THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
part 19


__ADS_3

"jadi, apa kau berhasil mempengaruhi pria tua itu?" Kamal menatap wajah putri anak nya dengan tatapan tenang.


"itu sudah berada di genggaman ku ayah" smirk muncul di wajah cantik nya.


"bagus, kau memang anak ku" Kamal menghirup oksigen sebanyak banyak nya dan menghembus kan perlahan.


"kau tahu, kau harus berhasil, tinggal sedikit lagi maka semua nya akan tunduk pada kita"


cih, ayah yang gila kekuasaan, bagaimana dengan anak nya?


sang putri tersenyum manis, namun siapa sangka di balik senyum manis tersebut menyimpan berbagai makna yang sulit di pahami.


"sudah lah, sekarang pergilah menemui Jey, ku rasa ia merindu kan mu" Kamal memerintah putri nya, dan tentu saja di turuti oleh nya.


.........


Jey duduk di kursi ruang tamu, dia tengah membaca sebuah buku. kegiatan nya terganggu saat sebuah suara lembut seorang gadis menyapa pendengaran nya.


"Jeyson" Panggilan tersebut di sambut senyuman manis si pemilik nama.


"hai, sudah lama tak bertemu ya, bagaimana kabar mu?" Jey menutup buku bacaan nya.


si gadis duduk di depan Jey.


"aku sangat merindukan mu, jika saja bukan karena Ayah, aku tak ingin berpisah dengan mu" si gadis meraih jemari Jey dan meremas nya pelan.


"hei, sudah lah. lagi pula setelah ini kita akan menghabis kan banyak waktu berdua" Jey membalas genggaman gadis itu.


"kau harus janji" Bibir gadis itu mengerucut, membuat Jey gemas sekali.


"iya, kita harus sama sama berjanji" Jey mengangkat jari kelingking nya.


"ya, kita berjanji" si gadis menautkan jari kelingking nya pada kelingking Jey.

__ADS_1


"bagaimana jika kita berjalan jalan ke taman?" tawar sang gadis


"hm, ku rasa tidak buruk" Jey menarik tangan sang gadis.


"ah, sudah sangat lama tidak ke sini" sang gadis menarik nafas dalam dalam, dan mengelurkan dengan pelan.


Jey melirik si gadis, mata nya tak mampu lepas dari wajah ayu gadis di samping nya ini.


setelah cukup lama berjalan, mereka memilih duduk di pinggir sungai di tengah taman.


ikan ikan berlari ke sana ke mari, sang gadis menyandarkan kepala nya di bahu Jey.


"apa kau mencintai ku Jey?" si gadis membuat ukiran ukiran kecil di bahu jey.


"kenapa bertanya begitu?" Jey menaik kan alis nya sebelah.


"jawab Jey, setidak nya aku tidak menyesal melakukan perintah Ayah dan setidak nya aku melakukan ini demi orang yang mencintai ku" gadis itu menghadap kan wajah nya ke arah Jey.


"Jey maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini semua, aku tahu jika Ayah tidak menyanyangi ku dan hanya menjadi kan aku boneka nya, aku sebenar nya tidak ingin mencampuri urusan ini" Gadis itu tertunduk lemas.


"hei, sudah lah, bukan kah kita sudah sepakat akan membicarakan ini lagi. aku tidak apa, setelah ini, kita pergi dan jangan ikut campur urusan mereka lagi" Jey menarik sang Gadis dan menyandarkan nya di dada bidang milik nya.


saat seperti ini, siapa sangka jika gadis manis nan cantik ini memiliki niat terpendam.


ia bersikap sangat manis di depan kekasih nya, bagaimana selanjut nya? entah lah, kita ikuti saja alur yang mereka buat.


************


Dylan memotong daging di piring nya, menusuk nya dengan garpu, dan langkah terakhir memasuk kan potongan daging ke mulut nya, menyecap rasa gurih dan nikmat melebur menjadi satu kala gigi kukuh nya mengunyah dengan penuh minat.


saat ini ia tengah makan malam bersama Alpha terdahulu dan calon istri nya.


mereka makan dalam diam, baik Dylan maupun Rey sangat enggan bahkan untuk mengucap kan kalimat basa basi

__ADS_1


"aku sudah selesai" Dylan meletak kan alat makan di atas meja dan mengelap bibir nya dengan tisu.


Martha melirik Rey sejenak.


"bagaimana jika sedikit bersantai dengan meminun teh Alpha?" Martha berujar dengan senyum manis, sangat manis hingga Rey hampir meleleh.


"cih, jangan berbasa basi dengan ku wanita ular, kau kira dengan perlakuan sok manis mu itu aku akan memberi restu pada mu? kau salah besar" Dylan berdecih dan melempar tatapan kebencian pada Martha.


"jaga ucapan mu Dylan, dia calon ibu mu" Rey berujar dengan emosi tertahan.


"ibu ku hanya satu, tidak akan berubah menjadi dua atau tiga, camkan itu" Dylan beranjak dari duduk nya,


"kami akan menikah 3 hari lagi" ucapan Rey menghentikan langkah Dylan,


"jika kau memang harus menikah dengan wanita itu, silah kan. namun, adakan di mansion pribadi mu dan jangan libat kan apapun itu dengan pack house" Dylan berujar tanpa memalingkan wajah nya.


"Dylan..." Martha menahan bahu Rey kala pria itu hendak berdiri.


Martha mengangguk kan kepala nya.


"baik lah, aku tidak akan melibat kan dan merepotkan mu" Rey mengepal kedua tangan nya.


"bagus, aku tidak perlu repot repot mengurus cecunguk seperti mu" Dylan meninggal kan ruang makan.


menyisa kan dua orang yang masih menahan emosi nya masing masing.


"aku tak habis pikir dengan anak ini" Rey memijit pelipis nya.


"sudah lah, jangan pikir kan. kita hanya perlu waktu Rey" Martha mengusap pelan punggung Rey.


"terima kasih, aku tak salah memilih mu menjadi pendamping ku" Senyum terpahat di bibir tua Rey,


Martha tersenyum manis.

__ADS_1


__ADS_2