THE KING WAREWOLF

THE KING WAREWOLF
part 18


__ADS_3

"sejak kapan kau berada di sini?"


Dylan berdecak.


"aku sudah di sini sejak kau berteriak pada ketiga anak laki laki di sana tadi" Dylan duduk di kursi yang sebelum nya adalah tempat mendarat nya bokong Fatel.


Fatel mengerjap


"tunggu, jadi kau mendengar yang ku katakan?" cicit Fatel, dia mengusap usap siku atas nya.


"anggap saja begitu" Dylan menggulung kemeja nya


"hm,"


hening.


hanya terdengar kicauan burung sesekali.


"jadi-"


"sejauh apa yang kau ketahui tentang negeri imortal?" Seakan tahu apa yang akan di tanya kan Fatel, Dylan menyela nya.


"eng...sebenarnya tidak tahu sama sekali," Fatel membuang wajah nya ke memandang taman utama.


diam diam tanpa Fatel ketahui, Dylan mencuri curi pandang ke arah Fatel.


"dia cantik ya Dyl" suara Leo mengusik nya.


"diam lah Leo" Dylan memutar bola mata nya.


"lihat lah mata biru nya Dyl, terpesona bukan" Dylan dapat merasakan Leo berjingkrak di jiwa nya.


"diam Leo, ada yang ingin ku pastikan dari gadis ini, berhenti lah menggoda ku, aku tidak mungkin menyukai wanita ini" setelah Dylan berujar, tak terdengar suara Leo.

__ADS_1


"kenapa kau diam?"Suara Fatel membuat Dylan tersentak.


ya, ia dan Leo sedang berbincang barusan, namun jika di lihat Dylan seperti orang melamun, karena ia dan Leo berbicara melalui bahasa batin.


"hm, tidak lupakan. Apa kau mengenal pria yang berdansa dengan mu malam itu?" Dylan harus tahu, walaupun ia terdengar posesive, tapi ia tidak seperti itu, ia HANYA MEMASTI KAN.


"oh, benar kah itu Dyl? ku rasa aku menangkap maksud lain kkk" Leo mengejek Dylan,


shit, Dylan lupa jika Leo adalah sebagian dari diri nya.


"tidak, tapi ku rasa ia seorang pangeran" sahut Fatel dengan wajah polos nya.


"ya kau benar, dia adalah keponakan Dewa langit, Arry Harson. " Dylan sedikit memberi pengenalan siapa itu Arry,


baik, permulaan yang bagus Dyl.


"oh ya? wah, pantas saja sangat tampan" Ucapan Fatel barusan berhasil membuat wajah Dylan memanas,


oke, tahan Dyl, mengapa kau marah?


"baik, aku berhenti" Fatel memain kan lidah di dalam mulut tertutup nya seraya memutar mutar bola mata nya.


"apa saat kau berada di dekat nya, kau merasa familiar dengan nya?" Dylan menatap serius setiap inci wajah Fatel.


"tidak, aku baru mengenal nya, jadi tentu saja aku tidak merasa familiar" sarkas Fatel,


"baiklah, bagaimana bisa kau berdansa dengan dewa tersebut?" Dylan masih dengan wajah datar nya.


DEG


DEG


DEG

__ADS_1


ingatan tentang malam itu membuat jantung Fatel berpesta pora di rongga dada nya.


saat Dylan dengan enteng menyusuri leher nya.


Fatel menggeleng kan kepala nya kasar.


"apa ada masalah Nona Waynn?" Dylan tahu apa yang membuat gadis ini seperti itu.


"hm, tidak ada, ku rasa kau tahu apa jawaban nya" Fatel mengusap tengkuk leher nya canggung.


shit, jangan bodoh sekarang Fatel !!


harga diri Fatel berteriak meminta di selamat kan.


"jika aku tahu aku tidak bertanya"


SKAK MAT


Fatel menelan saliva nya susah, ini sangat memalu kan.


"baiklah, aku sedang mengantar minuman saat itu, cukup. aku tidak bercerita lebih jauh"


malu, malu, malu. kalian akan merasakan nya jika berada di posisi Fatel sekarang.


"ku lihat kau sangat menikmati berdansa dengan dewa tampan-mu itu" kata kata Dylan tajam dan menusuk,


"lalu, apa masalah mu? itu hak ku, Tuan Blake" Fatel menantang dengan tampang wajah nya.


"ya, namun kau adalah tawanan ku, ingat itu" Dylan memandang Fatel dengan tatapan membunuh.


"ini hidup ku, berhenti mengatur ku, jika kau tidak ingin menampung ku, usir saja, aku akan dengan senang hati pergi dari tempat membosankan ini" Fatel berkacak pinggang, oh jangan lupakan dagu terangkat sombong itu,


oh, sok sekali, menarik pedang saja tidak mampu :').

__ADS_1


"dasar tak tahu terima kasih, jangan harap" Dylan beranjak dan meninggal kan gadis itu yang masih dengan segala kesombongan nya.


__ADS_2