
Di dalam istana kekaisaran, di sebuah koridor depan pintu kamar pangeran Misha. Terlihat Anna, Winna, Tasya dan Galina sedang duduk bersama membicarakan suatu hal.
"Hari ini mereka tidak ada lagi, menurutmu kemana mereka?" Ujar Galina, menatap wajah kesal Anna yang duduk diatas kasur sambil menyilangkan kakinya.
"Hei... bukankah ini tidak seperti biasanya?" sambung Winna.
"Kan biasanya bocah itu hanya berkeliaran di kamar nona muda atau bermain-main bersama pangeran Luka, tidak mungkin kan dia keluar istana? haha~" Ucap Galina dengan tawa kecilnya, yang menyandarkan dagunya di sandaran bangku.
...Dimana bocah itu yah...! Tch......
...Kesal Anna dalam batinnya....
Beberapa saat kemudian, pangeran Luka tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar, menoleh kearah mereka seraya bertanya, "Dimana kakakku...?"
Melihat kedatangan pangeran Lika, keempat pelayan itu seketika berbaris rapi sejajar lalu memberi hormat dengan membungkuk.
"Salam sejahtera wahai pangeran Luka..." Hormat mereka secara serentak.
"Iya... iya, apakah kalian melihat kakakku?" Tanya Luka kembali.
"Eh... mohon maaf tuan pangeran, sedari pagi tadi, hamba tidak melihat— eh... maksudnya, hamba hanya tau kalau pangeran Misha tadi pagi keluar entah kemana bersama tuan Sebas." Jelas Anna, dengan memilah-milah perkataannya, takut bila membuat pangeran Luka marah.
"Hah?! terus kau tidak tanya mereka kemana?" Ucap Luka dengan nada sedikit tinggi.
"Saat itu kami sudah tanyakan tuan, namun pangeran enggan untuk menjawab..." Tutur Anna kembali, sedikit gugup dengan mengarang ceritanya.
Tiba-tiba Anna menatap sedikit salah seorang pelayan yang berdiri di samping pangeran Luka, dalam hatinya ia berkata.
...Tch...! Dari seluruh putra-putri Kaisar, aku paling jengkel dengan yang satu ini....
...Lania, apakah kau tidak mengajarkan anak ini dengan baik....
Dilihat dari tatapan wajah Anna, sepertinya dia sangat mengenali pelayan yang berdiri disamping Pangeran, pelayan wanita yang sedikit tua dengan nama Lania.
"Hah...! bilang saja kalau kalian tidak becus," Cibir Luka, kemudian berjalan kebelakang, "ah sudahlah, mending aku bermain bersama teman-temanku," kemudian pergi meninggalkan kamar itu bersama pelayannya Lania.
...Dasar bocah teng*k......
...Geram Anna dalam batinnya....
...****...
__ADS_1
Kembali di kediaman Danilo, kedua bola mata Misha menatap tajam wajah Danilo yang memalingkan pandangannya kebawah.
"Hei... bicaralah, apakah kau bisu?" Ujar Misha, mulai kesal melihat Danilo yang diliputi rasa takutnya.
Dengan memberikan dirinya, setelah mengingat saat-saat dia memutuskan untuk mengulurkan tangannya ke dalam gelembung hitam, dipikirkannya ini adalah sesuatu yang telah ia putuskan, maka dari itu semuanya harus diselesaikan.
"Aku— aku saat itu..." Ucapannya lagi-lagi masih terbata-bata, kemudian ia menarik nafas panjang sontak melanjutkan kalimatnya.
"Hari itu aku melihat anda tuan muda, mengeluarkan sesuatu seperti sihir namun itu bukan sihir, saya yakin itu! seperti... sebuah bola hitam besar, menelan anda di dalamnya. Sebelumnya anda melayang-layang di udara, kemudian munculah gelembung itu." Jelas Danilo dengan nada bicara stabil namun masih tidak berani menatap wajah pangeran.
"Oh ayolah... jangan memalingkan pandanganmu, hei..." Keluh Misha, dengan penuh keresahan terhadap Danilo.
"Maksudmu seperti ini...?" Misha tiba-tiba mengeluarkan kekuatannya.
Dari telapak tangan muncul sebuah gelembung hitam kecil, mengambang di udara seperti malam hari itu. Sontak alangkah terkejutnya Danilo dengan terperanjat dari dudukannya, matanya melebar selebar-lebarnya, mulutnya menganga, seolah-olah tidak habis pikir dengan apa yang ia lihat saat ini.
Misha kemudian mengambil sepotong kue di atas meja, meletakkan gelembung kecil yang mengambang diatas jari telunjuknya. Secara pelan dan pelan, Misha mencoba mendekatkan gelembung hitam ke arah sepotong kue.
Tak lama kemudian setelah gelembung kecil itu hilang secara tiba-tiba, muncul secuil celah kecil di ujung kue tersebut. Lantas Misha mendekatkan sepotong kue itu kepada Danilo yang menatap heran, bingung sekaligus takut.
"Apakah kau melihat perbedaan pada kue ini?" Menunjuk secuil celah di ujung kue.
Danilo mengangguk dengan rasa takjub yang perlahan muncul dari detakan jantungnya. Lantas Danilo bertanya, "Apakah hilangnya sebagian potong kue ini karena kekuatan misterius yang anda tunjukkan barusan tuanku?"
"Benar tuanku... kala itu, anda diselimuti kekuatan seperti itu, lalu... saya sangat panik, dan..." Memalingkan pandangannya.
"Kau tidak lari...?" Potong Misha, dengan senyuman tipis.
"Tidak! eh– maksudnya... aku sempat berpikir seperti itu, tetapi... karena anda! karena mengingat sumpah setiaku, maka aku rela masuk ke dalam kekuatan misterius itu, demi menyelamatkan anda," Ucapan yang diawali dengan bertele-tele, kemudian menekan Kalimat terakhirnya. Ia selalu memalingkan pandangannya dan dalam lubuk hatinya ia menanti reaksi Misha saat mendengar cerita heroiknya.
"Hoh~ kau rela mengorbankan tanganmu demi diriku ini, bukankah kau terpaksa setia padaku karena takut kepada Sebas?"
"Heh...?! tidak! tidak tuan... aku hanya berpikir, tentang mimpi anda yang kebetulan hampir sama denganku." Ucap Danilo, dalam kepala yang tertunduk emosi haru tiba-tiba berguncang di jantungnya.
"Mimpi...? yang mana...? karena aku memiliki banyak mimpi yang harus diwujudkan."
"Tentang perpustakaan raksasa, fasilitas umum bagi semua orang untuk belajar mengenai ilmu pengetahuan sihir. Aku... aku menantikan hari itu tuanku." Jawab Danilo, dengan tawa kecil menatap mata Misha perlahan.
...Haha~...
...Bagus Danilo... bagus! kau lulus....
__ADS_1
...Sekarang kau bukanlah pion dalam permainan ini......
...Melainkan seorang bidak peluncur....
...Ucapan pangeran Misha dengan senyuman licik yang ditunjukkan di balik batinnya....
...........
Misha saat itu tiba-tiba berdiri, mengulurkan jabat tangan kepada Danilo. Senyuman lebar yang penuh pesona tergambar dari ekspresinya.
Lantas Misha berucap kepadanya, "Terimakasih Danilo... hari itu kau telah menyelamatkan orang hebat yang akan mengubah negara ini."
Kilauan bola mata yang seketika berbinar-binar, dari bibir yang bergetar diiringi rasa kagum yang bangkit dalam jiwanya. Danilo membalas ucapannya serta meraih jabat tangan tersebut, "Sama-sama Tuanku...!"
.............
Selepas itu, tidak lama kemudian Ilyasa muncul dari belakang. Saat ini penampilannya terlihat sangat menawan, menggenakan pakaian bersih yang bagus dan rapi dengan sisiran rambut yang tertata rapi. Wajahnya seketika itu terlihat bersih, mengeluarkan aroma harum dari tubuhnya.
"Tuan Danilo... sudah selesai." Ujar si pelayan yang berdiri di samping Ilyasa.
Ilyasa terlihat malu-malu sambil menundukkan wajahnya, tampang keputusan yang sebelumnya ada pada dirinya sekarang sudah hilang sepenuhnya, memperlihatkan sosok anak remaja belasan tahun yang polos.
Seketika itu juga Misha berjalan mendekati Ilyasa, kemudian memegang kedua pundaknya yang lebih tinggi seraya berkata, "Jangan memalingkan wajahmu," Misha menoleh wajahnya dengan menatap dari bawah, "Sekarang kau sudah bebas!"
Mendengar kata-kata yang dilontarkan Misha, dirinya seketika merasa tersentuh. Semua ucapan dan keberadaan pangeran entah mengapa membuat dirinya merasa nyaman.
"Mulai sekarang kau akan tinggal bersama Danilo, buat dirimu nyaman disini. Anggaplah seperti rumah sendiri." Ucap Misha, kemudian menoleh kearah Danilo dengan tatapan yang seketika berubah menjadi tatapan tajam.
"Ba– baik... tuan." Balas Ilyasa, dengan nada bicara yang malu-malu.
Ketika melihat tatapan mata Misha, Danilo lagi-lagi merasakan rasa parah dalam hatinya.
Saat itu juga Misha menggiring Ilyasa untuk duduk bersama mereka di sofa ruang tamu. Mereka berbincang-bincang mengenai banyak hal, tentang kehidupan Ilyasa dan asal usulnya.
...Setiap manusia pada hakikatnya telah bebas sejak dirinya lahir di dunia. Dia besar dan tumbuh bersama lingkungan sekitar....
...Dipengaruhi dan dikekang oleh hukum moral yang entah dari mana asalnya....
...Sebenarnya apa definisi kebebasan yang sesungguhnya?...
...Apakah mereka yang bebas berkeliaran tanpa kekangan dari orang lain? tetapi tentu saja tidak ada manusia yang seperti itu....
__ADS_1
...bahkan seorang kaisar yang berdiri di derajat tertinggi masih di atur oleh aturan hukum mutlak....
...****...