
Pada suatu hari yang cerah, dimana cahaya mentari pagi menyinari wajah seorang pangeran lewat jendela kamar, membuat kelopak matanya terbuka secara perlahan, memperlihatkan pandangan buram yang menyilaukan.
Dalam keadaan setengah sadar, Misha beranjak turun dari kasur tidurnya, kemudian berjalan sempoyongan dengan kotoran mata yang masih menempel di sudut matanya.
Tangan Misha menyentuh gagang pintu kamar mandi, membukanya dengan tenaganya yang lemas dan mendekati sebuah wastafel keramik yang terdapat cermin yang menggantung.
Misha menatap wajahnya yang berantakan di balik cermin, terlihat rambut yang acak-acakan, matanya yang memberat, riasan badut yang luntur, serta bau nafasnya yang busuk sampai mengambang di udara.
Tak tahan melihat dirinya, ia membuka keran air dari wastafel itu, memunculkan pancuran air dari pipa besi lalu mencuci mukanya hingga berulang kali.
Saat Misha hendak pergi meninggalkan kamar mandi, ia membuka pintu dan terkejut melihat kehadiran Sebas beserta para pelayan lainnya yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Pangeran– anda seharusnya tidak melakukan hal seperti ini, nanti kami yang melayani anda yah." Ucap Anna, seketika memegang pundak Misha.
Anna membawa Misha duduk di depan cermin riasan, membersihkan wajahnya dengan kain basah lalu mulai merias wajah pangeran kecil itu dengan perasaan gemas terhadapnya.
...hah~ lagi-lagi riasan norak ini....
...Kesal Misha dalam batinnya....
.................
Dia merasa kesal dengan riasan memalukan yang setiap saat harus ditempelkan di wajahnya, akan tetapi dirinya tidak bisa menolak untuk tidak memakainya, demi menghindari perasaan curiga dari orang-orang sekitar.
Setelah wajahnya kembali menjadi badut, lalu bertingkah layaknya anak perempuan, saat itu rasa malu yang sangat besar terbendung di dalam hatinya. Misha sempat menatap wajah para pelayan dengan tatapan dingin, beberapa saat kemudian dia langsung mengganti tatapan matanya menjadi senyuman palsu.
Ketika Misha telah selesai di rias oleh empat wanita pelayan itu, dirinya langsung berjalan mendekati Sebas lalu berkata, "Sebas? antarkan aku keliling istana, aku ingin sekali mencari udara segar." Sambil menunjukkan wajah konyol.
"Dimengerti tuan muda." Balas Sebas, menunduk.
Sebas dan Misha membuka pintu dan beranjak keluar dari kamar, berjalan di tengah-tengah lorong raksasa yang lantainya terdapat karpet merah yang dihamparkan di sepanjang lorong.
Anna, Tasya, Wina dan Galina. Adalah nama dari empat pelayan pribadi pangeran kecil. mereka pun sontak ikut keluar dari kamar, menatap Sebas dan Misha dari belakang dengan tatapan sinis, rasa kesal terlihat jelas di wajah mereka berempat.
"Aku... aku benci melayani bocah menyedihkan itu!" Keluh Winna dengan wajah yang menggeram.
"Kita harus menahannya, ini kan perintah." Ujar Anna, kekesalan terpampang diwajahnya.
"Tapi Anna, kita sudah tiga tahun mengawasinya! bukankah sudah saatnya kita dibebas tugaskan?!" Potong Wina yang juga merasa kesal.
"Kita harus tetap bersabar! ramalan uskup agung tidak pernah salah!" Bentak Anna, dengan nada bicara yang menekan.
"apa kau berpikir ramalan itu tertuju pada bocah menjijikan itu? hah..?! ramalan itu pasti ada pada keturunan kaisar yang lainnya, yang lebih normal daripada bocah sil*n ini!" ujar Galina, dengan cara bicara meremehkan.
"Tapi- bukannya ini lebih baik? bila Misha bukanlah orang yang diramalkan, maka kita tidak perlu repot-repot. kan?" Sela Winna, dengan wajah polos.
Ketika Winna mengucapkan lontaran kalimatnya, dirinya ditatap oleh empat bola mata yang mengeluarkan aura sangat mencekam, kecuali dua pasang mata dari Tasya, yang selalu diam tanpa menunjukkan ekspresinya.
"Hah~ lupakan." Sambung Galina, merasa ngeri dengan tatapan Anna dan Winna.
...******...
Disaat Misha dan Sebas terlihat jauh dari pandangan ke empat pelayanan itu, Misha sempat menatap mereka dari kejauhan.
"Sebas, bisakah kau menyingkirkan mereka untukku?" Ujar Misha dengan wajah dingin.
"Apa– tidak... maksudnya ada apa dengan mereka tuan muda?" Tanya balik Sebas, yang terkejut atas pernyataan pangeran.
"Hah~ Jangan bilang kau tidak bisa melakukannya kan?" ucap Misha, sudut mulutnya tersenyum.
"Sebas, pada intinya lakukanlah apa yang aku katakan." perintah Misha dengan wajah datar.
"Bukankah kau biasa melakukan pekerjaan seperti ini?" Sambung Misha, lalu tersenyum licik.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut tuanya, Sebas merasakan kebimbangan. Para pelayan yang selama ini menemani dirinya untuk merawat pangeran kecil malah harus disingkirkan atas perintah pangeran sendiri.
"Ingat ucapanku, jangan pernah meragukan diriku. Percayalah!" cakap Misha, menepuk tangan sebas dengan senyuman lebar yang tampak tulus.
Melihat senyuman tulus Misha Sebas seketika tersentuh, dirinya merasa bersalah karena sempat mempertanyakan tindakannya. Dia mengumpulkan banyak tekad demi keinginan tuanya.
"Apakah saya akan menyingkirkan mereka sekarang ini juga tuan muda..?" tanya Sebas, memasang wajah dingin sambil menoleh kearah belakang.
"Tidak, jangan sekarang lah, cukup selidiki dulu, tapi nanti. Untuk sekarang kau harus menemaniku jalan-jalan terlebih dahulu," tutur Misha yang memasang seringai liciknya.
"Baiklah tuan muda."
..........
"Ngomong-ngomong Tuan muda, hari ini kita akan kemana?" Tanya Sebas, penasaran.
"Terserah kau saja, aku hanya mengisi waktu luang," ungkap Misha dengan nada santai.
__ADS_1
...Tentu saja mencari informasi....
...informasi adalah peluru, sedangkan mulutku ada senapan....
...tanpa informasi, aku hanyalah bocah lemah yang tidak berdaya....
...Batin Misha, dengan segala rencananya....
"Hmm... kalau begitu bagaimana dengan akademi sihir?" Saran Sebas, yang bersemangat.
...Sihir ya~...
...terserah kau Sebas, entah itu benar atau tidak, aku akan pura-pura terkejut saja....
...hahaha......
...Batinnya, menolak nalar tentang sihir....
Sebas dan Misha terus berjalan diantara lorong-lorong istana. saat dalam perjalanan, mereka bertemu berbagai macam orang yang memandang pangeran dengan tatapan sinis, dari seorang prajurit yang berjaga sampai kalangan bangsawan yang melewati dirinya tanpa rasa hormat sedikitpun.
Mereka berdua berjalan dan terus berjalan sampai keluar pintu kecil istana, dan menemukan ruang terbuka yang begitu luas dengan pemandangan yang indah, di tempat itu dipenuhi banyak tanaman, kolam ikan dan jalan yang terbuat dari susunan balok batu yang tersusun rapi.
Tanpa memperdulikan pandangan sinis orang-orang, mata Misha kemana-mana, melihat ke segala arah dengan penuh rasa takjub.
Langkah demi langkah mereka lalui hingga sampai di sebuah bangunan besar yang luar biasa megahnya. Sebuah kastil yang dipenuhi anak-anak dengan usia yang sama dengannya, mengenakan seragam berwarna merah dan bawahan berwarna putih.
...Sepertinya mereka murid dari akademi ini....
...sangat penting mengetahui ilmu apa yah, yang akan mereka pelajari....
...Batin Misha, tidak sabar....
"Sebas, bisakah aku melihat proses pembelajaran di kelas?" tanya Misha, yang teramat sangat bersemangat.
"Tentu saja tuan muda! namun, apakah anda tidak masalah dengan hinaan yang mereka tunjukkan lewat tatapan mereka." Tutur Sebas, Khawatir.
"Apa yang kamu katakan? toh suatu saat nanti akan ku congkel kedua mata mereka." Ujar Misha, dengan senyuman mengerikan.
"Hah~ baiklah tuan muda." Balas Sebas, yang tak habis pikir.
"Saat ini pelajaran sudah berlangsung, saya akan mencoba berbicara kepada seorang guru kenalanku." Jelas Sebas sembari tersenyum.
.............
Ketika pintu kelas terbuka, seluruh pandangan orang-orang tertuju kepada Misha. Sindiran, cemooh dan hinaan terlukis dari mata orang-orang, termasuk tatapan tajam sang guru.
"Oh tuan Sebas! lama tidak bertemu! selamat datang di kelasku." Sambut Seorang guru itu sambil tersenyum lebar.
Guru itu mendekati Sebas, menjabat tangannya lalu berkata, "Haha~ Ada keperluan apa pria terhormat seperti anda mengunjungi kelasku yang biasa-biasa ini?" Tampak ejekan tergambarkan di wajahnya.
"Lama tidak bertemu tuan Danilo. Sebenarnya Bukan hal yang begitu penting, aku hanya menemani pangeran jalan-jalan." Balas Sebas dengan senyuman yang dipaksakan, menahan amarahnya atas perilaku tidak sopan dari guru bernama Danilo itu.
"Haha... ternyata ada pangeran juga yah! maafkan hamba karena tidak menyadari kehadiran anda." Ucapan sinis Danilo, sambil memasang ekspresi merendahkan.
"Kalau begitu silahkan duduk di kursi yang anda inginkan tuan muda." Ucap Danilo dengan wajah yang sama.
"Terimakasih guru!" Balas Misha, memasang senyuman palsu yang terlihat bodoh.
...Dasar anak buangan! kenapa Sebas mengajaknya ke kelasku......
...sebenarnya aku tidak ingin kena geta dari atas, hanya saja......
...Sebas! ahh....! kalau bukan karena dirinya, aku akan mengusir bocah ini jauh-jauh dari sini! mengotori saja....
...Kesal Guru Danilo itu dari dalam benaknya....
Tanpa pikir panjang Misha berlari diantara bangku pelajaran, menampilkan wajah feminim yang menimbulkan perasaan jijik dari para murid-murid akademi.
Seperti kebanyakan manusia, ada saja orang-orang yang memiliki hati bersih bagaimana malaikat. Seorang gadis kecil cantik terlihat menggeser tubuhnya, tangannya menepuk kursi, mempersilahkan pangeran untuk duduk disampingnya.
Melihat tindakan dari gadis kecil itu, Misha tanpa sadar mengganti ekspresi wajahnya menjadi senyuman hangat selama dua detik. Tidak disangka senyuman itu malah membuat si gadis kecil terpanah seketika, wajah memerah dengan tatapan penuh perasaan malu.
...Gadis yang baik, suatu saat kau akan diberikan dia tempat di rezim masa depanku!...
...Batin Misha yang merasa tersentuh....
"Siapa namamu wahai gadis cantik?" Tanya Misha dengan nada bicara yang feminim.
"Namaku– Eh... Yalfa." Jawab gadis kecil, malu-malu kucing.
"Kalau aku Misha, salam kenal yah Yalfa. Kuharap kita bisa menjadi teman." Ucap Misha dan tersenyum tulus.
__ADS_1
Melihat senyuman manis yang ditunjukkan oleh pangeran, Hati Yalfa kembali tersentuh, jantungnya berdetak kencang, rasa gugup melapisi wajahnya.
...............
"Hei... bukanya itu dia?"
"Siapa...? aku tidak kenal."
"Si pangeran tidak berguna itu loh, yang bahkan tidak diakui oleh kaisar sendiri."
"Apakah kau sudah mengetahuinya, katanya dia tidak bisa mengeluarkan energi sihir! memalukan bukan?!"
"hahaha~ lihat dirinya, padahal dia anak laki-laki tetapi bersikap seperti seorang perempuan!"
Rentetan suara bisikan orang-orang yang terus mencemooh Misha tanpa henti.
"Tidak usah pedulikan mereka!" Bisik Yalfa kepada pangeran, sambil memasang ekspresi kesal.
..................
"Baiklah kelas akan segera dimulai! berhubung disini ada 'yang mulia pangeran keempat' maka kita akan mempelajari pelajaran khusus! yaitu, Mantra sihir!" Ujar Danilo dengan nada menekan saat menyebut nama pangeran ke empat.
Mendengar penjelasan dari guru mereka, para murid seketika bergembira karena pembelajaran baru yang akan mereka dapatkan.
"Tidak apa kan tuan Sebas?" Tanya Danilo, menoleh kearah Sebas dengan senyuman liciknya.
"Silahkan lakukan sesukamu Danilo." Ucap Sebas, membalas senyuman liciknya.
...Lingkaran sihir?...
...aku berulang kali mendengar kalimat sihir....
...apakah benar-benar sihir yang diceritakan dalam dongeng anak kecil? apakah wujudnya akan muncul?...
...tunggu dulu......
...aku benar-benar meragukan hal ini....
...Ujar Misha dalam hatinya, seolah-olah tidak mempercayai ucapan Danilo....
"Baiklah, pertama-tama akan ku jelaskan teorinya. Seperti yang kalian para muridku yang jenius telah ketahui." Ucap Danilo, menyindir pangeran.
"Cih..!" Lirih Misha, kesal akan sindirannya.
"Sihir adalah energi alam dengan ukuran yang super kecil. Energi ini melayang-layang di udara, tidak terlihat oleh indera manusia namun bisa dirasakan oleh kita, pecahan sihir ini disebut 'Mana'." Jelas Danilo yang antusias.
...Hoho... Lihatlah wajah itu!...
...Batin Misha yang memperhatikan Danilo....
Misha merasa kagum dengan cara Danilo menjelaskan materi pelajarannya, walaupun sikapnya yang buruk, membuat Misha sedikit kesal kepadanya. Akan tetapi, wajah bersemangat yang ditunjukkan Danilo merupakan wajah seseorang yang gila akan pengetahuan.
"Ingat pertemuan sebelumnya? aku pernah menjelaskan tentang Sejarah energi mana, berhubungan ada tamu baru disini akan dijelaskan lagi," Menatap pangeran dengan sinis, "pada zaman dahulu kalah, tepatnya tiga ribu tahun yang lalu. Para dewa turun di muka bumi untuk melindungi umat manusia dari serangan para iblis jahat. Dewa yang mulia Astrana menurunkan kekuatannya kepada para keturunan pahlawan yang ikut mengorbankan dirinya melindungi umat manusia, darah dewa itu terus mengalir hingga zaman sekarang. Ya! benar, Para bangsawan adalah pewaris darah dari dewa Astrana." Jelas Danilo, dengan panjang lebar.
"Dari darah dewa itu, kita bisa menarik 'mana' ke dalam tubuh kita, menariknya hingga memunculkan sebuah kekuatan yang luar biasa, seperti ini!" sambung Danilo, merentangkan satu tangannya dan mengucapkan beberapa kata.
"Wahai api yang membara, Datanglah!" Ucap Danilo, yang tiba-tiba mengeluarkan api dari tangannya.
Burst...! Suara nyala api yang membara di udara.
...apa apaan itu?! tunggu dulu!...
...Api... keluar begitu saja dari tangannya?! mustahil......
...Batin Misha, pikirannya dipenuhi keraguan besar....
Misha melihat nyala api itu dengan jelas, matanya melotot, keningnya terangkat, tubuhnya tiba-tiba dipenuhi keringat dingin, jantungnya berdetak secara acak, gemetaran, ketakutan, takjub akan keajaiban di depannya.
Misha tiba-tiba berdiri, semua orang melihatnya. Ia berjalan secara perlahan dengan langkah kaki yang tak seimbang. Meraih api itu dengan tangannya dari kejauhan, seolah-olah berusaha memastikan apakah ini kenyataan atau halusinasi.
...Tunggu dulu......
...ini... sangat mendebarkan..! bagaimana bisa manusia mengeluarkan api dari tangannya! pasti... pasti ada sebuah trik yang dia lakukan, ya! ini sebuah trik sulap, aku bisa menontonnya lewat teater....
...hahaha......
...Sialan jangan coba-coba menipuku....
Skeptis, adalah sebuah cara pandang murni bagi orang-orang berakal. Segala hal yang diluar nalar, harus diragukan apapun yang terjadi. Semua orang jenius memiliki cara pandang demikian, salah satunya pria bernama Lazor Franciszek.
__ADS_1
Ilustrasi sihir nyala api yang dipercikan oleh sang guru sihir Danilo.