
Fatel berjalan di bekakang Nicho menuju mansion pribadi Dylan. Fatel terkesima dengan bangunan besar tersebut.
'apakah pria itu tinggal di rumah ini sendirian?' batin Fatel
mansion tersebut di jaga cukup ketat.
"maaf kan kami Tuan Nicho, namun anda tidak di perkenan kan masuk oleh calon Alpha" ujar salah satu penjaga di mansion tersebut.
Nicho mengangguk dan menoleh ke arah Fatel.
"sepertinya aku hanya cukup mengantar mu sampai di sini" Nicho mundur beberapa langkah memberi jalan pada Fatel.
gadis itu terdiam sejenak hingga akhirnya tersadar dan masuk ke dalam mansion tersebut.
salah satu penjaga mengantar Fatel menuju Dylan. di sepanjang jalan yang mereka lalui, begitu banyak para maid di mansion ini.
dari remaja yang masih sangat belia hingga yang sudah berumur sekalipun, namun mereka tidak menampak kan raut kelelahan.
ada beberapa makhluk di sana yang menatap risih dengan kedatangan Fatel. mereka berbisik bisik mengenai kehadiran gadis tersebut.
mereka tahu bahwa Fatel bukan kaum warewolf, aroma yang di bawa gadis itu sangat aneh. biasanya aroma seorang warewolf akan seperti aroma melati.
"siapa gadis itu?"
"aroma tubuh nya sangat harum dan menyengat "
"aku yakin dia bukan seorang warewolf"
dan masih banyak bisikan bisikan terdengar di telinga Fatel. Fatel menghela nafas pelan.
"maafkan sifat mereka Nona, mereka selalu begitu pada orang asing" penjaga yang bersama Fatel seolah olah tahu dengan yang Fatel rasakan.
"ah ya, tidak apa" Fatel tersenyum kecut.
Fatel juga sedikit mengerti dengan cara pandang mereka, ia pun akan berlaku demikian jika ada orang asing masuk ke wilayah nya.
__ADS_1
setelah melalui lorong lorong mewah yang cukup panjang, Fatel dan penjaga tersebut tiba di depan pintu besar yang berukiran antik.
Fatel di buat kagum dengan ukiran ukiran di pintu besar tersebut. mata nya asik menelisik setiap gurat pahatan di kulit pintu kayu tersebut.
'terlihat unik dan antik' batin Fatel. dia benar benar takjub.
"anda bisa masuk Nona" suara penjaga membuyarkan kekaguman Fatel. gadis itu buru buru mengangguk. namun tak segera membuka pintu nya.
sekelebat pikiran negatif berkeliaran di otak nya. namun ia menepis pikiran pikiran itu dan mengetuk pintu.
***********
Dylan meminum coklat panas buatan Claire, maid pribadi Dylan dan ibunya.
sesekali matanya menoleh ke jam tangan Rollex di pergelangan nya, dan setelah itu menghela nafas berat.
Dylan sangat penasaran dengan gadis bermata biru itu. entah mengapa wolf dalam tubuhnya melonjak kegirangan saat ia berada di dekat gadis teesebut.
ia tidak tahu apa penyebabnya.
' mungkin dia adalah mate mu' Leo, wolf Dylan berbicara pada Dylan.
'tapi aku percaya' Leo kembali bersuara.
"diamlah Leo, dia adalah manusia." Mengingat manusia membuat rahang Dylan mengeras.
'bagaimana jika dia bukan manusia ?' Leo menampak kan diri di depan Dylan, walau hanya berupa kabut tipis namun cukup membuat orang yang melihat itu akan beranggapan bahwa Leo adalah wolf yang tangguh.
Dylan menatap Leo datar dan meminun coklat di gelasnya.
'bagaimana jika dugaan Nicho benar? ku rasa dia memang seperti yang Nicho katakan' Leo berputar putar pelan dan menduduk kan diri saat mendapatkan posisi yang nyaman untuk nya.
Dylan menerawang. ia juga sedikit ragu dengan gadis itu. aroma tubuh nya juga tidak menunjukkan bahwa ia adalah seorang manusia.
aroma tubuh manusia normal biasanya akan seperti harum lavender, jika darah mereka murni manusia tidak ada campuran darah dengan makhluk sihir. jika ada campuran, maka aromanya akan menyengat dan harum seperti buah anggur walau tak terlalu tajam.
__ADS_1
apa gadis itu termasuk manusia yang istimewa?
ketukan di pintu menyadarkan Dylan dari berbagai pikirannya tentang gadis itu. Leo pun segera menghilang setelah mendengar ketukan tersebut.
aroma Vanilla memenuhi rongga penciuman Dylan. membuat ia ingin mengendus habis aroma tersebut hingga tak bersisa.Leo berlonjak lonjak di tubuhnya, ada perasaan aneh di dadanya.
***************
Fatel menoleh ke arah penjaga.
tidak ada jawaban dari dalam.
Fatel memiring kan kepalanya sedikit bingung.
"apa dia tidak di sini?" tanya Fatel.
"tidak mungkin Nona, calon Alpha jarang ke tempat lain, apalagi jam segini" penjaga itu berasumsi begitu karena memang Dylan jarang keluar ruangan pribadi nya, jika pun keluar ia akan ke ruang baca atau ke pack house namun tidak di jam jam sekarang.
suara datar dan dingin dari dalam cukup membuat Fatel yakin dengan perkataan penjaga tersebut. Fatel tersenyum simpul.
"kau boleh pergi, terima kasih sudah mengantar ku" ujar Fatel pada penjaga itu.
penjaga tersebut berlalu dari hadapan Fatel.
Fatel menelan saliva susah dan melangkah masuk.
Fatel melihat Dylan duduk di sofa dengan sebuah gelas keramik di tangan kanan nya.
"duduk lah" Dylan berucap masih dengan nada datar dan dingin nya. bola mata coklat nya tak henti henti nya menatap wajah Fatel.
Fatel duduk di salah satu sofa yang cukup jauh dari Dylan, namun tidak juga membuat mereka harus sedikit berteriak saat berbicara.
Fatel merasa jengah terus di perhatikan. dia sedikit bergerak gelisah. tetapi Dylan masih menatap nya dengan tatapan dingin yang seakan menembus hingga ke tulang tulang nya.
"ada apa kau memanggil ku?"
__ADS_1
*********************
_xx_apilaa_