
"silahkan masuk Nona" Claire membuka pintu besar, walaupun tak sebesar pintu ruangan Dylan. gadis itu menduduk kan diri di salah satu sofa tunggal di dekat balkon.
bola mata nya menjelajah seisi ruangan. ruangan ini di dominasi dengan warna biru dan putih, hingga berkesan bersih dan cerah.
"jika Nona memerlukan sesuatu anda bisa meminta bantuan pada Gemma, mereka akan berjaga di depan ruangan anda Nona" ujar Claire.
Fatel hanya menanggapi nya dengan deheman.
"ah, hei tunggu" panggil Fatel saat Claire hendak melangkahkan kakinya.
"ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya Claire.
"tidak, siapa nama mu?" Fatel rersenyum tipis.
"Anda bisa memanggil saya Claire, Nona" Claire sedikit mmbungkuk.
"hm, bagaimana jika aku memanggil mu Bibi? sangat tidak sopan jika aku memanggil mu Claire, bagaimana pun kau jauh lebih tua dari ku" Ujar Fatel.
"maaf Nona, tapi seorang maid memang harus di panggil dengan nama mereka, baik tua atau pun muda" penjelasan Claire membuat Fatel mengerucutkan bibir nya.
"ck, tapi aku kan hanya tawanan di sini, jadi aku akan tetap memanggil mu Bibi" putus Fatel.
"tapi Nona jika anda melakukan itu maka Tuan Dylan tidak segan segan menghukum anda karena melanggar aturan nya" Claire menentang halus perkataan Fatel, dia tidak ingin gadis ini mendapat hukuman dari Dylan.
"aku tidak perduli, itu hanya untuk mu Bibi Claire, tidak dengan maid yang lain, lagi pula aturan bodoh macam apa itu? dasar, Dylan tidak tahu diri, dia kan masih muda, harusnya bersikap sopan kepada orang yang lebih tua, apa dia tidak takut kualat apa"
"Nona-"
"kau diam saja bibi Claire, anak durhaka seperti itu harus di beri tahu Bi, tidak bisa di biarkan, jika dia menerapkan aturan tersebut di seluruh wilayah kekuasaan nya, bagaimana jadinya nanti. anak anak akan melawan orang yang lebh tua, tidak mendengarkan nasihat mereka, dan tidak menghargai orang tua. itu bisa bersifat fatal Bibi. ckck,,sangat tidak bijaksana, bagaimana bisa dia di jadikan sebagai Alpha? belum di nobatkan saja sudah membuat aturan bodoh itu." Claire mengulum senyum nya mendengar celotehan Fatel.
dia tak menyangka akan ada orang yang berani mengerutu tentang Dylan, secara pria yang terkenal dingin, datar dan ber aura mencekam, hingga tak ada yang berani bahkan membicarakan nya dari belakang seperti yang Fatel lakukan.
"Bibi, kau harus memberitahu nya, jangan sampai hal hal buruk terjadi," Fatel menatap ke arah Claire.
__ADS_1
Fatel mengerutkan kening indahnya.
"ada apa Bi?" tanya Fatel keheranan.
apa ia salah bicara? ah tidak mungkin.
"tidak Nona, anda sangat berani. biasanya tidak akan ada yang berani pada Tuan Dylan, hanya Luna Jenn yang bisa memberi nasihat pada Dylan karena Tuan Dylan sangat menyayangi ibunya" jawab Claire membuat Fatel mengerjapkan mata nya.
"tapi sekarang ibunya sudah meninggal jadi dia harus menerima masukan dari orang lain selain ibunya, itu sangat egois Bi" ujar Fatel, ia tak habis pikir bagaimana bisa pria dingin itu seegois ini.
"itu memang benar Nona, tapi Tuan Dylan tidak peduli, bahkan perkataan Alpha saja dia abaikan." sahut Claire.
"ah, masa bodo. aku tidak peduli, ini tidak ada kaitan nya dengan itu Bibi, jadi aku akan tetap dengan keputusan ku" tegas Fatel.
'dia mengatakan bahwa Tuan Dylan egois, padahal dirinya juga sangat keras kepala. bagaimana jika mereka berdua bersama? yang satu dingin dan yang satu cerewet?' Claire tersenyum membayangkan mereka berdua.
"Bibi? apa kau baik baik saja?" tanya Fatel, dia heran melihat Claire tersenyum sendiri.
*******************
Dylan duduk berhadapan dengan para tetua Werbor pack, Rey dudk di samping kiri nya.
"sesuai kesepakatan, Dylan akan di nobat kan besok sebagai Alpha menggantikan Ayahnya." seru Glen, tetua tertinggi di Werbor pack.
"bagaimana dengan Beta? apakah kita tetap me-"
"Nicho akan tetap ku pilih sebagai Beta" Dylan memotong ucapan salah satu Tetua.
"ekhem, baiklah, jadi kita hanya harus menyebarkan undangan ke seluruh daerah yang berdampingan dengan Werbor pack." ujar Glen
"ku rasa kita hanya mengundang para bangsawan saja, bagaimana menurut anda Alpha?" tanya salah satu tetua ada Rey.
"itu sangat bagus, namun tidak ada salahnya kita mengundang kaum yang lain untuk datang" sahut Rey, orang orang di ruangan tersebut mengangguk anggukkan kepala mengerti kecuali Dylan.
__ADS_1
Dia sangat enggan berada di sini. jika dulu ia sangat tertarik saat ibunya masih hidup, namun sekarang berbanding terbalik.
"sebuah gagasan yang sangat bagus Alpha. kita akan mengundang kaum Vampire, Siluman, iblis, dan peri. " ujar Glen
"ah ya, apakah kita mengundang kaum dewa juga Alpha? ku rasa mereka akan datang, mengingat kita cukup berteman baik dengan kaum mereka." usul salah satu tetua.
"ah, ku hampir melupakan nya, baiklah " sahut Rey.
"apakah calon Alpha ada yang ingin di sampaikan?" tanya Glen, semua mata memandang ke arah Dylan.
"tidak terima kasih" Dylan menanggapi dengan datar dan dingin.
seisi ruangan mengangguk kan kepala.
"ku rasa pertemuan hari ini cukup, persiapkan segala sesuatu nya untuk acar besok" seru Rey, semua orang pun keluar aula.
Dylan pun beranjak, namun sebuah suara menahan nya. ia berhenti namun tak menatap ke arah sang lawan bicara.
"Dylan, ayah tahu kematian ibu mu sangat menguncang batin mu, namun kau harus ingat kau memiliki tanggung jawab yang besar mulai besok, jadi kau harus berubah. aku yakin Jenn sangat bahagia di sana jika kau bisa memimpin kaum Warewolf dengan baik" kata Rey, Dylan bergeming, namun emosi nya tak dapat ia bendung.
"siapa kau seakan akan tahu segalanya tentang ibuku?" Dylan berujar tanpa membalikkan badannya.
"aku tahu kau membenci ku, namun kau tak bisa membawa masalah pribadi mu dengan tanggung jawab mu. dan ah ya, ku denga dengar kau punya piaraan baru di mansion mu" Rey berjalan, dan menepuk nepuk pundak Dylan pelan hingga akhirnya berlalu.
Dylan mengepalkan jari jarinya dan keluar ruangan dengan emosi yang sebentar lagi meledak.
ia butuh pelampiasan.
*********************
**tinggalkan jejak ya reders, komen jika kalian suka atau tidak suka, pokonya komen
xx_apilaa**
__ADS_1