THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
bag 23


__ADS_3

"jelas kan pada ku siapa sebenar nya wanita yang bernama Fatel itu" desak Rema,


Nicho menghela nafas berat, jika begini maka ia harus mengata kan yang sebenar nya pada mate nya ini.


"dan ku harap kau menjaga pembicaraan kita ini" ujar Nicho


"ha? kenapa memang nya?" tanya Rema


"ya sudah, maka jangan bertanya" sahut Nicho


"yak, sekarang kau mulai berani menyembunyi kan sesuatu dari ku?" Rema sedikit menaik kan nada bicara nya.


"bukan begitu, ini sesuatu yang penting, jadi..."


"oh begitu ya sekarang, ada yang lebih penting dari pada aku? mate mu?" Rema berkacak pinggang


"haish, baik lah baik lah, dia adalah dewi yang hilang" sahut Nicho pelan


"apa? kenapa bisa?" tanya Rema


akhir nya Nicho memberitahu Rema siapa sebenar nya Fatel.


*********************


Jery menatap sebuah kartu undangan di atas meja nya,


"siapa yang mengirim nya?" tanya Jery pada Arry, ia membuka bungkus pelapis kartu tersebut


"entah lah, aku tidak tahu" sahut Arry


"wah, Alpha terdahulu Werbor pack seperti nya tak bisa bersabar" ujar Jery di sertai kekehan pelan nya


"benar kah? aku tidak menyangka" timpal Arry


"bukan kah ini bagus, kita bisa semakin menyelidiki apakah benar adik ku berada di sana" ujar Jery


"ya, kau benar sekali, bisa memudah kan kita memasti kan kebenaran nya" sahut Arry


"kali ini aku sendiri yang akan menghadiri acara ini" ucap Jery, ia melipat kembali kartu tersebut


***********


Fatel melambai kan tangan nya ke arah Lili dan Ema


"sampai bertemu lagi, jaga diri kalian " Ucap Fatel.

__ADS_1


ia membalik kan badan nya, namun ia malah menabrak dada seseorang, ia sedikit mendongak melihat pelaku nya.


"sudah puas bermain nya?" tanya Dylan, ia berujar sedikit lembut


Fatel menaikan sebelah alis nya,


ia sedikit berjinjit, meletak kan telapak tangan nya pada kening Dylan.


"hm, tidak panas." Fatel menurun kan tangan nya.


"apa yang kau lakukan, jangan menyentuh ku sesuka mu" tegas Dylan.


"apa apaan? kenapa kau berkata begitu pada ku?"tanya Fatel tak terima


"sedang kan kau? kenapa menyentuh kening ku seperti itu?" tanya Dylan geram


"aku kira kau demam" Sahut Fatel


"yak, aku sehat sehat saja" sarkas Dylan


"lalu, jika kau tidak apa apa, kenapa kau menghampiri ku ke sini dan ada apa dengan nada suara mu itu?" tanya Fatel curiga


"aku,..." Dylan memaling kan wajah nya ke segala arah, yang jelas bukan ke wajah Fatel, ia melihat ayunan di belakang Fatel " itu karena aku mau bermain ayunan dan suara ku biasa saja" Dylan tersenyum di paksa kan dan bicara dingin dan datar.


'apa Dyl? bermain ayunan? apa kau berniat membuat lelucon?' Leo terbahak seraya mengejek Dylan, sedang kan Dylan hanya menggeram tertahan.


dekat


semakin dekat


lebih dekat


sangat dekat


sehingga Dylan dapat merasa kan hembusan nafas gadis itu menyapu wajah nya,


'shit, aku tidak tahan Dyl' berontak Leo


"kau macam macam, aku akan benar benar memutus kan mu Leo" ancam Dylan.


Dylan menjadi salah tingkah dan menahan nafas nya.


"kau berbohong" ujar Fatel dengan suara rendah nya, membuat Dylan panas dingin.


jantung nya berdetak sangat cepat,

__ADS_1


Dylan mendorong kepala Fatel dengan jari telunjuk nya.


"kau, menjauh dari ku" tegas Dylan


"cih, dasar Alpha tukang bohong" Fatel menjauh dua langkah dari hadapan Dylan, menyedekap kan tangan nya di dada.


"yak, jaga ucapan mu itu" Dylan menunjuk mulut Fatel, membuat telunjuk nya bergetar, ingin sekali rasa nya menyentuh bibir tipis itu.


"tidak,aku tak akan menjaga nya" Fatel menggeleng cepat.


"kau berbohong, dasar tukang bohong" Ejek Fatel kepada Dylan.


"eoh? apa maksud mu? aku Alpha Werbor pack sangat mustahil untuk berbohong" Dylan mengangkat dagu nya congkak.


"cih, jelas jelas aku melihat kilatan kebohongan di mata mu" Fatel menunjuk ke dua mata Dylan dengan dua jari nya dari jarak jauh.


"jaga sikap mu dan jaga ucapan mu, kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa ha?"bentak Dylan.


"ckckck, sudah bohong, mengelak pula, tak patut sekali" bukan nya takut, Fatel malah berdecak dan menggeleng kan kepala nya.


"kau ingin mati sekarang juga Nona Waynn?" Dylan berucap tajam dan menusuk, namun lagi lagi Fatel mengabai kan nya, Fatel mengibas kan telapak nya di udara.


"haish, tapi aku masih sayang nyawa ku, Tuan Blake," Ujar Fatel santai


"bagus" seringai terbit dari bibir Dylan


"tapi..." ucapan Fatel membuat Dylan mengerut kan dahi nya dalam di tambah senyum tak jelas di wajah Fatel.


"kau tetap pria tukang bohong, Tuan Blake terhormat" Fatel mengulum senyum nya membuat Dylan ingin sekali mengoyak dan mengaduk isi di dalam mulut nya itu.


"berhenti memancing ku Nona Waynn, aku tak bermain main dengan ucapan ku" tekan Dylan, lagi lagi Fatel tak gentar.


"ups, aku merasa takut sekarang" Fatel memain kan mulut nya, lebih tepat nya mengejek.


Fatel sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa seberani ini, ia seakan akan merasa bahwa ia dan Dylan sudah sangat dekat.


baiklah, aku tidak tahan' batin Dylan.


Dylan memegang kedua rahang gadis itu, membuat Fatel kaget bukan kepalang.


tanpa babibu lagi, Dylan menempel kan bibir nya pada bibir Fatel.


Fatel mati kutu, ia mengerjap ngerjap kan mata nya, ia bagai patung es sekarang, bergerak menolak tak bisa, dengan telapak tangan nya yang serasa membeku.


Dylan tak melakukan apa pun, ia hanya menyecap sedikit bibir Fatel, tanpa kecupan dan *******, ia hanya menempel kan saja bibir nya.

__ADS_1


setelah agak lama, Dylan menjauh kan wajah nya dan tersenyum mengejek melihat ekspresi Fatel yang masih mematung.


"hukuman mu, Nona Waynn" Dylan berlalu meninggal kan Fatel seorang diri dengan wajah terkejut nya.


__ADS_2