
"ugh... "
Rintihan terdengar dari bibir kecilnya. Fatel mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, aneh. satu kata yang cocok mengambarkan ruangan ini. dindind ruangan ini terlihat seperti air yang membentok tembok tinggi, tiang-tiang di dalam ruangan ini pun terlihat serupa. bahkan beberapa buih kecil terlihat sesekali keluar entah dari mana.
"ini... dalam air? kenapa aku bisa bernafas? apa yang sebenarnya terjadi? " Fatel bergumam sendiri, entah bagaimama tiba-tiba seorang pria tampan berambut panjang dengan jubah yang menawan muncul di hadapan Fatel.
"oh? sudah bangun, Hermy" perkataan itu jelas terdengar seperti pernyataan walaupun jika itu pertanyaan, sudah terpampang jelas jawabannya, batin Fatel.
"siapa kau? " tanya Fatel waswas,
Pria tampan tersebut mendekat dan menduduk kan diri di samping Fatel.
"aku, Peri." pria tersebut tersenyum manis yang bahkan membuat ketahanan wanita manapun runtuh terhadap pesona nya.
glek
"begitu kah? kau tahu mengapa aku bisa ada di sini?"tanya Fatel lagi,
"tentu saja" lagi-lagi pria itu tersenyum sangat manis,
'uh, jangan mimisan' batin Fatel. ia akui, pria ini sungguh sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Dylan dan Arry,
'uh, apa yang aku pikir kan? pergi jauh-jauh kau setan hawa nafsu jahat'fatel bergumul dengan batin nya.
"ba... "
"aku yang membawa mu" ucapan pria itu membuat Fatel menoleh
"eh? "
"jika calon permaisuri ku, tentu saja aku akan membawa ia pulang ke rumah ku" pria tersebut bicara tanpa beban dan sedikit merona saat mengatakan nya.
__ADS_1
otak Fatel masih berusaha mencerna setiap perkataan yang di ucapkan pria tersebut.
permaisuri? apa ini?
"ku rasa. kau salah orang, aku... " belum Fatel menyelsaikan ucapan nya, pria itu langsung menyerocos saja.
"adalah Mate seorang Warewolf. huh, takdir memang seperti ini, kenapa berbelit sekali sih" pria itu mengerutu.
"o-ooh? kau, sudah tahu? lalu kenapa membiar kan ku di sini?" Fatel mengatup bibir nya ragu
"ah, kau tidak paham rupanya. Kau pernah mendengar bahwa bila ada daun jatuh dari ranting nya, yang seharusnya jatuh tepat di bawah pohon tersebut, lalu datang angin, ia membawa daun tersebut jatuh jauh dari pohon nya, hingga kita tidak tahu daun itu sebenarnya daun pohon yang mana." Pira tampan tersebut menyodorkan segelas minuman pada Fatel,
"ah. tidak, teri-"Fatel menolak namun, "Oke, baiklah"Fatel mengurungkan niatnya melihat tatapan tajam dari lawan bicaranya.
"lalu, apa kau maksud ku?" tanya pira itu
"ng? tidak" Fatel menjawab dengan polosnya.
"a-apa m-maksud mu? " Fatel menjauh kan diri dari pria aneh itu
"aku adalah peri, di atas kaum mu. hampir setara dengan para malaikat, jadi dapat merubah apapun itu, bahkan takdir mu" Pria itu tersenyum seakan ucapan nya bukan apa-apa, berbeda dengan Fatel yang ketakutan setengah mati
"bersihkan diri mu aku menunggu mu di ruang pertemuan, biasakan dirimu dengan keadaan sekarang" Pria itu mengecup pelan pucuk kepala Fatel.
Setelah pria itu meninggalkan nya, Fatel berusaha mencerna maksud dari perkataan peri aneh tadi. kalimat-kalimat nya berdengung di otak nya.
"tidak?" Fatel menggeleng lemah.
_
_
__ADS_1
_
_
"Terima kasih atas penyambutan yang meriah ini, Alpha" seorang pria muda seumuran Dylan tersenyum sembari meneguk minuman di atas meja makan.
"ah, jangan di pikir kan, bukan kah sudah seharusnya kita begini, ketua Le" Dylan tersenyum miring di balik cawan minuman nya.
Le adalah ketua klan Devil atau iblis yang baru, setelah kematian ayah Martha di medan perang oleh Dylan, Le orang yang sama sekali tidak berkaitan keluarga dengan ketua terdahulu di pilih agar memimpin klan devil supaya lebih baik dari sebelumnya.
Dari penilaian Dylan, Le sama sekali tidak memiliki dendam terhadap nya atas kematian pemimpin terdahulu mereka, setidaknya itu cukup membuat Dylan merasa tenang
"Ah, Alpha, kira-kira kami akan bermalam selama beberapa hari di sini, jika kami pergi malam-malam aku tidak ingin mengambil resiko bagi rombongan ku melewati kawasan elf" Jelas Le.
"silah kan ketua Le, pack ku terbuka untuk rombongan mu sekarang" Dylan kembali tersenyum miring, entah apa yang ia pikir kan saat ini.
'Dylan, apa kau merasakanya? ' tantya Leo.
'ada apa? tentang pria ini? '
'bukan, ku rasa tentang Mate mu,'
Dylan terdiam dan menegang. Fatel.
'bisa kau merasakan lebih jauh lagi? ' tanya Dylan penuh harap.
'maaf Dylan, ini di luar kemampuan ku, ku harap ia baik-baik saja'
Dylan terdiam seribu bahasa, apa yang terjadi pada Fatel? bukankah seharusnya kakak nya dan perwira sok itu sudah menjaga mate nya dengan baik?
jika mereka ingin mengubah mate nya, bilang dulu seharusnya.
__ADS_1
Dia tidak akan diam diri saja seperti ini.