dia tak menyangka akan bertemu dengan Dylan saat ini. Jujur dia tak bisa bila bertemu sekarang setelah apa yang Dylan lakukan padanya
Sekelebat bayangan cepat mendahului nya dan menghentikan langkahnya. Dylan berdiri tepat di hadapan Fatel.
"kenapa kau menghindari ku? " Dylan berkata dengan suara tertahan, ia rindu sangat rindu dengan Fatel. namun dia cukup sadar diri saat ini.
"apa yang kau maksud? aku tidak mengenal mu" Fatel memalingkan wajah nya, sapuan angin yang Dylan lakukan membuat cadar dan tudung Fatel terbuka.
Dylan tersenyum miring.
"sejujurnya banyak yang ingin ku tanyakan pada mu, namun, Apa kau baik-baik saja selama ini?"
Fatel mengigit bibir bawah nya kuat, mendengar pertanyaan Dylan, pertanyaan macam apa itu? harusnya Dylan memarahinya bahkan membunuhnya karena Fatel meninggalkan nya selama sepuluh tahun dan lebih mementingkan kekuatan dari pada Dylan.
"harusnya kau membunuh ku sekarang" suara Fatel bergetar.
"untuk apa aku membunuh mu? bukan kah kau yang melakukan hal itu pada ku karena telah mereject mu? " Dylan perlahan mendekat ke arah Fatel, Dylan ingin sekali membawa wanitanya ke dalam pelukan nya, memastikan bahwa bertemu dengan Fatel adalah sebuah kenyataan dan bukan mimpi, namun gadis itu menjauh darinya membuat Dylan merasa hampa.
"aku tidak memiliki hak melakukan itu, sudah sewajarnya karena aku menghilang sangat lama" Dylan menghela nafas panjang mendengar penuturan Fatel.
"aku tinggal bersama..." Fatel menjeda ucapannya, ia harus merahasiakan keberadaan Xi adalah Jormugandr " seorang pria" Dylan mengeram mendengar jawaban Fatel yang jauh di luar dugaan nya
"oh, begitu"
Fatel kecewa dengan jawaban singkat Dylan yang seolah sengaja menelantarkan nya.
"ku rasa aku tidak punya urusan lagi dengan mu" Fatel memasang kembali cadarnya.
"tunggu kau ingin membunuh makhluk itu sendiri? "
Fatel menatap tajam Dylan karena berani menguping pembicaraan nya
"kau meragukan ku? maaf, aku bukan Fatel yang dulu" Dylan dapat melihat jelas pancaran aura membunuh yang pekat di sekitar Fatel, memang gadis ini sudah banyak berubah selama sepuluh tahun ini.
"aku ikut dengan mu" Dylan mengekor langkah kaki Fatel,
"maaf, aku tidak butuh bantuan mu" tiba-tiba Xi muncul di hadapan mereka berdua membuat Fatel terkejut.
"Xi? " Dylan mengeryit mendengar Fatel mengenal pria di hadapan mereka berdua
"siapa dia? "Xi memandang Dylan dengan was-was, ia merangkul pinggang Memberi peringatan pada Dylan bahwa hanya Xi lah yang berhak atas Fatel.
"aku,Dylan" Dylan menjawab dengan nada malas. pandangan nya tak bisa lepas dari tangan yang berani-berani nya memegang miliknya
__ADS_1
"oh? Wolf yang mereject mate nya sendiri? benar begitu? " Xi mengejek Dylan dengan seringaian nya
"ya, tapi jika aku tahu jika kau menyembunyikan mte ku maka hal itu tak akan pernah terjadi" Dylan menjawab tak kalah menusuk nya.
"cukup!! Xi apa yang kau lakukan di sini? " Fatel menatap jengah ke arah Xi
"aku sudah berjanji akan menjaga mu"
"aku tidak perlu apapun dari mu, tidak cukup kah selama 10 tahun ini? " Fatel melepas tangan Xi kasar, melihat hal itu membuat Dylan tertawa dalam hati
"kau lihat? dia hanya.. "
"kau juga" ucapan Dylan terpotong akibat penyelaan Fatel.
_
_
_
_
sepertinya hanya Xi yang mendengarkan ucapan Fatel, pria itu mengalah namun tidak dengan Dylan, ia terus mengikuti Fatel meski gadis itu melarangnya
"kau yakin tempat nya di sini" tanya Dylan
"ya, aku yakin di sini tempat nya" sesaat kemudia mereka mendengar suara yang sangat menyeramkan.
namun tak ada sedikit pun rasa gentar di antara keduanya, dengan langkah mantap Fatel menuju ke asal suara. makhluk berkepala api berdiri tepat di hadapan Dylan dan Fatel
"wow. makhluk yang cukup mengerikan" Dylan mencibir karena ucapan nya tak di tanggapi. Fatel fokus pada makhluk menyeramkan di depan nya, ia menelusuri bagian tubuh makhluk tersebut mencari titik kelemahan nya,
tanpa banyak bicara Fatel menyerang makhluk tersebut dengan pedang perak berlapis emas miliknya tepat di leher makhluk tersebut, kepalanya api itu berhasil lepas namun sedetik kemudian kepala baru tumbuh dari leher yang sudah terpotong
Fatel terkejut, ia segera menghindar kala makhluk itu menyemburkan api ke arahnya
Dylan yang melihat hal itu hanya menggeleng kan kepalanya, Fatel sungguh tak sabaran
Dylan berdiri tepat di belakang Fatel dan memeluknya menahan agar wanita itu tudak terhuyung.
"terima kasih" Fatel segera menjauh namun tangan Dylan masih setia pada pinggang ramping nya
"kau tidak boleh menyerang lehernya, namun potong tepat di tengah badan nya. lehernya dapat melahirkan kepala baru karena ia mempunyai cadangan urat yang tumbuh di lehernya" Dylan menjelaskan sambil menghindar dari makhluk api tersebut
Fatel tidak menjawab. ia langsung melakukan seperti yang Dylan ucapkan, dengan dua kali tebasan pedang nya. makhluk itu terjerembab ke tanah, api di kepala makhluk tersebut perlahan meredup
"sudah ku bilang bukan" Fatel kembali di buat terkejut dengan tangan Dylan yang lagi-lagi memeluk pinggang nya dari belakang.
"lepaskan aku, kita tidak ada apa-apa lagi" Fatel melepas paksa tangan Dylan. meninggalkan pria itu dengan wajah sendunya
__ADS_1