
Fatel membuka matanya perlahan. pening kembali menyerang kepalanya. ia merasa tulang tulang di tubuh nya tak beraturan.
apa dia sudah mati?
kenapa masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya?
"akh...." Fatel meringis.
dia mengedarkan pandangan nya ke sekeliling. dia dimana? ruangan besar berwarna putih dan silver lebih mendominasi setiap sudut.
matanya tertuju pada daun pintu yang di buka oleh seseorang dari luar. seorang wanita seumuran dengan nya muncul dan tersenyum pada Fatel.
"kau sudah sadar rupanya" wanita itu memeriksa keadaan Fatel.
Fatel diam dan masih memasang wajah bingung.
"ah, kau pasti bingung. aku Elen. dokter di pack kesehatan." Wanita yang mengenalkan diri sebagai Elen tersenyum manis.
"siapa nama mu?" Elen bertanya pada Fatel.
"Fatel Waynn, kau bisa memanggil ku Fatel"
"baiklah Fatel"
"aku dimana?" Fatel bertanya pada Elen. Elen terpaku sejenak, namun setelah itu ia tersenyum ke arah Fatel.
"kau berada di Werbor pack." sahut Elen.
"Werbor pack?" Kerutan halus tercetak di dahi Fatel.
__ADS_1
"ya, Werbor pack adalah nama tempat tinggal kaum Warewolf" jelas Elen.
"Warewolf?" Fatel bergumam pelan,
"kenapa aku bisa di sini?" Fatel bertanya dengan semua kebingungan menumpuk di otak nya.
"Calon Alpha dan Abdinya membawa mu kemari 3 hari yang lalu" sahut Elen.
Fatel tidak terlalu asing dengan Alpha. karena bibinya dulu sering menceritakan dongeng tentang warewolf dan Alpha adalah pernguasa mereka.
ternyata warewolf yang menyerang nya adakah calon Alpha. tapi kenapa dia meyerang Fatel saat itu? mungkin karena Fatel dan Natty masuk ke wilayah mereka dan di anggap penyusup.
lalu mengapa dia tidak membunuh gadis itu malah menyelamatkan nya?
dan masih banyak kata 'mengapa' di kepalanya saat ini.
"ah, sepeti nya keadaan mu sudah sangat baik. ku rasa hari ini kau sudah boleh pulang ke pack house" Elen memeriksa denyut nadi Fatel.
"pack house adalah sebuah tempat tinggal khusus untuk orang orang penting di Werbor pack. pack house ibaratkan sebuah kerajaan, ya seperti itu" Elena menjelaskan dan duduk di tepi ranjang.
"apa ini dunia sihir?" tanya Fatel.
"ya. " sahut Elena.
hening.
Fatel tidak habis pikir, ternyata dunia sihir itu benar benar nyata adanya. Tiba tiba pikiran nya tertuju pada Natty, bagaimana keadaan gadis itu? apa dia selamat? bagaimana jika Natty bertemu hewan buas? apa Natty juga di bawa ke sini? Fatel seketika itu juga merasa dia adalah orang terburuk yang pernah ada. bagaimana bisa ia membiarkan Natty sendiri.
Fatel tidak tahu harus bagaimana menghadapi ini, dia ingin mencari Natty namun jangan kan untuk mencari Natty sedangkan ia saja tidak tahu berada di bumi belahan mana.
__ADS_1
sebuah tangan halus menyelipkan anak anak rambut nya ke belakang membuyarkan segala pikiran di kepala Fatel.
"kau sangat cantik bak seorang dewi. apa kau yakin kau bukan seorang dewi ?" suara Lembut Elen bertanya pada nya.
Dewi ?
dia seorang manusia, bukan dewi.
"aku manusia bukan dewi."
"aku tidak yakin. em, oh iya kau harus makan dulu, supaya tenaga mu kembali pulih" Elen tersadar bahwa pasien nya harus makan, ia terlalu asik berbincang dengan Fatel.
"kenapa calon Alpha itu membawa ku ke sini? dan kenapa kau merawat ku? ada apa dengan ku? apa kalian setelah ini berniat membunuh ku?" rentetan pertanyaan dari Fatel menyerang pendengaran Elen, membuat wanita itu sedikit gelagapan.
tentu saja dia gelagapan. dia juga tidak tahu alasan kenapa calon Alpha membawa orang asing ke Werbor pack. insting nya mengatakan bahwa rupa gadis ini lah alasan nya. namu, itu tidaklah pasti. mungkin ada alasan lain dari calon Alpha.
"jangan berpikiran yang aneh aneh. Sebenarnya aku sangat berniat membunuh mu jika saja tidak ada yang harus aku pastikan dari mu" suara rendah nan serak namun tegas dan dingin di saat bersamaan mengejutkan keduanya.
Elen membungkuk guna menghormati calon Alpha nya. Dylan berjalan ke arah ranjang dimana Fatel terbaring, sementara seorang pria berjalan di belakang nya.
Dylan menatap dingin tepat ke iris gadis itu. entah mengapa, ia merasa sangat candu.
Fatel bergerak gelisah. dia merasa di lucuti hanya karena sebuah tatapan.
'damn, pertama pria ini berjalan ke arah ku.
kedua, dia menatap ku sangat dingin.
ketiga dia berniat membunuh ku' batin Fatel
__ADS_1
Dylan berhenti tepat di depan Fatel, matanya masih mengunci Fatel.
"katakan ada ku, apa kau seorang Hunter?"