THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
part 14


__ADS_3

"maukah kau berdansa dengan ku?"


glek


satu pertanyaan yang membuat seluruh bobot tubuhnya serasa berat dan ingin sekali ia terduduk lemas sekarang.


"eng... maaf ta-"


"menolak berarti itu adalah sebuah penghinaan Nona" pria itu berucap dengan sedikit penekanan.


"hm, bukan maksud ku aku tidak bisa berdansa" Fatel berusaha agar suara nya tak bergetar.


"tenanglah, aku akan mengajari mu" pria itu meletakkan gelas anggur di meja dan megulurkan tangan nya ada Fatel.


'bagaimana ini? apa yang harus ku lakukan?' Fatel menatap ragu tangan dan wajah tersebut.


"hahaha, kenapa kau mau sekali berdansa dengan seorang 'pelayan' pangeran Arry?" suara seorang perempuan membuat pria yang bernama Arry memggeram.


"bukan urusan mu Lady Gisele, lagi pula pelayan ini lebih cantik dan sopan di bandingkan dengan mu" ucapan menusuk Arry membuat Gisele memalingkan wajah nya masam.


Fatel sedikit bersemu saat pangeran tampan di depan nya menyebut dirinya lebih cantik daripada Lady tersebut.


"bersediakah?" suara lembut Arry menyentak pikiran Fatel, dengan terpaksa Fatel mengangguk dan meletakkan tangan kanan nya pada telapak Arry.


DI Lain Tempat.....


Dylan sedang duduk di sofa lantai 2 yang menghadap langsung ke lantai dansa.


orang orang berpasangan tersebut mulai menari mengikuti alunan musik.Dylan menghirup nafas dalam dalam, namun sesuatu seakan menyeruak masuk ke indra penciuman nya.


aroma Vanilla yang khas.


Dylan membuka matanya, walaupun sekarang bermacam aroma bercampur dari berbagai kaum, namun aroma Vanilla tersebut seakan memenuhi rongga dadanya.


Dylan tahu siapa pemilik aroma ini, gadis tawanan nya.


'apakah dia di sini? tapi bagaimana mungkin.' Pikiran Dylan berkecamuk tentang gadis itu.


'Leo bisakah kau melacak keberadaan gadis ini?'


"akan ku coba Dyl" ucap Leo,


"dia memang disini, lebih tepatnya di lantai dansa tersebut" Setelah Leo selesai bicara, Dylan segera turun ke lantai dansa.


namun langkah nya terhenti. bagaimana cara ia masuk ke sana, ia harus mencari seseorang untuk di ajak berdansa.

__ADS_1


Dylan menoleh ke kiri dan ke kanan, manik nya tertuju pada seorang gadis di dekat meja minuman. tanpa pikir panjang, Dylan menarik gadis itu.


"apa anda mengajak saya berdansa Alpha?" tanya Clara


Dylan tak menjawab, dengan enggan ia meletakkan tangan nya pada pinggang gadis itu, lain halnya dengan Clara yang dengan senang hati melingkarkan tangan nya pada leher Dylan namun di tepis kasar oleh Dylan.


NORMAL POV


Dylan celingak celinguk mencari keberadaan Fatel sesekali menatap Clara dengan tatapan membunuh saat gadis itu meraba lehernya.


sedangkan di lain sisi, Fatel begerak kaku, tangan nya kirinya bertenger di bahu Arry dan tangan kanan nya dalam genggaman pria tersebut, kadang kadang ia mengeliat geli kala tangan kanan Arry bergerak di pinggangnya.


Dylan menggeram tertahan bagaimana bisa gadis itu keluar dari ruangan nya.


'Leo, dimana ia sekarang?'


'dia ada di sebelah kanan mu Dylan,'


Dylan menoleh ke sebelah kanan nya dan mengerutkan dahinya.


'*aku tak melihat nya, apa karena penerangan nya kurang ?'


'kau harus sedikit bergeser Dyl*'


"bisakah kita sedikit bergeser ke kanan Lady" ucap Dylan.


"tentu saja" mereka menari sambil sedikit bergeser. Dylan mengendus endus bau Vanilla yang semakin menyengat yang memambukkan.


Arry menekan sedikit pinggang Fatel agar gadis itu mendekat ke arah nya, ia memejamkan mata menghirup aroma Vanilla gadis ini. aroma nya membuat Arry merasa candu.


"siapa namamu?" Arry sedikit berbisik, namun masih terdengar oleh Fatel.


"eng...Fatel Waynn, anda bisa memanggil saya Fatel saja" sahut Fatel.


suara lembut Fatel menyapa pendengaran Arry, membuat Arry tertegun.


"kau sangat cantik, apa kau seorang pelayan di sini?" pertanyaan yang sangat dihindari Fatel akhirnya terdengar.


Fatel gugup, bagaimana ia harus menjawab?


belum sempat menjawab, orang orang yang sedang berdansa harus melepas pasangan mereka masing masing dan menukarnya.


Fatel berputar dan bersyukur karena dapat menghindari pertanyaan Arry, namun sepertinya dugaan nya salah.


sebuah tangan kekar melingkar di pinggang ramping nya dan menekan agar Fatel agar lebih mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"akhirnya aku menemukan mu" suara rendah nan dingin itu membuat Fatel terkesiap, ia tahu siapa ini, Dylan Blake.


Fatel menelan saliva nya dengan susah payah.


ia tidak berani bicara, takut Dylan mengetahui penyamaran nya. Fatel memalingkan wajahnya.


"kenapa diam saja? aku tahu itu kau, tawanan ku" Dylan semakin mendekat ke arah Fatel, tujuan nya adalah ceruk leher gadis itu. menghirup aroma Vanilla dengan rakus, sesekali menghembuskan nafas di sana.


Fatel merasa geli kala hembusan nafas Dylan menerpa kulit lehernya. dia merutuki dirinya sendiri.


jika saja ia tidak menerima tawaran dansa sang pangeran tampan, ia tidak akan berakhir di sini.


wajah Dylan tidak beranjak dari leher gadis itu, perlahan namun pasti Dylan menarik Fatel menjauh dari lantai dansa dan membawanya ke salah satu tempat yang lumayan sepi.


Dylan mendorong tubuh Fatel ke dinding perlahan dan mengukung Fatel dengan kedua tangan nya.


"minggir, apa yang kau lakukan, kenapa kau membawa ku ke sini?" Fatel merasa geram dengan tingkah Dylan.


pria itu tersenyum miring.


"siapa pelayan bodoh yang kau kelabui?" Dylan tersenyum mengejek.


"itu bukan urusan mu" sarkas Fatel


"siapa bilang bukan urusan ku, kau adalah tawanan ku jadi kau adalah urusan ku" Dylan kembali mendekatkan wajahnya keleher Fatel.


"a-apa yan-g k-kau la-kukan?"Fatel gelagapan saat Dylan menghirup dan sedikit mencium lehernya.


Saat Dylan lengah Fatel mendorong tubuh kekar Dylan, membuat Dylan sedikit terhuyung.


"kau sudah berani berani nya kabur dari mansion ku" dan sudah berani berdansa dengan pria lain selain aku " maka kau harus mendapat hukuman" Dylan menyeringai.


Fatel yang melihat hal itu segera berlari dari hadapan Dylan, namun tangan Dylan menahan bahunya.


"namun jika kau kembali ke mansion ku sekarang dan tak berniat kabur, aku tidak akan menghukum mu" ucapan Dylan membuat Fatel terhenyak, sebenarnya dalam benak nya ia memang berniat kabur, namun pria ini seakan membaca pikiran nya.


Fatel berlalu dari hadapan Dylan dan menuju mansion nya, di tengah jalan penjaga menghentikan larinya dan mengawal nya masuk ke ruangan Luna.


"sepertinya kalian sudah tahu ya" Fatel bicara santai kepada dua orang penjaga.


tanpa menjawab, Fatel dikurung kembali di ruangan, dia melihat ke sekeliling, kosong.


"kemana gadis itu?" Fatel membaringkan tubuhnya dan terlelap.


****************

__ADS_1


__ADS_2