THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
part 11


__ADS_3

"ada apa?" Dylan menyilangkan kakinya, sedang gelas wine bertenger di sela sela jemari lentiknya


"ku rasa kita harus menyelidiki tawanan mu itu Dyl" Nicho berucap sambil mendekatkan bibirnya pada tepi gelas.


"kau tahu kan, sekarang aku semakin sibuk" Dylan mengetuk ngetuk kan kuku nya pada gelas hingga menyebabkan bunyi.


tling


tling


tling.


Nicho menghela nafas pelan.


"kau bisa percayakan semuanya pada ku" Nicho meletakan gelas di tangan nya ke atas meja.


"baiklah, ku harap kau melakukan nya dengan baik" Dylan masih dengan aktivitasnya.


"kau tahu siapa aku Dyl"


Dylan mengangkat kedua alisnya dan meminun isi gelas hingga tandas.


***************


seorang gadis meringkuk di ranjang king size nya,kadang isakan kecil terdengar dari bibirnya.


"sampai kapan kau seperti ini nak?" suara wanita paruh baya terdengar di balik pintu yang terkunci.


seperti biasa tak ada jawaban. Yesa menghela nafas berat.


"silahkan" Yesa mempersilahkan seorang pria mencokel kunci pintu tersebut dan mendobraknya


Yesa menghampiri dan memeluk tubuh ramping putrinya.


"aku pembunuh bu, aku yang membunuh Fatel" Natty semakin terisak di pelukan ibunya.

__ADS_1


"berhenti menyalahkan diri mu sendiri Natt" Yesa mengelus lembut rambut pirang putrinya, berusaha menenangkan perasaan Natty.


"aku pembunuh bu"Natty menjambak rambut nya, melihat hal itu Yesa menahan kedua tangan Natty, takut kalau Natty menyakiti dirinya sendiri


sudah 3 hari Natty seperti ini. Yesa hanya bisa menenangkan nya. memeluknya dan membiarkan Natty terisak di sana.


Yesa sangat terpukul melihat keadaan putrinya. hari pertama dimana ia melihat Natty kembali ke rumah dalam keadaan kusut, tanpa bicara.


Yesa ingin sekali memarahi Natty, kemana Fatel dan Natty pergi semalaman, namun melihat kondisi putrinya membuat ia menahan semua uneg uneg nya dan membiarkan Natty sendiri yang memberitahunya.


Natty terus diam dan mogok makan. dua hari yang lalu, Natty hampir saja menyakiti dirinya sendiri jika saja Yesa tidak datang tepat waktu.


Yesa melihat putrinya hendak mengiris lengannya sendiri, melihat itu Yesa langsung menepis kasar pisau tersebut dan menyembunyikan nya.


Yesa langsung memeluk putrinya dan menenangkan nya.


"aku pembunuh bu, aku membunuh Fatel" kata kata itu terus terulang dari bibir Natty, setiap saat.


mendengar itu, Yesa sudah menebak kemana Fatel, tapi ia tidak akan bertanya apapun kepada Natty, ia tidak ingin Natty semakin terbebani, ada masanya Natty akan bercerita padanya.


"ibu harus bagaimana nak?" gumam Yesa pelan.


***************


Fatel berjalan mondar mandir di dalam ruangan mewah tersebut, ia mengigit buku jari nya tampak sedang memikirkan sesuatu.


"ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Claire. ia sedikit keheranan melihat Fatel.


"ah, tidak. aku hanya sedang memikirkan sesuatu" Fatel menghela nafas pelan dan berjalan ke balkon.


angin malam musim dingin menerpa wajah ayu nya. Fatel memejamkan matanya menikmati sensasi dingin di wajahnya.


sekelebat bayangan Natty tertawa membuat hatinya sesak. dia merasa sangat egois menyuruh Natty berjalan sendirian dalam hutan di tengah malam.


senyum tipis terulas di bibir nya kala ia dan Natty sedang bermain di kamarnya seminggu yang lalu.

__ADS_1


"yak, kau kalah" Natty mendorong Fatel hingga terjungkal ke belakang.


"kyaa, apa yang kau lakukan?" Fatel tak terima


"tidak ada" Natty tertawa


Fatel mencibir dan memukul wajah Natty dengan bantal. Natty tak terima dan membalas Fatel.


dari perang bantal hingga kejar kejaran di dalam rumah.


air mata Fatel mengalir pelan dari pelupuk matanya yang terpejam.


"Nona, baik baik saja?" Claire berdiri di belakang Fatel.


Fatel menggeleng lemah. dan membuka matanya.dia mengerutkan kening nya.


"Bibi, kenapa di depan ramai sekali?" Fatel bertanya sambil menunjuk pada salah satu sudut di depan pack house.


"besok adalah penobatan calon Alpha menjadi Alpha Nona." sahut Claire.


"ah begitu ya. hm aku penasaran, apakah aku boleh melihat nya besok Bi?" tanya Fatel, jujur ia sangat pensaran.


"maaf Nona, tapi anda tidak di perbolehkan keluar ruangan, seor-"


"tawanan hanya harus di dalam ruangan, yah baiklah." Fatel berjalan menuju ranjang nya dan merebahkan diri. dia membelakangi Claire.


"maaf Nona, maksud saya-"


"sudah kah Bi, aku ingin istirahat. kau boleh keluar" Fatel menarik selimut menutup seluruh tubuhnya.


Claire menghela nafas pelan dan berlalu.


"baik Nona, selamat beristirahat"


xx_apilaa

__ADS_1


__ADS_2