
"aku yakin sekali jika Hermy ada di sana Jery" ujar Arry, ia memegang gagang pedang nya dengan geram.
"aku juga merasa kan nya, namun selama aku berada di sana aku tidak mencium aroma tubuh adik ku," sahut Jery,
"bisa saja warewolf menyamar kan aroma tubuh nya, kau tahu bukan betapa licik nya kaum bawah langit seperti apa" timpal Arry, naluri nya memang mengata kan jika Hermy memang berada di sana.
"tapi bisa saja yang di katakan Alpha itu memang benar, Arry. " ucapan Jery membuat Arry menggeram tertahan, secara tidak langsung Jery juga meragu kan kemampuan nya.
akan ku bukti kan bahwa aku memang benar
*************
Martha menuangkan serbuk putih pada minuman 'suami' nya itu, ia kemudian membawa nya ke dalam kamar mereka..
"aku membawa kan minuman, ku pikir kau sedikit lelah, jadi silah kan di minum" Martha meletak kan gelas tersebut di atas nakas.
tanpa curiga Rey meminum hingga tandas, namun tak lama kemudian penglihatan nya buram dan sesekali menggelap ia bahkan harus berpegangan pada ujung meja agar ia tak terjatuh.
melihat hal itu Martha tersenyum licik, ia bahkan sengaja menjauh dari Rey, membiar kan pria itu tersungkur karena ia tak dapat melihat apa apa.
rasa pening di kepala nya semakin menjadi kala ia berusaha menjernih kan penglihatan nya. Rey berusaha mengapai gapai sesuatu, namun nihil ia malah semakin tersungkur.
"Martha, kau...kau di...mana?" tanya Rey terbata, ia sama sekali tak bisa melihat apapun.
__ADS_1
Martha hanya tersenyum iblis, ya jiwa iblis nya sudah keluar, tak ada hati kala melihat musuh nya begini.
"Martha?" Rey masih berusaha memanggil namun, nihil hanya senyap nya malam yang menyahuti nya.
Rey mengeleng gelengkan kepala nya, berharap rasa sakit tersebut mereda, selang 15 menit rasa sakit nya berkurang dan penglihatan nya sedikit lebih jelas walau hanya samar samar.
ia melihat bayangan seorang perempuan berjalan mendekat ke arah nya,
"hancur kan Dylan dan Werbor pack" setelah mendengar suara tersebut sebuah cahaya putih menghantam kepala Rey.
*****************
"kenapa anda ke sini?" Fatel berjalan mundur menjauh dari Dylan.
"ingin tidur" sahut Dylan, ia semakin mendekat ke arah Fatel
"tidak boleh? memang nya aku tidak boleh tidur dengan mate ku?" Dylan semakin menyudut kan Fatel, sedang gadis itu berusaha menghindar.
"mate? aku bukan mate mu, menjauh sana" Fatel makin tersudut, punggung nya membentur dinding kamar nya,
"benar kah, bagaimana jika takdir memang mengatakan bahwa kau adalah mate ku" Dylan mengukung Fatel dengan kedua tangan nya.
Fatel merosot kan tubuh nya ke bawah dan merangkak di bawah tangan Dylan, berlari menghindar.
__ADS_1
"aish, bisa kah kau tidak bertingkah?" Dylan membalik kan badan nya menghadap Fatel yang hendak membuka pintu kamar mandi.
"eoh? aku akan diam jika kau pergi dari sini" perintah Fatel
"baik lah baik lah, aku akan keluar jika aku melihat mu berbaring dan tidur" sahut Dylan.
"apaan itu? tidak tidak" Fatel mengerucut kan bibir nya.
"ya sudah aku juga tidak mau" Dylan menyilang kan tangan di dada nya.
"yak, baik lah, aku tidur sekarang" Fatel berjalan cepat ke kasur nya dan membaring diri nya menyamping, menarik selimut menutupi tubuh nya sebatas leher.
ia memejam kan mata nya kesal, namun sebuah tangan melingkar di pinggang nya membuat ia kembali membuka mata nya.
"yak ap-"
"kau mau mengetahui suatu kenyataan hidup mu?" ucapan Dylan kembali membungkam mulut nya.
"apa itu?" tanya Fatel
"apa kau akan percaya jika aku mencerita kan nya?" tanya Dylan balik, ia ragu wanita ini menuduh nya mengata kan omong kosong
"entah lah, tapi ku rasa kau tak berbohong" sahut Fatel, mendengar itu Dylan semakin mendekat kan Fatel ke arah nya.
__ADS_1
"kau adalah seorang dewi kerajaan langit" ucapan Dylan membuat Fatel membulat kan mata nya.
"APA?!"