
"kata kan lah sesuatu" desak Natty pada Ibunya.
"Tidak" Yesa menjawab dengan nada dingin sama seperti beberapa waktu lalu. Bagaimana mungkin ia mengijinkan Natty masuk ke hutan yang penuh teka teki itu lagi, lagipula ia sudah berjanji dengan seorang Warewolf agar tidak datang kembali ke tempat itu. Mereka sama sekali tidak ada kaitan nya dengan dunia sihir tersebut, berbeda dengan Fatel yang kodrat nya memang berasal dari sana.
"Bu, ku mohon,..." Natty memohon dengan penuh harap pada ibunya
"tidak, pergi sana berbelanja, ibu akan memasak makanan kesukaan mu asal kau tidak pergi" Yesa mengelus pipi kanan putrinya lembut dan mendaratkan kecupan sayang disana.
tanpa bicara, Natty meninggalkan ibu nya di ruang tengah, ia mengambil tas kecil di gantungan dan berlalu.
dalam hati ia mengerutu akan jawaban ibunya, tanpa memberi alasan yang jelas ibu nya hanya melarang begitu saja.
"hahh... " Dari pada memikir kan hal itu, mungkin lebih baik ke tempat hiburan saja, begitu batin Natty.
******
"Gluk... gluk... " Natty menghabis kan segelas soju dengan dua kali teguk. ia kembali meracau tidak jelas pada pria berambut silver terang di samping nya.
"hei pria, kau tahu? aku tadi di suruh ibuku membeli bahan masakan malam ini, tapi..." Natty mengehentikan ucapan nya kala bartender bertanya apakah ia mau membeli soju lagi.
"yaa, segelas tanpa campuran bir" Natty berbicara dengan menggerak-gerakkan tangan nya pada bartender tersebut. Dia kembali menatap pria berambut silver tadi.
"tapi, aku menggunakan untuk minum-minum dan bersenang-senang, Hahahaha.... lucu bukan" Natty menelungkup kan wajah nya pada meja bar.
"ibu ku jahat, ia membiarkan sepupu ku tidak kembali pada ku, dia jahat. Kau tahu? sepupu ku saat itu di bawa oleh makhluk mengerikan seperti serigala raksasa, mereka bisa berubah jadi wujud manusia. KAU TAHU ITU? MEREKA SILUMAN MENGERIKAN YANG PERNAH ADAA!!! " Natty berteriak kepada pria tadi membuat orang-orang di sekitar mereka menatap aneh ke arah Natty dan pria tadi.
Pria tersebut sedikit terkejut dengan ucapan Natty, namun sedetik kemudian dia bersikap seperti biasa, mengabai kan Natty dan meneguk minuman nya santai.
"hiks.. hiks... hiks.. aku merindukan Dia, bawa aku kesana, aku ingin kesana, kau harus bantu aku, hiks.. hiks... "
beberapa saat kemudian. Hening.
Mendengar tak ada suara dari orang di sebelahnya, pria tadi mau tidak mau menoleh ke arah Natty. Gadis itu masih sama seperti posisi semula, telungkup pada meja bar.
"hei.. " Pria itu menggoyang-goyang kan bahu Natty, tak ada respon.
"hei.. " kali ini sedikit lebih kuat pria itu mengoyang kan bahu Natty.
Pria itu mendekat kan telinga nya pada wajah Natty, terdengar dengkuran yang sangat halus dan pelan nyaris tak terdengar, bahkan pria itu harus lebih mendekat agar mendengar.
pria itu menjauh kan diri dari wajah Natty, menghela nafas sejenak dan mengekuarkan sesuatu dari saku jaketnya.
__ADS_1
"ini kartu nama ku, aku pesan satu kamar di sini" Pria itu menyerahkan kartu nama nya pada petugas tersebut.
petugas itu melihat nama yang ada di kartu.
Chris.
"hanya Chris tuan? " tanya petugas memastikan, Pria bernama Chris mengangguk
"baiklah, kami ada kamar di lantai 5, nomor kamar 512, ini kunci nya, kami menyedia kan beberapa fasilitas lain... " petugas tersebut berhenti kala Chris mengambil kunci dan meninggal kan meja bar tanpa mendengar perkataan Petugas tersebut
"orang kaya hahah" petugas itu tertawa hambar.
_
_
_
_
phoenix Arry mendarat tepat di halaman house pack dengan anggun, tanpa membuang waktu, Arry segera turun dan menuju ke dalam ruangan Dylan.
"ada apa? " Arry menoleh ke arah suara, Dylan tampak berdiri sembari menyandar pada tembok tanpa menghadap ke arah Arry, ia bahkan seperti yang sudah siap akan kedatangan Ary.
"oh? kenapa bertanya padaku? bukankah kalian bilang akan menjaga nya dengan baik? mengapa sekarang jadi begini? " bukan nya menjawab pertanyaan Arry, Dylan bertanya kembali dengan pertanyaan yang sukses membuat Arry memasam.
"berhenti memutar kan pertanyaan, jawab aku" Arry terlihat sangat tidak sabaran.
"apa aku terlihat seperti itu? aku tidak memutar pertanyaa, hanya saja mengungkit kembali kata-kata palsu mu dan Jery yang mengatakan bahwa kalian mampu." Dylan mendekat ke arah Arry.
"apa buktinya? dimana Mate ku? " Dylan mencengkram baju Arry.
"hei, kau kira kami bodoh? kau melimpah kan hal ini seolah kau tidak tahu" Arry berusaha melepaskan tangan Dylan dari baju nya
"aku memang tidak tahu, berhenti main-main, apa yang sebenarnya terjadi? " Dylan semakin kuat mencengkram baju Arry, membuat Arry harus sedikit berjinjit.
bugh
Arry memukul wajah Dylan membuat ia terhuyung kebelakang.
"cari tahu sendiri" Arry meninggalkan Dylan yang menyeka darah segar dari mulutnya.
__ADS_1
"cuih, brengsek" Dylan memukul lantai dengan emosi.
'Leo, ku rasa kita harus pergi sekarang'
'baiklah, aku sudah bersiap dari kemarin, kkk'
_
_
_
_
Fatel sedang berdiri tenang di pinggir taman yang-lebih mirip taman ikan-saat tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di perutnya dan kepala seseorang bertumpu pada pundaknya tanpa permisi.
"hei, lepas kan, apa yang kau lakukan? " Fatel berbicara dengan nada sangat tidak nyaman saat
ini.
"kenapa? kau tidak suka? " bukan nya menjauh, pria tersebut semakin mengeratkan pelukannya
"ya, sangat. ku harap kau melepas nya sekarang, ini menganggu ku" Fatel berdalih, ia berusaha melepaskan tangan pria itu dari perutnya.
"aku tidak mau" pria itu mengendus-endus aroma dari leher Fatel.
pria itu terlihat sangat menikmati aroma tubuh Fatel, 'pantas saja wanita ini berbeda, dari aroma nya saja kaum imortal sudah menginginkan ini' batin pria tersebut. seakan lepas kendali, ia bahkan mencium leher Fatel, membuat si empunya terkejut.
"hei, lepaskan, atau ku bunuh kau" kali ini Fatel benar-benar terlepas dari pelukan pria ini.
"kau melakukan hal itu lagi, aku tidak segan terhadap mu" Fatel berlalu meninggalkan pria itu seorang diri.
"Chris!! " panggilan seseorang setelah Fatel pergi membuat nya menoleh.
"eoh? sedang apa kau? " pria yang di panggil Chris itu berbicara pada seekor ikan kecil di taman.
"aku melihat gadis itu sangat tidak senang terhadap mu" ujar ikan tersebut
"biarkan saja, aku akan membuat dia senang dan betah di sini. bagaimana kabar mu? sudah lama ya tidak berbincang begini" Chris tersenyum. Ikan kecil ini memang ikan kesayangan nya di taman.
"ya, oh, tadi aku melihat Phoenix Dewa melintas, ku rasa saat ini para dewa sedang kesusahan" ikan itu berenang kesan kemari dengan gesitnya
__ADS_1
"mereka itu sangat bodoh, Dewi kesayangan mereka pergi saja tidak tahu, memang mereka bukan satu-satunya makhluk tertinggi di imortal setelah mereka tahu keberadaan kaum ku"