
acara pernikahan kedua Rey sangat meriah dan mewah, walaupun tanpa ada campur tangan dari pack house, namun tetap saja kemeriahan tak mengelak
Martha baru datang tadi malam, ia membawa sahabat nya langsung ke Werbor pack.
hari sudah hampir menjelang siang, para tamu pun sudah mulai berdatangan untuk melihat pengucapan janji suci antara Rey dan Martha
Dylan masih bersantai di ruangan nya, melihat para tamu yang datang, ada tiba dengan kereta, sayap dan juga ada yang langsung muncul begitu saja.
ia menyeringai melihat kedatangan para tamu.
ia meneleng kan kepala nya sedikit ke kanan, ia teringat akan tawanan nya.
tok...tok...tok
suara ketukan membuyar kan Dylan, ia menoleh siapa pelaku nya.
"kau tidak bersiap siap Dyl?" tanya Nicho
"aku sudah mengatakan sejak awal, jangan memancing ku Nic" sahut Dylan.
"ya, kemarin apa yang kau lakukan pada gadis itu?" tanya Nicho gamblang,
"apa?" ujar Dylan sedikit ketus
"apa kau mulai menyukai gadis itu?"
"entah lah, itu Leo." sahut Dylan.
"cih, menyangkal" gumam Nicho
"apa?"
"tidak"
*****************
Arry dan Jery tiba di Werbor pack dengan kuda phoenix mereka masing masing.
"selamat Alpha terdahulu atas pernikahan mu" Jery menjabat tangan Rey guna membeti selamat pada nya.
Arry menatap heran pada Istri Alpha terdahulu. Perempuan ini seperti sedang menyembunyi kam sesuatu.
sebagai kaum terkuat di Imorland, kaum mereka dapat menebak sesuatu dari benak seseorang walaupun samar samar.
"seperti nya ada sesuatu yang anda sembunyi kan dari kaum kami Alpha terdahulu" tekan Jery
"aku rasa anda keliru, saya tidak pernah menyembunyi kan apapun dari kerajaan langit" sahut Rey
"benar kah? bisa kah kami bertemu dengan Alpha di sini?" tanya Arry
__ADS_1
"silah kan, tapi putra ku tak berada di sini, ia ada di pack house" sahut Rey,
tanpa babibu lagi, mereka berdua menuju pack house.
"aku merasa sedikit janggal dengan istri Alpha terdahulu, " ujar Arry
"kau merasakan nya juga ternyata" kata Jerry.
-
-
-
-
Fatel menghirup udara sebanyak mungkin. ia memejam kan kelopak mata nya,
ia memilih gaun putih selutut dengan motif bunga sakura, sepatu hitam dan kaus kaki putih semata kaki.
"Claire, aku ingin berjalan jalan lagi hari ini, jangan beritahu Alpha, " Fatel mencepol rambut nya berantakan
"tapi Nona, sa-"
"sstt...kalau begitu usahakan jangan bertemu Alpha selama aku pergi" Fatel mengembang kan senyum nya dan berjalan pelan keluar dari ruang pribadi Luna.
dengan senyum cerah ia menyusuri jalan ia bersenandung ringan, hari ini entah mengapa ia merasa senang sekali.
-
-
-
-
"saya harap anda dapat berterus terang Alpha" tekan Arry
"bagaimana bisa anda beranggapan begitu perwira?" tanya Dylan dengan nada suara sedikit sinis
"anda tahu bahwa kaum kami adalah kaum terkuat di Imorland, bukan" sahut Arry,
"lalu, apa masalah nya?" Dylan menatap Arry dengan tatapan menantang.
Arry mengepal kan tangan nya, Jery yang menyadari hal itu menahan bahu sahabat nya.
"maaf Alpha, kami ke sini ingin mengambil apa yang memang milik kami" ujar Jery
Nicho memandang Dylan seakan bertanya 'bagaimana?'.
__ADS_1
"apa karena hal itu anda berasumsi bahwa Dewi kalian berada di sini? ayolah, ku kira kaum dewa selain kaum terkuat adalah kaum yang cerdas,saat itu banyak kaum yang datang, bukan hanya kaum warewolf saja yang di sini" perkataan Dylan semakin menyulut emosi Arry, seolah olah pria ini meremeh kan kemampuan nya.
"saya tidak pernah salah Alpha" penekanan nada suara Arry menunjuk kan bahwa perwira kerajaan langit itu sedang menahan amarahnya.
Dylan tersenyum remeh.
"tuan tuan terhormat, pintu keluar nya di sebelah sana" smirk muncul di bibir Dylan,
"apa anda baru saja mengusir kami Alpha?" Jery menatap Dylan dingin.
"itu adalah sebuah penghinaan Alpha" timpal Arry tak kalah dingin.
"anda adalah makhluk terburuk dari kaum mu" seringai tajam muncul di bibir Dylan.
Arry mengertak kan rahang nya, nafas nya memburu,
"itu baru penghinaan perwira" Evil smile Dylan semakin menjadi,
Jery memegang pundak Arry dan mengangguk kan kepala nya.
"baik lah, " Jery bangkit berdiri dan mengulur kan tangan nya pada Dylan.
dengan senang hati Dylan menjabat nya.
"selamat atas pernikahan ayah mu dengan ibu baru mu, aku sempat heran mengapa seorang ayah bisa begitu egois nya" Jery melempar senyum sarkas nya,
Dylan menggeram tertahan, walaupun ia sangat tak menyukai pernikahan ayah nya bukan berarti ia membenci ayah nya dan tidak suka jika orang bertindak sok tahu dengan apa yang terjadi di keluarga nya.
setelah kedua dewa tersebut meninggal kan pack house, Dylan mengusap wajah nya kasar.
"Nic, apa kau sudah menyelidiki penyebab kenapa gadis itu menjadi incaran?" tanya Dylan
Nicho menggeleng,
"arghh..." Dylan mengusak rambut nya
"kenapa kau tak berterus terang saja Dyl dan membiar kan gadis itu bersama kaum nya?" tanya Nicho, ia heran apa alasan Dylan menahan gadis ini
"bagaimana bisa aku membiar kan mate ku pergi begitu saja" sahut Dylan
"m-mate? jadi dia mate mu?" Nicho memastikan pendengaran nya tak salah.
"ya, aku sudah menyadari hal ini sejak awal" ujar Dylan.
"wah. untung saja kau tak membunuh nya" kekehan Nicho terdengar di akhir kalimat nya.
"ku rasa kau mulai sekarang harus memperlakukan nya dengan baik Dyl" ujar Nicho
"ya"
__ADS_1