
seorang pria paruh baya berdiri memandang keluar jendela kamarnya, di belakangnya seorang pemuda umur awal 30-an berambut biru muda.
"apa kau sudah menemukan jejak nya Arry?"tanya pria tua tersebut.
"ampun yang mulia, hamba masih belum menemukan nya" Arry menunduk kan kepalanya.
"ku harap kau segera menemukan nya Arry, sudah 20 tahun kita kehilangan nya" Sang Raja menerawang memikirkan sesuatu.
"saya berjanji, cepat atau lambat saya akan segera menemukan nya"
*****************
Fatel membuka matanya perlahan dan membalikan selimut yang membalut tubuhnya. dia berdiri di depan cermin.
mengingat kejadian semalam membuat ia geram, tiba tiba ia teringat sesuatu.
"bagaimana kabar gadis semalam ya?" Fatel berjalan keluar dan menghampiri salah satu penjaga.
"kemana kalian membawa gadis yang di ruangan ini semalam?" tanya Fatel
"pelayan itu sekarang berada di ruang tahanan Nona." sahut penjaga tersebut.
"ha? siapa yang membawa dia ke sana?" Fatel membulatkan matanya sempurna
"Alpha Nona, di-"belum selesai penjaga tersebut bicara, Fatel langsung berlari meninggalkan penjaga tersebut membuat si penjaga membelalak tak percaya.
Fatel berlari sepanjang lorong, tujuan nya adalah ruangan Dylan.
"hah..hosh..."Fatel membungkuk dengan bertumpu pada kedua lututnya. ia tiba di depan pintu ruangan Dylan, ia menegakkan badannya dan langsung membuka pintu tersebut.
BRAK
Dylan menoleh kaget pada orang yang berani berani nya menganggu paginya. dia menyeringai saat tahu siapa yang tiba.
__ADS_1
"ada apa? apa kau berniat mengoda ku di pagi ini Nona?" Dylan tersenyum miring dan meneguk kembali coklat panas nya.
"apa maksud mu? " Fatel menelisik penampilan nya, dan mengerjap tak percaya.
what the?
gaun tidur tipis dan transparan?
siapa yang mengganti baju nya?
saat ia bercermin ia terlalu fokus memikirkan kejadian semalam tanpa menyadari penampilannya.
Fatel menunduk kan kepalanya malu, dia merutuki dirinya, kenapa ia bisa seceroboh ini.
Dengan harga diri yang masih sisa setengah, Fatel mengangkat wajahnya dan menatap Dylan dengan tatapan tajam.
"sayang nya, aku punya sesuatu yang lebih penting dari pada itu" Fatel memiringkan senyumannya.
Dylan mengangkat alis nya sebelah.
"apa yang kau lakukan pada pelayan itu semalam?" Fatel bertanya dengan nafas memburu.
"hm, aku belum memikir kan nya, mungkin sedikit hukuman" Dylan menyilangkan kaki nya dan menatap Fatel demgan tatapan datar.
"jika gadis itu terluka segores saja, aku tak akan memaafkan mu" Fatel berkacak pinggang.
"mm, secara tidak langsung kau telah mendorongnya ke dalam lubang buaya?" Dylan tersenyum mengejek membuat Fatel mengepalkan tangan di sisi tubuhnya
"shit, apapun itu, jika kau melukainya aku tak segan segan memisahkan kepala dari leher mu itu" ancam Fatel,
oh ayolah, apa Fatel sedang mengancam?
jangankan membunuh, melihat pedang saja apa ia pernah?
__ADS_1
"ah ya? aku merasa takut" Dylan sengaja memasang wajah takut, seakan akan ancaman Fatel sangat berbahaya baginya.
Fatel semakin geram dengan Dylan, ia tahu Dylan sedang mengejek nya.
"di sebelah kanan ada pedang, silahkan tebas kepala ku, ku berikan secara gratis" Dylan meneguk coklat nya,
Fatel segera memutar kepalanya menoleh ke samping.
'tunggu, sebelah kanan dimana? sebelah kanan ku atau sebelah kanan nya?'
sejenak Fatel kebingungan, bentuk pedang seperti apa? ia menunduk, menimbang nimbang sebelah kanan pria itu di sebelah mana tubuhnya.
Dylan terbahak dalam hati melihat kelakuan Fatel yang mengemaskan menurutnya.
Fatel melihat benda pipih panjang dan tajam di sebelah kanan nya, ah bodoh nya ia, Fatel mengumpat dalam hati.
Fatel berjalan dan mengangkat sedikit dagunya. dia meraih gagang pedang dan menarik nya dengan satu tangan, tapi...
'shit,kenapa tidak mau tercabut?' batin Fatel.
Fatel menelan salivanya dan menoleh sejenak ke tempat Dylan, pria itu masih dengan wajah datar nya menatap ke arahnya.
wajahnya sudah merah padam menahan malu, ia mencoba menarik dengan kedua tangan, namun hasil nya nihil. pedang tersebut masih pada tempatnya, seakan cinta sekali dengan sarung nya.
Fatel sudah seperti orang bodoh, ia masih berurusan dengan pedang tengik itu, ingin sekali ia memotong, mencincang dan membakar pedang sialan ini.
Dylan memutar bola mataya jengah.
"Baik Nona Waynn, ku rasa anda harus kembali ke ruangan anda daripada menghabiskan waktu anda di sini" Dylan menopang dagunya dengan siku kanannya.
"hari ini kau boleh saja bebas Tuan Blake, tapi lain kali aku akan benar benar memotong kepala mu itu" Fatel keluar dengan perasaan kesal.
BRAK
__ADS_1
"haish, pintu ruangan ku lama lama rusak jika gadis ini sering ke sini" Dylan menepuk dahinya.