
Dylan berjalan gagah menuju ke altar penobatan nya. jubah merah panjang nya menjuntai dan di biarkan menyapu lantai yang di laluinya.
Ritual penobatan berjalan dengan lancar dan sekarang Dylan resmi menjadi Alpha di Werbor pack, bersamaan dengan itu warga Werbor pack menyalakan kembang api sebagai bentuk kebahagiaan mereka dalam menerima Alpha baru.
para tamu menikmati acara mewah tersebut, namun lain hal nya dengan Dylan, pria tersebut tampak memikirkan sesuatu.
dari kejauhan seorang wanita cantik dengan pakaian minim mendekati Dylan dengan dua gelas anggur di tangan nya.
"hormat hamba Alpha, saya kira mungkin Alpha butuh seseorang untuk di ajak bicara" entah pernyataan atau pertanyaan yang diutarakan sang wanita.
Dylan menolak gelas yang di sodorkan padanya tanpa memalingkan wajahnya membuat sang wanita mendengus kesal.
"aku tidak butuh Lady Clara" Ucap Dylan dingin dan datar.
Clara Tomphison adalah bangsawan tingkat satu di Werbor pack. Clara sudah lama menaruh hati pada Dylan, namun pria itu tak tersentuh membuat ia harus lebih bersikeras.
Clara menaruh gelas di atas meja dan duduk di samping Dylan.
hening.
Dylan sangat enggan berbicara, toh bukan dia juga yang menyuruh Clara ke sini.
acara di lanjutkan dengan acara dansa, lantai dansa sudah mulai di penuhi para tamu. Clara menoleh ke arah Dylan, namun pria itu tetap dengan wajah datar nya.
"apakah anda bersedia berdansa bersama saya Alpha" Clara berujar dengan nada lembut yang di buat buat membuat Dylan mual.
"kau bisa mengajak orang lain Lady, aku tidak bisa" Dylan berdiri dan meninggalkan Clara yang tersenyum kecut.
Di ruangan Luna....
Fatel sangat ingin keluar dari sini jadi ia memutuskan menyelinap, dia memunculkan kepalanya dari balik pintu, hanya ada 2 orang penjaga.
'kemana claire? 'Fatel mengernyit kan dahinya.
Fatel masuk kembali dan memutar otak bagaimana caranya ia keluar dari sini. dia berjalan mondar mandir di dalam ruangan.
'ah, sepertinya aku mencoba cara itu saja' Fatel menjentikkan jari tengah dan jempol nya.
dia berbaring di kasur dan memasang raut kusut.
"penjaga, tolong aku" Fatel teriak dengan nada suara memelas. tak lama kemudian muncul seorang penjaga dan berdiri agak jauh dari Fatel.
"ada yang bisa kami bantu Nona?" Penjaga tersebut bertanya dengan wajah yanh sedikit khawatir.
__ADS_1
"tolong panggilkan seorang pelayan ke sini cepat" perintah Fatel,
"baik Nona" penjaga tersebut berlalu dari hadapan Fatel, dan setelah beberapa menit seorang pelayan muncul.
"anda memanggil saya Nona?" pelaya itu bertanya. Fatel menoleh.
'sepertinya cocok' batin Fatel, ia berjalan mendekat ke arah gadis itu dan menatap penampilan nya dari atas hingga bawah.
"buka baju mu" ujar Fatel membuat gadis itu membelalakkan matanya.
"m-maksud N-nona a-apa?" gadis itu gelagapan berusaha memastikan.
"ku bilang buka baju mu"
"t-tapi, untuk apa?" tanya nya lagi membuat Fatel memutar bola matanya.
"aku ingin baju mu, bukan yang lain, turuti perintah ku atau ku bunuh" Fatel mengangkat dagu nya dengan congkak.
'hahah, geli sekali mengucapkan kalimat itu' Fatel tertawa dalam hati.
pelayan tersebut hendak membuka semua pakaiannya, melihat itu Fatel membulatkan matanya.
"kyak, maksud ku bukan buka di sini, tapi di kamar mandi itu." Fatel membuka lemari pakaian dan menarik beberapa lembar pakaian dan memberi nya pada pelayan tersebut.
tak lama kemudian dia keluar dengan baju khas 'pelayan' di tangan nya, Fatel meraihnya dan berganti ke kamar mandi dia keluar setelah selesai dengan urusan baju nya, sekarang riasan ala pelayan.
"rias wajah aku seperti pelayan yang lain cepat lakukan" Pelayan itu tak punya pilihan dan merias wajah Fatel.
Fatel menatap wajah nya di cermin dan mengulum senyum nya.
penampilan nya sangat berbeda, wajah yang jarang tersentuh make up itu sekarang di lapis bedak tipis, bibir merah cenderung berwarna coral, rambut yang sering di cepol berantakan kini tersanggul rapi. khem, terlihat sedikit cantik.
Fatel membalik badan nya dan menyuruh pelayan tersebut duduk.
"sekarang giliran mu" Fatel menghapus bedak di wajah gadis itu, mengurai rambutnya dan mencepol nya sembarang.
"cah, selesai, kau diam di sini hingga aku kembali, jangan kemana kemana atau kematian yang kau hadapi" ancam Fatel sebelum ia benar benar keluar dari ruangan.
"baik Nona" gadis itu tertunduk takut, Fatel sebenarnya tak tega melihat hal itu.
"kau baring di sana, dan tutup seluruh wajah mu dengan selimut, jangan bersuara agar mereka percaya bahwa aku tidur, paham?" ujar Fatel, gadis itu mengangguk.
"bagus" Fatel berjalan keluar dengan wajah tenang nya, dia melewati penjaga ruangan tersebut.
__ADS_1
mereka berdua menghadang Fatel, membuat gadis itu sedikit ragu.
"sudah selesai urusan mu dengan Nona?" tanya salah seorang, Fatel mengangguk, jika ia buka suara maka penjaga ini akan mengenalnya.
mereka mempersilahkan Fatel pergi membuat gadia itu menghela nafas lega.
Fatel mengendap endap keluar dari mansion besar Dylan, setelah di rasa aman ia melangkah kan kaki keluar gerbang. hari ini penjagaan di mansion tidak begitu ketat, karena mereka mempersiapkan acara di pack house.
Duarrr....swiiitt....Duarr...swiiittt....
suara kembang api di halaman pack house menghentikan langkahnya, dan Fatel memandang takjub ke arah langit.
tak jauh dari tempat nya berdiri sepasang kekasih sedang duduk berdua saling mengaitkan jemari mereka.
"wah kembang api yang sangat indah" ujar si wanita.
"ya, berarti penobatan Alpha sudah selesai" sahut si pemuda.
Fatel mendengar samar samar percakapan mereka berdua, kini mata nya tertuju pada pack house yang ramai akan para tamu.
'ku rasa mengintip sejenak tidak masalah' Fatel melangkah masuk ke dalam, dia mengangga melihat kemewahan pesta tersebut.
saat asik dengan acara kagumnya, seorang pelayan menepuk bahu nya membuat Fatel membalikkan badan terkejut.
"kenapa kau masih disini? cepat antar minuman ini ke meja kaum Dewa berada sebelum mereka melanjutkan dengan acara dansa" suara pelayan itu sedikit sinis membuat Fatel ingin sekali menonjok wajah sok cantik nya itu.
"ah baiklah, mana minuman nya?" Fatel berusaha bersikap setenang mungkin.
setelah mengikuti pelayan tersebut dan mengambil minuman, Fatel bergegas menuju meja yang di maksud pelayan tadi
Dia meletakkan minuman di atas meja, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang terus menerus memandangi nya.
'aroma tubuh nya, kenapa tidak asing? tapi dimana aku pernah mencium aroma ini?' batin seseorang.
"silahkan dinikmati" Fatel hendak berlalu, namun pergelangan tangan nya di tahan seseorang.
Fatel mendongak melihat siapa yang berani menyentuhnya itu.
seorang pria tinggi dengan bahu lebar nan tampan menahan tangan nya, di tangan kirinya ada segelas anggur.
"maaf Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Fatel ragu takut jika pria ini tahu siapa dirinya.
"maukah kau berdansa dengan ku?"
__ADS_1