THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
bag 21


__ADS_3

Fatel berlari menyusuri lorong,


"Claire, di mana Dylan?" tanya Fatel kala ia sudah berhenti tepat di hadapan Claire


"Tuan, di ruangan baca Nona, ada apa?" Claire menghenti kan aktivitas nya sejenak.


"aku ingin bertemu dengan nya" ujar Fatel


"ah, ya silah kan, tapi saya harap anda menjaga sikap anda Nona, saat ini Tuan sedikit sensitif" jelas Claire


'sensitif? ia datang bulan?' batin Fatel


ia berjalan menuju ruang baca Dylan.


BRAK


Fatel masuk dengan mulut mencebik.


"bisa kah jika anda masuk dengan sedikit lebih sopan?" Dylan tak mengalih kan pandangan nya dari buku bacaan yang sedang di baca nya


"cih, bisa kah anda mengijin kan saya keluar hanya sekedar bermain di taman? jika anda tak mengijin kan saya tetap akan pergi" Fatel bersedekap di dada


"kalau begitu kenapa harus meminta ijin? lagi pula kau juga akan pergi" ujar Dylan santai


'what?'


pria di depan nya ini barusan bicara seolah olah ia tak melarang Fatel kemana pun,


"oh? baik lah, aku pergi" Fatel meninggal kan ruangan bacaan tersebut.


setelah Fatel pergi, Dylan memejam kan mata nya sejenak.


"selanjut nya bagaimana Leo?"


**************


seorang wanita berambut pirang berjalan santai di sepanjang jalan taman, dengan anggun ia melangkah kan kaki nya pelan.


BUGH


wanita itu meringis,

__ADS_1


apa apaan?


ia menoleh ke arah penyebab kekacauan ini.


seorang gadis seumuran nya terduduk meringis seraya memegang bokong yang terantuk ke tanah,


"apa kau baik baik saja?" tanya si pirang


"ah aku baik baik saja, " dia berusaha berdiri


"awh..." Gadis itu kembali meringis


"aku minta maaf, sebaik nya kita duduk di bangku sebelah sana, " ujar si pirang


kenapa ia yang meminta maaf, seharus nya wanita berambut coklat ini


mereka duduk di sebuah bangku taman, si rambut coklat duduk dengan sedikit gelisah karena bokong nya terjatuh terlalu keras.


"sakit sekali ya?" tanya si pirang


"ah, tidak juga, lagi pula aku yang salah. aku terlalu senang jalan jalan hingga tak memperhati kan sekeliling."ujar si rambut coklat


"tidak apa apa, dan siapa nama mu? aku Rema Wendy, bangsawan tingkat 3" wanita bernama Rema itu mengulur kan tangan nya.


"kau dari bangsawan mana?"tanya Rema gamblang


Fatel menggeleng.


"oh, maaf kan aku, hm." Rema menunduk pelan


"tidak apa apa, aku sama sekali tidak tersinggung" Fatel menepuk nepuk punggung tangan Rema pelan


"hm, kau mau kemana?" tanya Fatel


"aku ingin ke pack House, bertemu dengan Nicho" ujar Rema, ia tersenyum tipis


"oh Nicho, aku mengenal nya" kata Fatel


"kau...mengenal Nicho?" tanya Rema curiga, dia menunjuk kan ekspresi tak bersahabat.


"ya, ah...hm, dia yang menyelamat kan ku dulu" Fatel memaling kan wajah nya kala menyadari raut wajah Rema.

__ADS_1


"menyelamat kan mu? " tanya Rema


"ya, hm, aku harus pergi, senang bertemu dengan mu Rema" Fatel berjalan tertatih tatih meninggal kan Rema


"apa hubungan gadis ini dengan Nicho?" gumam Rema


-


-


-


"hai" Fatel menyapa dua anak kecil yang bermain ayunan.


"oh? kau wanita yang menolong kami waktu itu kan, wah" ujar salah seorang dari mereka.


"ya, kau benar. boleh aku bermain bersama kalian?" Fatel berjongkok agar menyama kan diri nya dengan tinggi kedua anak tersebut.


"tentu saja, aku Lili, dan dia adalah Ema" jawab seorang anak berponi.


"aku Fatel, senang berkenalan dengan kalian, Lili, Ema" Fatel mengulur kan tangan nya


dua buah jemari mungil menjabat tangan nya.


"baik lah, kau duduk di ayunan di tengah tengah ini, kami berdua di kedua sisi mu," ujar Ema,


Fatel pun duduk di tengah tengah mereka berdua.


"apa kau sudah menemu kan mate mu?" tanya Lili kepada Fatel


"mate? " Fatel mengerut kan dahi nya,


"ya, ku rasa kau sudah seharus nya menemu kan seorang mate, benar kan Ema" ujar Lili pada Ema, agar membenar kan ucapan nya.


"ya, benar sekali." sahut Ema


"aku tak punya mate, " lirih Fatel


kedua bocah tersebut saling berpandangan


"tidak mungkin," kata Ema

__ADS_1


"ya, mungkin belum menemu kan saja" timpal Lili, ia mengayun kan ayunan nya tinggi tinggi


"ya, ku harap begitu" gumam Fatel, untuk sekarang lebih baik ia diam saja.


__ADS_2