
Kicauan burung mengusik pendengaran gadis yang terkulai lemah di pinggir jalan. dengan enggan ia membuka kelopak mata nya, menantang sang surya yang mulai memanaskan bumi. Dia mengedarkan pandangan nya ke sekiling. Dimana ini? kenapa ia berada di tepi jalan? banyak pertanyaan muncul di otaknya, namun fisik nya masih terlalu lemah untuk berkompromi dengan otaknya.
Dengan langkah terseok seok dia berusaha menyusuri jalan.
Tunggu!!
dia ingat tempat ini
dimana mobil nya?
gadis itu celingak celinguk hingga ia tersadar sejenak. Dia menepuk dahi nya.
"bodoh bodoh bodoh" rutuk nya pada dirinya sendiri.
Dia kembali berjalan beberapa meter hingga tiba di tempat ia memarkirkan mobil nya yabg sebenarnya.
Dia masuk dan mulai terisak. bahunya bergetar kuat, ia memeluk dirinya sendiri berusaha menguatkan dirinya.
"maaf, hiks....maafkan aku Fatel" Natty menangis mengingat kejadian semalam.
saat ia melihat Fatel berlari dan menghadang makhluk besar, ah ralat, warewolf agar tidak mengejar dirinya.
dia kembali terisak saat ia melihat Fatel terlempar oleh makhluk itu, melihat Fatel yang kesakitan sedangkan ia hanya bisa melihat tanpa bisa membantu sepupunya.
ia sangat menyesali apa yang ia perbuat. andai saja ia tidak mengajak Fatel melakukan hal konyol itu. mungkin saja ini tidak terjadi.
Natty memukul mukul kepalanya saat ingatan nya kembali ke kejadian semalam, saat ada warewolf lain datang. ia tidak sanggup melihat yang terjadi selanjutnya, ia berlari tanpa memerdulikan keadaanya.
__ADS_1
hingga ia terjerembab di tepi jalan, ia tidak tahu seberapa lama ia berlari.
Natty menghidupkan mesin mobil nya dan berlalu dari tempat itu.
*******************
flashback on
"akhhh" Dylan menghancurkan seluruh barang di ruangan nya.
"kau tidak bisa menghentikan ku Dylan, aku ayah mu" Tekan Rey.
"ayah? aku tidak punya ayah. dan kau, kau adalah ******** tua, cih" Dylan menatap tajam mata Rey.
"kau menyalahkan ku atas kematian ibu mu? ibu mu meninggal karena ulah nya sendiri. tidak ada yang menyuruh nya menyelamatkan Martha" Rey berucap tak kalah bengis nya
"wanita ular itulah penyebab nya. dan kau hendak menikahi wanita yang telah membunuh ibuku? makhluk tak punya hati" mata Dylan menggelap bahkan taring muncul dari sela sela giginya yang rapi.
"pria ********, akan ku pastikan hidup mu menderita di tangan ku" Dylan keluar dari house pack nya dan berlari ke dalam hutan.
Wolf nya mengambil alih tubuhnya. Dylan semakin berlari ke dalam hutan bahkan ia pun tidak sadar bahwa dia sudah tiba di daerah Vampir.
dia berjalan pelan, namun penciuman nya merasa terganggu dengan aroma vanila yang menembus indra wolf nya.
dia mengendus endus aroma tersebut, ia terhenti saat aroma Vanila menyebar dan semakin pekat.
matanya terpaku pada seorang manusia, tidak berdua. siapa mereka? mata Dylan dan gadis itu terkunci. untuk sesaat Dylan merasa terhipnotis dengan iris biru itu.
__ADS_1
Dunia nya seakan berhenti berputar, pandangan sekelilingnya buram dan hanya terfokus pada wajah gadis itu, dan ah wanita itu sangat cantik. Dylan berani bertaruh bahwa gadis itu adalah wanita tercantik yang pernah ia temui.
namun ia kembali menggeram. mereka manusia. merekalah yang membunuh ibunya. mereka adalah musuh terbesar kaum nya. Dia harus membunuh setiap manusia yang bertemu dengan nya. Bertemu dengan Dylan berarti bertemu dengan malaikat maut.
Gadis itu dengan berani datang ke arah Dylan dan berdiri di depan nya. mata mereka kembali bertemu, Dylan merasa candu dengan aroma dan warna mata gadis itu.
sejenak ia merasa pandangan nya hanya tertuju pada gadis itu, hanya sejenak hingga akal sehat nya mengatakan mereka adalah pembunuh ibunya. Dylan kembali menggelap dan menggeram.
Dylan menghantam tubuh gadis itu hingga membentur pohon besar di samping nya.
Dylan benar benar ingin mencabik cabik tubuh gadis itu, jika saja Nicho tidak datang dan menghentikan aktivitasnya.
"Dylan" Nicho berlari dan menahan tubuh Dylan.
"lepaskan aku. Dia pantas mati" Dylan berusaha berontak namun Nicho cukup kuat menahan nya.
"dia tidak tahu apa apa. dan ku rasa dia bukan dari kaum manusia, kau bisa mencium aroma nya bukan?" Nicho berusaha menenangkan Dylan.
"akhh, tapi itu sangat tidak mungkin Nic" Dylan masih menatap nyalang pada tubuh ringkih yang terkulai lemas di tanah.
"kita juga tidak tahu, namun aroma nya sangat berbeda, sebaiknya kita bawa dia ke pack. jika dia berada di sini dan mencium aroma darah nya, kurasa para Vampir lapar itu tidak akan menyia nyiakan gadis ini" Nicho memandang iba gadis yang tak sadarkan diri akibat kemarahan Dylan.
perlahan lahan Dylan merubah dirinya ke wujud manusia. dan menghampiri gadis itu.
Nicho juga sudah berubah wujud, dan berdiri di samping Dylan.
"bawa dia, aku tidak sudi tangan ku ini menyentuh barang kotor itu" Dylan memerintah pada Nicho dan berlalu.
__ADS_1
"cih, tidak bertanggung jawab" Nicho berdecih dan merengkuh Gadis itu ala bridal style.
flashback of