
pasukan Kerajaan langit terbang melesat di atas hutan lebat tersebut. Arry tampak was was dengan keadaan sekitar nya, mata tajam nya terus mengamati bagian hutan tersebut.
menurut perkiraan nya, Fatel bila tidak berada di Werbor pack, pastinya gadis itu terjebak di hutan ini. namun mencari dalam hutan yang lebat begini sangat susah, bagaikan mencari jarum di setumpuk jerami.
Di lain tempat, Dylan berlari menuju hutan yang sama, dengan Leo mengambil alih tubuhnya mereka berdua akan lebih cepat masuk ke dalam hutan
'Leo kau merasakan sesuatu? ' tanya Dylan pada Leo.
'ya.' Leo hanya menyahut singkat
'apa itu? 'Dari nada suaranya, Dylan nampak mendesak Leo
'pasukan perwira kerjaan langit berada tepat di atas kita' Leo memperlambat kakinya.
'ah, ternyata dia membawa pasukan, ku kira ia akan datang sendiri' gumam Dylan.
Dylan kembali mengambil alih tubuhnya dan berubah wujud menjadi manusia biasa.
'ini perbatasan hutan Elf, kita tak mungkin masuk sembarangan ke daerah para peri' Leo meperingat kan Dylan, namun seperti biasanya, Dylan bertindak semau nya.
'kau takut? mereka hanya arwah saja, bukan mereka yang dulu' ujar Dylan tanpa rasa takut sama sekali.
Pasukan Arry sekelebat melihat bayangan Leo berlari di dalam hutan, seketika Arry menyuruh pasukan nya berhenti
"kita cari di lain tempat" perintah Arry
tanpa bicara atau bertanya, pasukan nya berputar arah membiarkan Leo dan Dylan sendiri memasuki hutan Elf.
_
_
_
_
'huft, mumpung peri itu tidak di sini, sebaiknya aku kabur saja. tapi bagaimana caranya? ' Fatel memutar otaknya mencari cara agar dapat kabur dari sini
'andai saja dinding ini dapat di tembus, mungkin aku dapat berenang dari sini.' Fatel mendudukkan diri di tepi dinding
tunggu.
Fatel segera bangkit berdiri.
'kalau aku berenang masuk dari kolam apakah bisa tembus ke air danau? bukankah setiap hari ikan di sana berbeda-beda' Fatel melihat kolam ikan tempo hari yang terus ia pandangi.
'apa salah nya mencoba' Fatel menarik nafas sebanyak mungkin lalu berjalan mendekat ke arah kolam.
byurr...
Ikan-ikan yang tadinya berenang ke sana kemari segera melarikan diri melihat sesuatu masuk ke dalam air.
__ADS_1
Fatel berusaha mencari suatu titik yang mungkin saja berhubungan dengan air danau. Ia yakin pasti air ini terhubung, ia terus berenang menuju, entah lah ia pun tak tahu, Fatel hanya berharap dapat keluar dari tempat tersebut.
Fatel merasa dada nya sesak dan kepala nya berdengung. ia kehabisan pasokan oksigen, sedangkan ia tak tahu ia dimana sekarang, semuanya terlihat gelap, bahkan ikan-ikan yang berenang di sekeliling nya pun tak ada.
kemungkinan akan hal buruk pun bermunculan di benak nya, bisa jadi ini adalah tempat ikan besar dan buas di danau ini makanya ikan-ikan kecil tidak berani ke sini.
Semakin ia berpikir, semakin berdengung kepalanya. nafas nya terasa sangat tercekat serta kelopak matanya yang terasa berat, perlahan-lahan ada sesuatu yang menerpa tubuhnya bersamaan dengan kegelapan menguasai dirinya.
-
-
-
-
Rombongan ketua Le tiba sebuah sungai untuk memberi minum kuda-kudanya, di seluruh tepi sungai ini terlihat batu-batu besar yang membentuk tembok raksasa.
"Kepala rombongan, ku rasa saat kita melalui jalan ini tempo hari, tidak ada batu-batu besar di sana" Ketua Le menunjuk batu-batu di tebing sungai.
"ah benar tuan, dan batu itu terlihat sedikit aneh" sahut Kepala rombongan seraya melihat ke arah yang di tunjuk ketua Le.
"apa kita salah jalan? " tanya Ketua Le mencoba memastikan
"tidak, kita melewati jalan yang benar, di peta ini juga seharusnya melewati jalan ini" Kepala rombongan mengeluar kan peta jalan dari kantongnya.
"tidak perlu menunjukan itu, ikut bersama ku memastikan hal apa itu" Ketua Le berjalan menuju ke arah tebing tersebut
sret
Satu goresan panjang terbentuk di benda berbentuk batu tersebut, dan hal selanjutnya membuat ketua Le maupun kepala rombongan menahan keterkejutan nya
tes
tes
tes
suatu cairan biru menetes keluar dari benda berbentuk batu di tebing sungai, perlahan-lahan benda itu bergerak menimbulkan suara gaduh di sekitar mereka.
"cepat pergi, menjauh dari sini" perintah Ketua Le pada rombongan nya, dengan sigap satu-persatu anggota rombongan menaiki kuda nya masing-masing. Baru beberapa langkah, Ketua Le menghentikan kudanya.
"ada apa tuan? "tanya kepala rombongan penuh kebingungan.
"kalian pergi lah dahulu, jangan hirau kan aku, aku penasaran makhluk apa itu" Ketua Le memacu kudanya berbalik ke tepi sungai
"tapi ketua, kami tidak bisa meninggalkan anda sendiri" Kepala rombongan berniat menyusul namun segera di hentikan oleh ketua Le.
"jangan kemari. ini perintah pergi dari sini" Kepala Rombongan terpaksa meninggalkan ketua Le sendiri di tepi sungai.
Ketua Le segera turun dari kudanya dan bersembunyi tak jauh, melihat pergerakan benda.. bukan benda, sepertinya seekor makhluk hidup yang sangat aneh.
__ADS_1
makhluk tersebut perlahan membentuk suatu wujud seperti naga besar, Ketua Le tidak tahu bagaimana bisa berbentuk seperti itu yang awalnya hanya berbentuk sebuah dinding batu.
mungkin saja makhluk tersebut berkamuflase dengan lingkungan sekitarnya. Setelah terbentuk sempurna, Naga besar itu menjilat-jilat bagian perut nya yang terus-menerus cairan biru mengalir dengan cepat.
Deru nafasnya terdengar seperti geraman kemarahan, kedua matanya terlihat seperti ada kilatan biru memancar.
"groarrr.... " Naga tersebut mengaum kesakitan dan terjatuh di tengah sungai menimbulkan riak besar ke tepian.
'ada apa dengan naga besar itu? 'Batin Ketua Le, ia menaiki kudanya dan pergi dari sana sebelum naga itu mengamuk
-
-
-
-
"grrooaarrrr...... " geraman terdengar bergema tak jauh dari tempat Dylan saat ini.
'kau mendengar suara itu?' Dylan menghentikan langkah nya.
'entah lah, mungkin seekor makhluk besar' Leo menyahut dengan nada malas
'kya, ada apa dengan mu? kenapa suara mu memelas begitu? ' tanya Dylan kesal.
'tidak, apa kita perlu memeriksa makhluk aneh itu? ' Leo mengalih kan pertanyaan Dylan.
'apakah perlu? ku rasa tidak? ' Dylan kembali berjalan pelan.
'bagaimana itu jika ada hubungan nya dengan Fatel? ' Leo menunggu reaksi dari Dylan, tanpa menjawab Dylan langsung berlari ke sumber suara.
'hei, hei, kau yakin suara nya berasal dari sini? ' Leo terlihat meragukan arah yang ingin mereka tuju.
'entah lah, menurut mu sebelah mana? ku rasa dari sini' Dylan langsung menghentikan lari nya
'suara nya mengema tadi, jadi sangat sulit untuk di ketahui' Dylan tampak berpikir mendengar ucapan Leo.
'Benar kata mu, suara nya bergema, sangat sulit mencari sumber suara yang sebenar nya, semua sudut terdengar sama'Dylan menghela nafas berat
'ah, ku rasa sebelah sana' Leo mengarah kan pandangan Dylan ke samping kanan mereka.
'kau yakin?' Dylan bertanya meragukan Leo
'mana ku tahu, lewat sini saja dulu, kalau makhluk nya bersuara lagi, kita periksa lebih detail arah suaranya' Leo menjelaskan oada Dylan dengan cepat
'kau benar, aku tidak bisa berpikir untuk saat ini'
'kau memang pria yang lamban'
'apa maksud mu? '
__ADS_1
'tidak, lupakan'